PROYEK MASA LALU: Larasati dan Gerbang Senja - riwidy09

PROYEK MASA LALU: Larasati dan Gerbang Senja - riwidy09


0

PROYEK MASA LALU: Larasati dan Gerbang Senja

Jeritan! Bau mesiu! Asap tebal menusuk hidung, menyesakkan paru-paru. Larasati tersentak bangun, kelopak matanya mengerjap berat. Di mana ini? Suara letusan, disusul teriakan histeris. Kepalanya pening. Bukankah tadi dia di... kantor? Di hadapan meja marmer dingin, dengan pistol mengarah ke kepalanya?

"Mati kau, koruptor!"

Suara itu masih terngiang. Dada Larasati berdesir, napasnya memburu. Ini bukan kantornya. Ini bukan rumahnya. Ini… neraka?

"Mama!" Suara teriakan lain, lebih dekat.

Larasati mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa ringan, aneh. Tangannya. Halus, tanpa kerutan. Kuku-kuku yang rapi, bukan kuku rapuh wanita lima puluh tahunan. Ia melihat pantulan samar di pecahan kaca dekatnya. Wajah muda. Wajahnya, dua puluh lima tahun lalu.

"Mimpi?" Larasati bergumam, suaranya parau. Tapi desing peluru yang memecah udara, bau bensin terbakar, dan raungan massa di luar sana terlalu nyata untuk mimpi.

"Astaga, ini 1998!" Ia langsung tersadar, otaknya berputar cepat. Mei '98. Kerusuhan. Jakarta terbakar. Tubuhnya yang muda gemetar, tapi otaknya yang tua bekerja keras.

"Aku... aku kembali?"

Tubuhnya yang kekar dan terlatih sebagai Ibu Pejabat yang terbiasa menghadapi tekanan, kini digantikan oleh tubuh sosialita manja yang hanya tahu pesta dan arisan. Panik mulai merayapi, tapi memori masa depan menamparnya. Jangan panik, Laras. Kau sudah melihat ini. Kau tahu apa yang terjadi.

"Aku harus keluar dari sini."

Ia melihat sekeliling. Sebuah toko yang hancur. Kaca-kaca pecah, barang-barang berserakan. Di luar, massa bergerak seperti gelombang pasang.

"Identitas. Anak-anak. Aset." Tiga kata itu melintas di benaknya, prioritas utama.

"Anak-anakku! Surya, Mentari, Bintang!" Ia menjerit. Tapi mereka masih kecil di tahun ini. Balita dan anak-anak SD. Mereka pasti bersama pengasuh di rumah. Rumah… rumah siapa? Rumahnya dulu? Atau rumah Ayah?

"Sial! Kenapa aku tidak ingat detail sekecil ini?" Kepalanya berdenyut. Trauma kematiannya beradu dengan trauma masa lalu yang baru ia rasakan kembali.

"Laras, fokus! Kau bukan lagi wanita manja yang bisa menangis. Kau Ibu Pejabat yang baru saja mati!" Ia menampar pipinya sendiri. Sensasinya nyata.

"Keluar! Sekarang!"

Ia merangkak di antara puing-puing, mengintip ke jalanan. Api menjulang tinggi di kejauhan. Suara tembakan semakin sering.

"Pak! Tolong!" Seorang pria paruh baya terhuyung, memegangi lengannya yang berdarah.

Larasati, dengan insting yang baru, langsung menghampiri. "Bapak kenapa? Bisa jalan?"

Pria itu menatapnya bingung. "Siapa kamu, Nak? Jangan di sini! Bahaya!"

"Saya Larasati. Saya harus pergi. Bapak tahu jalan aman?" Larasati tahu ia butuh bantuan. Ia bukan lagi sosialita yang bisa menyuruh-nyuruh sopir pribadi.

"Jalan aman? Tidak ada jalan aman, Nak! Semua kacau!" Pria itu terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Rumah saya di Menteng. Bapak tahu jalan ke sana?" Larasati menunjuk arah, mencoba mengingat tata kota yang sudah lama ia lupakan.

Pria itu menggeleng. "Menteng sudah hancur. Jangan ke sana! Lebih baik ke tempat yang lebih sepi. Mungkin ke arah selatan, Cilandak?"

Cilandak. Rumah Ayah. Ya! Tentu saja! Kenapa aku tidak ingat itu? Di masa depan, rumah itu sudah dijual. Tapi di tahun ini, itu adalah benteng pertamanya.

"Terima kasih, Pak. Semoga Bapak selamat." Larasati tidak bisa membantunya lebih jauh. Prioritasnya adalah anak-anaknya.

Ia mulai berlari, menyusuri gang-gang kecil yang ia ingat samar-samar dari masa mudanya. Tubuhnya yang muda terasa kuat, tapi pikirannya terasa tua dan lelah. Setiap bayangan, setiap suara, memicu memori masa depannya. Wajah-wajah yang akan menjadi korban korupsi, wajah-wajah yang akan ia sakiti.

"Ini kesempatan. Kesempatan kedua." Larasati berbisik pada dirinya sendiri, napasnya terengah. "Aku tidak akan mengulanginya."

Ia melihat sekelompok pemuda dengan kayu dan batu di tangan. Jantungnya berdebar kencang. Hindari konflik. Jangan jadi target.

Ia bersembunyi di balik tumpukan sampah, menunggu mereka lewat. Bau busuk menusuk hidung, tapi Larasati tidak peduli. Ia sudah melihat hal yang lebih buruk di masa depan.

"Aduh!" Larasati menabrak seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya.

"Maaf, Bu! Maafkan saya!" Larasati membungkuk, membantu ibu itu berdiri.

"Tidak apa-apa, Nak. Cepat lari! Jangan di sini!" Ibu itu ketakutan, wajahnya pucat pasi.

Larasati mengangguk. "Bu, apa Ibu tahu rumah Pak Harjo? Di Cilandak?"

"Pak Harjo? Oh, yang pengusaha itu? Di sana, Nak, lurus terus, lalu belok kanan di perempatan besar. Tapi hati-hati, di sana banyak penjarah!" Ibu itu menunjuk dengan tangan gemetar.

"Terima kasih, Bu! Semoga selamat!" Larasati tidak menunggu jawaban. Ia berlari lagi.

Kaki-kakinya terasa pegal, tapi ia terus memaksakan diri. Otaknya terus menganalisis. Anak-anak aman. Mereka diurus pengasuh di rumah Ayah. Identitasku aman, aku masih Larasati. Sekarang aset.

Aset. Dia ingat Ayah selalu punya investasi rahasia. Emas. Di bank mana? Bank mana yang tidak akan kolaps?

"Bank Internasional... bukan. Bank Sentral... terlalu publik."

Larasati berlari melintasi jalan raya yang kosong, kecuali beberapa mobil yang terbakar. Asap hitam mengepul ke langit. Ini seperti akhir dunia.

"Ini bukan akhir dunia, Laras. Ini kesempatan keduamu."

Akhirnya, ia melihat gerbang rumah Ayahnya. Tinggi, kokoh, tapi sepi. Lampu-lampu padam. Tidak ada pengasuh. Tidak ada anak-anak. Jantungnya mencelos.

"Surya! Mentari! Bintang!" Ia berteriak, suaranya pecah.

Ia mendobrak pintu gerbang yang tidak terkunci, lalu pintu rumah. Gelap gulita. Debu bertebaran. Tidak ada siapa-siapa.

"Tidak mungkin! Mereka di mana?" Panik itu kembali, lebih kuat dari sebelumnya.

Ia berlari dari satu kamar ke kamar lain. Dapur kosong. Ruang keluarga berantakan. Kamar tidurnya dulu, kini seperti museum yang terlupakan.

"Ini salah. Ini tidak seperti yang kuingat."

Larasati ingat Ayah selalu menyembunyikan sesuatu di balik lukisan tua di ruang kerjanya. Lukisan pemandangan sawah yang jelek. Ia bergegas ke sana.

"Ayah... di mana kau?"

Larasati menggeser lukisan itu. Di belakangnya, bukan brankas, melainkan sebuah laci kecil yang tersembunyi dengan baik. Ia menarik laci itu. Di dalamnya, ada sebuah surat lusuh dan kunci kecil.

Ia membuka surat itu dengan tangan gemetar. Tulisan tangan Ayahnya.

Laras, jika terjadi sesuatu padaku, ini adalah kunci masa depan kita. Simpan baik-baik. Emas kita ada di brankas nomor 731, Bank Mega Sejahtera, cabang lama di Tanah Abang. Jangan pernah menjualnya kecuali benar-benar darurat. Ini untuk anak cucumu.

"Bank Mega Sejahtera... Tanah Abang..." Larasati membaca ulang. Bank itu, di masa depan, adalah salah satu dari sedikit bank yang berhasil bertahan dari krisis 1998, berkat manajemen rahasia yang ia tahu akan bangkit setelahnya. Dan ia tahu persis, bank itu akan kolaps jika tidak ditarik tepat waktu.

"Emas." Larasati tersenyum tipis, air mata membasahi pipinya. "Ini dia asetnya."

Ia memegang surat dan kunci itu erat-erat. Ketakutannya mereda, digantikan oleh tekad yang membara. Anak-anaknya pasti aman, mungkin di tempat kerabat. Prioritasnya sekarang adalah emas ini.

"Ini bukan sekadar aset, Ayah. Ini peluru pertamaku. Peluru untuk menebus dosa."

Larasati menatap ke luar jendela, melihat api yang masih menyala di kejauhan. Wajahnya yang muda kini dihiasi ekspresi yang lebih dari sekadar sosialita manja. Ada kekuatan, ada strategi, ada tujuan.

"Gerbang Senja ... kalian belum tahu siapa yang baru saja kembali." Ia berbisik, suaranya penuh ancaman, bukan lagi ketakutan. "Dan aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan keluargaku lagi."

Ia berbalik, siap menghadapi dunia yang terbakar, dengan pengetahuan masa depan sebagai senjatanya. Ini baru permulaan.

***

Nama pena: riwidy09

Genre: Fantasi Urban, Regresi, Penebusan

Platform: Wattpad

Editorial:

Buku ini dibuka dengan suara yang langsung menetapkan arah tidak ragu, tidak mencoba bersikap puitis berlebihan, dan tidak bersembunyi di balik gaya. 

Penulis memilih pendekatan yang lugas namun terkontrol, sehingga kepanikan tokoh terasa fungsional, bukan sekadar efek dramatis. 

Ada kejelasan perspektif sebuah kesadaran bahwa tokoh utama tidak hanya bereaksi, tetapi juga menghitung. 

Ini memberi kesan bahwa cerita tidak digerakkan oleh kejadian semata, melainkan oleh pikiran yang aktif dan terbentuk oleh pengalaman.

Ritme kalimatnya cenderung cepat, tetapi tidak kehilangan struktur. Potongan-potongan pendek digunakan untuk menahan napas pembaca, bukan untuk terburu-buru menyelesaikan adegan. 

Di sela kekacauan, ada momen-momen jeda yang sengaja dipertahankan, terutama ketika tokoh mulai mengurutkan prioritasnya. Di titik-titik ini, atmosfer berubah dari chaos menjadi sesuatu yang lebih dingin dan terarah. 

Perpindahan ritme ini terasa halus, seolah penulis memahami bahwa ketegangan tidak selalu datang dari suara keras, tetapi dari keputusan yang diambil dalam diam.

Ketegangan utama dalam buku ini justru terletak pada apa yang tidak diucapkan secara eksplisit, beban moral yang dibawa tokoh dari masa sebelumnya. 

Ada lapisan rasa bersalah yang tidak dijelaskan panjang lebar, tetapi cukup terasa melalui cara ia berpikir dan memilih. 

Penulis tidak menggurui pembaca tentang penyesalan atau penebusan tapi sebaliknya, ia membiarkan logika tindakan tokoh menjadi petunjuk. Ini menciptakan jarak emosional yang sehat cukup dekat untuk terasa, tetapi tidak memaksa simpati.

Dari sisi tema, pendekatannya menunjukkan kedewasaan yang jarang ditemui dalam premis serupa. Gagasan tentang kesempatan kedua tidak diperlakukan sebagai fantasi perbaikan hidup yang sederhana, melainkan sebagai ruang untuk menghadapi konsekuensi dengan cara yang lebih sadar. 

Ada nuansa strategis dalam cara tokoh memandang masa depan, bukan sekadar ingin memperbaiki, tetapi juga memahami struktur kekuasaan dan risiko di sekitarnya. 

Ini memberi bobot intelektual yang membuat cerita terasa lebih dari sekadar drama personal. Kesan yang tertinggal bukan sekadar intensitas, melainkan kendali. 

Buku ini tidak berusaha memukau dengan kejutan, melainkan dengan konsistensi sikap. Ia menawarkan sesuatu yang lebih jarang, sebuah cerita yang tampak tahu ke mana ia berjalan, dan memilih untuk tidak tergesa-gesa membuktikannya. 

Bagi pembaca yang mulai lelah dengan konflik yang terlalu mudah dan emosi yang terlalu diumbar, pendekatan seperti ini terasa cukup meyakinkan untuk diikuti lebih jauh.

By Peniti Kecil



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama