KUNTI KUNING - Zee Lesta

KUNTI KUNING - Zee Lesta


0

KUNTI KUNING

Bab 8 Terbongkar 

Satya berusaha keras memfokuskan matanya pada layar komputer yang kini sudah menyala kembali. Namun, fokusnya buyar setiap kali si Bocil Biru melemparkan penghapus atau saat kunti-kunti putih di pojok sana mulai mengeluarkan suara tangis yang dibuat-buat untuk memecah konsentrasinya.

Gudang itu terasa seperti taman bermain tanpa pengawas. Satya merasa harga dirinya sebagai manusia sedang diinjak-injak oleh penghuni astral yang tidak tahu diri.

ZING!

Tiba-tiba, sebuah pendar kuning muncul pada tumpukan kardus di sebelah meja Satya. Pendar itu tidak muncul dengan ledakan energi seperti biasanya, tapi berkedip-kedip redup seperti lampu jalanan yang mau putus.

Satya tersentak, namun segera menetralkan ekspresinya. Dari sudut matanya, ia melihat sosok itu. Keadaan si Kunti jauh lebih berantakan dengan daster kuningnya yang biasa mentereng kini kusam dan rambutnya makin awut-awutan dengan rahang yang terlihat agak miring.

Melihat kedatangan sang daster gonjreng, si Bocil Biru langsung ngacir masuk ke dalam lubang tikus. Kunti-kunti putih di pojok ruangan pun mendadak diam dan pura-pura sibuk menatap tembok.

Kunti duduk di atas tumpukan kardus, memeluk lututnya, dan menatap kosong ke arah dinding.

"Abang ...." Suaranya serak, tidak cempreng seperti kemarin.

Satya tetap bergeming dan fokus mengetik. Cahaya kuning di sampingnya mulai membuat matanya perih dan berair. Meskipun nyalanya tidak seterang kemarin, tapi tetap saja nyalanya menusuk mata. Ia ingin sekali memakai kacamata hitam, tapi takut si Kunti curiga.

"Semalam ... pas Abang ngatain aku burik bau terasi, mereka semua denger," Kunti itu mulai bercerita dengan nada melankolis. "Kunti-kunti 'aesthetic' yang dasternya putih bersih di pohon beringin itu langsung ngetawain aku. Mereka bilang, manusia yang aku tempelin aja jijik sama aku. Huuuu huhuhuhu ...."

Satya menelan ludah. Ada rasa sesak yang aneh muncul di dadanya.

"Puncaknya tadi malam, mereka boikot aku. Aku nggak boleh balik ke dahan atas. Katanya daster kuningku ngerusak pemandangan pohon beringin. Aku diusir, Bang ...." Ia sesenggukan, suara tangisnya terdengar seperti gesekan amplas.

"Huhuhuuu, ngiiikkikikikik ...."

Kunti menyandarkan kepalanya di tumpukan kardus, tepat di samping lengan Satya. Satya langsung bisa merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, tapi ia tetap berusaha keras abai.

"Aku tuh bingung, Bang ... aku nggak inget siapa namaku. Aku nggak inget dulu hidupku gimana, matinya kenapa. Kenapa pas bangun-bangun aku udah pakai daster kuning begini? Kenapa nggak putih bersih kayak yang lain? Apa pas aku mati, aku lagi kerja jadi petugas kebersihan atau gimana?"

Air mata hitam pekat menetes dari matanya yang bolong, membasahi kardus. Satya memejamkan mata sejenak. Matanya benar-benar pedih karena silau pendar kuning itu.

"Kadang aku mikir, apa aku ini emang produk gagal dunia hantu ya? Udah gosong, kuning, dibilang bau terasi lagi sama Abang ...." Kunti itu menoleh, menatap pipi Satya dengan jarak hanya beberapa sentimeter.

Satya menggigit bibir bawahnya. Ia ingin sekali menoleh dan bilang, "Maaf, daster kamu sebenarnya nggak bau-bau banget kok," tapi ia tahu risikonya. Ia hanya bisa terus menatap layar komputer, sementara air mata mulai mengalir di pipinya karena tidak kuat menahan silau yang luar biasa.

"Tuh kan, Abang aja sampai nangis denger ceritaku ... eh, apa karena aku silau ya?" Kunti itu bertanya polos.

Satya buru-buru mengusap matanya dengan kasar. 

"Duh, debu gudang emang nggak ada obat," gumamnya datar, berusaha menutupi suara yang mulai bergetar.

Si Kunti menghela napas panjang—bunyinya lebih mirip ban bocor yang menyedihkan. Ia membetulkan posisi duduknya di atas kardus, mendekat ke arah Satya seolah sedang berbisik pada kawan lama.

"Abang tahu nggak? Dari awal aku bangun jadi setan di bawah beringin itu, mereka udah jahat," curhat si Kunti, suaranya parau. "Ada empat kunti senior di sana. Rambutnya lurus-lurus, dasternya putih sutra, kalau ketawa suaranya merdu banget kayak penyanyi keroncong. Estetik banget lah pokoknya."

Ia menunduk, menatap ujung dasternya yang kuning mentereng.

"Pas liat aku, mereka langsung tutup hidung. Katanya, 'Ih, ada petugas kebersihan komplek nyasar ke beringin!'. Mereka bilang aku ini kuntilanak rijek, karena pas pembagian daster, aku ketinggalan, jadi salah kostum. Huaaaaaa ngiiikkk nggiikk ngikkk ...." 

Satya mengigit mulut bagian dalamnya. Dalam hati ia mengumpat, "Buset! Setan aja ternyata ada yang rasis dan tukang bully.

"Mereka nggak mau satu dahan sama aku. Katanya nanti pendar kuningku bikin mata sakit. Mereka bilang kalau aku lewat, suasananya jadi nggak serem lagi, tapi malah jadi kayak bazar malam minggu. Mereka bully aku, Bang ... dibilang aku ini Kunti yang mati karena kelindes dan ketumpahan truk tangki sedot wc makanya warnanya kuning gosong begini. Macam-macam omongan mereka yang menyakitkan hati. Huuuhuhu ngiikk! Meskipun aku hantu, aku juga punya perasaan loh, Bang. Andai Abang bisa lihat dan mendengar ...." 

Satya sedang berusaha keras mempertahankan kewarasannya saat pendar kuning di sampingnya makin terang benderang. Si Kunti, yang merasa sudah mendapatkan panggung, kini malah berdiri di atas tumpukan kardus, berpose ala orator.

"Abang harus tahu, mereka itu punya geng! Namanya Komunitas Kunti Aesthetic Beringin Tua dan isinya kunti daster putih semua!" cerocos si Kunti, suaranya naik satu oktav karena emosi.

"Pentolannya itu si Kunti Marimar. Duh, dia paling genit! Rambutnya paling panjang dan paling gimbal. Terus ada Kunti Soimeh, yang kalau ketawa suaranya harus pake cengkok dangdut biar dibilang legendaris. Satu lagi Kunti Markonah, dia yang paling sering ngejek aku dan bilang kalau dasterku itu hasil rendaman kunyit.

Satya meremas pinggiran meja, berusaha mengabaikan daftar nama konyol itu. Ia menggigit pipi bagian dalamnya sampai terasa asin darah, hanya demi menahan tawa yang nyaris meledak saat mendengar nama-nama kunti yang absurd. Ujung bibirnya sampai sedikit berkedut-kedut menahan tawa yang hampir pecah.

"Dan yang paling nyebelin itu, pemimpin mereka si Kunti Syahrinil! Yang kalau mendarat harus pakai gaya maju mundur syantik!"

Karena terlalu menggebu-gebu saat memperagakan gerakan "maju mundur syantik" milik saingannya itu, si Kunti melakukan hentakan leher yang terlalu bersemangat.

"Kunti Syahrin—EEEEAAAKKK!"

KREKKK!

Suara patahan itu terdengar seperti dahan pohon yang patah. Detik berikutnya, kepala gosong dengan mata bolong sebelah itu terlepas dari lehernya, jatuh menghantam meja kerja Satya tepat di atas keyboard komputer hingga mengetik huruf 'ajshdjkashdkj' di layar, lalu menggelinding pasrah ke arah perut Satya. 

"ALLAHU AKBAR! ANJRIIIIITT!"

Pertahanan Satya runtuh total. Ia berteriak histeris, refleks melompat dari kursinya sampai kursinya terguling ke belakang. Wajah gosong dengan lubang mata hitam pekat dan lidah menjulur itu benar-benar terlihat sepuluh kali lebih ngeri saat jaraknya hanya satu sentimeter dari wajahnya.

"SETAN! SETAN! ASTAGFIRULLAH!" Satya mundur menabrak rak besi, napasnya memburu, jantungnya serasa mau copot dan pindah ke lambung.

DUG! DUG! DUG!

Kepala itu menggelinding jatuh ke lantai. Melewati sela kaki Satya dan berhenti tepat di bawah tumpukan kardus.

"A-a-abang? Abang teriak?" suara itu muncul dari arah lantai. "Abang liat aku?!"

*****

Nama pena: Zee Lesta

Genre: Horror Komedi

Platform: Novea

Editorial:

--



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama