KING SULAIMAN - Fateemah Ali

KING SULAIMAN - Fateemah Ali


0

KING SULAIMAN

Bab 2 Perjalanan Awal ke Daratan

Saat Sulaiman akhirnya tiba di daratan, tepatnya di hamparan pesisir pantai yang hangat oleh sinar matahari, ia justru terdiam sejenak, merasakan sesuatu yang asing pada tubuhnya. Air laut menetes perlahan dari rambut dan kulitnya.

Ia menunduk, lalu melihat ke arah kaki barunya, sirip yang selama ini menjadi bagian dari dirinya… perlahan berubah. Membelah, memanjang, lalu menjelma menjadi sepasang kaki manusia.

"Woahhh... ini sungguh menakjubkan! Lihat, Gord… aku punya kaki sekarang!"

Suara Sulaiman bergetar penuh antusias. Matanya berbinar, seolah takut berkedip dan melewatkan keajaiban itu.

"Iya, benar, Pangeran… aku pun sama…" sahut Gord tak kalah takjub. "Aku juga memiliki dua buah kaki baru."

Sulaiman mencoba berdiri, Perlahan namun sedikit Ragu. Tubuhnya yang biasanya lincah di air kini terasa kaku dan berat saat memulai langkah pertamanya.

Satu langkah…Lalu...

Gedebug!

Ia kehilangan keseimbangan.

"Hati-hati, Pangeran! Kau tidak apa-apa?" Gord dengan sigap mencoba menopang tubuh Sulaiman. Namun tubuhnya yang kecil jelas tak sebanding dengan ukuran tubuh putra raja Atlantis Utara tersebut.

BRUK!

Keduanya terjatuh bersamaan, menciptakan suara yang cukup keras di atas pasir.

"Pangeran #4-4(_!$)$)+$)3+$!3-)37!#!"

Gord mengerang tidak jelas, suaranya teredam oleh pasir yang mengubur tubuh mungilnya.

Tubuh Sulaiman yang besar tanpa sengaja menimpa Gord, membuat Gord terpendam dalam gundukan pasir pantai, Sulaiman mengangkat tubuhnya,jelas ia kebingungan lalu menoleh ke arah kiri dan kanan.

"Gord? Kau di mana?" Teriak Sulaiman cemas.

"Pangeran… aku di bawah sini!" suara kecil itu terdengar samar.

Sulaiman terkejut. Ia segera melihat ke bawah dan benar saja, Gord terkubur setengah badan di dalam pasir. Dengan cepat, Sulaiman berlutut dan menggali pasir dengan kedua tangannya.

Dengan sedikit usaha dan napas yang memburu, akhirnya ia berhasil menarik Gord keluar dari dalam tumpukan pasir itu, posisi kepala Gord berada di bawah gundukan itu.

"Apakau tidak apa-apa, Gord?" tanyanya sambil membantu membersihkan butiran pasir yang menempel di tubuh kecil asisten pribadinya itu.

Gord menggeleng pelan, lalu tersenyum. "Aku tidak apa-apa, Pangeran… Pangeran sendiri bagaimana?"

Sulaiman mengangguk meyakinkan " aku baik baik saja." Di bawah sinar matahari pantai, sosoknya tampak gagah dengan tubuh tinggi dan kokoh, kontras dengan Gord yang kecil, bulat, dan tampak semakin mungil di sampingnya.

Dua makhluk dari dunia laut itu kini berdiri dalam dunia baru, mereka tampak masih canggung, namun dipenuhi rasa takjub yang luar biasa.

Langkah demi langkah, Sulaiman mulai terbiasa menggerakkan kakinya. Meski masih sesekali goyah dan sempoyongan, ia kini sudah mampu berjalan lebih tegak. Di sampingnya, Gord berjalan dengan langkah pendek-pendek, sesekali mengeluh karena pasir yang panas.

"Daratan ini… ternyata melelahkan juga, Pangeran," gumam Gord sambil mengibaskan kakinya.

Sulaiman tersenyum tipis. "Tapi juga ini sangat menakjubkan, daratan itu keren!"

Di hadapan mereka, terbentang sebuah desa pesisir yang hidup. Deretan rumah kayu berdiri rapi, beratap daun dan genteng sederhana. Perahu-perahu nelayan bersandar di tepi pantai, sementara suara ombak berpadu dengan riuh aktivitas warga.

"Apa itu…" ujar Sulaiman, menunjuk ke kejauhan.Di tengah desa, tampak bangunan yang jauh lebih megah dibandingkan yang lain. Dindingnya jelas terlihat kokoh, dengan menara yang menjulang, dan bendera yang berkibar pelan diterpa angin laut.

Gord menyipitkan mata. "Sepertinya itu pusat kekuasaan di tempat ini."

Mereka pun berjalan memasuki desa itu, Beberapa warga mulai memperhatikan dengan tatapan heran, tak bisa disembunyikan ekspresi warga desa saat melihat sosok tinggi gagah seperti Sulaiman dan makhluk kecil unik seperti Gord berjalan berdampingan.

"Siapa mereka…?" bisik seorang nelayan.

"Sepertinya Orang asing… dari mana mereka datang?" sahut yang lain.

Namun Sulaiman tetap melangkah tenang. Tatapannya lurus ke depan, penuh rasa ingin tahu tentang dunia daratan.

Tak lama kemudian, mereka tiba di gerbang sebuah kompleks besar. Di atas gerbang itu terukir tulisan yang asing bagi mereka, namun tampak penuh wibawa.

Seorang penjaga melangkah maju, tombak tak pernah jauh dari tangannya.

"Berhenti! Siapa kalian, dan apa tujuan kalian datang ke wilayah ini?"

Sulaiman menatapnya dengan tenang, lalu menjawab, "Kami adalah pengembara… dari tempat yang jauh. Kami datang tanpa niat yang buruk sedikitpun."

Gord mengangguk cepat di sampingnya. " Betul sekali."

Penjaga itu mengamati mereka sejenak, lalu berkata, "Kalian berada di wilayah kerajaan Pangandaran… tepatnya di sebuah desa pesisir yang berada di bawah naungan kerajaan Islam."

"Dan di sana, bersemayam sesosok pemimpin kami yang sangat adil dan bijaksana bernama Sultan Abdul Azis." Ucap sang pengawal menjelaskan.

Sulaiman dan Gord saling berpandangan. Nama itu terasa asing, namun juga penuh wibawa. Angin laut berhembus sangat pelan, seolah membawa pertanda aneh.

Petualangan mereka… baru saja dimulai.

Suasana di gerbang desa mulai menegang.

Beberapa prajurit sudah mengepung Sulaiman dan Gord. Tatapan mereka sangat tajam, penuh curiga terhadap dua sosok asing yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Cepat ikat mereka! Kita bawa ke dalam untuk diinterogasi," perintah salah satu prajurit tegas.

Gord menelan ludah berat. "P-Pangeran… sepertinya kita dalam masalah besar… bagaimana ini, aku sangat takut!" Ucap Gord gemetaran.

Akan tetapi putra atlantis itu—pangeran Sulaiman tetap berdiri dengan tenang, meski sorot matanya mulai waspada.Namun, sebelum prajurit itu benar-benar bergerak, terdengar sebuah langkah derap suara yang membuat para prajurit dan siapapun yang hadir saat itu menjadi bergetar.

"Berhenti."

Suara itu terdengar tenang… namun berwibawa. Seketika, seluruh prajurit pun ikut membeku.

Dari arah jalan desa, tampak rombongan sederhana sedang mendekat. Di tengahnya, seorang pria paruh baya berjalan dengan langkah tenang. Pakaiannya tidak berlebihan, namun tetap menjaga kebersihan dan tampil rapi, memancarkan kewibawaan yang alami.

Dialah Sultan Abdul Azis.

Seorang pemimpin yang dikenal sering turun langsung ke desa-desa, melihat sendiri keadaan rakyatnya, mendengar keluh kesah mereka tanpa perantara.

"Yang Mulia!" seru para prajurit serempak, lalu menundukkan kepala.Sultan mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar mereka tetap tenang. Tatapannya kemudian beralih kepada Sulaiman dan Gord.

Ia mengamati keduanya sejenak. Bukan dengan curiga… melainkan dengan rasa ingin tahu. " Apa yang terjadi di sini?" tanyanya lembut.

Seorang prajurit maju. " Maafkan saya yang mulia. Dua orang asing ini telah lancang memasuki wilayah kita tanpa izin. Kami hendak membawa mereka untuk diperiksa lebih lanjut."

Pimpinan tertinggi mereka pun sampai saat ini terdiam sesaat. Angin pantai berhembus pelan, jubahnya bergerak dengan lembut.

Lalu ia melangkah mendekat ke arah kerumunan warganya.

Sulaiman dan Sultan Abdul Azis kini saling berhadapan. Dua sosok yang sama-sama memancarkan wibawa, meski berasal dari dunia yang berbeda.

Sultan tersenyum tipis.

"Aku tidak melihat ada sesuatu hal niat buruk di mata mereka," ucapnya tenang.

Prajurit-prajurit saling berpandangan.

"Namun, Yang Mulia??"

"Tidak perlu dibelenggu," potong Sultan lembut, namun tegas. "Di negeri ini, kita menyambut tamu dengan sangat penuh kehormatan, bukan dengan penuh kecurigaan."

Suasana saat itu pun seketika berubah.

Gord menghela napas lega. "Wah… beliau itu baik sekali, Pangeran…"

Sultan Abdul Azis lalu menatap Sulaiman dengan dalam. "Siapakah namamu, wahai pemuda?"

"Aku Sulaiman," jawabnya singkat namun sopan. "Dan ini Gord, temanku."

Sultan mengangguk pelan.

"Selamat datang di kerajaan Pangandaran, wahai Sulaiman… Gord," ucapnya ramah. "Aku Abdul Azis, pemimpin wilayah daerah ini."

Ia lalu mengulurkan tangan tanda perkenalan,sebuah gestur sederhana, namun penuh makna penerimaan.

"Kalian tampak lelah setelah perjalanan panjang. Apakah kalian mau menjadi tamu kami di istana?"

Sulaiman sedikit terdiam. Ia menatap tangan itu, lalu menatap wajah Sultan yang penuh ketulusan, Perlahan, ia membalas uluran tangan tersebut.

"Hal ini menjadi sebuah kehormatan bagi kami."

Senyum Sultan pun mengembang.

"Kalau begitu, mari ikut aku ke dalam istanaku." Ucap sultan Abdul Azis.

Para prajurit pun ikut mundur dan memberi jalan. Tidak ada lagi ketegangan, yang tersisa hanyalah sebuah rasa hormat.

Sulaiman dan Gord pun mengikuti langkah Sultan Abdul Azis untuk sampai menuju istana.

Di bawah langit pesisir yang luas, sebuah pertemuan takdir telah terjadi antara pangeran dari lautan… dan seorang raja yang berhati mulia asal daratan.

*****

Nama pena: Fateemah Ali

Genre: Fantasi

Platform: Max Novel

Editorial:

Terdapat binar yang berbeda saat Fateemah Ali membawa kita keluar dari kedalaman samudra menuju daratan yang asing. Berbeda dengan narasi fantasi yang biasanya terjebak dalam deskripsi megah yang membosankan, naskah ini justru membumi dengan menyuguhkan momen-momen transisi fisik yang terasa sangat organik. Bagaimana sirip berubah menjadi kaki bukan sekadar keajaiban visual, melainkan sebuah perjuangan motorik yang canggung dan manusiawi. 

Penulis ini berhasil menangkap esensi "keajaiban" melalui mata karakter yang belum pernah bersentuhan dengan gravitasi daratan.

Kekuatan suara penulis muncul melalui kontras yang apik antara kepolosan Sulaiman dan wibawa Sultan Abdul Azis. Ritme ceritanya bergerak lincah, menyelingi ketegangan pertemuan dua dunia dengan sentuhan humor yang ringan melalui interaksi Sulaiman dan asistennya, Gord. Namun, di balik kecanggungan langkah pertama itu, ada ketegangan halus tentang identitas yang disembunyikan. Atmosfer yang dibangun terasa hangat dan penuh rasa ingin tahu, mencerminkan sebuah pertemuan takdir yang tidak perlu diteriakkan untuk terasa penting.

Penyajian tema pertemuan lintas budaya dalam naskah ini terasa dewasa karena ia mengedepankan dialog dan gestur penerimaan daripada sekadar konflik fisik. Meski ada beberapa detail tanda baca yang perlu dirapikan untuk menjaga kemulusan pembacaan, secara keseluruhan, buku ini menjanjikan sebuah petualangan epik yang berkelas. Fateemah Ali seolah memberikan undangan terbuka bagi mereka yang merindukan kisah fantasi dengan sentuhan kearifan lokal yang kental, di mana wibawa tidak selalu berarti pedang yang terhunus, melainkan tangan yang terulur untuk menerima tamu asing.

by Rahmat Ry



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama