Bab 1. Ketulusan di Balik Kedai Bakso
Langit pagi di Karawang masih diselimuti kabut tipis ketika Ishaq berdiri di balkon masjid, menatap pelataran yang perlahan mulai ramai. Suara adzan Subuh baru saja usai, meninggalkan gema di dadanya. Pemuda itu menarik napas panjang dan berusaha tetap tenang.
Di usia dua puluh lima tahun, hidup Ishaq tampak sempurna bagi orang lain. Dia adalah putra tunggal pemilik usaha kuliner bakso terbesar di Karawang, "Bakso Baba Jenggot", yang cabangnya tersebar di berbagai sudut kota. Namun, Ishaq bukan pria yang menggantungkan hidup pada nama besar ayahnya. Dia memilih berjuang dengan menjual aneka buku akidah Islam serta bekerja sama dengan penerbit untuk memasarkan karya penulis terkenal maupun pendatang.
"Ishaq, kamu tidak capek bolak-balik kampus sambil membantu Abah di kedai?" tanya ibunya lembut suatu hari.
Ishaq tersenyum kecil. "Capek itu pasti, Um. Tapi kalau bukan sekarang belajar tanggung jawab, kapan lagi?"
Sang ibu mengangguk bangga. Sebagai mahasiswa semester akhir, hari-hari Ishaq diisi dengan skripsi dan mengelola keuangan keluarga. Dia sangat fasih memilih daging segar, mengatur stok, hingga melayani pelanggan. Tak jarang, pengunjung lebih memilih dilayani langsung olehnya karena ketulusan hatinya yang membuat mereka betah kembali.
Meski berwajah tampan dengan gaya rambut modern, Ishaq sangat menjaga pandangan dan hatinya. Baginya, cinta adalah tanggung jawab. Setiap malam, dia menghabiskan waktu di sudut masjid yang tenang untuk berkeluh kesah kepada Tuhan.
"Jika aku dipertemukan dengan seseorang nanti, jadikan dia alasanku untuk semakin dekat pada-Mu," doanya tulus.
Suatu hari, takdir mulai bekerja. Ishaq menemukan sebuah buku novel di kedainya. "Aisha Muthalib, nama yang indah. Sesuai dengan parasnya," gumamnya saat melihat nama pemilik di sampul belakang. Dia menyimpan buku itu di laci kasir, yakin pemiliknya akan kembali.
"Mas Toni, tolong meja nomor tiga dibereskan. Saya ada keperluan sebentar," perintah Ishaq kepada karyawannya.
"Baik, Mas Ishaq."
"Satu lagi, jika ada wanita bercadar mencari buku novel, berikan padanya. Saya taruh di laci kasir."
Setelah berpamitan, Ishaq menghidupkan motor Yamaha retro miliknya. Dia membaca doa perjalanan dengan khusyuk sebelum memacu kendaraan menuju rumah Zakir, sahabatnya. Namun, di tengah perjalanan, sebuah insiden terjadi. Seorang wanita tiba-tiba menyeberang jalan tanpa menoleh.
Decit rem motor Ishaq terdengar nyaring. "Astagfirullah!" seru wanita itu kaget sambil membungkuk meminta maaf.
Seorang sopir angkot turun dengan emosi meledak. "Hey, punya mata itu dipakai! Jangan menyusahkan orang!" teriak sang sopir yang sepertinya sedang mengejar setoran.
"Maaf, saya sedang buru-buru, Pak," jawab wanita yang tampaknya hendak menghadiri kajian di masjid itu.
Sopir tersebut tetap mengomel, bahkan mulai mengeluarkan kata-kata kasar. "Dasar Wahabi!" umpatnya.
Ishaq berusaha menengahi. "Astagfirullah, seharusnya Bapak menjaga lisan. Bukankah wanita itu sudah meminta maaf?"
Namun, sopir itu justru membentaknya. "Kamu pun sama! Sekufu dengannya, pantas membela!" Pria itu mendengus lalu kembali ke mobilnya.
Ishaq mengelus dada, berusaha meredam amarah. "Sabar, orang sabar pahalanya besar," bisiknya pada diri sendiri. Dia pun kembali melanjutkan perjalanan, membawa sisa kegaduhan itu dalam pikirannya yang mulai bertanya-tanya tentang pertemuan-pertemuan tak terduga di masa depan.
...
Penulis: Fateemah Ali
Genre: Romansa Islami, Kehidupan Urban
Platform: Novel Laris
Editorial:
Novel ini menghadirkan perkenalan tokoh yang sangat menyejukkan dengan latar belakang nilai-nilai religius yang kuat. Penulis berhasil menggambarkan sosok Ishaq sebagai pemuda impian; bukan hanya karena latar belakang keluarganya yang mapan, tetapi karena kemandirian dan prinsip hidupnya yang kokoh. Penggambaran suasana kota Karawang di pagi hari dan kesibukan kedai bakso memberikan kesan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari pembaca di Indonesia.
Novel berjudul "Cinta Terakhir Mas Ishaq" ini merupakan karya dari Fateemah Ali. Penulis menunjukkan kepiawaiannya dalam meramu genre Romansa Islami dan Kehidupan Urban. Gaya bahasanya yang lembut namun tegas mencerminkan kepribadian tokoh utama yang ia ciptakan, membawa pembaca untuk menyelami makna tanggung jawab dan menjaga kehormatan hati di tengah dunia modern yang serba cepat.
Keunggulan utama novel ini adalah kemampuannya dalam membangun karakter yang inspiratif tanpa terasa menggurui. Penulis menyelipkan nilai-nilai moral dan doa-doa sehari-hari secara natural ke dalam alur cerita, sehingga pembaca bisa belajar sekaligus terhibur. Konflik di jalanan yang melibatkan sopir angkot memberikan warna realitas yang nyata, memperlihatkan bagaimana kesabaran seorang pria diuji dalam situasi yang tidak menyenangkan.
Mengenai kekurangan, bagian awal yang banyak berisi deskripsi profil Ishaq berisiko terasa sedikit lambat bagi pembaca yang menyukai aksi cepat. Namun, hal ini bisa dieksekusi dengan cerdas melalui kelebihan penulis dalam menciptakan momen "kejutan" lewat insiden di jalan raya. Keberanian Ishaq membela wanita asing tersebut menjadi jembatan emosional yang kuat, membuktikan bahwa ketenangan yang ia miliki bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan karakter.
Dinamika antara kehidupan kampus, bisnis kuliner, dan sisi spiritual Ishaq membuat alur cerita terasa sangat kaya. Nama "Aisha Muthalib" yang muncul melalui sebuah buku novel di laci kasir menjadi teka-teki yang manis, membuat pembaca penasaran tentang siapa pemilik buku tersebut dan bagaimana takdir akan mempertemukan mereka kembali. Penulis sangat cerdik dalam menyimpan benih-benih pertemuan penting di bab-bab selanjutnya.
Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu yang menyukai kisah cinta yang santun, bermakna, dan penuh dengan nilai spiritual. Jika kamu mencari bacaan yang mampu menenangkan pikiran sekaligus memberi motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik, karya Fateemah Ali ini adalah pilihan yang sangat tepat. Mari kita nantikan bagaimana "bumbu cinta" dan doa-doa Ishaq akan membawanya pada keajaiban takdir yang baru!
By: Rahmat Ry

Kental banget dalam agamisnya, emang agak pelan alurnya, tapi ga papa. Bagus aja kok. Semangat kak.
BalasHapus-Jen
Terima kasih ya kak sudah mampir :)
HapusDialog Ishaq sama ibunya adem banget dibaca. Kalimat "kalau bukan sekarang belajar tanggung jawab, kapan lagi?" bener-bener ngena di hati. Penggambaran karakternya bikin ikut adem dan kagum. Semangat lanjut ceritanya!
BalasHapus