BANGKITNYA PEREMPUAN SUNGAI CILIWUNG - Lyren Kael

BANGKITNYA PEREMPUAN SUNGAI CILIWUNG - Lyren Kael


0

Bab 5 Titik Putus Asa

​Malam turun begitu cepat. Hujan masih menyisakan rintik yang membasahi genting bocor, meneteskan irama lara ke ember-ember di lantai. Lampu mati sejak sore tadi lantaran token listrik habis dan tidak ada sepeser pun uang untuk membelinya. Ruangan kontrakan itu terasa sangat pengap, dengan udara dingin yang bercampur kelembapan menusuk tulang.

​Ibu Sari terbaring lemah di dipan bambu. Napas beliau terdengar berat, sesekali diselingi batuk panjang yang menyayat rungu. Fitri duduk bersimpuh di sampingnya, mendekap tangan sang ibu sambil terisak pedih.

​"Ibu, bertahan ya. Nanti Kak Wati pasti cari jalan keluar," bisik Fitri parau.

​Rahman tidak kunjung pulang lagi malam itu. Wati hanya terkurung dalam diam di sudut ruangan. Dia menatap layar ponsel yang gelap karena kehabisan daya. Tidak ada penerangan sama sekali, hanya tersisa sebatang lilin kecil yang sudah hampir habis apinya.

​"Ya Allah," gumam Wati lirih dengan mata yang mulai basah. "Sampai kapan hamba harus berpura-pura kuat seperti ini?"

​Menjelang tengah malam, Wati akhirnya bangkit. Dia mengenakan jaket tipis yang terasa lembap, lalu melangkah keluar rumah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Fitri sudah terlelap di samping Ibu Sari, meski sesekali masih terisak dalam mimpi buruknya.

​Gang Pancoran Mas masih dipenuhi lumpur sisa banjir. Bau sampah tercium menyengat, sementara suara katak bersahut-sahutan di antara rintik hujan. Wati terus berjalan menembus kepekatan malam. Langkah kakinya hanya ditemani oleh suara air dan desiran sungai yang terdengar dari kejauhan.

​Kaki yang hanya beralaskan sandal karet itu basah oleh genangan. Setiap langkah terasa amat berat, tetapi ada sesuatu yang seolah menyeretnya menuju jembatan kecil di atas Sungai Ciliwung. Jembatan tua dari besi berkarat itu tampak sepi. Hanya ada lampu jalan redup di kejauhan yang menyisakan sedikit cahaya di tengah kegelapan.

​Wati berdiri di tengah jembatan. Air Ciliwung mengalir sangat deras di bawah sana, berwarna cokelat pekat dan membawa sampah serta batang pohon yang hanyut. Arus itu bergemuruh, seakan sedang memanggil namanya. Dia meraih pagar besi yang dingin, lalu menatap ke bawah dalam waktu yang lama. Dadanya bergetar hebat.

​"Mungkin kalau aku melompat sekarang, air ini akan menelan semua masalahku. Utang, rasa lapar, hinaan, dan kegagalan. Semuanya akan selesai," pikirnya dengan hati yang hancur.

​Tangannya menggenggam pagar lebih erat. Tubuhnya mulai condong ke arah depan. Hati Wati berperang hebat antara rasa takut dan kepasrahan yang total. Namun, dalam keheningan itu, seolah dari tempat yang jauh terdengar sebuah suara. Bukan suara nyata, melainkan gema yang tumbuh dari dalam batinnya sendiri. Itu adalah suara Ibu Sari.

​"Jangan menyerah, Wati. Hidupmu belum berakhir. Kamu masih punya Ibu dan adik-adikmu."

​Mata Wati seketika terpejam. Air matanya jatuh deras ke dalam arus sungai yang ganas. Tubuhnya menggigil.

​"Ibu, aku lelah. Aku sudah tidak sanggup lagi," rintihnya pada angin malam.

​Akan tetapi, suara sang ibu terus terngiang, terasa lembut namun tegas seperti pelukan yang tak terjangkau. Suara itu mengingatkannya bahwa dia adalah penopang keluarga dan tidak boleh membiarkan sungai itu merebut nyawanya.

​Wati membuka mata kembali. Dia menatap arus di bawah yang justru terasa semakin deras memanggil. Jari-jarinya masih mencengkeram pagar besi dengan kuat. Napasnya tersengal dan dadanya terasa sesak. Dia berada di garis tipis antara hidup dan maut.

​Sambil bersandar pada pagar, kenangan lama tiba-tiba muncul. Dia teringat Fitri kecil yang berlari membawa boneka kain buatan tangannya. Dia juga teringat wajah Ibu Sari yang selalu tersenyum meski sedang sakit. Kenangan itu terasa seperti pisau yang mengiris hatinya. Semakin dia ingin menyerah, semakin wajah-wajah orang yang dicintainya muncul menatap dengan penuh harap.

​"Kenapa harus aku yang menanggung semua ini?" seru Wati dalam batin yang memberontak. "Kenapa Rahman bisa pergi sesukanya, sementara aku harus menjadi kakak, ibu, sekaligus ayah?"

​Dia memukul pagar besi dengan telapak tangan. Suara dentumannya terdengar lemah lalu menghilang ditelan suara alam. Dia ingin berhenti, tetapi suara ibunya kembali menusuk bahwa jika dia berhenti, maka ibu dan adiknya pun akan ikut berhenti.

​Wati terisak keras. Di kejauhan, terdengar suara motor melintas, namun kemudian sunyi kembali. Dunia seolah tidak peduli ada seorang perempuan yang sedang bertaruh nyawa di atas jembatan. Dia membayangkan jika dia melompat, jasadnya mungkin baru akan ditemukan esok pagi di daerah lain. Pikiran itu membuat perutnya mual.

​Dia mundur selangkah, namun kakinya terasa sangat lemas. Dia menengadah ke langit, melihat bulan yang tertutup awan hitam. Hujan rintik masih membasahi wajahnya yang sembab.

​"Ya Allah, aku ingin berhenti saja. Aku benar-benar tidak kuat," isaknya sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.

​Muncul perasaan asing yang sangat hampa. Sungai di bawah terus bergemuruh. Wati menarik napas panjang dan kakinya sempat maju setengah langkah lagi. Pandangannya buram karena air mata, membuat tubuhnya limbung. Tiba-tiba saja sandal tipisnya licin karena sisa hujan. Dia hampir kehilangan keseimbangan, namun instingnya membuat tangannya buru-buru meraih pagar kembali. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ketakutan sesaat itu justru membuatnya semakin bingung antara keinginan untuk lepas atau bertahan.

​Di kepalanya, suara Ibu Sari makin jelas terdengar menyebutnya sebagai cahaya keluarga. Suara itu membuatnya terisak kembali.

​"Ibu, aku ingin kuat. Tapi bagaimana caranya? Aku sendirian," bisiknya lirih hampir tanpa suara.

​Wati menunduk lebih lama, merasakan beban tubuhnya berat ke arah arus. Dia menyadari bahwa jika dia melompat, maka selesailah semua. Namun, jika dia kembali, dia harus menghadapi kenyataan pahit itu lagi.

​Di atas jembatan tua itu, Wati berdiri gemetar menatap gelapnya air Ciliwung. Malam seolah menahan napas bersamanya, meninggalkan sebuah tanda tanya besar tentang apakah dia akan menyerah pada arus, ataukah dia akan menemukan sisa kekuatan untuk pulang dan berjuang kembali.

​*****

Nama pena: Lyren Kael

Genre: Rumah tangga, Romansa, Urban, Psikologis.

Platform: Novel Laris

Editorial:

Novel ini ditulis oleh Lyren Kael. Ia adalah seorang penulis yang dikenal piawai dalam merangkai kisah-kisah bertema domestik dan urban dengan sentuhan psikologis yang mendalam. Melalui karyanya, ia sering mengangkat sisi gelap kehidupan masyarakat pinggiran, perjuangan perempuan, serta konflik batin yang sangat relevan dengan realita sosial saat ini.

Perempuan Sungai Ciliwung  ini menyuguhkan gambaran kemiskinan yang sangat menyesakkan. Penulis berhasil membangun suasana suram melalui detail token listrik yang habis, rumah yang bocor, hingga bau sampah yang menyengat. Pembaca diajak merasakan betapa beratnya beban yang dipikul Wati, seorang perempuan yang harus menjadi tulang punggung keluarga di tengah kondisi ekonomi yang hancur.

Konflik batin yang dialami Wati mencapai puncaknya saat ia berdiri di atas jembatan Sungai Ciliwung. Perasaannya digambarkan dengan sangat jujur; antara keinginan untuk mengakhiri penderitaan atau bertahan demi orang tercinta. Momen ini menjadi titik paling emosional karena memperlihatkan betapa tipisnya batas antara keputusasaan dan harapan bagi seseorang yang sudah kehilangan segalanya.

Kehadiran sosok Ibu Sari dalam ingatan Wati menjadi elemen penting dalam cerita ini. Suara batin sang ibu bertindak sebagai jangkar yang menahan Wati agar tidak menyerah pada arus sungai. Bagian ini mengingatkan kita bahwa kekuatan terbesar seseorang seringkali datang dari tanggung jawab dan kasih sayang terhadap keluarga, meskipun tubuh sudah merasa sangat lelah.

Gaya bahasa yang digunakan cukup mengalir dan penuh perasaan. Penggambaran alam, seperti hujan rintik dan arus sungai yang deras, seolah menjadi cermin dari badai yang sedang terjadi di dalam jiwa tokoh utama. Hal ini membuat pembaca tidak hanya sekadar membaca cerita, tetapi juga ikut merasakan sesak di dada yang dialami oleh Wati.

Secara psikologis, bab ini sangat kuat dalam menggambarkan depresi dan beban mental seorang wanita dalam sebuah rumah tangga yang pincang. Tidak adanya peran Rahman sebagai sosok laki-laki di rumah tersebut semakin memperjelas ketimpangan tanggung jawab yang harus dihadapi Wati sendirian. Hal ini memicu simpati mendalam dari sisi pembaca.

Sebagai penutup, bab ini diakhiri dengan suasana penuh tanda tanya yang menggugah rasa penasaran. Pembaca dibiarkan bertanya-tanya apakah Wati akan menemukan kekuatan baru untuk pulang atau justru menyerah pada keadaan. Ini adalah bagian yang sangat krusial karena menentukan arah perjuangan Wati untuk bangkit.

by Nada Maya



1 Komentar

Ulasan buku

  1. Narasinya sangat menyayat hati dan menguras emosi pembaca. Penggambaran kondisi keluarga yang serba kekurangan—mulai dari token listrik habis, genting bocor, hingga Ibu Sari yang sakit keras—terasa begitu riil dan bikin nyesek. Penulis sangat cerdas dalam memainkan emosi lewat detail-detail kecil seperti sebatang lilin yang hampir habis.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama