KING SULAIMAN - Fateemah Ali

KING SULAIMAN - Fateemah Ali


0

Bab 2 Perjalanan Awal ke Daratan

​Saat Sulaiman tiba di hamparan pesisir pantai yang hangat, ia terdiam sejenak. Air laut menetes perlahan dari rambut dan kulitnya. Ia merasakan sensasi asing pada tubuhnya sendiri. Ia menunduk dan menyaksikan keajaiban terjadi. Sirip yang selama ini menjadi bagian dirinya perlahan berubah. Bagian itu membelah, memanjang, lalu menjelma menjadi sepasang kaki manusia.

​"Wah, ini sungguh menakjubkan! Lihat, Gord, aku punya kaki sekarang!" Suara Sulaiman bergetar penuh antusias. Matanya berbinar seolah takut kehilangan momen tersebut.

​"Benar, Pangeran. Aku pun sama," sahut Gord tak kalah takjub. "Aku juga memiliki dua kaki baru."

​Sulaiman mencoba berdiri dengan ragu. Tubuhnya yang biasa lincah di dalam air kini terasa kaku dan berat saat memulai langkah pertama. Satu langkah diambil, namun tiba tiba ia kehilangan keseimbangan.

​Gedebug!

​"Hati hati, Pangeran! Kau tidak apa apa?" Gord sigap mencoba menopang. Namun, tubuh kecilnya tak sebanding dengan ukuran putra raja Atlantis Utara tersebut.

​Bruk! Keduanya terjatuh bersamaan di atas pasir. Tubuh Sulaiman yang besar tanpa sengaja menimpa Gord hingga asistennya itu terbenam dalam gundukan pasir pantai. Sulaiman segera bangkit dan menoleh ke segala arah dengan cemas.

​"Gord? Kau di mana?" teriak Sulaiman.

​"Pangeran, aku di bawah sini," suara kecil itu terdengar samar.

​Sulaiman terkejut melihat Gord terkubur setengah badan. Ia segera berlutut dan menggali pasir dengan cepat. Akhirnya, ia berhasil menarik Gord keluar. "Apa kau baik baik saja?" tanyanya sambil membersihkan butiran pasir pada tubuh asistennya.

​Gord menggeleng pelan lalu tersenyum. "Aku tidak apa apa. Pangeran sendiri bagaimana?"

​"Aku baik baik saja," jawab Sulaiman meyakinkan. Di bawah sinar matahari, sosoknya tampak gagah dan kokoh, sangat kontras dengan Gord yang bulat dan mungil.

​Langkah demi langkah, Sulaiman mulai terbiasa. Meski sesekali goyah, ia kini mampu berjalan tegak. Di sampingnya, Gord melangkah pendek pendek sambil sesekali mengeluh karena pasir yang mulai panas.

​"Daratan ini ternyata cukup melelahkan, Pangeran," gumam Gord.

​Sulaiman tersenyum tipis. "Tapi tempat ini sangat keren."

​Di hadapan mereka terbentang desa pesisir yang hidup. Deretan rumah kayu berdiri rapi dengan perahu nelayan yang bersandar di tepi pantai. Sulaiman menunjuk sebuah bangunan megah di tengah desa dengan menara menjulang.

​"Sepertinya itu pusat kekuasaan di tempat ini," ujar Gord.

​Saat mereka memasuki desa, para warga mulai memperhatikan dengan heran. Sosok tinggi gagah seperti Sulaiman dan makhluk unik seperti Gord tentu menarik perhatian.

​"Siapa mereka?" bisik seorang nelayan.

​"Sepertinya orang asing. Dari mana asalnya?" sahut yang lain.

​Sulaiman tetap melangkah tenang hingga mereka tiba di depan sebuah gerbang kompleks besar. Seorang penjaga maju dengan tombak di tangan. "Berhenti! Siapa kalian dan apa tujuan kalian datang ke mari?"

​Sulaiman menatapnya tenang. "Kami adalah pengembara dari tempat jauh. Kami datang tanpa niat buruk sedikit pun."

​"Betul sekali," Gord mengangguk cepat.

​Penjaga itu mengamati mereka sebelum menjelaskan, "Kalian berada di wilayah Kerajaan Pangandaran, desa pesisir di bawah naungan kerajaan Islam. Di sini bersemayam pemimpin kami yang adil, Sultan Abdul Azis."

​Suasana mendadak tegang saat beberapa prajurit lain datang mengepung. Tatapan mereka tajam dan penuh curiga. "Ikat mereka! Bawa ke dalam untuk diinterogasi," perintah salah satu prajurit.

​Gord menelan ludah. "Pangeran, sepertinya kita dalam masalah. Aku takut."

​Namun, sebelum prajurit bergerak, sebuah suara berwibawa menghentikan segalanya. "Berhenti."

​Seorang pria paruh baya berpakaian rapi dan bersahaja mendekat. Dialah Sultan Abdul Azis. Para prajurit segera menundukkan kepala dengan hormat. Sultan mengamati Sulaiman dan Gord dengan rasa ingin tahu yang lembut.

​"Apa yang terjadi di sini?" tanya Sultan.

​"Maaf Yang Mulia, dua orang asing ini masuk tanpa izin. Kami hendak memeriksa mereka," lapor seorang prajurit.

​Sultan terdiam sesaat, lalu melangkah mendekat. Ia menatap mata Sulaiman dengan dalam. "Aku tidak melihat niat buruk di mata mereka. Tidak perlu dibelenggu. Di negeri ini, kita menyambut tamu dengan kehormatan, bukan kecurigaan."

​Gord menghela napas lega. "Beliau baik sekali, Pangeran."

​Sultan Abdul Azis kembali menatap Sulaiman. "Siapakah namamu, wahai pemuda?"

​"Aku Sulaiman," jawabnya sopan. "Dan ini temanku, Gord."

​Sultan mengangguk ramah. "Selamat datang di Pangandaran. Aku Abdul Azis. Kalian tampak lelah. Maukah kalian menjadi tamu di istanaku?"

​Sulaiman terdiam sejenak, menatap wajah Sultan yang penuh ketulusan. Ia pun membalas uluran tangan sang Sultan. "Ini adalah sebuah kehormatan bagi kami."

​Sultan tersenyum lebar. "Kalau begitu, mari ikut aku."

​Para prajurit mundur memberi jalan. Ketegangan berganti menjadi rasa hormat. Di bawah langit pesisir yang luas, sebuah takdir baru saja dimulai antara pangeran dari lautan dan penguasa daratan yang bijaksana.

*****

Nama pena: Fateemah Ali

Genre: Fantasi

Platform: Max Novel

Editorial:

Cerita ini menyajikan momen transisi yang sangat menarik dan penuh imajinasi. Kita diajak menyaksikan bagaimana Sulaiman, seorang pangeran dari Atlantis, pertama kali merasakan kehidupan di daratan. Proses perubahan sirip menjadi kaki manusia digambarkan dengan sangat ajaib, memberikan kesan fantasi yang kuat namun tetap terasa nyata bagi pembaca.

Dinamika antara Sulaiman dan asistennya, Gord, menjadi bumbu komedi yang menyegarkan dalam cerita ini. Penulis berhasil menggambarkan kekakuan mereka saat mencoba berjalan di atas pasir dengan sangat lucu. Momen Sulaiman yang secara tidak sengaja menindih Gord hingga terkubur pasir menambah kedekatan emosional pembaca terhadap kedua karakter unik ini.

Selain unsur fantasi, cerita ini juga mulai memasukkan unsur petualangan dan ketegangan. Saat mereka memasuki wilayah pemukiman manusia, rasa curiga dari warga sekitar dan penjaga kerajaan memberikan tantangan pertama bagi Sulaiman. Hal ini menunjukkan bahwa dunia manusia tidak selalu mudah dihadapi oleh mereka yang datang dari bawah laut.

Latar tempat yang dipilih penulis sangat menarik, yaitu Kerajaan Pangandaran yang bernuansa islami. Penggabungan antara mitos Atlantis yang legendaris dengan latar sejarah lokal memberikan warna baru pada genre fantasi. Hal ini membuat cerita terasa lebih dekat dengan pembaca di Indonesia namun tetap memiliki skala petualangan yang luas.

Hadirnya sosok Sultan Abdul Azis sebagai pemimpin yang bijaksana memberikan pesan moral yang sangat bagus. Sultan mengajarkan tentang pentingnya berbaik sangka dan menghormati tamu, meskipun mereka adalah orang asing yang tampak aneh. Pertemuan antara Sultan dan Sulaiman menjadi titik balik yang mengubah ketegangan menjadi sebuah persahabatan baru.

Gaya bahasa yang digunakan oleh Fateemah Ali sangat mengalir dan menggunakan pilihan kata yang ringan. Deskripsi suasananya tidak bertele-tele, sehingga pembaca bisa langsung membayangkan betapa hangatnya pantai Pangandaran dan betapa megahnya istana yang akan mereka kunjungi. Ini adalah tipe cerita yang sangat nyaman dibaca di waktu senggang.

Secara keseluruhan, cerita ini berhasil memancing rasa penasaran pembaca tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Sulaiman bisa menyesuaikan diri dengan aturan daratan? Ataukah ada ancaman lain yang menantinya? Anda bisa mengikuti kelanjutan kisah luar biasa ini dalam judul King Sulaiman yang tersedia di platform Max Novel

Fateemah Ali adalah seorang penulis berbakat yang aktif berkarya di platform Max Novel, Ia dikenal memiliki imajinasi yang luas dalam membangun dunia fantasi yang unik, namun tetap mampu menyisipkan nilai-nilai kearifan lokal dan pesan moral yang menyentuh hati di setiap alur ceritanya.

by Nada Maya



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama