Menantu Sampah Pemilik Mata Naga - Sal-By

Menantu Sampah Pemilik Mata Naga - Sal-By


0

"Lututmu itu kurang rendah, Arga! Apa kamu tidak punya otak bahkan untuk sekadar mengepel lantai dengan benar?"

Suara melengking itu milik Liana, ibu mertua Arga, yang berdiri dengan tangan bersedekap di ruang tengah kediaman megah keluarga Baskoro. Arga, yang tengah berlutut dengan kain pel di tangannya, tidak menjawab. Ia hanya terus menggerakkan tangannya secara mekanis. Baginya, cacian sudah menjadi sarapan harian selama dua tahun terakhir.

"Sudahlah, Mah. Jangan habiskan energimu untuk bicara pada sampah ini," sahut Larasati yang baru saja turun dari tangga.

Istrinya itu tampil memukau dengan setelan kantor yang mahal, kontras dengan Arga yang hanya mengenakan kaus pudar dan celana kain lusuh.

Laras berjalan melewati Arga. Ujung sepatu hak tingginya yang runcing sengaja menginjak jari tangan Arga yang sedang menekan kain pel. 

Arga meringis pelan, namun Laras tidak berhenti. Ia justru menekan tumitnya lebih keras sebelum melangkah maju.

"Nanti malam ada perjamuan bisnis. Kamu tidak perlu datang. Aku tidak ingin rekan-rekanku tahu bahwa suamiku adalah seorang pelayan rumah tangga yang tidak berguna," ucap Laras dingin tanpa menoleh sedikit pun.

Arga menatap punggung istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Di rumah ini, dia memang bukan siapa-siapa. Dia adalah "Menantu Sampah" yang menjadi bahan tertawaan di seluruh Metropolitan Jaya.

Semua ini bermula dua tahun lalu. Arga ditemukan dalam kondisi mengenaskan di pinggir jalan perkebunan sawit milik keluarga Baskoro. Tubuhnya penuh luka sayatan dalam, darah mengucur deras, dan napasnya hampir terputus. Saat itu, ia baru saja dikhianati dan diburu oleh organisasi misterius yang ingin melenyapkannya.

Tuan Baskoro, kakek Laras dan kepala keluarga saat itu, menemukannya. Alih-alih membiarkannya mati, sang kakek justru membawanya pulang ke paviliun pribadi dan merawatnya secara sembunyi-sembunyi. Sang kakek melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain pada diri Arga—sesuatu yang ia sebut sebagai "aura naga yang tertidur".

Ketika kesehatan sang kakek mulai menurun, ia mengeluarkan titah yang menggemparkan seluruh keluarga besar Baskoro Laras, cucu kesayangannya, harus menikah dengan Arga.

Tiba-tiba, suara dering telepon rumah yang nyaring memecah ketegangan di ruang tengah. Seorang pelayan mengangkatnya dengan wajah pucat pasi.

"Nona... Nyonya... Tuan Besar Baskoro... kondisinya kritis! Dokter bilang ini adalah saat-saat terakhirnya!"

Wajah Laras seketika berubah pasi. "Apa?! Cepat siapkan mobil!"

Tanpa memperpedulikan Arga, Laras dan ibunya berlari menuju mobil mewah mereka. Arga, dengan insting yang tetap tajam meski ditekan selama bertahun-tahun, segera melepaskan kain pelnya dan berlari kecil mengikuti mereka.

"Siapa yang menyuruhmu ikut, sampah?!" bentak Liana saat melihat Arga mencoba masuk ke mobil cadangan.

"Kakek adalah penyelamat nyawaku. Aku harus ada di sana," jawab Arga datar, suaranya mengandung otoritas yang jarang ia perlihatkan. 

Liana sempat tertegun sesaat oleh tatapan mata Arga, namun ia segera mendengus dan membiarkan Arga mengikuti mereka dengan taksi.

Di rumah sakit, suasana sangat mencekam. 

Seluruh keluarga besar Baskoro berkumpul, namun mereka tampak lebih sibuk membicarakan pembagian warisan daripada mendoakan sang kakek.

Sesampainya di depan pintu ruang perawatan. Sebelum masuk ke dalam, Laras menatap Arga dengan benci. "Puaskan dirimu sekarang. Jika Kakek meninggal, tidak ada lagi yang akan melindungimu di rumah ini. Aku akan menceraikanmu detik itu juga!"

Selama pernikahannya, Laras benar-benar benci Arga karena kehadirannya menjadi beban yang merusak reputasinya. Bila kakeknya meninggal, maka bisa saja ia membatalkan perjanjian pernikahan mereka.

Sebelum Arga bisa menjawab, seorang perawat keluar. "Tuan Baskoro ingin bicara. Tapi... dia hanya ingin bertemu dengan Tuan Arga sendirian."

Keadaan menjadi riuh.

"Apa?! Kenapa pria asing ini?" teriak paman Laras.

"Kakek pasti sudah tidak sadar! Ini tidak adil!"

Namun, perintah sang kakek mutlak. Arga melangkah masuk ke dalam ruangan yang berbau antiseptik tajam itu. Di atas ranjang, Tuan Baskoro tampak sangat rapuh, namun matanya masih berkilat cerdas.

"Kemarilah, Arga..." bisiknya parau.

Arga duduk di samping tempat tidur, menggenggam tangan pria tua yang telah memberinya kesempatan hidup kedua. "Aku di sini, Kek."

"Dua tahun... kamu bertahan dalam kehinaan. Aku minta maaf telah memaksamu masuk ke dalam keluarga yang dangkal ini," ucap Tuan Baskoro perlahan. "Tapi aku melakukannya untuk melindungi Laras, dan untuk menunggu saat ini tiba."

Arga mengernyit. "Maksud Kakek?"

Tuan Baskoro terbatuk darah, namun ia memaksakan diri untuk tersenyum. "Saat aku menemukanmu di semak-semak itu, aku tidak melihat seorang gelandangan. Aku melihat Mata Naga di dalam jiwamu. Kekuatan yang begitu besar hingga tubuhmu yang dulu tidak sanggup menanggungnya, sehingga jiwamu menguncinya demi keselamatanmu sendiri."

Sang kakek merogoh sesuatu dari balik bantalnya. Sebuah liontin kuno berbahan giok hitam dengan ukiran naga yang melingkar membentuk lingkaran sempurna.

"Ini bukan sekadar perhiasan. Ini adalah kunci. Pakailah, Arga. Bangunkan naga yang tertidur itu. Lindungi Laras, walau dia belum mengerti. Dan balaslah mereka yang pernah menghancurkanmu..."

Tangan Tuan Baskoro gemetar saat menyerahkan liontin itu ke tangan Arga. Begitu kulit Arga bersentuhan dengan giok tersebut, getaran halus terasa merambat ke tulang belakangnya.

"Waktuku... sudah habis. Hancurkan belenggumu, Arga...”

Napas terakhir Tuan Baskoro terhembus. Monitor jantung mengeluarkan suara nada tunggal yang panjang dan menyakitkan. Sang singa tua telah tiada.

Arga berdiri mematung di samping jenazah Tuan Baskoro. Di luar, suara tangisan palsu dari kerabat mulai terdengar saat dokter masuk untuk memberikan pernyataan resmi.

Arga tidak menangis. Ia merasakan beban tanggung jawab yang berat. Ia perlahan mengenakan liontin itu ke lehernya.

BOOM...!

Bagi orang lain, ruangan itu tetap sunyi. Namun bagi Arga, sebuah ledakan energi terjadi di dalam dadanya. Panas yang luar biasa mengalir melalui pembuluh darahnya, membakar sisa-sisa kelemahan yang selama ini membelenggu dirinya.

Pandangannya yang dulu terbatas kini menjadi tajam luar biasa. Ia bisa mendengar detak jantung orang-orang di luar ruangan, ia bisa merasakan aliran udara, dan yang paling mengejutkan, sebuah penglihatan tentang energi—aura—mulai terlihat di matanya.

Di dalam jiwanya, seekor naga raksasa yang tertutup es selama bertahun-tahun kini membuka matanya. Segel itu pecah.

Arga keluar dari ruangan dengan langkah yang berbeda. Tidak ada lagi bahu yang membungkuk atau tatapan yang menunduk. Ia berdiri tegak, dengan aura yang begitu menekan hingga keluarga Baskoro yang sedang meratap tiba-tiba terdiam ketakutan tanpa tahu sebabnya.

Laras menghampirinya, matanya sembab. "Apa yang Kakek katakan padamu?! Apa dia memberimu sesuatu? Berikan padaku!"

Laras mencoba meraih leher Arga untuk menarik liontin itu, namun Arga menangkap pergelangan tangan Laras dengan gerakan yang begitu cepat hingga mata manusia sulit mengikutinya.

"Lepaskan!" jerit Larasati terkejut. "Kamu berani menyentuhku?"

Arga menatap mata istrinya. Untuk pertama kalinya, Laras melihat kilatan emas di pupil mata Arga. Itu bukan mata pria lemah yang selama ini ia injak-injak. Itu adalah mata seorang penguasa yang sedang menatap semut.

"Kakek sudah pergi, Laras," ucap Arga, suaranya kini terdengar berat dan bergema. "Mulai hari ini, segalanya akan berubah. Kamu bilang aku adalah debu di sepatumu?"

Arga melepaskan tangan Laras dengan sentakan halus yang membuatnya mundur beberapa langkah.

"Mari kita lihat, seberapa lama duniamu bisa bertahan tanpa debu ini."

Laras mengetahui bahwa Arga memegang kunci atas warisan Kakek yang sangat besar. Jika ia menceraikan Arga sekarang, harta itu akan jatuh ke tangan orang lain

Nama Pena : Sal-by

Genre : Urban Fantasy

Platform : Maxnovel

Editorial:

Buku ini menunjukkan bahwa penulis memahami satu prinsip penting yang sering diabaikan, kekuatan tidak selalu diumumkan, tetapi diungkapkan melalui perubahan sikap. Suara naratifnya tidak terdengar terburu-buru untuk membuktikan sesuatu. 

Ia bergerak dengan keyakinan yang tenang, membiarkan pembaca menyadari sendiri pergeseran yang terjadi di bawah permukaan. Ada disiplin dalam cara informasi diberikan, cukup untuk memancing kesadaran, namun tidak berlebihan hingga kehilangan wibawa.

 Ini menciptakan rasa hormat yang diam-diam terhadap teks, seolah penulis tahu persis kapan harus berbicara dan kapan harus berhenti.

Ritme kalimatnya memperlihatkan kontrol emosional yang matang. 

Ketegangan tidak dibangun melalui ledakan emosi yang berisik, melainkan melalui kontras: antara penghinaan yang lama dibiarkan, dan respons yang kini tidak lagi tunduk pada logika yang sama. Perubahan itu tidak dijelaskan secara panjang lebar.

 Ia hadir dalam gestur kecil, dalam cara karakter berdiri, dalam cara ia menatap. Justru karena tidak dipaksakan, perubahan itu terasa memiliki bobot. Pembaca tidak disuruh terkejut,mereka dibuat sadar.

Tema yang diangkat memiliki kedewasaan yang jelas, tentang martabat, tentang identitas yang selama ini ditekan, dan tentang momen ketika seseorang berhenti meminta izin untuk dihormati. 

Penulis tidak menempatkan tema ini sebagai slogan atau pernyataan moral terbuka. Ia menanamkannya dalam situasi yang konkret dan relasi yang tidak seimbang. Ini membuat konflik terasa lebih dekat dengan kenyataan psikologis, bukan sekadar perangkat dramatik. 

Ada pemahaman yang tajam tentang bagaimana kekuasaan bekerja,bukan hanya melalui kekuatan, tetapi melalui persepsi.

Yang paling membekas adalah atmosfer kendali yang muncul perlahan. 

Buku  ini tidak bergantung pada kejutan semata, melainkan pada rasa inevitabilitas,perasaan bahwa sesuatu yang lama tertahan akhirnya menemukan bentuknya. Ini adalah jenis pembukaan yang tidak memohon perhatian, tetapi memperolehnya secara alami. 

Bagi pembaca yang mencari karya dengan fondasi emosional yang kokoh dan kesadaran naratif yang terjaga, bab ini memberi satu alasan yang kuat untuk melanjutkan, bukan karena janji sensasi, tetapi karena kepercayaan bahwa penulis tahu persis ke mana ia melangkah.

By Peniti Kecil



5 Komentar

  1. Menarikk kakk, ceritanya bagus dan alurnya juga epic. Semangat kak author. . .

    BalasHapus
  2. Biasanya cewek yg dijadiin babu, ini kebalikannya. Plot twist bngt!!👍🏾👍🏾

    BalasHapus
  3. Dari sini aku bisa ngeliat kalau ceritanya bagus, penulis pun pandai mengolah kata, jadi pembaca gak perlu mikir keras buat ngerti maksudnya apa

    BalasHapus
  4. Author cerita ini pandai sekali membuat narasi, sangat enak dan enjoy untuk dibaca, tak ada kata kata tidak perlu atau memutar mutar. Semuanya ngalir dan bisa masuk ke imajinasi saya. Lanjutkan

    BalasHapus
  5. Aku bacanya sampe ngerasa kesel banget sama si laras, nyampe banget ini ceritanya, narasinya ngga bertele tele, keren Thor

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama