Obsesi Gila Leon - Vanilla Ice Creamm

Obsesi Gila Leon - Vanilla Ice Creamm


0

Bab 2. Masih Utuh

​"Sudahlah, Matteo. Bukankah ini lebih baik daripada bersembunyi terus?" ucap Simona jengkel. Ternyata pria itu tidak seberani yang dikatakannya; Matteo justru tampak didera rasa bersalah. Simona merapatkan tubuh, menyentuhkan dadanya yang terbalut gaun tidur tipis, memberikan gesekan menggoda yang biasa dilakukan tanpa sepengetahuan Ivanna. Awalnya Matteo menolak, namun akhirnya luluh juga.

​Matteo menyesap minumannya dengan amarah. Simona benar, seharusnya dia tidak peduli jika Ivanna tahu. Namun, melihat mata hijau gelap yang indah itu meredup, ternyata bukan hanya Ivanna yang terluka, melainkan dirinya juga.

​Matteo memejamkan mata, membiarkan Simona menjeratnya kembali. "Diamlah, Simona. Nikmati saja kemenanganmu sebelum Ivanna menghancurkan kita."

​Di kamar yang temaram, suasana terasa panas. Ivanna tidak lagi memikirkan pengkhianatan Matteo; sosok Leon di hadapannya telah menghapus rasa sakit itu dengan gairah yang menuntut. Leon bergerak dengan ritme dalam dan dominan, memastikan Ivanna merasakan kekuasaannya. Punggung mulus Ivanna melengkung, mencengkeram sprei sutra hingga kusut.

​"Tatap aku, Ivanna," bisik Leon. "Katakan siapa yang memilikimu sekarang."

​"Hanya kau, Leon," desah Ivanna. "Buat aku lupa segalanya."

​Leon menyeringai iblis yang memicu gairah lebih hebat. "Kau tidak akan pernah lupa rasanya menjadi milikku."

​Ketegangan memuncak. Ivanna merasakan gelombang hebat menghantam tubuhnya. Matanya sayu, pandangannya mengabur saat dunia seolah meledak. Kaki jenjangnya mengejang saat badai itu melumpuhkan sarafnya. Belum sempat dia menghirup oksigen, Leon menyusul dengan geraman rendah. Leon membenamkan wajah di leher Ivanna, menggigit kecil kulit sensitif itu sebagai tanda klaim permanen.

​"Tidakkah ini lebih nikmat daripada cinta picisan tunanganmu itu?" bisik Leon tepat di telinga Ivanna yang masih gemetar.

​Ivanna hanya bisa mendesah pasrah, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi sang Raja Es yang kini telah membakar jiwanya. Setelah badai mereda, Leon menarik Ivanna ke dekapannya. Mereka berbaring bersisian di bawah cahaya lampu Milan yang masuk melalui jendela.

​"Jadi, Nadia dulu kekasih Matteo saat SMA?" Ivanna memecah keheningan sambil menopang dagu di dada Leon. "Kenapa keluargamu tidak mencarinya? Kalian sangat kaya, Leon."

​Leon terdiam sejenak, mengusap bahu polos Ivanna dengan rasa bersalah yang lama terpendam. "Ayahku pria yang menjaga reputasi di atas nyawa. Baginya, kehamilan Nadia adalah aib. Saat aku punya kuasa untuk mengejar, dia sudah terlalu jauh bersembunyi. Tapi sekarang, tidak ada lagi tempat baginya untuk lari."

​"Lalu, apa langkah pertama kita?" tanya Ivanna, jemarinya bermain di bekas luka kecil di lengan Leon.

​Leon mencium kening Ivanna. "Besok, kita akan membuat mereka merasa paling bahagia, sebelum aku menarik karpet dari bawah kaki mereka dan membiarkan mereka jatuh ke lubang terdalam."

​"Tapi Leon, jika kau berinvestasi pada perusahaan Matteo, bukankah itu mengingatkan bahwa nama belakang keluargamu dengan Nadia sama?" Ivanna meraih air putih di nakas.

​Leon menarik sudut bibirnya membentuk senyum miring. "Nadia memakai nama ibu kami di sekolah. Matteo tidak akan pernah menyadari bahwa gadis yang dia hamili adalah adikku."

​"Baiklah, aku paham. Kalau begitu, aku pulang dulu malam ini, meski di rumah harus bertemu Simona. Maukah kau mengantarku? Jika tidak, aku bisa naik taksi."

​"Jangan konyol. Tidak ada taksi untuk wanitaku. Pakai bajumu, aku pastikan kau sampai ke depan pintu rumahmu."

​"Terserah kau saja," ucap Ivanna menyerah.

​Leon berganti kaus polo gelap dan memberikan sebuah mantel Italia untuk Ivanna.

​"Mantel perempuan? Punya kekasihmu?"

​"Ini milik ibuku," potong Leon cepat.

​Mobil Leon membelah jalanan Milan yang lengang. Ivanna terdiam cemas; bagaimana jika orang tuanya marah? Seharusnya dia pulang bersama Matteo.

​"Leon, ayahku sedikit konservatif. Apa yang harus kukatakan jika pulang bersamamu?"

​"Katakan saja aku calon investor barumu. Biar aku yang menghadapi ayahmu."

​"Bicara soal konservatif, kau termasuk anak yang patuh pada ayahmu, ya?"

​Leon melirik singkat. "Maksudmu?"

​"Kau masih perawan, kan?"

​Ivanna menoleh kaget. "Dari mana kau tahu? Memang terasa berbeda? Tapi aku tadi tidak mengeluarkan darah sedikit pun, Leon."

​Leon terkekeh pelan, suara beratnya mengisi kabin mewah itu. Dia menatap tajam Ivanna seolah bisa menelanjangi rahasianya sekali lagi. "Darah bukan tolok ukur, Ivanna. Reaksi tubuhmu yang kaku namun pasrah tadi sudah memberikan jawaban jelas bagiku."

​"Sudahlah, jangan dibahas. Aku malu," Ivanna membuang muka ke arah jendela untuk menyembunyikan rona merah di pipinya.

​"Itu sebuah kehormatan bagiku, Iv. Dan karena aku yang mendapatkannya, itu berarti kau milikku selamanya," ucap Leon.

​Leon meraih tangan Ivanna, membawa jemari itu ke bibirnya. Kecupan itu terasa hangat. Gesekan halus dari bulu tipis di dagu Leon memberikan sensasi geli yang menjalar, membuat jantung Ivanna berdesir menyadari betapa posesifnya pria di sampingnya ini.

*****

Nama pena : Vanilla Ice Creamm

Genre : Romansa Urban

Platform: Good Novel

Editorial:

Vanilla Ice Creamm membuat buku ini terasa seperti luka yang pelan-pelan dibuka, bukan langsung disayat. Tidak terburu-buru, tapi pasti. Dari awal, pembaca sudah diajak masuk ke situasi yang tidak nyaman. Perselingkuhan, rasa bersalah, dan godaan yang tidak pernah benar-benar berhenti. Matteo dan Simona bukan sekadar dua orang yang melakukan kesalahan. Mereka tahu apa yang mereka lakukan itu salah, tapi tetap memilih untuk lanjut. Di situlah letak pahitnya.

Matteo sendiri bukan karakter yang dingin tanpa rasa. Justru sebaliknya. Dia sadar, dia melihat sendiri bagaimana Ivanna terluka. Bahkan dia ikut merasakan itu. Tapi kesadaran itu tidak cukup untuk membuatnya berhenti. Ini yang bikin ceritanya terasa dekat dengan kenyataan. Banyak orang seperti itu. Tahu salah, merasa bersalah, tapi tetap melangkah ke arah yang sama.

Simona di sisi lain lebih tegas. Dia tidak banyak ragu. Dia tahu apa yang dia mau dan dia ambil itu tanpa banyak pikir panjang. Cara dia mendekat, cara dia menggoda, terasa sangat sadar dan sengaja. Dia bukan korban. Dia pelaku yang tahu betul apa yang sedang dia mainkan.

Lalu cerita bergeser ke Ivanna. Di sini emosi pembaca mulai berubah. Kalau sebelumnya terasa sesak karena pengkhianatan, sekarang masuk ke sesuatu yang lebih panas dan intens. Ivanna tidak tenggelam dalam kesedihan. Dia justru menemukan pelarian. Tapi pelarian ini bukan sesuatu yang lembut. Ini keras, dalam, dan penuh tekanan.

Leon hadir sebagai sosok yang langsung terasa kuat. Cara dia bicara, cara dia memimpin situasi, semua menunjukkan bahwa dia bukan pria biasa. Dia tidak ragu, tidak setengah-setengah. Ada sisi dominan yang jelas terlihat. Tapi yang menarik, dia juga bukan karakter yang kosong. Dia punya masa lalu, punya alasan, dan punya rencana.

Hubungan Ivanna dan Leon terasa seperti api. Bukan hangat, tapi membakar. Ada ketertarikan, ada kebutuhan, tapi juga ada sesuatu yang terasa berbahaya. Leon tidak hanya ingin dekat dengan Ivanna. Dia ingin memiliki. Dan itu terasa di hampir setiap interaksi mereka.

Dialog di cerita ini jadi salah satu kekuatan yang paling terasa. Tidak bertele-tele, tapi kena. Setiap kalimat punya emosi. Kadang halus, kadang tajam. Bahkan di momen yang tenang pun, tetap ada ketegangan yang terasa di baliknya. Pembaca tidak benar-benar diberi ruang untuk santai.

Masuk ke bagian tentang Nadia, cerita mulai membuka lapisan baru. Ini bukan lagi sekadar drama hubungan. Ini sudah masuk ke arah balas dendam dan masa lalu yang belum selesai. Fakta bahwa Matteo tidak tahu siapa Nadia sebenarnya jadi titik yang menarik. Ada rasa ironis di situ. Seolah semuanya sedang berjalan menuju sesuatu yang besar, dan tidak ada yang benar-benar siap.

Leon terlihat sangat tenang saat membahas rencananya. Tapi justru itu yang bikin terasa lebih mengancam. Dia tidak marah-marah, tidak meledak-ledak. Dia bicara biasa saja, tapi isi ucapannya berat. Rencana untuk membuat seseorang merasa bahagia dulu sebelum dijatuhkan itu bukan hal kecil. Itu dingin. Terukur. Dan berbahaya.

Ivanna juga tidak lagi terlihat sebagai sosok yang lemah. Dia memang terluka, tapi dia tidak diam. Dia ikut masuk ke dalam permainan ini. Mungkin awalnya karena pelarian, tapi lama-lama dia juga terlibat lebih jauh. Ada perubahan dalam dirinya, dan itu terasa perlahan tapi jelas.

Bagian perjalanan pulang juga menarik. Di situ terlihat sisi lain dari hubungan mereka. Ada kecemasan dari Ivanna, ada kontrol dari Leon. Percakapan mereka terasa ringan di permukaan, tapi sebenarnya penuh makna. Bahkan obrolan sederhana bisa berubah jadi sesuatu yang lebih dalam.

Satu hal yang cukup menonjol adalah sifat posesif Leon. Dia tidak menutupinya. Justru dia tunjukkan dengan jelas. Cara dia bicara, cara dia menyentuh, semua memberi kesan bahwa dia tidak ingin berbagi. Ini bisa jadi hal yang menarik, tapi juga bisa jadi bom waktu di cerita selanjutnya.

Secara keseluruhan, cerita ini tidak mencoba terlihat manis. Tidak ada romantisasi berlebihan. Semua terasa mentah, jujur, dan kadang tidak nyaman. Tapi justru itu yang bikin kuat. Pembaca tidak hanya membaca, tapi ikut merasakan tekanan, rasa bersalah, dan juga ketegangan yang ada.

Ini bukan cerita tentang cinta yang indah. Ini cerita tentang pilihan yang salah, luka yang belum sembuh, dan rencana yang sedang disusun diam-diam. Dan dari semua itu, yang paling terasa adalah satu hal. Tidak ada yang benar-benar aman di cerita ini. Semua punya rahasia, dan semua bisa jatuh kapan saja.

by Hayyi Ze




1 Komentar

Ulasan buku

  1. Keren novelnya, ada manisnya gitu, serasa lihat kek baca komik lihat covernya. Leon Dan Ivanna ♥️

    -Jen

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama