BIOGRALOVEFI
Bab 5. Patah Hati Pertama dan ... Terakhir!
"Inilah kisahku, dan jangan ditiru."
Aku terus berlari, napas membakar paru-paru dan air mata panas memburamkan segalanya. Suara sepatuku yang menghantam kerikil terdengar panik, menjadi satu-satunya irama dalam kekacauan di kepalaku.
Aku tidak tahu tujuannya, hanya ada dorongan primitif untuk menjauh. Menjauh dari tatapan Riyan. Menjauh dari tawa Tiara. Menjauh dari kata-kata menusuk yang terus bergema di telingaku.
Aku berbelok di ujung gedung sekolah, menuju area belakang yang jarang dilewati, tempat gudang tua berkarat berdiri seperti monster yang tertidur. Di sini lebih sepi. Aku menyandarkan punggungku di dinding bata yang kasar dan dingin, lalu merosot ke tanah.
Isak tangisku meledak tanpa bisa kutahan lagi, keluar dalam serangkaian tarikan napas yang menyakitkan. Aku memeluk lututku erat-erat, menyembunyikan wajahku di sana, berharap bisa menghilang.
"Ver! Veronica, tunggu!"
Aku mengangkat kepalaku. Suara itu milik Siska. Dia berlari ke arahku, napasnya terengah-engah, wajahnya penuh kecemasan.
"Pergi!" pekikku di sela isak tangis. "Aku mau sendirian!"
"Enggak mau." Siska berdiri di depanku, tas sekolahnya masih tersampir di bahu. "Kamu kenapa lari-lari gitu? Pak Guru tadi nyariin, lho."
"Aku nggak peduli," desisku, kembali menyembunyikan wajah. "Pergi, Sis."
Bukannya pergi, dia malah berjongkok di hadapanku. Dia tidak menyentuhku, hanya diam di sana, menungguku. Kehadirannya yang tenang justru membuat tangisku semakin menjadi-jadi.
"Ini gara-gara Riyan, kan?" tanyanya lembut.
Aku tidak menjawab, hanya bahuku yang berguncang semakin hebat.
"Aku lihat tadi," lanjutnya. "Dia sama Tiara di bawah pohon mangga."
"Dia jahat," bisikku parau. "Mereka semua ngetawain aku. Tiara bilang aku aneh. Dia bilang Riyan cuma main-mainin aku."
"Tiara emang mulutnya jahat," kata Siska pelan. "Kamu jangan dengerin dia."
"Tapi Riyan nggak ngebela aku!" seruku, akhirnya menatapnya dengan mata basah. "Dia cuma lihat aku, terus buang muka. Seolah-olah aku nggak ada. Seolah-olah surat itu, jawaban dia ... semuanya nggak berarti apa-apa."
Siska menghela napas. Dia tampak bingung, tidak tahu harus berkata apa. "Aku ... aku nggak tahu harus ngomong apa, Ver. Jahat banget emang dia."
"Aku benci dia," gumamku, menunduk lagi. "Aku benci semua orang."
Kami terdiam untuk waktu yang lama. Hanya suara tangisku yang memecah keheningan, bercampur dengan deru angin yang membuat daun-daun kering bergesekan di tanah. Aku merasa begitu kecil, begitu bodoh, dan begitu telanjang.
"Ih, lihat deh. Itu bukannya si Veronica, ya?"
Sebuah suara baru, suara cempreng yang asing, membuatku membeku. Aku mengangkat kepala. Dua orang gadis dari kelas lain berdiri tidak jauh dari kami, menatap dengan rasa ingin tahu yang kejam.
"Iya, bener." Temannya menyahut, berbisik tapi cukup keras untuk kami dengar. "Nangis, tuh. Pasti gara-gara ditolak Riyan."
"Bukannya ditolak," ralat yang pertama. "Katanya sih Riyan lebih milih Tiara. Kasihan, ya, dia. Kepedean, sih."
Wajahku terasa panas. Rasa malu yang luar biasa panas menjalari setiap senti kulitku, mengeringkan air mataku seketika. Mereka menatapku seolah aku adalah tontonan paling menarik di sekolah. Gadis menyedihkan yang menangis karena cinta monyet.
"Apa lihat-lihat?" bentak Siska galak, berdiri dan menghalangi pandangan mereka. "Pergi sana!"
Kedua gadis itu tampak kaget, lalu tertawa mengejek sebelum akhirnya berbalik dan pergi, meninggalkan bisik-bisik mereka di udara.
"Jangan didengerin, Ver," kata Siska, kembali berjongkok di hadapanku. "Mereka emang resek."
Tapi aku tidak lagi menangis. Sesuatu di dalam diriku telah berubah. Rasa sakit itu masih ada, tajam dan membakar di dada. Tapi kini, rasa itu tertutupi oleh sesuatu yang lain.
Sesuatu yang dingin dan keras. Kemarahan. Bukan, lebih dari itu. Ini adalah resolusi.
Aku menghapus sisa air mata di pipiku dengan punggung tangan yang kasar. Bukan gerakan sedih, tapi gerakan fungsional, seolah sedang membersihkan kotoran.
"Ver? Kamu nggak apa-apa?" tanya Siska, suaranya terdengar khawatir melihat perubahan ekspresiku.
"Aku nggak apa-apa," jawabku. Suaraku terdengar aneh, datar dan kosong.
"Kamu yakin? Kamu kelihatan..." Dia berhenti, mencari kata yang tepat. "...beda."
Aku berdiri, membersihkan debu dari rok seragamku. Aku menatap lurus ke arah koridor sekolah yang kini mulai sepi. Mataku terasa kering. Dingin.
"Aku nggak akan pernah nangis lagi."
"Hah? Maksud kamu apa?" Siska ikut berdiri. "Ya wajar dong kalau kamu sedih dan nangis."
"Nggak," kataku tegas, akhirnya menatap matanya. "Nggak wajar. Nangis itu bikin aku kelihatan lemah. Bikin aku kelihatan menyedihkan. Bikin aku jadi bahan tontonan."
"Tapi kan..."
"Nggak ada tapi, Sis," potongku. "Dengerin aku. Ini pelajaran pertamaku. Dan ini yang paling penting."
"Pelajaran apa?" tanyanya bingung.
"Pelajaran kalau kamu nggak boleh kelihatan lemah. Nggak akan pernah." Aku menatapnya tajam, memastikan dia mengerti setiap kata.
"Orang cuma akan ngetawain kamu. Mereka akan nginjek-nginjek kamu kalau kamu kelihatan rapuh. Aku nggak mau jadi orang yang diinjek-injek lagi."
Siska terdiam, menatapku dengan campuran rasa ngeri dan bingung. "Terus kamu mau gimana?"
"Aku mau pulang," kataku singkat. "Tasku masih di kelas. Ayo."
"Tapi di luar mungkin masih ada Riyan," cemasnya.
"Bagus," jawabku dingin. "Aku malah mau dia lihat aku."
Tanpa menunggu jawabannya, aku berjalan lebih dulu. Setiap langkah terasa mantap dan disengaja. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi air mata.
Sesuatu yang polos dan naif di dalam diriku telah mati di belakang gudang tadi, dan digantikan oleh sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih keras, yang belum kukenali sepenuhnya.
"Tunggu, Ver!" Siska berlari kecil menyusulku. "Kamu seriusan?"
"Aku nggak pernah seserius ini seumur hidupku," jawabku tanpa menoleh.
Kami berjalan menyusuri koridor yang lengang. Suara langkah kami menggema di dinding. Saat kami berbelok di tikungan menuju kelasku, aku melihatnya.
Riyan sedang bersandar di dinding, sendirian. Tiara dan teman-temannya sudah tidak ada. Dia terlihat gelisah, menendang-nendang kerikil kecil.
Siska menyentuh lenganku, mencoba menghentikanku. "Ver, jangan ...."
Aku menepis tangannya dengan lembut tapi tegas. Aku terus berjalan, tatapanku lurus ke depan, seolah dia hanyalah bagian dari dinding.
Saat aku melewatinya, dia menegakkan tubuh. Dia tahu aku di sana. Aku bisa merasakan tatapannya di sisi wajahku, tapi aku tidak menoleh. Terus berjalan. Hanya beberapa langkah lagi menuju pintu kelasku.
"Veronica?"
Suaranya pelan, ragu-ragu. Suara yang sama yang membuatku melayang seminggu yang lalu, kini terdengar seperti goresan kuku di papan tulis. Aku berhenti. Tapi aku tidak langsung menoleh. Aku mengambil napas pelan, mengumpulkan perisai tak kasat mata di sekelilingku.
"Ver, aku ...." Dia memulai lagi, suaranya tercekat.
Aku akhirnya berbalik, perlahan. Mataku menatap langsung ke matanya. Wajahnya menunjukkan secuil rasa kaget bercampur rasa bersalah saat melihat ekspresiku yang kosong, pipiku yang bersih tanpa jejak air mata.
"Iya?" tanyaku. Suaraku tenang, begitu tenang hingga membuatku sendiri merinding.
Dia tampak terkejut dengan ketenanganku. Dia sepertinya mengharapkan makian, atau tangisan, atau sesuatu yang lain. Bukan kekosongan dingin ini. "Aku ... soal tadi ...."
"Soal tadi kenapa?" potongku, nada suaraku datar seperti permukaan es. "Ada masalah?"
Riyan membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Dia benar-benar bingung. Dia menatapku, mencari-cari Veronica yang cengeng, yang malu-malu, yang memberinya surat murahan. Tapi gadis itu sudah tidak ada.
"Aku cuma mau bilang," ucapnya akhirnya, "aku minta maaf."
"Minta maaf buat apa?" balasku. Aku menyunggingkan senyum tipis, senyum pertama sejak insiden itu.
Tapi senyum ini terasa asing di bibirku. Tidak ada kehangatan di dalamnya. "Kamu nggak salah apa-apa, kok."
Dia mengerutkan kening dalam-dalam. "Tapi, Tiara ...."
"Oh, Tiara?" Aku mengangkat sebelah alisku. "Kalian cocok. Selamat, ya."
Aku mengucapkan kalimat itu tanpa getar sedikit pun. Di sampingku, aku bisa merasakan Siska menahan napas. Bahkan Riyan sendiri tampak terpukul oleh ucapanku lebih dari jika aku menamparnya. Kata-kata baik yang diucapkan tanpa emosi ternyata bisa lebih tajam dari pisau.
Dia menatapku, benar-benar tidak bisa berkata-kata. Ini adalah kemenangan kecilku yang pertama. Melihatnya bingung, melihatnya kehilangan kendali atas situasi. Perasaan itu ... terasa jauh lebih baik daripada menangis.
Aku tidak memberinya kesempatan untuk menjawab. Aku kembali tersenyum, senyum yang sama datarnya.
"Kalau nggak ada apa-apa lagi," kataku sambil menunjuk pintu kelas dengan daguku. "Aku mau ambil tas."
Dia hanya bisa mengangguk pelan. Aku berjalan melewatinya, diikuti Siska yang tampak seperti hantu. Aku bisa merasakan tatapannya menusuk punggungku, tatapan yang penuh kebingungan.
Saat aku masuk ke dalam kelas yang remang-remang, aku berhenti sejenak dan menatap papan tulis yang penuh coretan pelajaran Sejarah.
Siska mendekatiku. "Ver, kamu ... hebat," bisiknya, terdengar kagum sekaligus takut.
Aku tidak menjawab. Aku hanya menatap pantulan samar wajahku di kaca jendela yang gelap. Wajah seorang gadis kecil yang matanya terlihat terlalu tua.
Pelajaran pertama telah selesai. Sekarang aku tahu cara bermain. Aku harus selalu selangkah di depan. Aku harus yang mengendalikan narasi. Dan yang terpenting...
"Sis," panggilku pelan, masih menatap bayanganku sendiri. "Kalau besok Riyan atau siapapun tanya, bilang sama mereka kalau aku nggak pernah suka sama dia."
Siska terbelalak. "Tapi kan itu bohong!"
"Justru itu intinya," sahutku. Aku akhirnya menoleh padanya, senyum dingin itu masih terpasang di wajahku.
"Mulai sekarang, kebenaran adalah apa yang aku katakan."
***
Pernah merasa begitu takut terluka sampai kamu yang memilih melukai duluan? 🤔
Kenalan sama Veronica, Queen of the Game di skenario percintaan Jakarta. 👑 Baginya, cinta adalah permainan, dan ia tak pernah kalah. Pria datang dan pergi, menjadi 'pelajaran' dalam hidupnya.
Baginya, setiap pria adalah koleksi, biografi cinta atau biogralovefi, sebuah arsip dari pelajaran-pelajaran pahit yang ia kumpulkan sejak patah hati pertamanya waktu masih berseragam merah putih.
Ia membangun benteng tinggi dari sinisme dan kemewahan, memastikan tidak ada lagi yang bisa menyentuh hatinya yang rapuh.
Tapi, bagaimana jika permainan itu justru menjebaknya dalam sepi yang paling dalam? Dan bagaimana jika satu orang datang, bukan untuk bermain, tapi untuk meruntuhkan semuanya?
Siap menyelami luka, taktik, dan perjalanan cinta Veronica yang penuh intrik?
*****
Author : Riwidy
Judul : Biogralovefi (Aku, Kamu dan 100 Patah Hati)
Genre : Romansa Urban
Platform : Litera
Editorial:
Buku ini bekerja dengan kekuatan yang jarang ditemui dalam kisah coming-of-age, suara penulisnya tegas, tidak meminta simpati, dan justru berdiri dingin di atas momen yang seharusnya mudah dijadikan dramatis.
Ada kendali yang terasa sadar, emosi tidak ditumpahkan, melainkan diarahkan. Narasi “aku” tidak berusaha terlihat bijak, tapi justru jujur dalam kepahitan yang masih mentah.
Dari situ, muncul kesan bahwa perubahan yang terjadi bukan sekadar reaksi sesaat, melainkan awal dari sesuatu yang akan dibawa lama.
Ritme kalimatnya disiplin. Bagian awal bergerak cepat, hampir terengah, mengikuti kepanikan batin, lalu perlahan melambat ketika tokoh mulai menata ulang dirinya.
Peralihan ini tidak dibuat mencolok, tetapi terasa. Ada jeda-jeda yang sengaja dibiarkan kosong, hening di antara dialog, diam di antara tangis yang justru memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan tekanan sosial yang bekerja tanpa perlu dijelaskan panjang. Atmosfernya tidak gaduh, tapi menekan.
Yang paling menonjol adalah ketegangan yang tidak diucapkan secara langsung. Rasa malu, harga diri yang runtuh, dan kebutuhan untuk bertahan tidak pernah diberi label besar, tetapi hadir melalui pilihan kata yang semakin kering seiring berjalannya adegan.
Saat tokoh utama berhenti menangis, narasi tidak merayakannya, justru di situlah terasa ada sesuatu yang bergeser secara permanen. Bukan pemulihan, melainkan pembentukan mekanisme bertahan yang dingin dan terukur.
Secara tematik, buku ini bergerak di wilayah yang lebih dewasa daripada sekadar patah hati remaja. Ia menyentuh bagaimana identitas mulai dibangun dari luka, bagaimana narasi diri bisa dipelintir sebagai bentuk kontrol, dan bagaimana kerapuhan sering disembunyikan di balik performa yang rapi.
Cara penyajiannya tidak menggurui, justru terasa seperti pengakuan yang sudah diproses, bukan sekadar luapan emosi sesaat.
Kesan yang tertinggal bukan tentang siapa menyakiti siapa, melainkan tentang satu keputusan kecil yang diam-diam akan menentukan arah hidup seseorang.
Buku ini tidak berusaha memancing rasa penasaran dengan kejadian besar, melainkan menawarkan sesuatu yang lebih halus, keyakinan bahwa penulis memahami psikologi karakternya, dan tahu ke mana ia akan dibawa.
Bagi pembaca yang mencari lebih dari sekadar drama permukaan, ini terasa seperti pintu masuk yang layak diikuti lebih jauh.
By Peniti Kecil
