Di depan dunia, ia hanyalah siswi SMA kelas dua yang tampak sempurna—berambut hitam panjang terurai rapi, wajah manis dengan senyum sopan, dan prestasi akademik yang selalu masuk tiga besar. Seragam putih abu-abu itu melekat padanya seperti identitas yang tak pernah dipertanyakan siapa pun. Teman-temannya mengenalnya sebagai Queen yang ramah, sedikit pendiam, dan selalu pulang tepat waktu.
Namun di balik gerbang besi rumah megah keluarga Adijaya, Queen adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis yang nilainya tak terhitung. Kekayaan, kekuasaan, dan nama besar yang seharusnya menjadi kebanggaan justru menjelma menjadi bayangan ancaman yang terus mengikuti setiap langkahnya.
Pagi itu, Queen berdiri di depan cermin kamarnya. Tangannya merapikan pita seragam dengan gerakan pelan, matanya menatap refleksi diri sendiri tanpa benar-benar melihat.
“Non, mobil sudah siap,” suara Bu Ratna, pengurus rumah yang sudah menemaninya sejak kecil, terdengar dari balik pintu.
“Iya, Bu,” jawab Queen lirih.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar kamar. Lorong rumah terasa terlalu sunyi, terlalu luas untuk seorang gadis berusia tujuh belas tahun. Di ruang tamu, dua pria bersetelan hitam berdiri tegak. Salah satunya adalah sopir lama keluarga mereka. Yang satunya lagi… asing.
Queen berhenti melangkah.
Pria itu tinggi, posturnya tegap dengan bahu lebar yang jelas terlihat meski tertutup jas hitam sederhana. Rambutnya hitam pekat, dipotong rapi tanpa gaya berlebihan. Wajahnya tampan—bukan tipe manis yang mudah disukai, melainkan dingin dan tegas, dengan rahang keras dan sorot mata tajam yang seolah selalu waspada.
Tatapan mereka bertemu.
Entah mengapa, Queen merasa seperti sedang diukur, dianalisis, dibaca habis oleh mata pria itu. Bukan tatapan kurang ajar, tapi terlalu fokus hingga membuatnya tak nyaman.
“Ini siapa, Bu?” bisik Queen pelan.
Bu Ratna tersenyum tipis. “Bodyguard baru, Non. Pilihan langsung dari Tuan Besar.”
Queen mengernyit. “Bodyguard? Yang lama ke mana?”
“Dipindahkan ke luar kota. Katanya… demi keamanan Nona.”
Jawaban itu tak menenangkan. Justru membuat dada Queen terasa sedikit sesak.
Pria itu melangkah maju satu langkah dan membungkukkan badan dengan sopan, tapi tanpa senyum.
“Selamat pagi, Nona Queen,” ucapnya dengan suara rendah dan tenang. “Nama saya Arya Pratama. Mulai hari ini, saya bertanggung jawab atas keselamatan Anda.”
Queen mengangguk kaku. “Pagi.”
Ia melirik papihnya yang baru saja muncul dari arah ruang kerja. Pria paruh baya berwibawa itu menatap mereka berdua dengan ekspresi serius.
“Queen, dengarkan Papi,” ucapnya tegas. “Mulai sekarang, Arya akan selalu bersamamu. Ke sekolah, ke mana pun. Jangan membantah.”
“Pih…” Queen ingin protes, tapi kata-katanya terhenti saat melihat sorot mata sang ayah. Tak ada ruang untuk perdebatan.
“Ini bukan pilihan,” lanjutnya. “Ini keharusan.”
Queen menunduk. “Baik.”
Perjalanan menuju sekolah berlangsung dalam keheningan. Queen duduk di kursi belakang, Arya di samping sopir, tapi matanya terus mengamati kaca spion, jalanan, setiap motor yang melintas terlalu dekat.
Queen memperhatikannya diam-diam.
Pria itu hampir tak bergerak, tak berbicara, tak menunjukkan ekspresi apa pun. Seolah-olah keberadaannya adalah bagian dari mobil itu sendiri—dingin, kokoh, dan selalu siap.
“Apa kamu selalu setegang itu?” Queen tiba-tiba bertanya.
Arya melirik ke arah spion, menangkap pantulan wajah Queen. “Ini bagian dari pekerjaan saya, Non.”
“Kamu bisa panggil aku Queen saja,” ucapnya. “Aku tidak terlalu suka dipanggil ‘Nona’.”
Arya terdiam sejenak sebelum menjawab, “Baik, Nona—Queen.”
Queen mendengus pelan. “Aneh.”
Sudut bibir Arya hampir bergerak, nyaris membentuk senyum, tapi lenyap sebelum benar-benar terlihat.
Di sekolah, kehadiran Arya langsung menjadi pusat perhatian. Ia berdiri tak jauh dari gerbang, mengenakan jas hitam sederhana, kacamata hitam, dan earphone kecil di telinga.
“Queen, itu siapa?” bisik salah satu temannya heboh.
“Om-om ganteng,” celetuk yang lain sambil tertawa.
Queen menelan ludah. “Bodyguard.”
“BODYGUARD?” Mata mereka membulat. “Hidup lo kayak drama!”
Queen tersenyum hambar. Mereka tak tahu, dan ia berharap tak akan pernah tahu.
Sepanjang hari, Queen merasa seperti berada dalam sangkar tak kasatmata. Setiap kali ia menoleh ke luar kelas, Arya selalu ada. Berdiri, duduk, atau berjalan pelan mengikuti jarak aman. Tak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatnya sadar: ia tidak sendirian. Tidak pernah.
Saat jam pulang, hujan turun tiba-tiba. Pelataran sekolah menjadi kacau oleh siswa-siswi yang berlarian. Queen melangkah keluar dengan tas di atas kepala.
“Nona—Queen.”
Suara itu membuatnya berhenti. Arya berdiri di depannya, payung hitam terbuka di tangan.
“Lewat sini,” ucapnya singkat.
Mereka berjalan berdampingan. Jarak mereka sangat dekat, terlalu dekat untuk sekadar profesional. Queen bisa mencium aroma maskulin yang samar, bisa merasakan kehangatan tubuh Arya di tengah dinginnya hujan.
“Kenapa Papih tiba-tiba menambah pengamanan?” tanya Queen pelan.
Arya menatap lurus ke depan. “Ada ancaman yang belum bisa saya jelaskan.”
“Ancaman apa?”
“Yang sebaiknya tidak Anda ketahui… untuk saat ini.”
Queen berhenti berjalan. Arya ikut berhenti.
Ia menatap pria itu. “Aku benci dirahasiakan.”
Arya menatap balik. Tatapannya tajam, tapi ada sesuatu di dalamnya—keraguan, mungkin.
“Dan saya benci melihat orang yang harus saya lindungi berada dalam bahaya,” ucapnya pelan. “Tugas saya adalah memastikan Anda pulang dengan selamat setiap hari. Tidak lebih.”
“Tidak lebih?” ulang Queen.
“Tidak lebih,” tegas Arya.
Namun, saat ia melangkah pergi lebih dulu, Queen melihat sesuatu yang berbeda—rahang Arya mengeras, seolah ia sedang menahan sesuatu yang tak boleh muncul ke permukaan.
Di dalam mobil, Queen menatap hujan yang mengalir di kaca jendela.
Entah mengapa, ia merasa hidupnya baru saja berubah arah.
Dan entah mengapa pula, sosok bodyguard dingin itu terasa seperti ancaman paling manis, sekaligus paling berbahaya yang pernah memasuki hidupnya.
Hujan belum juga reda ketika mobil berhenti di halaman rumah besar keluarga Adijaya. Gerbang besi terbuka perlahan, suara berderitnya terasa lebih nyaring di telinga Queen dari biasanya. Ia turun dari mobil tanpa berkata apa-apa, namun langkahnya tertahan saat menyadari Arya belum langsung bergerak pergi.
Pria itu turun dari kursi depan, matanya menyapu sekitar halaman dengan cepat dan teliti. Tatapan waspadanya berkeliling—ke arah pohon besar di sudut halaman, ke pos satpam, hingga ke balkon lantai dua. Baru setelah itu ia melangkah mendekat, berdiri sedikit di belakang Queen.
“Masuk dulu,” ucapnya singkat. Nada suaranya rendah, namun mengandung tekanan yang tak bisa diabaikan.
Queen menoleh. “Kamu selalu sekhawatir ini?”
Arya tak langsung menjawab. Ia menunggu hingga pintu utama tertutup rapat dan suara hujan teredam di balik dinding tebal rumah itu.
“Kekhawatiran membuat saya tetap hidup,” katanya akhirnya. “Dan membuat orang yang saya lindungi tetap bernapas.”
Jawaban itu membuat Queen terdiam. Ada sesuatu dalam caranya berbicara—seolah kematian bukan sekadar kemungkinan, melainkan sesuatu yang sudah sering ia sapa.
Malam itu, Queen makan malam bersama Papihnya tanpa banyak percakapan. Papihnya tampak sibuk dengan ponsel dan berkas-berkas, sementara Queen hanya mengaduk sup di mangkuknya. Sesekali, pandangannya melirik ke arah pintu ruang makan. Ia tahu Arya berdiri di luar, berjaga, meski tak terlihat.
Rasanya… aneh.
Setelah makan, Queen naik ke kamarnya. Ia menutup pintu dan menyandarkan punggung di sana, menghembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya, ia merasa kamarnya bukan tempat paling aman di rumah itu—melainkan ruang yang diawasi dari luar.
Beberapa menit kemudian, terdengar ketukan pelan.
“Queen.”
Suara Arya.
Queen membuka pintu sedikit. “Kenapa?”
“Hanya memastikan pintu balkon terkunci,” ucapnya. “Boleh saya masuk sebentar?”
Queen ragu, tapi mengangguk.
Arya melangkah masuk dengan sikap profesional. Matanya langsung tertuju ke balkon kamar, memastikan kunci jendela tertutup rapat. Gerakannya cepat, efisien, tanpa menyentuh apa pun yang tak perlu.
Namun kehadirannya membuat ruangan itu terasa… berbeda. Terlalu sempit untuk dua orang dengan rahasia masing-masing.
“Kamu tidur jam berapa biasanya?” tanya Arya tiba-tiba.
“Sekitar jam sepuluh,” jawab Queen heran. “Kenapa?”
“Sebaiknya lebih awal. Besok saya akan menjemput Anda di depan kamar, bukan di bawah.”
Queen mengerutkan kening. “Kedengaran berlebihan.”
Arya menoleh, menatapnya dalam. “Bahaya tidak pernah memberi tanda dulu sebelum datang.”
Kata-kata itu menggema di kepala Queen.
“Arya,” panggilnya pelan. “Kalau… kalau sesuatu terjadi padaku, apa kamu akan benar-benar mempertaruhkan nyawamu?”
Arya terdiam. Untuk pertama kalinya, wajahnya tak sepenuhnya dingin. Ada jeda yang terlalu lama sebelum ia menjawab.
“Itu sudah termasuk dalam kontrak,” katanya akhirnya.
Queen tersenyum tipis, meski hatinya terasa aneh. “Jawaban yang sangat profesional.”
Arya melangkah ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh, “Tapi ada hal yang tidak tertulis di kontrak.”
Queen menegakkan tubuh. “Apa?”
“Bahwa mulai hari ini… hidup Anda adalah tanggung jawab saya. Dan saya tidak pernah gagal menjaga apa yang menjadi tanggung jawab saya.”
Pintu tertutup perlahan.
Queen berdiri terpaku, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Kata-kata itu seharusnya menenangkannya—namun entah mengapa justru membuat dadanya terasa panas.
Di balik pintu, Arya berdiri tegak, matanya tajam menatap lorong yang sepi. Tangannya mengepal pelan.
Ia tahu satu hal dengan pasti.
Menjaga Queen tetap aman adalah tugasnya.
Namun menjaga hatinya sendiri,
mungkin akan menjadi pertarungan paling berbahaya yang pernah ia hadapi.
Author: Alfisha Wulandari
Genre: Romansa
Platform: Fizzo
Editorial:
Buku ini memperlihatkan suara penulis yang cukup sadar akan posisi dirinya yang tidak terburu-buru memikat, tidak pula sibuk menjelaskan.
Narasinya bergerak dengan kontrol yang rapi, memperkenalkan dunia tokoh utama melalui gestur kecil, dialog yang tertahan, dan jarak emosional yang sengaja dipelihara.
Alfisha Wulandari tampaknya memahami bahwa pembaca dewasa tidak membutuhkan kehebohan untuk membuatnya tertarik, cukup konsistensi dari sudut pandang dan kejelasan sikap bercerita.
Ritme kalimatnya cenderung stabil, dengan tempo yang sengaja diperlambat pada momen-momen pertemuan dan keheningan.
Atmosfer dibangun lewat pengulangan kesadaran, pengawasan, jarak, dan rasa tidak aman yang tidak pernah diucapkan secara eksplisit.
Alih-alih menjejalkan emosi, teks memilih untuk menahannya di balik percakapan singkat dan reaksi.
Hasilnya adalah suasana yang terasa terkontrol, sedikit dingin, namun terus memberi tekanan halus pada pembaca.
Ketegangan utama bab ini tidak berasal dari ancaman yang jelas, melainkan dari batas-batas yang dipasang rapi sejak awal.
Apa yang boleh diketahui dan apa yang sengaja disembunyikan menjadi sumber daya naratif yang efektif.
Penulis tidak tergoda untuk menjadikan relasi tokoh sebagai sensasi yang instan, justru relasi itu dibiarkan apa adanya, profesional, bahkan terlihat canggung.
Dari situlah muncul rasa tidak nyaman yang produktif, sebuah tanda bahwa cerita ini lebih tertarik pada konflik batin jangka panjang daripada letupan dramatis sesaat.
Dari sisi tema, Buku ini memperlakukan kekuasaan, perlindungan, dan pilihan personal dengan pendekatan yang cukup dewasa.
Tidak ada romantisasi berlebihan terhadap posisi “dilindungi” atau “melindungi”.
Semuanya ditempatkan sebagai beban, tanggung jawab, dan risiko.
Alfisha Wulandari terlihat berhati-hati agar relasi yang dibangun tidak langsung jatuh ke pola klise, melainkan berdiri di atas ketegangan etis dan psikologis yang masuk akal.
Sebagai pembuka Bab, Buku ini meninggalkan kesan yang tenang namun melekat.
Ia tidak menjanjikan romansa manis yang serba mudah, melainkan proses yang berlapis dan penuh kontrol diri.
Untuk pembaca yang sudah sangat jenuh dengan romansa instan dan konflik yang diumbar tanpa kedalaman yang belum pasti, novel ini terasa seperti ajakan untuk membaca lebih pelan dan percaya bahwa ceritanya akan berkembang karena kualitas penulisannya, bukan sekadar karena daya tarik premisnya di awal.
By Peniti Kecil

Queen digambarkan sebagai tokoh perempuan yang lembut, mandiri, namun menyimpan kegelisahan. Sementara Arya hadir sebagai sosok dingin, protektif, dan misterius. Kombinasi ini menciptakan dinamika “slow burn romance” yang sangat disukai pembaca genre romance-drama.--rawit
BalasHapusCerita berjalan secara bertahap tanpa terasa terburu-buru. Interaksi kecil antara Queen dan Arya, mulai dari di mobil hingga di kamar, membuat hubungan mereka berkembang secara alami dan realistis.__ima
BalasHapusPercakapan antartokoh terasa hidup dan tidak kaku. Banyak dialog yang menyiratkan perasaan terpendam, terutama dari Arya, sehingga pembaca ikut terbawa suasana dan ingin terus mengikuti perkembangan hubungan mereka.
BalasHapusUnsur ancaman yang belum dijelaskan membuat cerita terasa menegangkan, sementara sisi romantisnya tetap hangat dan manis. Perpaduan ini menjadikan cerita tidak monoton dan cocok untuk pembaca yang menyukai kisah cinta penuh rahasia dan perlindungan.
BalasHapusSejak paragraf awal, pembaca langsung diperkenalkan pada dua sisi kehidupan Queen yang kontras: siswi biasa dan pewaris kerajaan bisnis. Konsep ini sangat menarik dan efektif membuat pembaca penasaran dengan konflik yang akan berkembang.
BalasHapusIni dari awal bacanya bagus, kerasa apa yang terjadi, dan hanyut dalam ceritanya. Untuk tokoh Queen juga bagus mendalami isi ceritanya.
BalasHapus-Jennie
Bodyguard Tampan Kesayangan Nona Queen ini terasa ringan dan enak diikuti. Hubungan Queen dan Arya berkembang pelan, lewat interaksi sederhana yang justru terasa manis dan wajar. Ada sentuhan misteri dan rasa protektif yang bikin cerita tidak datar.
BalasHapusGaskeuunn Thor.. jangan kasih kendor dan berikan emosional yang lebih dalam
BalasHapusAlur cerita yang engga terburu buru, namun setiap ilustrasi emosinya seakan terus bergerak perlahan, nuansa romansanya enak banget
BalasHapusKeren keren keren
Apa ini slow burn romance? Bagus sekali, dinamika hubungan Queen dan Arya keliatan banget. Kayaknya Arya bukan bodyguard biasa, mari kita intip
BalasHapusCerita nya ringan mudah untuk di baca. Menceritakan perempuan mandiri yang penuh keberanian dan seorang laki-laki penyayang yang ingin selalu melindungi perempuan nya. Saling bertolak belakang namun disini terlihat kisah cinta yang hidup dan gak monoton.
BalasHapus