Diburu di Tanah Mataram Kuno - Cabe Rawit


Diburu di Tanah Mataram Kuno
0

"Wanita gila itu berani melambai pada pasukan musuhku, itu berarti dia pengkhianat yang harus mati." 

Part 1

Kilatan dari Candi

Langit Mataram sore itu terasa rendah. Awan kelabu bergerak lambat, seolah menahan napas. Udara lembap dan berat, bercampur bau tanah serta darah.

Di pelataran luas Candi Prambanan, dua barisan pasukan saling berhadapan. Jarak mereka hanya sejengkal tanah berdebu. Dedaunan kering beterbangan di antara kaki para prajurit, lalu hancur terinjak tanpa ampun. Tatapan mereka menyala, tangan mencengkeram senjata semakin kuat.

Ini bukan perang besar yang direncanakan lama. Bentrokan ini meletup mendadak akibat hasutan pihak yang ingin memecah Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra. Namun di tengah debu dan peluh, setiap ayunan senjata tetap berarti hidup atau mati. Tak ada yang peduli apakah ini perang resmi atau sekadar duel kehormatan. Bagi mereka, kemenangan adalah segalanya, atau pulang sebagai jenazah. Mengabdi sampai titik darah terakhir adalah kebanggaan.

Di barisan depan Sanjaya, seorang pria gagah menunggang kuda hitam yang menggeram pelan. Zirah perunggu di tubuhnya memantulkan cahaya matahari yang redup. Ia tampak seperti tokoh wayang yang hidup kembali. Sorot matanya tajam, penuh api kebanggaan.

Dialah Rakryan Patih Saka Wicaksana, pangeran muda sekaligus senapati agung.

Tangan kanannya mengangkat tombak panjang. Ujungnya dihiasi bulu merah yang berkibar diterpa angin, memberi aba-aba maju.

Di seberang, berdiri Senapati Bhanu Prakosa dari Sailendra. Tubuhnya besar, wajahnya keras, tatapannya dingin seperti baja. Sejak lama, ia menjadi rival abadi Saka. Bukan hanya di medan tempur, tetapi juga dalam kisah para penembang istana, di mana nama mereka sering disebut berpasangan seperti dua singa yang tak mau tunduk.

Benturan pertama pun pecah.

Suara besi beradu memenuhi udara, diikuti teriakan dan jerit kesakitan. Pasukan Sanjaya bergerak seperti ombak menghantam karang, mendorong lawan perlahan mundur. Debu mengepul, bercampur aroma darah yang meresap ke tanah.

Di tengah kekacauan itu, Saka sempat melirik ke arah candi. Sekilas ia melihat sesuatu yang membuat alisnya berkerut.

Dari pintu utama, muncul kilatan cahaya aneh. Seperti petir yang terperangkap dalam batu hitam. Bukan cahaya obor, bukan pula pantulan senjata.

Ia menepis rasa penasaran. Pertempuran belum usai.

Dengan serangan terakhir yang menghancurkan barisan lawan, pasukan Sanjaya berhasil memukul mundur Sailendra. Sorak kemenangan mulai terdengar.

Namun kilatan itu muncul lagi. Kali ini lebih terang, seolah hendak meledak.

Prajurit di sekitar mundur beberapa langkah. Ada yang terpukau, ada pula yang bersiaga.

Dari dalam candi, seorang wanita keluar.

Langkahnya goyah, seakan baru ditarik dari pusaran tak terlihat yang kini lenyap. Penampilannya membuat semua orang terdiam. Ia tidak mengenakan kain batik, lurik, atau songket, melainkan pakaian asing. Celana pendek memperlihatkan kaki putih jenjang. Atasan hitam tanpa lengan. Kemeja flanel diikat sembarangan di pinggang.

Di bahunya tergantung ransel hitam berisi benda aneh. Salah satunya kotak berkilau yang memantulkan cahaya. Di kepalanya ada topi asing, sementara matanya tertutup kaca hitam.

Bagi prajurit abad kedelapan, ia tampak bukan manusia biasa. Mungkin utusan dewa, makhluk halus, atau kutukan dari candi.

Mata wanita itu membesar, memandangi sekitar. Puluhan prajurit bersenjata menatap balik. Sebagian bingung, sebagian curiga. Napasnya memburu. Bibirnya bergetar tanpa suara.

Saka menurunkan tombaknya.

Beberapa prajurit hendak maju, tetapi ia memberi isyarat berhenti. Dari kejauhan, Bhanu juga melihat dan mulai mendekat.

Wanita itu mundur selangkah, lalu berbalik hendak lari.

Saka segera memacu kudanya dan memotong jalan.

Tatapannya tajam, penuh ancaman dan rasa ingin tahu.

“Beraninya kau muncul di medan perangku. Katakan siapa tuanmu, atau kepalamu akan jatuh di tanah ini.”

Suaranya berat dan tegas. Namun wanita itu tidak mengerti sepatah kata pun.

Ia menelan ludah dan mundur. Kepalanya berdenyut, seolah kata-kata Saka menghantam pikirannya.

Namanya Emily Carter, asisten arkeolog dari abad dua puluh satu yang kini terlempar ke abad kedelapan.

Emily memegang topinya, mencoba meredakan pusing. Namun sebelum sempat berpikir, sebilah pedang sudah menempel di lehernya.

Saka menunduk dari pelana, mendekat dengan napas dingin.

Emily mulai sadar ia mungkin telah melakukan perjalanan waktu. Namun hatinya menolak. Semua terasa seperti mimpi buruk.

Dan sekarang, pedang dingin hampir mengakhiri hidupnya.

Baru tiba di masa kuno, langsung mati. Ironis.

“Aku tidak boleh mati di sini,” batinnya panik.

Ia melirik ke arah pasukan Sailendra. Tiba-tiba muncul ide nekat.

Emily mengangkat tangan dan melambai ke arah mereka.

Bukan karena berharap diselamatkan. Ia hanya ingin mengalihkan perhatian Saka.

“Ayo lihat ke sana,” pikirnya, cemas.

Gerakan itu terlihat jelas. Terlalu jelas. Seperti tanda rahasia.

Saka langsung menyipitkan mata.

“Apa maksudnya? Mengapa ia memberi isyarat pada musuhku?”

Ia menoleh. Selain Bhanu, ia sempat melihat bayangan hitam menghilang di balik barisan Sailendra. Sosok itu terasa familiar, namun ingatannya tak memberi jawaban.

Di kejauhan, Bhanu juga melihat lambaian itu.

“Apakah gadis aneh itu memanggilku? Utusan atau orang gila?” pikirnya.

Namun ia segera mengabaikannya. Yang terpenting adalah menyelamatkan pasukannya.

Melihat Saka terpancing, Bhanu memberi aba-aba mundur. Sisa pasukan Sailendra pun bergerak pergi, lenyap dalam debu.

Saat Saka menoleh, Emily langsung berlari.

Langkahnya menghantam tanah kering. Jantungnya berdegup liar.

Ia tahu tidak akan mudah lolos. Pria berkuda itu jelas lebih cepat.

Saka sempat terpaku melihat mundurnya lawan. Namun suara langkah Emily membuatnya tersadar.

“Sial, dia menipuku.”

Emily memasuki hutan. Ia membuka ranselnya dengan tangan gemetar. Isinya berantakan. Senter kecil, botol air, kamera, dan alat arkeologi.

“Harus ada sesuatu… sesuatu untuk mengalihkan dia…”

Langkah Saka semakin dekat.

Tangannya akhirnya meraih satu benda.

Ia menggenggamnya erat, bersiap menghadapi apa pun yang datang.

*****

Nama pena: Caberawit

Genre: Fantasi-Isekai, Misteri, 18+

Platform: Maxnovel

Editorial: 

Cerita ini dibuka dengan kalimat yang sangat kuat dan langsung menarik perhatian pembaca. Kalimat pertama sudah menunjukkan konflik yang tegas, yaitu tuduhan pengkhianatan yang bisa berujung kematian. Dari awal, suasana tegang langsung terasa. Penulis Cabe Rawit tidak berlama-lama membangun pengantar, tetapi langsung membawa pembaca ke inti masalah, yaitu medan perang yang sedang memanas.

Latar cerita yang mengambil tempat di Candi Prambanan menjadi salah satu daya tarik utama. Cabe Rawit berhasil menggambarkan suasana sore yang kelabu, udara lembap, serta bau tanah bercampur darah dengan sangat jelas. Deskripsi ini membuat pembaca seolah ikut berada di tengah pertempuran. Penggambaran lingkungan terasa hidup, tetapi tetap mudah dipahami karena menggunakan kalimat sederhana.

Konflik antara Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra juga ditampilkan dengan cukup baik. Meskipun tidak dijelaskan secara mendalam, pembaca sudah bisa memahami bahwa ada ketegangan besar antara dua pihak tersebut. Bentrokan yang terjadi terasa mendadak, tetapi tetap masuk akal dalam konteks cerita. Hal ini membuat alur terasa cepat dan tidak membosankan.

Tokoh Rakryan Patih Saka Wicaksana digambarkan sebagai sosok yang kuat, tegas, dan berwibawa. Ia adalah pemimpin yang tidak ragu mengambil keputusan. Cara Cabe Rawit menggambarkan Saka cukup efektif, terutama melalui tindakan dan sikapnya di medan perang. Pembaca bisa melihat bahwa ia bukan hanya seorang bangsawan, tetapi juga prajurit yang berpengalaman.

Di sisi lain, tokoh Bhanu Prakosa juga menarik karena digambarkan sebagai rival yang setara. Hubungan antara Saka dan Bhanu memberikan warna tersendiri dalam cerita. Mereka seperti dua tokoh yang sama kuat, tetapi berada di pihak yang berbeda. Hal ini membuka peluang konflik yang lebih dalam di bagian selanjutnya.

Kemunculan Emily Carter menjadi titik balik yang paling menarik. Ia datang dari abad ke-21 dan tiba-tiba muncul di tengah pertempuran abad ke-8. Perbedaan penampilan dan sikapnya dengan orang-orang di sekitarnya langsung menciptakan kontras yang kuat. Ini adalah elemen isekai yang membuat cerita terasa unik dan segar.

Reaksi para prajurit terhadap Emily juga digambarkan dengan baik. Mereka bingung, curiga, bahkan mungkin takut karena menganggapnya bukan manusia biasa. Hal ini terasa wajar karena perbedaan zaman yang sangat jauh. Penulis berhasil menunjukkan bagaimana sesuatu yang biasa di masa modern bisa terlihat aneh di masa lampau.

Bagian interaksi antara Saka dan Emily menjadi salah satu momen paling tegang. Saka berbicara dengan penuh ancaman, sementara Emily tidak memahami bahasanya. Situasi ini menciptakan ketegangan tambahan karena adanya hambatan komunikasi. Pembaca bisa merasakan kepanikan Emily yang berada dalam situasi berbahaya tanpa bisa menjelaskan dirinya.

Aksi Emily yang melambaikan tangan ke arah pasukan Sailendra juga menjadi momen penting. Tindakan ini sederhana, tetapi memiliki dampak besar terhadap jalan cerita. Dari sudut pandang Saka, tindakan itu terlihat seperti pengkhianatan. Sementara bagi Emily, itu hanya usaha untuk bertahan hidup. Perbedaan sudut pandang ini membuat cerita semakin menarik.

Secara keseluruhan, cerita ini memiliki alur yang cepat, konflik yang jelas, dan karakter yang cukup kuat. Gaya bahasa yang sederhana membuat cerita mudah diikuti oleh berbagai kalangan pembaca. Meski begitu, ada beberapa bagian yang bisa dikembangkan lebih lanjut, seperti latar belakang konflik dan pendalaman karakter, agar cerita menjadi lebih kaya.

Cabe Rawit ini menulis dalam genre fantasi isekai dan misteri dengan gaya penulisannya cenderung langsung, deskriptif, dan mudah dipahami. Cerita yang dibuat sering menggabungkan unsur sejarah dengan imajinasi modern, sehingga menghasilkan kisah yang unik. Karya ini dipublikasikan di platform Maxnovel, yang menjadi tempat bagi penulis untuk berbagi cerita dengan pembaca luas.

By Hayyi Ze




10 Komentar

Ulasan buku

  1. Novel ini dibuka dengan adegan peperangan yang sangat hidup dan sinematis. Deskripsi medan perang, suasana Mataram Kuno, serta konflik dua wangsa besar langsung menarik perhatian sejak halaman pertama dan membuat pembaca sulit berhenti membaca.--Ima

    BalasHapus
  2. Unsur sejarah Mataram Kuno yang dipadukan dengan konsep perjalanan waktu menghadirkan cerita yang unik dan segar. Kehadiran Emily dari abad ke-21 di tengah medan perang abad ke-8 menjadi pemantik konflik yang kuat dan penuh potensi kejutan.__Aimee

    BalasHapus
  3. Saka digambarkan sebagai pemimpin tegas, berwibawa, namun tetap manusiawi. Sementara Emily hadir sebagai tokoh modern yang cerdas, spontan, dan penuh keberanian. Perbedaan latar mereka menciptakan dinamika yang menarik untuk terus diikuti.

    BalasHapus
  4. Penulis mampu menghadirkan suasana cerita dengan detail yang kaya—mulai dari debu perang, dentang senjata, hingga kilatan cahaya misterius dari candi. Hal ini membuat pembaca seolah masuk langsung ke dalam dunia cerita.

    BalasHapus
  5. Konflik berkembang secara konsisten, dari perang, kemunculan Emily, hingga pengejaran di hutan. Setiap adegan ditutup dengan cliffhanger yang efektif, membuat pembaca penasaran dan ingin segera melanjutkan ke bagian berikutnya.

    BalasHapus
  6. Sekali lagi tema transmigrasi memang lg happening di kancah novel online, dan jujur saya sangat menikmatinya. Apalagi si EMily ini dari jaman modern n bule, lalu terdampar di jaman mataram kuno bertemu pria yang penuh kecurigaan si Saka. Seru,karena ada latar belakang sejarah jaman dlu dengan intrik perang n perebutan kekuasaan juga usaha Emily untuk bisa kembali ke dunianya. Wah pasti penasaran.

    BalasHapus
  7. Atmosfer tegangnya kerasa banget, membuat pembaca mau lanjut baca terus...

    BalasHapus
  8. time travel nuansa indonesia, kereen

    BalasHapus
  9. Tegang banget, ditambah nuansa Indonesia yang kental dalam cerita ini bikin pembaca jadi terasa dekat dengan ceritanya

    BalasHapus
  10. Wuiiih ini beda nih. Transmigrasi tapi pakai kearifan lokal👍🏻👍🏻

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama