"Wanita gila itu berani melambai pada pasukan musuhku, itu berarti dia pengkhianat yang harus mati."
Part 1
Kilatan dari Candi
Langit Mataram sore itu menggantung rendah, awan kelabu bergerak pelan seolah ikut menahan napas.
Udara berat dan lembap, sarat dengan bau tanah bercampur darah.
Di pelataran luas Candi Prambanan, dua barisan pasukan berdiri berhadap-hadapan, jarak di antara mereka hanya sejengkal tanah berdebu.
Dedaunan kering yang terbawa angin beterbangan di antara kaki para prajurit, lalu terinjak dan hancur tanpa belas kasihan.
Mata mereka membara, genggaman pada gagang senjata kian erat.
Bukan perang besar yang disiapkan berbulan-bulan, melainkan bentrokan yang meletup tiba-tiba akibat hasutan pihak-pihak yang menghendaki keretakan antara Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra.
Namun di tengah debu, peluh, dan darah, setiap benturan pedang tetap berarti hidup atau mati.
Tidak ada prajurit yang peduli apakah ini perang resmi atau sekadar baku hantam kehormatan—bagi mereka, yang penting adalah menang atau pulang sebagai mayat. Mengabdi sampai titik darah terakhir adalah sebuah kehormatan.
Di barisan depan Sanjaya, seorang pria tegap menunggang kuda hitam yang mengerang rendah.
Zirah perunggu yang ia kenakan memantulkan cahaya redup matahari sore, membuatnya terlihat seperti patung prajurit dari cerita wayang yang dihidupkan kembali.
Sorot matanya tajam, memantulkan api semangat dan kebanggaan seorang bangsawan.
Dialah Rakryan Patih Saka Wicaksana, Pangeran Muda sekaligus Senapati Agung.
Tangan kanannya mengangkat tombak panjang, bulu-bulu merah di ujungnya berkibar tertiup angin, memberi aba-aba pada pasukannya untuk maju.
Di seberang, berdiri Senapati Bhanu Prakosa dari Wangsa Sailendra.
Tubuhnya besar, wajahnya keras, dan tatapannya seperti baja.
Sejak lama, ia menjadi rival abadi Saka—bukan hanya di medan perang, tetapi juga dalam setiap kisah yang diceritakan para penyanyi istana, di mana nama mereka kerap muncul berpasangan seperti dua singa yang tak pernah mau tunduk satu sama lain.
Benturan pertama terdengar.
Dentang besi beradu memenuhi udara, disusul teriakan dan lolongan kesakitan.
Pasukan Sanjaya bergerak seperti gelombang ombak yang menghantam batu karang, mendorong mundur barisan Sailendra sedikit demi sedikit.
Debu mengepul, bercampur dengan aroma besi dari dar(ah yang mengucur di tanah.
Di tengah hiruk pikuk itu, Saka sempat menoleh ke arah Candi Prambanan.
Sekilas ia melihat sesuatu yang membuat alisnya berkerut.
Dari pintu utama candi, sebuah kilatan cahaya aneh memancar, seperti petir yang terjebak di dalam batu hitam.
Cahaya itu bukan cahaya obor, bukan pula pantulan senjata.
Namun ia menepis rasa penasaran itu—pertempuran belum selesai.
Dengan serangan terakhir yang memecah barisan lawan, Sanjaya berhasil memukul mundur pasukan Sailendra.
Sorak kemenangan mulai terdengar, namun kilatan itu muncul lagi, kali ini lebih terang, seperti hendak meledakkan udara di sekitarnya.
Prajurit terdekat mundur beberapa langkah, sebagian menatap takjub, sebagian lagi memasang posisi bertahan.
Lalu, dari dalam candi, sosok seorang wanita melangkah keluar.
Tubuhnya sedikit terhuyung, seolah baru saja ditarik dari pusaran tak kasat mata yang kini memudar.
Penampilannya membuat seluruh prajurit terdiam—bukan kain batik, lurik, atau songket yang membalut tubuhnya, melainkan pakaian asing: celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjang yang putih, atasan hitam tanpa lengan, dan kemeja flanel kotak-kotak yang diikat sembarangan di pinggang.
Di bahunya tergantung ransel hitam, sarat benda-benda aneh; salah satunya kotak berkilat yang memantulkan cahaya sore, entah senjata atau alat sihir. Sebuah topi asing menutupi kepalanya, sementara kaca hitam yang menempel di matanya membuat wajahnya makin sukar ditebak.
Bagi prajurit abad ke-8, ia terlihat bukan manusia biasa—entah utusan dewa, siluman, atau kutukan yang lahir dari perut candi.
Mata wanita tersebut membesar, menyapu pemandangan di sekelilingnya.
Puluhan prajurit bersenjata lengkap menatap balik padanya, sebagian dengan kebingungan, sebagian dengan kecurigaan.
Mulutnya sedikit terbuka, dadanya naik turun cepat.
Bibirnya bergetar, namun tak ada kata yang keluar.
Saka menurunkan tombaknya.
Beberapa prajurit Sanjaya melangkah maju, tapi ia mengangkat tangan memberi isyarat untuk menahan diri.
Dari kejauhan, Bhanu Prakosa juga melihatnya dan mulai bergerak, menapaki tanah berdebu menuju sosok itu.
Wanita itu mundur setapak, lalu mulai berbalik, hendak berlari.
Dengan satu hentakan pada perut kudanya, Saka memacu binatang itu dan memotong jalannya.
Sorot mata Pangeran Muda itu tajam, penuh ancaman sekaligus rasa ingin tahu yang membara.
“Beraninya kau muncul di tengah medan perangku. Katakan siapa tuanmu, atau kepalamu jatuh di tanah ini.”suaranya berat, tegas, dan dalam bahasa yang sama sekali tak dimengerti oleh wanita itu.
Wanita itu menelan ludah, mundur selangkah.
Kepalanya berdenyut nyeri, seolah kata-kata Saka adalah pukulan yang menembus pikirannya.
Namanya adalah Emily Carter, asisten arkeolog dari abad ke-21… yang entah bagaimana, kini terdampar di abad ke-8.
Emily memegang topi yang bertengger dikepalanya, mencoba meredakan pusing yang menggelayuti otaknya.
Namun sebelum sempat berpikir panjang, sebilah pedang telah teracung di lehernya.
Saka menunduk dari pelana kudanya, mendekat, napasnya teratur namun dingin.
Emily mulai sadar bahwa dirinya telah melakukan perjalanan waktu—setidaknya secara logika.
Namun hatinya masih menolak, menjerit bahwa semua ini hanyalah mimpi aneh.
Dan kini, sebuah pedang dingin nyaris menebas lehernya.
Baru sampai di masa kuno, langsung mati—betapa ironis.
Memangnya aku datang hanya untuk mengantar nyawa.
Tidak! Aku tidak boleh mati secepat ini. Apalagi ditangan manusia kuno.
Ia melirik ke arah pasukan Sailendra, lalu melihat sesuatu yang membuatnya nekat.
Debu masih belum benar-benar reda ketika Emily tiba-tiba melambaikan tangan ke arah pasukan Sailendra.
Bukan karena ia berharap ada yang menolongnya—otaknya hanya mencari cara apa pun untuk mengalihkan perhatian sang prajurit berkuda di depannya.
“Ayo, lihat ke sana manusia kuno… alihkan pandanganmu,” batinnya panik, telapak tangannya berkeringat.
Gerakan itu memang tampak jelas, terlalu jelas, seperti isyarat rahasia. Namun bagi Emily, itu hanyalah upaya nekat agar Saka sejenak lengah dan ia bisa mencari celah untuk kabur.
Saka yang berdiri di atas pelana langsung memicingkan mata.
"Apa maksudnya? Mengapa ia memberi tanda pada musuhku?" pikir Saka, rahangnya mengeras. Saka menoleh tapi bukan hanya melihat Bhanu tapi juga melihat siluet hitam yang lebih dulu menghilang dibalik pasukan Sailendra--sosok yang tidak asing, namun ingatannya tidak memberikan informasi lebih?
Dari kejauhan, Bhanu Prakosa juga melihat lambaian itu.
Keningnya berkerut, hatinya diliputi keraguan.
"Apakah gadis aneh itu melambai padaku? Apa maksudnya? Apakah dia orang utusan Mahesa untuk menyelamatkanku… atau hanya orang gila yang kebetulan datang?"
Namun, ia cepat mengesampingkan pikirannya.
Ada hal yang lebih penting: menyelamatkan pasukannya yang tersisa.
Saka kini tampak meninggalkan barisan untuk mengejar gadis itu—kesempatan langka yang baik untuk mundur.
Bhanu memberi aba-aba, dan sisa pasukan Sailendra pun bergerak mundur, lenyap di balik kabut debu sore.
Disisi lain saat Saka mengalihkan pandangan menuju pasukan Sailendra, Emily berlari tanpa menoleh, langkahnya menghantam tanah kering penuh akar.
Jantungnya berdegup tak terkendali.
Ia tak mengerti bahasa orang-orang itu, sekadar lari pun tidak akan membuatnya selamat. Lelaki di atas kuda itu jelas lebih cepat dan berpengalaman mengejar. Saka sempat terpaku melihat Banu Prakosa sibuk menarik mundur pasukan namun ia segera berbalik ketika derak langkah kaki Emily menjauh darinya. sial dia menipuku.
Emily memsuki hutan. ia meraih tas, membuka ritsletinga dengan cepat, jari-jarinya gemetar. Pandangannya menyapu isi tas—senter kecil, botol air, kamera, dan beberapa perkakas arkeologi.
“Harus ada sesuatu… sesuatu untuk mengalihkan dia…tapi yang mana?” desisnya putus asa. Tangannya akhirnya meraih satu benda, jemarinya menggenggam erat—tepat saat langkah Saka terdengar semakin dekat.
Judul : Diburu Di Tanah Mataram Kuno
Story by: Caberawit
Platform: Maxnovel
Editorial:
Buku ini menunjukkan ambisi penulis dalam mengelola dua dunia sekaligus tanpa kehilangan kendali suara.
Narasi sejarah tidak diperlakukan sebagai latar eksotis semata, melainkan sebagai ruang hidup yang keras, penuh hierarki, dan sarat konsekuensi.
Pilihan diksi yang tegas dan konsisten menjaga jarak emosional tertentu, membuat kekerasan, kehormatan, dan kecurigaan hadir sebagai realitas yang dingin,bukan tontonan yang dipoles untuk sensasi yang cepat.
Ritme kalimat dibangun dengan kesadaran tempo yang jelas.
Adegan bergerak cepat ketika konflik fisik mendominasi, lalu melambat secara signifikan saat kehadiran sosok asing memecah keseimbangan medan.
Pergeseran ini terasa terkontrol, memberi pembaca waktu untuk menyerap keganjilan situasi tanpa harus dijelaskan secara berlebihan.
Atmosfer tegang tercipta bukan dari teriakan dramatis, melainkan dari jeda, tatapan, dan kesalahpahaman yang dibiarkan menggantung.
Ketegangan paling kuat justru muncul dari perbedaan persepsi antar tokoh. Caberawit dengan cermat menahan informasi, membiarkan satu tindakan sederhana ditafsirkan berlapis-lapis oleh pihak yang berbeda.
Tidak ada klarifikasi instan, tidak ada sudut pandang yang merasa paling benar.
Di titik ini, cerita bekerja secara dewasa karna konflik lahir dari batas pengetahuan dan konteks budaya, bukan dari kebetulan yang dipaksakan.
Tema kekuasaan, kehormatan, dan keterasingan disajikan tanpa romantisasi yang berlebihan.
Dunia masa lalu digambarkan keras dan tidak memberi ruang bagi kesalahan kecil.
Sementara tokoh asing ditempatkan dalam posisi rapuh tanpa dipermudah menjadi pahlawan instan atau dadakan.
Pendekatan ini memberi bobot psikologis yang jarang ditemukan pada kisah lintas waktu yang biasanya terlalu sibuk menjelaskan keajaibannya sendiri.
Sebagai pembuka bab, buku ini meninggalkan kesan intelektual yang cukup kuat dan rasa sedikit tidak nyaman yang disengaja.
Caberawit tidak menawarkan pelarian ringan, melainkan mengajak pembaca mempercayai proses, bahwa konflik akan tumbuh dari pilihan, salah tafsir, dan konsekuensi yang tidak bisa ditarik kembali.
Bagi pembaca dewasa yang mencari fiksi sejarah dengan ketegangan yang ditahan rapi, novel ini terasa sangat layak untuk diikuti lebih lanjut.
By Peniti Kecil

Novel ini dibuka dengan adegan peperangan yang sangat hidup dan sinematis. Deskripsi medan perang, suasana Mataram Kuno, serta konflik dua wangsa besar langsung menarik perhatian sejak halaman pertama dan membuat pembaca sulit berhenti membaca.--Ima
BalasHapusUnsur sejarah Mataram Kuno yang dipadukan dengan konsep perjalanan waktu menghadirkan cerita yang unik dan segar. Kehadiran Emily dari abad ke-21 di tengah medan perang abad ke-8 menjadi pemantik konflik yang kuat dan penuh potensi kejutan.__Aimee
BalasHapusSaka digambarkan sebagai pemimpin tegas, berwibawa, namun tetap manusiawi. Sementara Emily hadir sebagai tokoh modern yang cerdas, spontan, dan penuh keberanian. Perbedaan latar mereka menciptakan dinamika yang menarik untuk terus diikuti.
BalasHapusPenulis mampu menghadirkan suasana cerita dengan detail yang kaya—mulai dari debu perang, dentang senjata, hingga kilatan cahaya misterius dari candi. Hal ini membuat pembaca seolah masuk langsung ke dalam dunia cerita.
BalasHapusKonflik berkembang secara konsisten, dari perang, kemunculan Emily, hingga pengejaran di hutan. Setiap adegan ditutup dengan cliffhanger yang efektif, membuat pembaca penasaran dan ingin segera melanjutkan ke bagian berikutnya.
BalasHapusSekali lagi tema transmigrasi memang lg happening di kancah novel online, dan jujur saya sangat menikmatinya. Apalagi si EMily ini dari jaman modern n bule, lalu terdampar di jaman mataram kuno bertemu pria yang penuh kecurigaan si Saka. Seru,karena ada latar belakang sejarah jaman dlu dengan intrik perang n perebutan kekuasaan juga usaha Emily untuk bisa kembali ke dunianya. Wah pasti penasaran.
BalasHapusAtmosfer tegangnya kerasa banget, membuat pembaca mau lanjut baca terus...
BalasHapustime travel nuansa indonesia, kereen
BalasHapusTegang banget, ditambah nuansa Indonesia yang kental dalam cerita ini bikin pembaca jadi terasa dekat dengan ceritanya
BalasHapusWuiiih ini beda nih. Transmigrasi tapi pakai kearifan lokal👍🏻👍🏻
BalasHapus