Kasus Sang Harimau



0

Bab 1

Aku mengebut sesaat setelah melewati gerbang tol, dan memindahkan mobil ke jalur cepat. Mendahului mobil lainnya.

Saat jarum speedometer naik melewati delapan puluh, sembilan puluh kemudian bertahan di seratus, aku merasa diriku dipaksa kembali ke kursi. Cepatnya sangat melegakan setelah kemacetan lalu lintas kota Jakarta.

Aku jarang mendapat kesempatan untuk menguji keterampilanku membalap, dan rasanya luar biasa.

Saat menuju selatan, lalu lintas segera menipis dan aku bisa mengemudi dengan santai. Tidak lama kemudian aku mulai merenungkan masalah David Raja sekali lagi.

Sudah lebih dari sembilan tahun sejak aku pertama kali bertemu David. Kami adalah mahasiswa teknik mesin di ITB, bergegas keluar di akhir masa kuliah menuju ke bar di Braga. David selalu minum wiski single atau double, sesuai dengan keadaan dompetnya saat itu, tetapi selalu wiski, sementara aku harus puas dengan bir lokal.

Jelas bahwa PT Ford Motor Indonesia bukanlah tempat yang tepat untuk pesona dan sifat ceria David Raja. Aku tidak terkejut mendengar dia mengumumkan suatu malam bahwa dia bergabung dengan perusahaan pembiayaan kapal internasional Dansk Skibskredit. Dia berharap untuk menemukan petualangan saat berkeliling dunia. Hanya bertahan beberapa bulan di FMI.

David jelas jauh lebih betah di dunia keuangan tingkat atas, dan aku mendengar berita tentang promosinya yang cepat. Dalam beberapa tahun dia telah mencapai jabatan direktur junior. Maka aku sedikit terkejut ketika setahun kemudian aku bertemu dengannya saat berjalan di trotoar Jalan Sudirman dan melihatnya berpakaian kasual. David tipe pria yang senang memakai setelan jas mahal di setiap kesempatan, terutama saat dia berada di pusat kota.

Dia tampak sangat senang bertemu denganku dan bersikeras untuk mentraktirku di Tanamur. Butuh waktu setidaknya sepuluh menit sebelum dia mengakui bahwa dia tidak lagi di bidang keuangan. Tampaknya ada semacam kesalahpahaman tentang salah satu kesepakatannya.

Tapi dia tertawa dengan cukup meyakinkan, menyatakan bahwa dia bukan tipe orang yang duduk di belakang meja menatap layar komputer.

Di bawah pengaruh beberapa gelas Johnnie Walker Black minuman kesukaan David dan dikombinasikan dengan pesona cerianya yang membuatku dengan bodoh menceritakan kepadanya bahwa aku baru saja mewarisi galangan kapal kecil milik keluarga di Batam setelah kematian seorang sepupu.

Matanya langsung menyala-nyala menunjukkan gairah. Sia-sia saja aku mencoba meyakinkannya bahwa perusahaan itu hanya tinggal nama. Pabriknya ketinggalan zaman. Seluruh staf terdiri dari delapan pekerja, dua buruh kasar, dan seorang sekretaris.

Tidak ada yang bisa menghalangi David Raja.

“Kau punya potensi di sana,” dia terus meyakinkanku. “Yang harus kau lakukan adalah memperbarui tempat ini, mendapatkan beberapa peralatan baru, dan kemudian bercabang menjadi beberapa kapal yang lebih modern yang memerlukan sentuhan khusus pada lambung. Aku baru saja berbicara dengan seseorang makelar kemarin, yang sedang mencari seseorang untuk melengkapi kapal penjelajah mewah senilai dua puluh dua miliar untuk seorang konglomerat.”

David selalu tahu jika ada yang sedang mencari sesuatu, apa pun sesuatu itu. Sebelum bar tutup, David berhasil membujukku untuk memasukkan dia ke dalam kemitraan. Dia seharusnya menyuntikkan dana empat miliar, tapi itu tidak pernah terwujud, meskipun dia meyakinkanku bahwa dia tidak akan kesulitan untuk menghasilkan nilai lebih dari itu.

Anehnya, kemitraan itu sukses untuk sementara waktu. Kami berhasil menyuntikkan sejumlah besar dana baru ke perusahaan yang hampir kandas. David menghubungi seorang manajer bank dan menggunakan keahlian keuangannya membujuknya untuk memberikan kami kredit sehingga kami dapat membeli beberapa mesin baru.

David lah yang mendapatkan pesanan untuk pekerjaan baru yang memberikan keuntungan besar. David lah yang pergi ke luar negeri dan menjelajahi pasar di sana, membawa kembali beberapa pesanan dari Jerman yang membuat kami sibuk selama lebih dari kemitraan enam bulan.

Terkadang tidak mudah untuk memenuhi beberapa pesanan yang diterima David, dan itu membuatku pusing, tapi kami biasanya berhasil menyelesaikannya tepat waktu. Dalam waktu satu setengah tahun kami telah menggandakan staf dan lantai ruang kantor dan mengurangi kredit menjadi hanya seratus juta. Dari luar, gambarnya cukup cerah, tetap saja aku menyimpan keraguan tertentu terhadap David.

Sayangnya, David sepertinya tidak pernah bahagia dengan apa yang diperolehnya. Dalam waktu singkat dia memainkan peran sebagai eksekutif bisnis, lengkap dengan rekening akun pribadi dan BMW 532i.

Dia mulai melakukan lebih banyak lagi perjalanan ke luar negeri, dan sekali atau dua kali aku mendapati bahwa dia mengunjungi Thailand ketika dia seharusnya berada di Batam. Kembali di Jakarta, dia menghabiskan banyak waktu di klub malam.

Dalam salah satu kunjungannya ke salah satu tempat hiburan kelas atas, dia berhasil menangkap Ratna Dadali, aktris sinetron dan mantan idola remaja, hanya beberapa hari setelah perceraian Ratna disahkan pengadilan. Mereka baru saling kenal selama dua minggu ketika mereka mengumumkan pertunangan mereka.

Aku melakukan yang terbaik untuk membatasi pengeluaran David, tetapi itu tidak mudah dan sisi akuntansi bisnis kami adalah yang paling tidak efisien. Terlalu banyak pekerjaan sehingga tak banyak waktuku untuk dihabiskan di kantor, dan harus menyerahkan sebagian besar kepada kasir tua paruh waktu yang takut menyinggung David.

Namun, pesanan terus mengalir ke buku kami dan aku berkonsentrasi pada hal-hal praktis, dan David punya cara yang licin dalam memberi kesan kepada sebagian besar pelanggan kami. Baru pada akhir tahun ketiga kerja sama kami, akuntan perusahaan itu datang pada suatu pagi dan menunjukkan kepadaku setengah lusin cek yang jelas-jelas membuatnya khawatir. Jumlahnya cukup besar, dan telah diuangkan oleh David di berbagai bank. Ada tanda tangannya sendiri dan tanda tanganku seperti biasa, dan tampaknya asli, tetapi aku tidak ingat kalau telah menandatanganinya. Baru setelah memeriksanya dengan cermat, aku menyadari bahwa tanda tanganku telah dipalsukan.

Pemalsuan yang sangat bagus.

Sewajarnya, aku harus mengonfrontasikannya dengan David. Awalnya dia menyangkal, seperti yang sudah kuduga, tetapi ketika dihadapkan dengan pertanyaan tentang barang atau nilai apa yang dia habiskan, dia akhirnya terpojok dan mengakui bahwa dia telah mencairkan cek untuk melunasi beberapa utang mendesak.

Aku menduga bahwa itu ada hubungannya dengan kebiasaan berjudi, tetapi dia cenderung untuk memperlakukan seluruh urusan dengan enteng.

“Hanya sementara, Han. Aku akan membayar semuanya dalam satu atau dua bulan.”

“Lihat, David,” protesku. "Ini bukan hanya soal beberapa perak dari kas kecil. Hampir dua ratus juta. Belum lagi janjimu sebesar empat miliar sebagai penyertaan modal dalam kemitraan.”

Judul: Kasus Sang Harimau

Penulis: Ikhwanul Halim

Genre: Aksi

Platform: Novel Laris

Editorial:

Novel ini menyuguhkan sebuah awal yang sangat menarik dengan membawa pembaca masuk ke dalam dunia bisnis galangan kapal yang penuh dengan intrik finansial. Penulis berhasil membangun rasa penasaran melalui kilas balik hubungan persahabatan masa kuliah yang kemudian berkembang menjadi kemitraan bisnis yang rumit. Penggambaran karakter utama yang sedang memacu mobilnya di jalan tol Jakarta seolah menjadi simbol dari ketegangan tersembunyi yang siap meledak di dalam cerita.

Karya berjudul "Kasus Sang Harimau" ini merupakan buah pena dari Ikhwanul Halim. Sebagai penulis yang aktif di platform Novel Laris, ia kembali membuktikan kepiawaiannya dalam menukangi genre Aksi yang dikombinasikan dengan latar belakang dunia korporat dan kriminalitas kerah putih. Gaya penceritaannya yang realistis dan maskulin membuat konflik bisnis dalam cerita ini terasa sangat hidup dan meyakinkan.

Keunggulan utama novel ini terletak pada kepiawaian penulis dalam membangun ketegangan psikologis melalui karakter David Raja yang manipulatif namun penuh pesona. Pembaca diajak melihat bagaimana sebuah karisma dan kelicikan bisa menyelamatkan sekaligus menghancurkan sebuah perusahaan dalam waktu bersamaan. Detail-detail mengenai operasional galangan kapal dan pemalsuan cek perbankan juga ditulis dengan sangat rapi, memberikan kesan investigasi yang cerdas.

Mengenai kekurangan, gaya penceritaan yang didominasi oleh narasi kilas balik narator di awal cerita berisiko membuat tempo cerita terasa lambat bagi pembaca yang menyukai aksi fisik instan. Namun, kekurangan tempo ini berhasil dieksekusi dengan sangat baik lewat kelebihan penulis dalam merangkai dialog konfrontasi yang tajam di bagian akhir. Ketegangan saat kasus pemalsuan tanda tangan terbongkar langsung memicu adrenalin pembaca dan menggantikan lambatnya alur di awal dengan rasa penasaran yang memuncak.

Dinamika pengkhianatan dalam lingkaran persahabatan ini menjadi bumbu yang sangat kuat untuk kelanjutan cerita ke depan. Penulis berhasil menutup bagian pengenalan ini dengan sebuah teka-teki moral yang berat, membuat kita ikut merasakan dilema yang dihadapi oleh tokoh utama. Kombinasi gaya hidup mewah klub malam Jakarta dengan kerasnya industri galangan kapal di Batam memberikan latar tempat yang sangat kontras dan menarik.

Saya sangat merekomendasikan novel ini bagi kamu yang menyukai kisah drama kriminal, spionase bisnis, atau aksi investigasi yang penuh dengan taktik. Jika kamu mencari cerita aksi yang tidak hanya mengandalkan otot tetapi juga adu kecerdasan dan strategi finansial, karya Ikhwanul Halim ini adalah pilihan yang wajib masuk dalam daftar bacaanmu. Segera ikuti kelanjutan kisahnya untuk melihat bagaimana sang narator menghadapi kelicikan David Raja yang berbahaya!

By: Rahmat Ry




2 Komentar

Ulasan buku

  1. Suka sekali dengan transisi suasananya. Di awal kita diajak merasakan ketegangan dan kebebasan saat tokoh utama mengebut di jalan tol Jakarta, lalu perlahan suasananya berubah menjadi lebih tenang dan emosional saat ingatan tentang David mulai muncul. Pengalihan dari aksi ke refleksi masa lalu ini terasa sangat halus dan pas.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama