Antara Logika dan Rasa - Nada Maya

Antara Logika dan Rasa - Nada Maya


0

Bab 9 Dua Hati yang Luka dan Tegar

Siang itu, hal yang tidak pernah Aisyah duga terjadi. Sebuah pesan masuk dari nomor asing melalui aplikasi hijau di ponsel miliknya. Pesan tersebut berasal dari Dinda yang isinya cukup mengagetkan.

​"Assalamu’alaikum Mbak Aisyah, perkenalkan saya Dinda, istri Fikri Prasetya. Bisakah kita bertemu? Tolong temui saya di kafe Madani dekat kampus sekitar pukul 16.00. Saya ingin mengenal Mbak Aisyah lebih dekat dan bicara baik baik sebagai sesama perempuan, bukan untuk bertengkar."

​Aisyah membaca pesan tersebut berulang kali sebelum akhirnya membalas dengan kesediaan untuk datang.

​Sore harinya, cahaya matahari menembus jendela kaca kafe kecil di dekat kampus. Aisyah duduk di pojok ruangan sambil menggenggam cangkir teh yang mulai dingin. Ia merasa ragu mengapa istri Fikri ingin menemuinya, namun kalimat terakhir di pesan itu membuatnya membulatkan tekad.

​Tepat pukul 15.55, napas Aisyah terasa sesak oleh rasa bersalah dan cemas. Tak lama kemudian, seorang perempuan berkerudung pastel dengan wajah tenang berjalan anggun ke arahnya. Tatapan matanya lembut namun menyimpan ketegasan. Itulah Dinda.

​Aisyah menunduk saat Dinda berdiri di hadapannya. Perempuan itu sangat cantik, tinggi, dan beraroma parfum mahal. Wajahnya teduh dengan fitur wajah yang tertata rapi, meski gurat lelah tidak bisa disembunyikan dari matanya. Ia tampak seperti wanita yang tidak mudah goyah.

​Setelah saling mengucap salam dan bersalaman dengan sopan, keduanya duduk. Hening sempat menyelimuti meja mereka sebelum Dinda membuka percakapan dengan senyum kecil. Dinda berterima kasih karena Aisyah sudah bersedia meluangkan waktu. Aisyah menjawab dengan rendah hati bahwa dirinya justru merasa tidak pantas.

​Dinda menjelaskan bahwa ia sering mendengar tentang Aisyah dari suaminya. Aisyah yang terkejut langsung menunduk dan memohon maaf. Ia menegaskan tidak pernah berniat merusak rumah tangga orang lain dan selalu berusaha menjaga jarak.

​Dengan tenang, Dinda memotong perkataan Aisyah. Ia menyatakan bahwa ia menghargai kejujuran Aisyah dan meyakini bahwa Aisyah bukanlah tipe perempuan perebut suami orang. Dinda mengungkapkan bahwa Fikri sudah berterus terang mengenai perasaannya serta niat untuk melamar Aisyah.

​Aisyah hanya bisa berucap lirih memohon maaf. Dinda mengaku sempat merasa sangat marah, namun ia menyadari bahwa perasaan seseorang tidak bisa dipenjara dengan amarah. Ia telah melakukan istikharah dan memilih untuk menghadapi kenyataan ini dengan keikhlasan daripada kecurigaan.

​Mata Aisyah mulai basah. Ia menjelaskan bahwa dirinya pun tidak meminta takdir ini terjadi dan selalu berdoa agar perasaan itu hilang. Namun, ia ingin semua berjalan dengan cara yang baik jika memang sudah menjadi ketentuan Tuhan.

​Dinda menghela napas panjang sembari menatap ke luar jendela. Ia menyebutkan bahwa Fikri bukanlah lelaki sempurna, tetapi suaminya itu selalu berusaha jujur. Dinda tidak ingin suaminya jatuh dalam dosa karena mencintai seseorang secara diam diam, dan ia juga tidak ingin perempuan baik seperti Aisyah menjadi bahan fitnah.

​Aisyah merasa bingung harus bersikap bagaimana karena masalah ini terasa sangat besar. Dinda kemudian tersenyum meski matanya juga basah. Ia mengakui tidak ada perempuan yang siap dimadu, termasuk dirinya. Namun, baginya cinta bukan selalu tentang memiliki sepenuhnya, melainkan tentang ujian keikhlasan.

​Secara spontan, Aisyah menggenggam tangan Dinda dengan tulus. Ia berjanji tidak akan pernah melangkah tanpa restu Dinda dan akan selalu menjaga kehormatan Dinda serta keluarga jika pernikahan itu benar terjadi. Dinda hanya menitipkan pesan agar Fikri memilih perempuan yang takut kepada Allah.

​Cukup lama mereka terdiam sementara hujan mulai turun perlahan di luar, seolah ikut menenangkan dua hati yang sedang terluka namun memilih jalan terhormat. Sebelum berpisah, Dinda menegaskan bahwa ia telah berbicara dengan Fikri dan memberikan restu jika Aisyah memang siap, walaupun restu itu tidak diberikan tanpa air mata.

​Aisyah berjanji akan menjaga setiap tetes air mata tersebut. Saat mereka bangkit, Aisyah memeluk Dinda dengan erat. Pelukan itu adalah simbol kekuatan dua hati yang sama sama terluka dan berusaha teguh karena cinta kepada Tuhan.

​Setelah Dinda pergi, Aisyah duduk kembali menatap langit jingga dan berdoa agar diberikan hati yang lapang. Di sisi lain, di dalam mobil yang sedang melaju, Dinda menangis perlahan. Meski sedih, ada kelegaan di hatinya karena telah melepaskan ego demi mencari rida Allah.

​Di depan masjid kampus, Aisyah bersujud lama. Ia memohon agar setiap langkah yang ia ambil menjadi ibadah dan bukan menjadi luka bagi orang lain. Malam itu, dua perempuan dari dunia yang berbeda sama sama menyerahkan hati mereka pada takdir Yang Maha Lembut.

*****

Nama pena: Nada Maya

Genre: Rumah Tangga, Romansa

Platform: Fizzo

Editorial:

Kehadiran Nada Maya di platform Fizzo melalui "Antara Logika dan Rasa" menawarkan sebuah eksplorasi emosional yang mendalam mengenai tema poligami, sebuah topik yang sering kali dianggap tabu namun diangkat dengan martabat yang tinggi. Dalam cuplikan ini, penulis tidak terjebak dalam klise pertengkaran antara istri sah dan calon istri, melainkan memilih untuk menonjolkan kekuatan karakter perempuan melalui dialog yang sarat akan kedewasaan dan ketenangan batin.

​Kekuatan utama narasi ini terletak pada pembangunan atmosfer yang kontemplatif di dalam kafe Madani. Penulis berhasil menangkap detail-detail halus, seperti cangkir teh yang mendingin dan hujan yang turun perlahan, sebagai metafora bagi hati yang sedang berproses menuju keikhlasan. Karakter Dinda digambarkan bukan sebagai korban yang lemah, melainkan sebagai sosok yang memiliki otoritas penuh atas emosinya. Tatapan mata yang tegas namun teduh serta langkah yang tenang membangun citra perempuan yang tetap tegak meski sedang menghadapi badai dalam rumah tangganya.

​Ritme cerita dibangun secara apik melalui kontras antara kegelisahan Aisyah dan kebesaran hati Dinda. Dialog yang disusun terasa sangat manusiawi dan jauh dari kesan dramatisasi yang berlebihan. Penggunaan kata-kata seperti "restu ini bukan tanpa air mata" menjadi puncak emosional yang kuat, mengingatkan pembaca bahwa keikhlasan bukanlah sebuah keputusan yang mudah, melainkan sebuah perjuangan spiritual yang nyata.

​Tema pengorbanan dan rida disajikan dengan pendekatan yang sangat spiritual namun tetap membumi. Konflik batin yang dialami kedua tokoh ini digambarkan bukan sebagai persaingan, melainkan sebagai sebuah perjalanan belajar bersama untuk tunduk pada ketetapan Tuhan. Penulis dengan cerdas menyentuh isu sensitif ini tanpa terkesan menghakimi salah satu pihak, memberikan ruang bagi pembaca untuk memahami bahwa dalam cinta, terkadang melepaskan ego adalah kemenangan yang sesungguhnya di mata Sang Pencipta.

​Meskipun narasi ini berfokus pada dialog, transisi antara pertemuan fisik dan momen refleksi pribadi di akhir fragmen ini memberikan kedalaman yang seimbang. Pilihan kata yang digunakan sangat efektif dan mudah dicerna, namun tetap mampu mengaduk perasaan pembaca melalui struktur kalimat yang puitis tanpa menjadi rumit. Keberhasilan penulis dalam menggambarkan pelukan antara dua hati yang luka menunjukkan kematangan dalam meramu konflik rumah tangga menjadi sebuah pelajaran tentang kemanusiaan.

​Secara keseluruhan, karya Nada Maya ini memberikan perspektif baru yang lebih segar dan intelektual dalam genre romansa religi. Penulis membuktikan bahwa drama rumah tangga tidak harus selalu berisi konflik yang meledak-ledak untuk menyentuh hati. Bagi pembaca yang mencari cerita dengan kedalaman moral dan observasi tajam terhadap sisi spiritual seorang perempuan, buku ini adalah sebuah refleksi yang sangat berharga tentang arti cinta dan pengabdian yang tulus.

by Sweet Moon



1 Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama