TRINAWA - Riwidy

TRINAWA - Riwidy


0

TRINAWA

Bab 1. Hanya Tiga Kata

"Kau... mau... apa?" Napas Tri tercekat di tenggorokannya, terjerat oleh ketakutan yang mengencangkan setiap otot. Tiga kata adalah batasnya, batasan tak terlihat yang ia tahu betul tak boleh dilanggar. 

Satu kata lagi, satu suku kata pun, dan tawa mengejek kedua kakaknya akan meledak seperti petir di langit cerah yang justru terasa begitu mengancam di halaman belakang rumah ini. Panasnya terik matahari sama sekali tak mampu menghangatkan dinginnya teror yang merayap dari tumit hingga ubun-ubunnya.

Di hadapannya, Eko menyeringai lebar, seolah baru saja menemukan mainan baru yang menarik. "Wah, si Gagap akhirnya bersuara!" ejeknya, mengayun-ayunkan sebuah robot mainan berwarna perak yang baru saja ia rebut dari tangan Tri. 

Robot itu, Kapten Orion, satu-satunya benda di dunia Tri yang seolah memahami kesunyiannya, kini terayun tak berdaya di udara.

Dwi, yang berdiri di samping Eko, menyambar cepat. "Hush! Biar aku yang bicara dengannya, Kak Eko. Dia kan pemalu." Dwi membungkuk, menatap Tri dengan mata penuh cela. "Jadi, Tri... apa yang kau inginkan dari Kapten Orion ini? Apakah dia... kekasihmu?"

Tri menggigit bibir bawahnya, sensasi asin darah tipis terasa di lidahnya. Dia mundur selangkah, namun dinding tua di belakangnya sudah menghalangi. Tidak ada jalan keluar. Ia terperangkap. Dia melihat lumpur kering yang lengket di alas sepatunya, bau tanah lembap dan daun kering yang tak mampu menutupi bau amis ketakutan yang menguar dari dirinya sendiri. 

Otaknya berputar cepat, mencari cara untuk mengambil kembali Kapten Orion tanpa memicu kemarahan mereka yang lebih besar. Sebuah keputusasaan mengambang di udara, sepekat asap kemenyan yang sering digunakan ayahnya untuk ritual.

"Itu... pun-yaku," Tri mencoba. Suaranya pecah, setiap suku kata terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Ia tahu, setiap upaya untuk membela diri hanya akan menjadi bahan bakar bagi api ejekan mereka. Tapi Kapten Orion... robot itu adalah dunianya.

"Punyamu?" Eko tertawa terbahak-bahak, tawa yang menusuk telinga seperti ratusan jarum. "Sejak kapan sampah punya pemilik? Robot ini jelek sekali, Tri. Lihat, sudah penyok di sana sini. Pasti kau tidak pernah membersihkannya, kan? Bau!" ia berpura-pura mencium robot itu dengan jijik.

Kapten Orion adalah hadiah ulang tahunnya yang ketujuh. Bukan dari orang tuanya, apalagi dari dua kakak tirinya itu tentu saja. Ini hadiah dari Neneknya, sebelum Neneknya pergi untuk selamanya. 

Bagi Tri, Kapten Orion adalah lebih dari sekadar mainan. Robot itu adalah telinga yang selalu mendengarkan, bahu yang selalu ada, dan sebuah cermin yang memantulkan kembali senyum yang tak pernah dia tunjukkan pada dunia luar. Robot itu adalah satu-satunya entitas yang tidak mencemooh kegagapan atau kegagalan Tri. Dia adalah teman imajiner yang paling nyata.

"Jangan... jangan dir-rusak," lirih Tri, matanya memanas. Dia menekan tangisnya, sudah belajar sejak lama bahwa air mata hanya akan memperburuk keadaan. Air mata adalah kelemahan, dan kelemahan adalah undangan bagi lebih banyak kekejaman.

Dwi berjongkok, berhadapan langsung dengan Tri. "Kenapa? Kau akan menangis? Ayo, menangislah! Tunjukkan betapa cengengnya kau ini, si bungsu kesayangan Mama Lysanne!" Ada nada sinis dalam ucapan Dwi, sebuah kecemburuan yang tak pernah bisa dia sembunyikan. 

Tri memang anak bungsu, tapi dia adalah anak ketiga, lahir dari ibu yang berbeda. Eko dan Dwi adalah anak dari istri pertama Pak Prawito, sementara Tri adalah satu-satunya anak dari Mama Lysanne, wanita bule juga berdarah Batak yang misterius dan dingin. 

Perbedaan itu selalu menjadi jurang, menjadikan Tri sebagai sasaran empuk, target kebencian dan perundungan yang tak ada habisnya. Wajah blasteran rupawan Tri yang berbeda, rambutnya yang kecoklatan dan matanya yang biru muda, membuatnya tampak seperti alien di antara mereka.

"Kau tahu nggak sih, Kapten Orion ini sudah  terlihat bosan," kata Eko, mengambil kembali robot itu dari Dwi. Ia mulai memutar-mutar kepala Kapten Orion dengan paksa. "Mungkin dia ingin petualangan baru, Tri. Petualangan yang... merusak!"

"Tidak!" suara Tri hampir tak terdengar, namun dia memberanikan diri maju selangkah. Jantungnya berdetak kencang, memukuli tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri. Bau rumput yang baru dipotong memenuhi indra penciumannya, namun itu tak lebih dari latar belakang bagi bau logam dingin dari tangan Eko yang meremas mainannya.

"Oh, lihat! Si Gagap berani juga, Dwi! Kau mau apa, hah?" Eko menantang, menghentikan aksinya. Dia memegang Kapten Orion dengan satu tangan, sementara tangan yang lain mengepal di pinggang. Matanya menatap Tri dengan tatapan predator. "Mau merebutnya? Silakan. Tapi kau harus melewati kami berdua dulu. Atau kau mau kami tunjukkan apa yang terjadi pada mainan yang  sangat jelek dan membosankan ini hah?"

"Berikan... k-kembali," Tri mengulangi, suaranya bergetar hebat. Dia tahu ini adalah sebuah permainan, dan dia tidak punya pilihan selain bermain. Namun, taruhannya terlalu tinggi. Kapten Orion adalah satu-satunya jembatannya menuju dunia imajiner yang aman, tempat di mana dia tidak gagap dan tidak takut.

Dwi tersenyum lebar, menunjukkan gigi taringnya yang tajam. "Kakak bilang tidak mau, Gagap. Kenapa kau memaksa? Kau tidak punya teman selain mainan ini, kan? Makanya kau begitu terobsesi."

"Dia butuh pelajaran," Eko menggerutu, lalu tanpa peringatan, ia menjatuhkan Kapten Orion ke tanah. Seketika, kaki robot itu terlepas dengan suara patahan yang renyah. "Ups! Kaki Kapten Orion patah. Bagaimana ini, Tri? Dia tidak bisa berjalan lagi."

Tri merasa perutnya mual. Setiap suara patahan kecil yang berasal dari Kapten Orion adalah sayatan di hatinya. Dia ingin berteriak, ingin memukul, namun tubuhnya kaku, terbekukan oleh kebiasaan rasa takut dan ketidakberdayaan yang telah ditanamkan sejak dia masih sangat kecil. 

Orang tuanya tidak akan membantu. Mama Lysanne akan berkata dia harus kuat. Pak Prawito bahkan tidak akan menyadari keributan ini, terlalu sibuk dengan ritual kejawennya.

"Dasar penakut," Dwi mendesah, meraih kaki Kapten Orion yang terlepas. "Lihat, Tri. Kapten Orion ini sudah cacat. Dia tidak berguna lagi. Sama sepertimu." Dia melempar kaki robot itu ke arah Tri. Kaki logam itu mendarat di kakinya, menimbulkan nyeri kecil yang tak seberapa dibandingkan dengan nyeri di dadanya.

"Tidak!" pekik Tri, kali ini suaranya lebih keras, walau tetap pecah. Sebuah aliran adrenalin membanjiri dirinya, memberinya keberanian sesaat yang bodoh. Dia menubruk Eko, mencoba meraih Kapten Orion yang tergeletak tak berdaya di tanah.

Namun, Eko jauh lebih besar dan kuat. Dia mendorong Tri dengan mudah. Tri terjatuh ke tanah, lututnya tergores kerikil tajam. Dia terbatuk, menghirup debu kering dan bau tanah yang menusuk hidungnya.

"Berani sekali kau!" Eko menggeram, matanya menyala marah. "Kau pikir kau siapa, hah? Anak manja yang selalu disayang Mama Lysanne? Kau bukan siapa-siapa di sini tahu! Jangan belagu!"

Dwi tertawa lagi, tawa yang kejam dan tanpa belas kasihan. "Ayo, Kak! Hancurkan saja robot busuk itu! Biar dia tahu rasa!"

Eko lalu mengangkat kakinya. 

***

Nama pena: Riwidy

Genre: Perkotaan, Supernatural, Kriminal

Platform: Max Novel

Editorial:

Buku ini berdiri di atas satu keputusan yang sederhana namun berani, tidak melunakkan kekejaman. Suara penulisnya terasa terkendali, tidak berusaha memancing simpati secara langsung, tetapi membiarkan situasi berbicara melalui detail yang spesifik dan konsisten. 

Ada kejelasan sudut pandang yang dijaga ketat segala sesuatu disaring melalui pengalaman batin tokoh utama sehingga tekanan yang terasa bukan berasal dari kejadian besar, melainkan dari hal-hal kecil yang terus berulang dan tak terhindarkan.

Ritme kalimatnya mengikuti napas karakter. Tersendat, pendek, lalu tiba-tiba memanjang saat pikiran mulai berputar mencari jalan keluar. 

Pola ini tidak hanya memberi tekstur pada bahasa, tetapi juga menciptakan atmosfer yang rapat dan nyaris sesak. Tidak ada bagian yang terasa longgar, bahkan deskripsi lingkungan pun berfungsi sebagai perpanjangan dari rasa terancam. 

Ini menunjukkan kontrol teknis yang matang,penulis tahu kapan harus menahan, kapan harus menekan.

Ketegangan yang paling kuat justru datang dari apa yang tidak diucapkan secara eksplisit. Rasa takut yang telah menjadi kebiasaan, relasi keluarga yang timpang, dan kebutuhan akan satu titik aman, semuanya hadir tanpa dijelaskan panjang lebar. 

Ada kesadaran bahwa luka tidak selalu perlu dipaparkan secara dramatis untuk terasa nyata. Justru dengan menahan, penulis memberi ruang bagi pembaca untuk menyimpulkan sendiri kedalaman situasi yang dihadapi tokoh.

Secara tematik, buku ini bergerak ke wilayah yang lebih serius daripada sekadar konflik masa kecil. Ia menyentuh pembentukan identitas melalui tekanan, bagaimana seseorang belajar membaca dunia sebagai tempat yang tidak aman, dan bagaimana benda sederhana bisa menjadi penopang psikologis yang vital. 

Penyajiannya tidak sentimental, ada jarak yang sengaja dipertahankan, membuatnya terasa lebih jujur daripada manipulatif.

Kesan yang tertinggal adalah ketidaknyamanan yang tenang jenis yang tidak langsung hilang setelah halaman ditutup. Buku ini tidak menjanjikan kelegaan, tetapi menawarkan sesuatu yang lebih bernilai, keyakinan bahwa penulis memahami mekanisme luka sejak awal terbentuk. 

Bagi pembaca yang mencari narasi dengan disiplin emosional dan ketajaman pengamatan, ini bukan sekadar pembuka, melainkan fondasi yang layak diikuti.

By Peniti Kecil



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama