Benih Terakhir Duda Mafia Mandul
Bab 1 : Tamu tak di Undang
Hidupnya tenang, Sepi. Dan sesuai rencananya tidak ada gangguan, tidak ada orang, tidak ada urusan dunia luar.
Itu... sebelum pintu rumahnya diketuk.
Hujan mengguyur langit malam seperti amarah yang tak kunjung padam. Dingin menyusup ke sela-sela batu vila tempat Declan Ardian mengasingkan diri dari dunia yang pernah ia kuasai.
Waktu menunjukkan pukul 01.12 dini hari. Vila yang terletak di lereng bukit itu seharusnya sepi. Tidak ada satu pun yang berani datang ke sana tanpa izin. Tidak ada yang cukup bodoh untuk mengetuk pintu Declan Ardian.
Tok. Tok. Tok.
Declan Adrian, 40 tahun, pria bertubuh tinggi dengan bahu lebar dan rahang tajam, Declan baru saja keluar dari kamar mandi. Jubah mandi hitam menempel di tubuhnya yang masih sedikit basah. Rambutnya acak-acakan. Dingin bukan masalah baginya. Tapi ketukan di tengah malam? Itu mencurigakan.
Ia meraih pistol dari laci meja dan melangkah menuju pintu utama. Kamera pengawas tidak memperlihatkan ancaman. Hanya seorang perempuan dengan anak kecil yang terlelap di pelukannya. Declan mengerutkan kening. Ia membuka pintu perlahan.
"Declan Ardian?" suara perempuan itu terdengar ragu, namun tetap tegas.
"Aku Nayla. Dan ini... anakmu."ucap Nayla
Declan tidak langsung bicara, Tatapannya mengarah pada wajah bocah itu. Usianya sekitar lima tahun, Rambut hitam tebal. Hidung kecil. Dan di sudut alis kirinya ada sebuah tahi lalat kecil, Sama seperti miliknya.
"Kau salah alamat," kata Declan dingin.
"Aku mandul."ucapnya lagi
"Tidak," Nayla menggeleng pelan, lalu menyodorkan amplop putih yang agak basah oleh hujan.
"Ini hasil tes DNA."ucap Nayla lalu memberikannya kepada Declan
Declan tidak menyentuhnya. Tapi matanya menatap dalam, mencoba membaca lebih dari sekadar kata-kata Nayla. Perempuan itu terlihat lelah, tapi tidak sedang berbohong. Declan tahu wajah orang yang berbohong. Nayla bukan salah satunya.
"Masuk," katanya akhirnya. Hanya satu kata, tapi cukup untuk mengubah segalanya.
"Kalau aku benar ayah dari anak itu, berarti seseorang mencuri tubuhku. Tapi kau... kau datang terlalu berani."
Nayla menahan napas. Aroma sabun pria itu menusuk inderanya.
"Kau akan usir aku?"
"Kalau aku tak usir sekarang, aku akan melakukan hal lain yang seharusnya tidak kulakukan."
Nayla menatapnya. "Lakukan saja. Aku di sini karena kebenaran, bukan karena takut sentuhanmu."
Declan menunduk, Hidungnya menyentuh pipinya. Bibirnya hanya sejauh satu bisikan.
"Jangan coba-coba bermain api dengan pria yang hidupnya hanya berisi abu."
Dan dalam satu detik, ia menarik wajah Nayla dan mencium bibirnya. Dalam. Lambat. Seolah ingin membuktikan kalau rasa bisa tumbuh meski hati penuh racun.
Nayla membalas ciumannya. Lembut tapi gamang.
Declan berhenti. Keduanya terengah. Mata saling menatap tanpa berkata.
"Aku bukan milik siapa pun, Declan," bisik Nayla. "Tapi kalau kau ingin tahu rasanya punya sesuatu yang layak diperjuangkan... sentuh aku bukan karena marah."
Declan mundur satu langkah. Tangannya mengepal. Ia masih tak percaya, tubuhnya masih bisa merespons kehangatan yang begitu... hidup.
Nayla duduk di sofa ruang tamu. Anak itu,Raffa sudah tidur di kamar tamu. Declan berdiri memunggunginya, menuangkan whisky ke gelas kristal tanpa menawarinya.
"Kenapa sekarang?" tanyanya.
"Kau tak boleh datang bawa anak dan tinggal begitu saja. Aku bukan pahlawanmu. Aku tidak butuh pahlawan. Cuma butuh pria yang bisa tanggung jawab atas benihnya."ucap Nayla
"Karena aku baru tahu dua bulan lalu. Wanita yang melahirkan Raffa adalah sahabatku. Dia meninggal karena komplikasi paru-paru. Sebelum mati, dia menyerahkan anak itu padaku dan bilang, 'cari ayahnya, Declan Ardian'."jelas Nayla
Declan tidak menoleh. "Dan kau datang ke mari, membangunkanku tangah malam, hanya untuk menyerahkan anak yang bukan hasil dari...."
"Dia dari benihmu," potong Nayla.
"Saat kau koma di rumah sakit Saint Gabriel, ada proyek gelap di sana. Klinik fertilitas ilegal. Mereka mencuri... apa yang masih hidup darimu."Ucap Nayla lagi
Declan membalikkan badan, kini menatapnya penuh. Matanya tajam seperti silet.
"Aku tidak percaya padamu."ucap Declan
"Kau tidak harus percaya. Tapi tubuhmu akan percaya. Karena aku yakin, kau bisa merasakannya sejak melihat anak itu."balas Nayla
Hening menggantung, Lampu gantung berayun pelan diterpa angin dari jendela yang sedikit terbuka.
Nayla berdiri, Ia berjalan mendekati Declan. Jarak mereka hanya satu lengan. Lalu setengah. Lalu hanya satu tarikan napas.
"Apa kau tidak penasaran, Declan? Bagaimana mungkin seseorang yang kehilangan hampir segalanya... masih menyisakan satu benih untuk hidup?"
Declan menahan napas. Matanya bergerak dari mata Nayla ke bibirnya, lalu ke lehernya. Napas wanita itu hangat. Dan dekat. Terlalu dekat.
"Kau gila," gumamnya.
"Atau kau yang selama ini pura-pura mati, hanya karena takut hidup lagi."ucap Nayla menantang.
Tangan Declan terangkat, Ia menyentuh pinggang Nayla, menariknya dengan satu gerakan tegas. Tubuh mereka bertabrakan. Dada Nayla membentur dadanya yang hangat dan keras.
"Kau menyesal datang ke mari?" suaranya berat, nyaris seperti geraman.
"Tidak..." jawab Nayla dengan napas berat.
"Aku hanya takut... kehilangan kendali." ucapnya lagi
Declan tidak menjawab, Bibirnya menyentuh dagu Nayla. Lalu naik ke pipi. Lalu... ke bibirnya. Ciuman pertama mereka bukan ciuman penuh cinta, Tapi kebutuhan, Desakan, Dan luka lama yang akhirnya menemukan pelampiasan.
Nayla tidak menolak, Tangan Declan membelai pinggangnya, naik ke punggung, lalu berhenti di leher, Ciuman itu dalam, penuh tekanan dan gairah yang lama tertahan. Tubuh Declan panas. Tubuh Nayla gemetar.
Mereka terhuyung, saling menarik, menuju sofa. Declan menjatuhkan dirinya sambil membawa Nayla bersamanya. Napas mereka berpacu. Jari Nayla menyentuh dada Declan,luka bekas tembakannya dulu masih terasa kasar.
"Aku bisa menghentikan ini sekarang."ucap Declan menatap Nayla dari jarak sedekat detak jantung.
"Lalu kenapa kau harus bertanya jika ingin berhenti?"tantang Nayla
Ia tidak menjawab, Yang ada hanya bibir mereka bertemu lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih dalam. Tangan Nayla bergerak membuka ikatan jubah mandi Declan perlahan,Declan menatap wajah Nayla. Matanya bergetar,Wajahnya tegang.
"Kau yakin?" suaranya parau.
"Aku tidak datang sejauh ini hanya untuk tidur di sofa," jawab Nayla.
Dan malam itu, hujan di luar tak lebih deras dari hasrat yang mengalir di dalam vila batu itu. Dua jiwa yang sama-sama rusak, menemukan kehangatan di antara bayangan masa lalu yang belum selesai.
Setelah semuanya selesai, mereka duduk di sofa. Declan hanya mengenakan celana training. Nayla menyelimutkan dirinya dengan jaket Declan yang kebesaran.
"Ini tidak membuat kita jadi keluarga," kata Declan pelan.
"Jangan salah paham."ucapnya lagi
"Aku tidak pernah minta jadi istrimu. Aku hanya ingin anak itu tahu siapa ayahnya." Balas Nayla
"Dan sekarang?"tanyanya
"Sekarang... aku ingin kau tahu, Declan. Kau tidak sekarat. Kau masih bisa mencintai. Kau hanya terlalu takut untuk mencoba."ucap Nayla menoleh padanya.
Declan diam. Matanya menatap langit-langit.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, pria itu merasa... hidup.
*********
Nama pena: Peniti Kecil
Platform: Fizzo
Editorial:
Buku ini langsung menegaskan satu hal bahwa penulis memiliki keberanian untuk tidak menenangkan pembaca. Suaranya tegas, dingin, dan sadar betul kapan harus menahan informasi.
Tidak ada upaya membuat tokoh utama terlihat simpatik secara instan justru jarak emosional itulah yang membangun rasa ingin tahu yang lebih dewasa.
Narasi bergerak dengan terkontrol,tidak terburu-buru menjelaskan, tidak pula berusaha membenarkan. Ini memberi kesan bahwa penulis memahami kekuatan diam, bukan sekadar ledakan.
Ritme kalimatnya cenderung stabil dengan sesekali lonjakan intensitas yang terasa disengaja. Dialog dibuat ringkas, tetapi menyisakan tekanan di antara jeda-jedanya.
Ada ketegangan yang tidak datang dari konflik yang diumbar, melainkan dari apa yang tidak dikatakan secara langsung terutama dalam interaksi dua tokoh yang sama-sama menyimpan luka dan agenda.
Ketegangan ini tidak berisik, tapi konsisten, dan justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata.
Tema yang diangkat bergerak di wilayah yang lebih dewasa, kontrol, luka masa lalu, kebutuhan akan koneksi, dan batas antara keinginan serta kehancuran diri.
Penyajiannya tidak mencoba menjadi “bersih” atau aman; ada keberanian untuk membiarkan karakter bertindak dalam wilayah abu-abu.
Namun yang menarik, penulis tidak mengglorifikasi situasi tersebut. Ada kesadaran implisit bahwa yang terjadi bukan sesuatu yang ideal dan kesadaran itu terasa dalam cara adegan-adegan diletakkan, bukan dijelaskan.
Secara intelektual, buku ini meninggalkan kesan bahwa cerita ini tidak akan bermain di permukaan. Ada upaya membangun dinamika kuasa dan emosi yang lebih kompleks dari sekadar hubungan romantis biasa.
Secara emosional, yang tertinggal bukan rasa hangat, melainkan semacam kegelisahan yang tenang, perasaan bahwa sesuatu yang rapuh sedang dibangun di atas fondasi yang belum selesai.
Ini bukan pembuka yang mencoba “memikat” dengan cara mudah. Ia lebih seperti pintu yang dibuka sedikit, cukup untuk memperlihatkan bahwa di dalamnya ada dunia yang tidak sederhana.
Bagi pembaca yang sudah lelah dengan formula yang terlalu rapi, pendekatan seperti ini terasa sebagai di sarankan dan layak dipertimbangkan.
By Lyren Kael

Ternyata Declan gak madul...
BalasHapusKorban eksperimen???
Hhhmmm...
Tenyata Declan korban eksperimen,Nayla pemberani juga ternyata...
BalasHapusSalut gua...