Pewaris Jantung Serigala Bintang - Rahmat Ry

 

Pewaris Jantung Serigala Bintang
0

Bab 20 Garis Batas

Malam turun tanpa kemeriahan, seolah Istana menahan napas usai ujian di Paviliun Timur. Vardans telah berada di kamarnya, melepaskan jubah luar dengan gerakan lambat. Ia baru hendak duduk di kursi dekat jendela ketika terdengar ketukan di pintu.

Bukan ketukan biasa, tiga pukulan berirama, tegas seperti palu hakim, tanpa menunggu izin.

Pintu terbuka sebelum ia sempat menjawab.

Mereka masuk seperti arus tak terbendung, memenuhi ruangan yang tadi sunyi. Karin melangkah paling depan, sikapnya terukur seperti prajurit, tatapannya langsung mengunci Vardans. Freya menyusul tanpa senyum, wajahnya serius seperti tabib yang hendak memeriksa pasien sebelum operasi. Nara membawa gulungan perkamen dengan hati-hati, seakan benda itu berharga sekaligus berbahaya. Luira menutup pintu dengan bunyi yang lebih berat dari sekadar kayu.

"Yang Mulia," ujar Karin memecah keheningan.
"Surat keputusan Raja baru saja tiba. Segelnya masih basah."

Vardans tidak langsung menjawab. Ia membiarkan angin malam dari jendela menyentuh kulitnya, mempertahankan sedikit kebebasan.
"Langsung setelah diskusi di Paviliun Timur," katanya akhirnya.
"Raja tidak ingin menunda."

"Benar," sahut Freya, matanya mengamati setiap detail ruangan.
"Penampilan Anda hari ini tampaknya cukup meyakinkan untuk mendorong tindakan yang lebih langsung."

Nara mengangkat gulungan itu. Segel merah kerajaan berkilau di bawah cahaya lampu.

"Dengan kuasa Raja Darion, demi pemulihan Pangeran Vardans, kami berempat ditunjuk menjalankan protokol pemulihan intensif. Mulai malam ini."

"Malam ini," ulang Vardans pelan.

"Ya, malam ini," tegas Karin.
"Dan setiap malam setelahnya sampai kondisi Anda stabil."

Luira tetap diam, tapi kehadirannya terasa paling kuat, seolah menguasai ruangan tanpa suara.

"Bacakan," perintah Vardans.

Nara membuka perkamen. Suara gesekan kertas terdengar jelas.

"Atas nama Raja Darion, keempat pendamping, Karin, Freya, Nara, dan Luira, diberi wewenang penuh melakukan segala metode penyembuhan yang diperlukan. Pendampingan intensif, pengawasan tanpa jeda, tindakan langsung bila dibutuhkan, penggunaan sihir terbatas, hingga pendekatan menyeluruh demi pemulihan Pangeran sebagai calon penerus takhta."

Ia berhenti sejenak.
"'Semua metode yang dianggap perlu' dan 'wewenang penuh'."

Vardans memahami maksudnya.

"Jadi mulai malam ini," ucapnya datar,
"kalian boleh melakukan apa pun yang kalian anggap perlu untuk ‘kesehatanku’."

"Bukan kami yang menentukan," jawab Karin, meski nadanya ambigu.
"Ini protokol Dewan Penyembuh."

"Protokol dari mereka yang tidak menjalaninya," balas Vardans. Ia berjalan menutup jendela. Bunyi kusen memutus koneksi terakhir dengan dunia luar.
"Aku paham posisi kalian. Tapi ada satu hal yang tidak tercantum di surat itu."

Freya mengangkat alis. "Apa?"

"Persetujuanku."

Karin menyeringai tipis. "Itu tidak disebut sebagai syarat."

"Tubuh ini milikku," potong Vardans tenang, namun berat.
"Kutukan Agena ada di dalamnya. Apa pun yang kalian lakukan, akan terjadi padaku. Jadi aku yang menetapkan batasannya."

Nara tampak tertarik. "Syarat seperti apa?"

"Pertama, tidak ada sihir tanpa persetujuanku yang jelas. Aku tahu sebelumnya ada mantra dalam air dan minyak. Mulai malam ini, tidak lagi."

"Tapi..."

"Kedua," lanjutnya,
"tidak ada tindakan apa pun tanpa persetujuanku di setiap langkah. Jangan berasumsi."

Freya melipat tangan. "Dan jika Anda tidak pernah menyetujui?"

"Protokol tidak berjalan," jawab Vardans dingin.

Luira sedikit bergerak. "Ada yang ketiga?"

Vardans menatapnya.
"Empat malam. Satu orang per malam. Bergiliran."

"Empat malam saja?" tanya Nara.
"Itu tidak cukup untuk observasi."

"Itu cukup," potong Vardans.
"Untuk melihat apakah ini benar penyembuhan atau sekadar uji batas."

Freya menghela napas. "Anda terlalu sinis."

"Dan kalian terlalu naif jika mengira ini murni soal kesehatan," balasnya.
"Aku tahu politik istana. Lucien tidak akan menyia-nyiakan kelemahanku."

Karin menarik napas.
"Jika kami melaporkan ini..."

"Laporkan," kata Vardans.
"Tapi katakan ini bukan permintaan. Ini batas. Tanpa kerja samaku, hasilnya hanya kepatuhan kosong."

Nara menggulung perkamen perlahan.
"Jika Raja menolak?"

Vardans menatapnya, kali ini dengan sedikit iba.
"Maka dia akan mendapatkan Pangeran yang patuh secara lahiriah, tapi tidak akan pernah pulih. Penyembuhan butuh kepercayaan, bukan paksaan."

Keheningan jatuh. Bahkan Karin tampak memahami.

Akhirnya ia mengangguk.
"Kami akan menyampaikannya."

"Malam ini," tegas Vardans.
"Aku ingin jawaban sebelum fajar."

Freya menatapnya, lalu tersenyum tipis.
"Anda lebih berani dari yang kami kira."

"Atau lebih putus asa," jawabnya singkat.

Mereka bersiap pergi. Karin lebih dulu, diikuti Freya yang sempat menoleh dengan tatapan yang sulit ditebak. Nara membawa perkamen dengan ragu.

Luira tetap tinggal.

Ruangan terasa lebih luas, lebih hening.

"Siapa yang pertama?" tanyanya pelan.

"Besok kita tentukan."

"Dan jika aku?"

Vardans menatapnya, merasakan kembali ingatan akan sentuhan dinginnya.
"Maka kita hadapi malam itu saat waktunya tiba."

Luira mengangguk, lalu pergi.

Pintu tertutup, seperti meterai yang mengesahkan kesepakatan.

Vardans kini sendiri. Udara terasa berat oleh janji dan ancaman. Empat malam. Satu orang setiap malam.

Ia duduk di tepi ranjang, kelelahan datang seperti gelombang. Namun ada kepuasan dingin karena ia telah menarik garis, telah mengatakan "tidak".

Di luar, langkah kaki mereka menjauh.

Di dalam, hanya detak jantungnya.

Besok.

Malam pertama dimulai.

Siapa yang akan datang? Apa yang akan terjadi saat mereka berdua dalam ruang ini, dengan batas yang telah ditetapkan?

Dan apakah batas itu akan bertahan?

Vardans berbaring, menatap langit-langit yang diterangi cahaya bulan.

Empat malam. Empat kemungkinan.

Ia menutup mata, bukan untuk tidur, melainkan bersiap.

Karena besok, semua akan dimulai.

****

Nama pena: Rahmat Ry

Genre: Fantasi-Isekai 

Tags: Reinkarnasi, Sihir, Harem

Platform: MaxNovel

Editorial:

Novel ini menghadirkan suasana yang tenang tapi penuh ketegangan sejak awal. Pembukaan cerita langsung membawa pembaca masuk ke dalam konflik tanpa banyak basa-basi. Ketukan pintu, kehadiran empat wanita, dan surat keputusan Raja menjadi pemicu cerita yang kuat. Alurnya terasa rapi dan mudah diikuti, meskipun isinya cukup serius dan penuh intrik.

Tokoh utama, Vardans, digambarkan sebagai karakter yang tegas dan punya pendirian kuat. Ia tidak hanya pasif menerima keadaan, tetapi berani menetapkan batas atas tubuh dan hidupnya sendiri. Ini membuat karakternya terasa hidup dan tidak mudah ditebak. Pembaca bisa merasakan konflik batin yang ia alami, terutama antara kewajiban, tekanan istana, dan keinginannya untuk tetap memiliki kendali.

Keempat karakter wanita, Karin, Freya, Nara, dan Luira, masing-masing punya kepribadian yang berbeda dan menarik. Karin terlihat tegas seperti prajurit, Freya cerdas dan tajam, Nara penuh rasa ingin tahu, dan Luira misterius serta tenang. Interaksi mereka dengan Vardans menciptakan dinamika yang kuat, apalagi dengan konsep giliran empat malam yang menambah rasa penasaran.

Cerita ini tidak hanya tentang sihir atau penyembuhan, tetapi juga tentang kekuasaan, batas diri, dan kepercayaan. Konfliknya terasa lebih dalam karena menyentuh sisi psikologis tokoh. Unsur politik istana juga membuat cerita lebih kompleks, tapi tetap bisa dipahami dengan bahasa yang sederhana.

Dari segi gaya penulisan, penulis menggunakan deskripsi yang cukup detail tanpa terasa berlebihan. Suasana malam, ketegangan ruangan, hingga emosi karakter bisa tergambar dengan jelas. Dialog antar tokoh juga terasa hidup dan tidak kaku, sehingga pembaca mudah tenggelam dalam cerita.

Rahmat Ry adalah penulis yang mengusung genre Fantasi-Isekai dengan sentuhan drama dan psikologis. Karyanya di platform MaxNovel dikenal memiliki konflik yang kuat, karakter yang berlapis, serta alur yang fokus pada perkembangan emosi tokoh. Ia sering mengangkat tema kekuasaan, pilihan hidup, dan batas manusia dalam dunia fantasi yang kompleks.

By Nada Maya



13 Komentar

Ulasan buku

  1. ISEKAI!! Fantasi campur harem yang menggoda. Impian para lelaki, wajib dibaca ini mah!

    BalasHapus
  2. Jujur baru sekali ini mencoba memahami isekai, dan ternyata sebagus itu. Sudah membaca karya lengkapnya di Pf maxnovel sampai bab 22 dan terpesona dengan diksinya juga penggambaran protagonis si asisten dokter bedah yang lahir kembali menjadi pangeran pesakitan di jaman lampau. SERU SEKALI, apalagi tema haremnya ditandai dengan si pangeran ini berhubungan dengan para selir dengan berbagai sifat n tujuan.

    BalasHapus
  3. Kombinasi unik antara drama suspense di dunia modern dengan petualangan epik di dunia fantasi. Premis tentang "mematahkan kutukan garis keturunan" di kehidupan kedua memberikan motivasi yang kuat bagi protagonis. Ceritanya bagus apalagi ada unsur pembalasan dendam dan penebusan yang megah.

    BalasHapus
  4. Bagus banget alurnya epic dan teratur, suka banget dengan ceritanya. Genre juga sangat diminati di era sekarang. Semangat kak author, membaca karyamu sungguh membuatku terinspirasi. . .

    BalasHapus
  5. Wow wow and wow...
    Ini authornya pinter apa gimana ya...
    Satu masalah kecil yang selalu di jadikan konflik rumah tangga, disini di jadikan plot awal sebagai bentuk motivasi tokoh utama. Dan itu di bungkus dalam cerita Isekai. Luar biasa Mateng cara menulisnya, saya dibuat masuk kedalam dunia fantasi yang detailnya cukup mengesankan, selain disajikan bumbu dewasa, cerita ini memberikan nasehat dalam bahasa dewasa matang yang enak di pahami. Intrik dan konflik juga menarik,
    Dan saya sudah baca sampai bab 70...
    Ternyata epic pertempuran para Harem berlanjut ke 3 karakter baru .. hahaha seruu banget🤭

    BalasHapus
  6. Wah, bab 20 udah tegang, eh pas bab 21… gila! Rasanya aku bakal maraton sampai update terbaru nih.

    BalasHapus
  7. Bab 23 lebih epic dari bab 20! Deg-degan banget, nggak sabar lihat kelanjutan ceritanya. Apalagi adegan nya .... Beuuuhhh mantep sekali, hehe ada serabinya. Serabi yang paling aku suka🤭🤫

    BalasHapus
  8. Serius deh, authornya bener-bener bikin jantungku dag dig dug. Bab 20 bikin penasaran, bab 21 malah bikin nagih banget. EMG jago nge-bikin pembaca kek aku buat ngeklik... Penasaran sama dewdewnya wkwkkw.... Keren parah...
    "Bolehkah sayang?" Haha mantep tuh kakinya udah mulai naik ke king size empuk...

    BalasHapus
  9. Haha, baru baca 3 bab, dan aku sudah mikir, ini bakal aku habisin sampe kelar semua bab. Gregetnya maksimal!

    BalasHapus
  10. Bab 21 bikin aku speechless. Aku pikir bab 20 cuman bikin penasaran, eh ini malah naik level. Siap-siap maraton nih.

    BalasHapus
  11. Waduh, bab ini bikin penasaran luar biasa. Dari ketegangan sampai misteri, aku nggak bakal bisa berhenti baca ini mahh

    BalasHapus
  12. Baru tau ada fantasi kayak gini, absurd banget, tapi itu yang bikin aku ketagihan lah.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama