Bab 1: Pesan di balik kabut
Cakrawala perlahan berubah menjadi jingga hangat ketika sinar matahari pertama meluncur di atas daratan Frisia Utara. Itu adalah saat sunyi sebelum hari benar-benar dimulai, momen singkat ketika dunia seolah berhenti bernapas. Air laut sedang surut, dan Laut Wadden membentang seperti makhluk purba yang tertidur. Alur pasang surut berkilau keperakan di atas lumpur, sementara camar berteriak samar di kejauhan.
Karl Rasmussen, pria enam puluhan dengan punggung sedikit membungkuk, berdiri di dermaga menghirup udara asin. Angin pagi terasa lembut, hal yang jarang terjadi pada musim ini. Lututnya terasa ngilu, pertanda cuaca biasanya akan berubah, namun pagi ini semuanya tampak tenang. Laut sedang bersahabat untuk sementara waktu.
Selama puluhan tahun, hampir setiap hari Karl pergi melaut. Kapal tua penangkap kepiting miliknya, Karolina, bukan sekadar kendaraan bagi dia. Karolina adalah hidupnya, tempat perlindungan, dan sisa terakhir kebebasan di dunia yang bergerak terlalu cepat. Papan kayu tua di geladak berderit akrab saat laki-laki itu melangkah naik. Tangannya mengusap pintu kabin yang sudah aus seperti menyapa teman lama sebelum mulai memeriksa jaring.
Biasanya sang cucu ikut membantu, namun belakangan anak itu mulai tertarik pada kehidupan kota dan sekolah. Jadi, pagi ini Karl sendirian. Dia baru saja menyalakan mesin diesel ketika menyadari sesuatu yang janggal. Pintu kabin kecil di buritan terbuka sedikit, bergerak pelan maju mundur ditiup angin.
Karl adalah orang yang hidup dari rutinitas. Setiap malam dia selalu memastikan semua pintu terkunci. Kabin itu nyaris tidak pernah dibuka karena hanya berisi peta laut lama dan suku cadang. Dengan perasaan tidak enak, dia mendorong pintu tersebut perlahan. Cahaya matahari pucat masuk lewat jendela bundar kecil, menerangi ruangan dengan warna suram.
Awalnya Karl hanya melihat sosok seseorang terbaring diam di ranjang sempit. Jantungnya berdegup keras. Ada penyusup, atau sesuatu yang lebih buruk telah terjadi.
"Halo?" suaranya serak dan pelan.
Tidak ada jawaban. Karl melangkah lebih dekat. Sosok itu tampak setengah baya, pakaiannya basah kuyup seolah sudah berjam-jam berada dalam dingin. Wajahnya menghadap cahaya, matanya terbuka kaku. Mati.
Karl mundur hingga punggungnya membentur kusen pintu. Rasa dingin menjalar di tulang belakangnya. Pikirannya menduga kecelakaan, namun tidak ada tanda pintu dibobol dan tubuh itu terbaring terlalu tenang. Kemudian, pandangannya jatuh ke dahi mayat tersebut. Ada dua kata besar dan gelap seolah dibakar ke kulit.
Blood Algae.
Karl terpaku menatapnya. Kata itu terdengar mengancam seperti sebuah peringatan. Napasnya tersengal ketika dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi polisi. Menunggu petugas datang terasa seperti berjam-jam. Karl duduk di geladak dengan wajah pucat hingga kesunyian pelabuhan pecah oleh suara mobil patroli.
Seorang detektif turun dari mobil. Tinggi, bertubuh besar, dengan wajah keras yang ditempa angin laut. Leif Wagner namanya. Dia hanya memberi anggukan singkat pada Karl sebelum berjalan menuju kabin. Di belakangnya mengikuti seorang wanita muda berjaket gelap, Nena Freund. Karl mendengar langkah kaki mereka di atas geladak, lalu muncul kesunyian tegang saat mereka melihat mayat itu untuk pertama kali.
Karl tetap duduk di luar. Pandangannya tertuju pada air laut yang tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, padahal segalanya telah berubah.
Leif Wagner memarkir mobil birunya di tepi pelabuhan Tönning. Angin laut menghantam wajahnya saat dia membuka pintu, namun pria itu tidak berkedip. Dia sudah terbiasa dengan hembusan angin Jerman Utara yang selalu membawa rasa asin. Bagi orang asing, tempat ini mungkin tampak kosong dan dingin, namun bagi Wagner, tempat ini sederhana dan jujur, sama seperti dirinya.
Matanya menyapu sekitar dengan cepat, melihat cahaya pucat dan kapal Karolina yang sedikit miring. Tidak ada pita garis polisi yang berlebihan atau lampu biru yang berkedip panik. Wagner menyukai hal seperti itu; tanpa sandiwara, hanya fakta. Dia berjalan menuju dermaga kayu yang berderit di bawah langkahnya.
Karl Rasmussen duduk membungkuk di atas ember terbalik. Wajah pria tua itu menunjukkan guncangan hebat. Wagner hanya mengangguk singkat, tanpa tatapan iba atau pertanyaan yang tidak perlu. Pandangannya seolah berkata bahwa dia akan mengurus segalanya.
"Kapal itu milikmu?" tanyanya tanpa mengeluarkan buku catatan. Dia tidak membutuhkannya karena hal penting selalu tersimpan di kepalanya. Karl hanya mengangguk pelan.
Wagner menaiki papan penghubung menuju kapal. Karolina adalah kapal tua dengan banyak karat, namun tampak kokoh. Dia melewati ambang pintu kabin yang terbuka. Hal pertama yang dia sadari adalah baunya; campuran kayu lembap, solar, dan aroma ruangan yang terlalu lama terkurung.
Dia masuk perlahan sambil mengenakan sarung tangan. Matanya menyesuaikan diri dengan cahaya redup. Mayat pria berusia lima puluhan itu terbaring di sana dengan rambut lengket dan tangan kaku. Ini tidak terlihat seperti kecelakaan. Keadaannya terlalu rapi. Dan ada tulisan itu di dahinya.
Blood Algae.
Bukan goresan atau luka, melainkan ditulis dengan sesuatu yang gelap, mungkin tinta atau sesuatu yang jauh lebih buruk. Wagner menatap tulisan itu dengan saksama, menyadari bahwa kasus ini akan membawa mereka ke tempat yang lebih gelap dari sekadar kematian di pelabuhan.
Judul: Blood Algae
Penulis: Ikhwanul Halim
Genre: Aksi
Platform: Novel Laris
Editorial:
Novel ini menyajikan pembukaan yang sangat atmosferik dengan latar pelabuhan di Jerman Utara yang dingin dan sunyi. Penulis berhasil membangun ketegangan secara perlahan, dimulai dari rutinitas pagi seorang nelayan tua yang tenang hingga penemuan mayat misterius di dalam kapal kesayangannya. Deskripsi tentang suasana laut dan detail kabin kapal membuat pembaca seolah bisa menghirup aroma garam dan solar yang menyengat di lokasi kejadian.
Karya berjudul "Blood Algae" ini ditulis oleh Ikhwanul Halim. Sebagai penulis yang aktif di platform Novel Laris, ia menunjukkan kemampuannya dalam mengolah genre Aksi dengan pendekatan detektif yang sangat realistis. Gaya penulisannya lugas dan maskulin, sangat cocok dengan karakter utama yang digambarkan sebagai sosok tangguh dan tidak banyak bicara.
Keunggulan utama novel ini terletak pada kemampuannya menciptakan misteri yang sangat kuat hanya dalam beberapa halaman pertama. Tulisan "Blood Algae" di dahi mayat menjadi sebuah teka-teki yang langsung memikat rasa ingin tahu pembaca. Selain itu, perbedaan karakter antara Karl sang nelayan tua yang terguncang dan Detektif Wagner yang sangat dingin memberikan dinamika cerita yang menarik untuk diikuti.
Mengenai kekurangan, alur ceritanya mungkin terasa sedikit lambat di awal bagi pembaca yang mengharapkan adegan aksi fisik yang cepat. Namun, hal ini bisa dieksekusi dengan sangat baik lewat kelebihan penulis dalam membangun ketegangan psikologis dan suasana yang mendalam. Ketenangan yang digambarkan justru menjadi kekuatan yang membuat momen penemuan mayat terasa lebih mengejutkan dan mengerikan.
Dinamika investigasi yang baru dimulai ini menjanjikan sebuah perjalanan panjang yang penuh teka-teki dan bahaya. Penulis sangat cerdik dalam menyimpan informasi penting, membuat pembaca ikut merasa seperti detektif yang sedang mengamati tempat kejadian perkara secara langsung. Pemilihan latar tempat yang tidak biasa juga memberikan warna tersendiri bagi perkembangan cerita selanjutnya.
Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu yang menyukai kisah misteri kriminal dengan bumbu investigasi yang mendalam. Jika kamu bosan dengan cerita aksi yang terlalu banyak ledakan tanpa logika, karya Ikhwanul Halim ini menawarkan ketegangan yang jauh lebih elegan dan cerdas. Segera baca kisah lengkapnya untuk mengungkap rahasia gelap di balik tulisan "Blood Algae" ini!
By: Rahmat Ry

Salah satu karya penulis kawakan nih, aku salut banget karyanya selalu berkualitas. Rekomended dehh..
BalasHapusBerasa masuk dunia film cinematic mah, keren kak. Semangat nulisnya.
BalasHapus-Jen