DENDAM SUAMI YANG TAK DIANGGAP
Bab 12 Melepas Perawan
Anya yang tak bisa menahan hawa panas disekujur tubuhnya pun merasa terlena akan tubuh Rizky. Ia mulai membuka helai demi helai bajunya dihadapan Rikzy.
Rizky menelan ludahnya melihat tubuh seksi Anya. Ia pun mulai mencium kembali Anya dibibir ranumnya.
Anya membalas kecupan liar Rizky dengan tak kalah liarnya. Mereka berdua sudah terbakar oleh gelora api asmara.
Rizky pun dengan segera memopong tubuh Anya ketempar pembaringan, ia mulai mencium kembali mulut Anya, lalu pindah untuk mengecup leher jenjang mulus milik Anya penuh napsu.
Mereka melakukan hubungan intim. Rizky menggempur Anya sampai fajar mulai menyingsing karena ini pertama kalinya Rizky merasakan kenikmatan surga yang belum ia pernah rasakan dari Alenka yang waktu itu masih berstatus istrinya.
"Terima kasih, Anya. Kamu sudah memberikan hal yang tak bisa aku rasakan," ucap Rizky sambil mengecup dahi Anya penuh kelamahlembutan.
Anya menggeliat, tubuhnya dibungkus oleh selimut tebal. Anya membuka kedua bola matanya, ia terhenyak melihat dibawa balik selimut tebalnya tak mengenakan sehelai benang pun.
Air mata Anya menetes tanpa henti. Ia barusan juga melihat ada bercak merah terselip disperai putih.
Rizky yang berada disebelahnya mencoba menenangkan Anya.
"Maafkan aku, tapi aku sudah coba untuk melawan hawa panasmu dishower itu, tapi aku tak kuasa menahan diri. Sekali lagi maafkan aku Anya kamu harus melepas keperawanan kamu kepada pria seperti aku," lirih Rizky.
Anya pun berhenti menangis mendengar penjelasan sari Rizky. Ia tak tega melihat Rizky yang begitu menyesal telah menodai dirinya sebelum hari pernikahannya.
"Sudahlah, ini semua sudah jadi bubur," ucap Anya.
Rizky menghadap kearah samping, lalu mengusah lembut air bulir bening yang mengalir deras di pelupuk matanya.
"Kamu tenang saja aku akan tanggung jawab dan akan segera menikahimu," ucap Rizky penuh keyakinan.
"Terima kasih, Kiki. Kamu pria yang baik," ucap Anya.
"Sama-sama, Anya. Tapi kamu harus tau bahwa Dava yang melakukan semua ini. Dia mengubah rencana kita," ucap Rizky.
"Kenapa dia melakukan semua ini?" tanya Anya.
"Dia sepertinya mencintai kamu, sehingga dia nekat untuk melakukan ini. Untungnya aku tak terlambat menolong kamu," ucap Rizky.
"Syukurlah kalau begitu bukan Dava yang mengambil mahkota berhargaku. Aku lebih baik kehilangan dicalon suamiku sendiri," ucap Anya sambil mencoba tersenyum.
"Ish, kamu bisa saja. Sudah sekarang lebih baik kamu bersih-bersih, sini biar aku bantu kamu untuk kekamar mandi," ucap Rizky.
"Tidak perlu, repot-repot. Aku bisa sendiri,"ucap Anya sambil melangkahkan kaki dan menutupi selimut tebalnya digelung.
Hanya satu langkah Anya bisa bertahan, ia meringis kesakitan setelah malam bergelora yang panas itu memakan seluruh energinya.
"Sudah kubilang kamu pasti tak akan mampu untuk berjalan," ucap Rizky sambil menggendong Anya berjalan kedalam kamar mandi.
Saat itu Rizky baru sadar dia masih tak menggunakan sehelai benang pun, begitu juga Anya ketika mereka berjalan selimut tebalnya terhempas kebawah sehingga wajah Anya yang semua biasa menjadi merah merona.
"Sudah tidak usah malu, toh kita berdua sudah melihat semua satu sama lain.," ucap Rizky.
Anya hanya bisa tersenyum tipis, mereka pun tiba didalam kamar mandi. Rizky mulai menyalakan shower." Segini air hangatnya cukup?"
"Airnya kurang panas dan bagian anu aku terasa sangat perih," ucap Anya.
"Kalau begitu aku keluar dulu, aku ambil salep untuk mengobati luka kamu," ucap Rizky.
"Tidak perlu biar kubasuh saja pakai air lebih hangat," ucap Anya.
"Sudah jangan membantah. Aku hanya ingin kamu tidak merasakan perih lagi," ucap Rikzy sambil keluar dari dalam kamar mandi.
Rizky yang masih merasakan gelora asrama hanya bisa mendengus saat tubuh Anya dari balik pintu kamar mandi saja begitu candu untuk dinikmati kemandi.
"Sial, kenapa yang dibawah ini berdiri lagi hanya melihat lekuk tubuh Anya, padahal didalam sana pun aku sudah menahan diri," ucap Rizky sambil membuka laci kecil dan mengambil obat salep.
Rizky bergegas kembali kedalam kamar mandi dengan masih tidak menggunakan sehelai benang pun.
Anya terpaku sesaat melihat tubuh atletis Rizky. Berkali-kali Anya menelan ludah sendiri untuk menetralkan suhu tubuhnya yang mulai kembali panas.
"Duh, ada apa sih dengan diriku ini. Kenapa aku merasa sangat kepanasan saat Rizky dan si anu itunya berdiri tegak," batin Anya.
Rizky menghela napas pendek," Anya kenapa kamu melihat aku seperti ingin menerkam saja?"
"A-anu, i-itu ... Kamu berdiri lagi?"tanya Anya dengan nada yang tergagap.
"Aku tegang lihat kue apem kamu itu sangat menggoda sekali aku,"ucap Rizky.
"Hmmm, jangan mulai lagi. Di bawah sini aku masih perih," ucap Anya.
"Wajar saja ini yang kali pertama untukmu kan. Biar aku bantu kamu oleskan," ucap Anya.
"Ya, aku mengerti. Tapi nanti aku ingin lagi di lain waktu, boleh ya?" pinta Rizky.
"ish, kamu jangan berani lagi ya. Ini hanya sekali dan ini juga hanya kesalahan,"ucap Anya sambil mendorong dada bidang Rizky.
"Loh, bukannya kita akan jadi suami-istri. Wajar saja kelak nanti aku akan menagih hak aku sebagai suami kamu," ucap Rizky.
"Kan nanti kalau sudah resmi, sekarang kita belum resmi," ucap Anya.
"Ya, mengerti. Aku juga tak ingin memaksa," ucap Rizky.
Rizky pun segera keluar dari dalam kamar mandi, ia tak mau membuat yang dibawah semakin tegang dan berdiri tegak.
Rizky membasuh mukanya berkali-kali di wastafel untuk menetralisirkan setiap hawa panas yang menjulur tinggi di setiap suhu tubuhny yang saat ini memang meningkat tajam akibat melihat tubuh ramping dan seksi Anya.
Sejak Rizky memadu kasih dengan Anya, dia tak pernah lagi memikirkan Alenka. Meski niat balas dendam selalu saja terbersit dalam alam bawah sadarnya.
Sementara itu, Ronald yang merasakan kebingungan ketika dia bangun dipagi buta.
Ia melihat aspal dan suara lalu-lalang yang berdecit keras membuat Ronald membuka mata lebar. Ia terperanjat melihat sekeliling area pemukiman tersebut.
"Shit, dimana gue? bukankah gue sama Anya lagi makan malam berdua. Gue belum sempat untuk kebatender dan memberi obat ini, tapi kenapa gue yang kena. Ini sih gue yang ngerjain," batin Ronald yang saat ini mengusap kasar wajahnya.
Ronald naik pitam, ia tak tahu kenapa ia semalaman bisa bermalam di pinggiran jalan dengan para pengemis dan tunanetra.
Ronald bangkit berdiri, ia segera bertanya kepada salah satu tunanetra yang berada disana.
"Dek, om mau tanya. Kamu lihat siapa orang yang bawa om kesini?" tanya Ronald.
Bocah berusia sekitar tujuha tahun itu tak menjawab hanya memberikan isyarat tangan yang tak bisa Ronald mengerti. Ronald hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
Ronald pun berjalan kembali dan bertanya kepada salah satu pengemis yang menurut Ronald normal.
"Ibu, maaf saya mau tanya. Apakah Ibu melihat saya semalam dibawa kesini?" tanya Ronald.
"Ya, nak. Ibu melihat kamu dibawa oleh seorang pria tampan yang atletis," ucap Ibu pengemis.
"Siapa ya dia, kurang ajar banget. Berani sekali dia menculik dan membawa gue kepiggir jalanan seperti ini," batin Ronald.
*****
Nama pena: Fanie Liem
Genre: Perkotaan, Slice of Life, Balas Dendam
Platform: Max Novel
Editorial:
Bab ini menunjukkan keberanian penulis dalam menempatkan adegan yang sangat intens di garis depan narasi. Suara penulis terasa langsung dan tanpa banyak lapisan, seolah ingin memastikan emosi dan situasi sampai ke pembaca tanpa perantara. Ada upaya menghadirkan kedekatan yang cepat antara tokoh, namun pendekatan yang terlalu eksplisit membuat ruang tafsir menjadi sempit. Akibatnya, nuansa psikologis yang sebenarnya bisa digali lebih dalam justru terasa tertutup oleh penjelasan yang terlalu gamblang.
Ritme kalimat cenderung mengalir deras tanpa jeda yang cukup untuk membangun ketegangan halus. Banyak momen yang seharusnya bisa dibiarkan menggantung, justru langsung diselesaikan melalui dialog atau penegasan emosi. Padahal, pada beberapa bagian, terutama setelah kejadian inti, terlihat potensi untuk menghadirkan suasana canggung, bersalah, dan rapuh yang lebih kompleks. Jika diberi ruang hening yang lebih panjang, dinamika antara Rizky dan Anya bisa terasa lebih hidup dan berlapis.
Tema yang diangkat sebenarnya memiliki bobot yang tidak ringan, terutama terkait relasi kuasa, tanggung jawab, dan pembenaran diri. Namun penyajiannya masih cenderung satu arah. Karakter tampak bergerak mengikuti dorongan situasi tanpa cukup refleksi yang mendalam. Ini membuat konflik terasa cepat, tetapi belum sepenuhnya meninggalkan kesan intelektual yang kuat. Ada peluang besar untuk memperlihatkan pertentangan batin yang lebih tajam, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi lewat gestur kecil, pilihan diam, atau perubahan sikap yang halus.
Secara teknis, teks masih membutuhkan perapian yang cukup signifikan, terutama pada konsistensi nama, ejaan, dan pengulangan frasa. Hal-hal ini memengaruhi kelancaran membaca dan sedikit mengganggu fokus. Namun di balik itu, ada energi yang jelas terasa, sebuah dorongan untuk menulis tanpa ragu. Jika energi ini diarahkan dengan kontrol yang lebih tenang dan selektif, karya ini berpotensi berkembang menjadi narasi yang tidak hanya berani, tetapi juga memiliki kedalaman yang lebih meyakinkan.
by Sweet Moon
