DOMINO: Runtuhnya Dinasti Kebohongan - Azeela Danastri

DOMINO: Runtuhnya Dinasti Kebohongan - Azeela Danastri


0

“Tuan Elizar dan Nyonya, selamat malam,” sapa Asoka seraya mengulurkan tangan kanannya dengan sebelumnya memindahkan tongkat kayunya ke tangan sebelah kiri.

Viola tampak terkejut sebentar dan kemudian segera merubah mimik mukanya dengan tersenyum tipis menatap Asoka. Asoka sempat melihat hal itu, walau wanita itu sepertinya bisa menguasai diri dengan sangat cepat. Tatapan terkejut, merendahkan, iba, cibiran sudah sering Asoka dapatkan. Hatinya sudah kebal dengan itu semua.

“Selamat malam Asoka,” balas Paul yang menyambut uluran tangan Asoka dan melepaskan tangan sang istri di lengannya dan memeluk Asoka erat.

Viola kali ini mengerutkan dahinya dengan tatapan tidak setuju dengan perlakuan sang suami yang memeluk Asoka seperti bertemu dengan keluarga atau teman-teman terdekat mereka. Asoka yang memang waspada menyadari sorot dari Viola dan lebih dulu melerai pelukan.

Untung saja Dirandra dan Kamini bergabung jika tidak suasana pasti akan terasa sangat canggung. Pertemuan ketiga dengan Paul hari ini, Asoka merasakan sesuatu yang berbeda.

Hanya dari reaksi istri investornya ini. Selama dua kali pertemuan sebelumnya Asoka berpikir jika sikap Paul memang terbuka tetapi saat ini sepertinya hal itu hanya berlaku dengan dirinya. Begitu juga dengan para ajudan yang sangat berhati-hati memperlakukan bos mereka.

“Tuan Dirandra dan Nyonya Kamini Berto, akhirnya kita bertemu. Mungkin lain kali kita bisa berbincang untuk investasi di bidang perkayuan,” ujar Paul menyapa Kamini dan Dirandra dengan hangat.

Dirandra membalas dengan tidak kalah ramahnya. “Tentu saja hal itu bisa diatur nanti.”

“Saya tidak menyangka jika Dokter saya adalah istri Anda, Tuan.” Tatapannya tertuju pada Viola sebelum berpindah kepada Paul, dalam hati Kamini mencatat untuk tidak kembali kepada Dokter ini, rasanya tidak tepat. Kamini sungguh terkejut jika Viola Prastiwi, psikiater-nya adalah istri pengusaha kaya raya. Kamini selama ini tidak pernah mencari tahu tentang kehidupan pribadi Dokter-nya dan dirinya tidak mau repot-repot menutupi rasa terkejutnya.

“Iya. Maaf jika Nyonya Kamini tidak tahu. Saya tidak pernah memakai nama keluarga suami untuk urusan pekerjaan. Saya tidak mau dibilang orang mendompleng nama besar suami.”

“Ya, menjadi mandiri itu bagus. Saya juga bukan orang kepo. Jadi santai saja, Dokter juga tahu ‘kan. Toh, saya sering curhat,” terang Kamini dengan menyunggingkan senyumnya yang menawan dan mendapatkan balasan senyum tipis dari Viola.

Sepanjang acara dan mereka duduk di satu meja bundar menjadi satu. Membuat Kamini merasakan kecanggungan karena Viola beberapa kali mencuri pandangan ke arahnya. Akhirnya Kamini memilih izin ke kamar kecil setelah menyelesaikan hidangan penutupnya.

Begitu Kamini berada di depan wastafel dan membetulkan riasannya. Kamini mendengar dengan jelas dua orang di dalam bilik toilet berbeda sedang membicarakan keluarganya terutama sang anak.

“Kamu tahu, aku yakin tanpa koneksi Dirandra Ekadanta dan keluarga Berto. Si Asoka anak cacat itu nggak mungkin bisa mendapatkan investor dari Elfata Korporasi. Apalagi saat ini komisaris utamanya sendiri yang menemui. Bukankah itu agak berlebihan, Tuan Paul terkenal sangat pemilih.”

“Memangnya kenapa? Asoka anggota keluarga Ekadanta,” jawab yang lain.

“Tapi bukan anak kandungnya. Jika Kenzo atau Janu sih yang dapat wajar. Lah, Asoka bisa apa? Selain mendompleng nama keluarga Ekadanta. Dia bisa membantu Tanti Berto juga keberuntungan saja. Aku nggak yakin dia pintar, jadi pelukis juga tidak sebagus lukisan Meliora Lanita. Bukti dia nggak pintar adalah masa dia nggak tahu kalau bukan anak kandung Kamini. Apa yang dia lakukan semua hanya ikut-ikutan. Asoka itu bukan anak Kamini Berto. Kamini itu merebut Dirandra dari istri pertamanya si Yolanda Suparjo.”

“Masa begitu sih?”

“Iya, dulu dia sekolah bersama dengan anakku. Anakku sering mengejeknya anak itu jika berbeda dengan saudaranya yang lain tetapi anak itu selalu ngotot jika dia adalah anak Kamini. Begitu juga si Kembar selalu membela si Cacat. Anakku selalu babak belur dibuat mereka jika mengolok-olok.”

“Apes banget dong Dirandra sama Kamini merawat anak cacat.” Keduanya lantas tertawa terbahak. Menertawai pemikiran itu. 

“Yah, begitulah balasan sebagai perebut suami orang. Tahu rasa sekarang, anaknya bakalan seumur hidup akan bergantung dengan mereka. Aku juga tidak yakin jika itunya bisa berdiri.”

Cukup sudah Kamini mendengar semuanya. Kamini kemudian kembali memasukkan lipstik-nya begitu selesai membubuhkan dan cepat-cepat keluar dari toilet dengan melampiaskan kemarahan membanting pintu dengan keras. Hingga derai tawa keduanya terhenti karena terkejut dan kemudian terdengar nada panik jika ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.

Kamini melirik tajam pada kumpulan Ular Berbisa bergaun indah itu. “Lain kali pastikan orang kalian bicarakan tidak ada di sekitar kalian.”

“Maaf Nyonya Kamini,” ujar wanita bergaun pastel dengan wajah pucat.

“Tidak ada maaf untuk kalian,” balasnya sebelum berlalu.

Suasana hati Kamini sungguh tidak baik-baik saja saat ini. Dia tentu bangga dengan pencapaian Asoka. Kamini tidak pernah membedakan anak-anaknya karena sesuai dengan arti namanya wanita penuh kasih sayang. Kasih sayangnya sudah teruji untuk orang-orang tercintanya. Semua mendapatkan kasih sayang dan perhatian sesuai dengan porsinya. Siapapun yang bersalah akan ditegur sama dengan yang lain. Adil dan merata tanpa terkecuali. Tidak ada siapapun yang berhak merendahkan anak-anaknya.

Tatapan sayang Kamini tak lepas dari Asoka yang saat ini sedang berbincang seru dengan abangnya Javier pemilik hotel ini. Tidak ada yang salah dari putranya selain keadaan fisiknya, dan pelafalan yang sedikit cadel itu terjadi karena dirinya dulu juga terlahir dengan bibir sumbing. Selain itu putranya adalah anak yang sempurna bagi Kamini, anak yang patuh dan tidak pernah menuntut apapun. Tidak juga egois walau tahu, Kamini dan Dirandra bisa memberikan apapun yang mereka mau. Nikmat mana lagi yang didustakan selain bahwa sejak balita anaknya itu tak pernah jauh dari target teror orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Bohong, jika Kamini tidak penasaran dengan siapa ayah kandung putranya tersebut. Beribu kali Kamini mendengarkan rekaman video wasiat dari Yolanda, dia tidak menemukan sedikitpun petunjuk siapa ayah kandung Asoka. Seperti saat ini, begitu mereka kembali ke rumah Kamini lantas menenggelamkan diri di ruang kerjanya dan kembali memutar rekaman tersebut.

“Hai. Kamini adikku dan Mas Dirandra sayang. Mungkin saat kalian melihat video ini aku sudah pergi jauh dari hidup kalian. Jangan khawatir sampai kapan pun aku tidak akan pernah kembali lagi. Ami cantik, maafkan aku yang terlalu pengecut untuk menampakkan diri di hadapanmu.

Dosaku sudah terlalu banyak kepadamu karena benci dan dendam terlebih karena hasutan orang dan kesalahpahaman aku sampai melupakan jika kamu sangat mencintai adikku Dimas. Terima kasih atas cinta dan kasih sayangmu dulu untuk adikku. Setidaknya sampai dia meninggalkan dunia ini, dia tahu bahwa kamu sangat mencintainya.

Aku titipkan kekasih hatiku, putraku yang cacat padamu ya, Sayang. Maaf, tetapi hanya padamu saja aku bisa yakin bahwa putraku tidak akan kekurangan kasih sayang. Cintamu tulus dan ikhlas itu yang aku tahu ....”

Hanya sampai di sana Kamini sanggup melihat kembali rekaman tersebut dan segera mematikan pemutarnya... 

*****

Nama pena: Azeela Danastri

Genre: Drama, Dark Romance

Platform: Novea

Editorial:

Novel ini dibuka dengan ketegangan sosial yang halus namun tajam. Penulis berhasil menggambarkan dinamika kekuasaan dan prasangka melalui interaksi antara Asoka, seorang pria difabel, dengan pasangan Paul dan Viola. Sikap Paul yang hangat berbanding terbalik dengan sikap Viola yang merendahkan, menciptakan konflik batin yang kuat bagi Asoka. Adegan ini efektif dalam memperkenalkan tema diskriminasi dan bagaimana karakter utama harus bertahan di tengah tatapan iba atau sinis dari orang-orang di sekitarnya.

Konflik semakin memanas ketika Kamini, ibu asuh Asoka, secara tidak sengaja mendengar gosip kejam di kamar kecil. Dua wanita asing itu membicarakan Asoka dengan kata-kata menyakitkan, menyebutnya "cacat" dan hanya bisa sukses karena mendompleng nama keluarga Ekadanta. Mereka juga menyerang integritas Kamini dengan menuduhnya merebut suami orang. Dialog-dialog ini ditulis dengan sangat realistis, mencerminkan kekejaman dunia nyata terhadap mereka yang dianggap berbeda atau kurang beruntung, sehingga memicu kemarahan pembaca sekaligus empati terhadap Kamini.

Reaksi Kamini saat membanting pintu toilet menjadi momen puncak yang memuaskan dalam buku ini. Tindakannya yang tegas menunjukkan bahwa ia bukan sekadar korban fitnah, melainkan sosok ibu yang siap melindungi anak-anaknya mati-matian. Kalimatnya, "Lain kali pastikan orang yang kalian bicarakan tidak ada di sekitar kalian," terasa sangat berkuasa dan menghukum para penggosip tersebut. Momen ini memperkuat karakter Kamini sebagai wanita tangguh yang tidak toleran terhadap penghinaan pada keluarganya.

Di balik kemarahan tersebut, buki ini juga menyentuh sisi emosional yang lebih dalam tentang kasih sayang seorang ibu. Narasi menjelaskan bahwa bagi Kamini, Asoka adalah putra yang sempurna tanpa memandang keterbatasan fisiknya. Cinta Kamini digambarkan tulus dan tanpa pamrih, kontras dengan pandangan dangkal masyarakat luar. Hal ini memberikan kedalaman pada hubungan antara Kamini dan Asoka, membuat pembaca merasa terhubung secara emosional dengan perjuangan mereka mempertahankan harga diri di tengah cibiran.

Plot twist muncul di akhir cerita ketika Kamini menonton video wasiat dari Yolanda Suparjo, istri pertama Dirandra (ayah asuh Asoka). Pengungkapan bahwa Asoka sebenarnya adalah anak kandung Yolanda yang dititipkan kepada Kamini menambah lapisan misteri yang kompleks. Ini mengubah persepsi pembaca tentang status Asoka. Dia bukan anak angkat biasa, melainkan titipan penuh kepercayaan dari mantan musuh Kamini. Misteri siapa ayah kandung Asoka dibiarkan menggantung, menciptakan rasa penasaran yang kuat untuk melanjutkan bacaan.

Secara keseluruhan, buku ini menawarkan campuran drama keluarga, kritik sosial, dan misteri yang dikemas dengan baik. Azeela Danastri, penulis di platform Novea, menunjukkan kemampuannya dalam membangun karakter yang multidimensi dan alur cerita yang penuh kejutan. Dengan bahasa yang sederhana namun ekspresif, novel DOMINO: Runtuhnya Dinasti Kebohongan cocok bagi pembaca yang menyukai kisah tentang ketahanan hidup, cinta keluarga, dan pembongkaran rahasia masa lalu. Karya ini layak diikuti bagi penggemar genre drama dan dark romance yang mengutamakan kedalaman emosi.

by Nada Maya



Posting Komentar

Ulasan buku

Lebih baru Lebih lama