"HANTU!!" Secara spontan, dua pria di sana langsung berteriak, mata mereka terbelalak melihat penampilan mengerikan itu.
Dengan langkah cepat Zaltar menghampiri mereka. Dia mencengkeram kerah kedua pria itu sambil menatapnya tajam.
Kemudian bertanya, "Di mana tempat yang disebut Gerbang Bayangan?" Suara berat dan seraknya menambah kengerian. Kedua pria itu langsung pingsan, tak mampu menahan intimidasi dari sosok yang mereka sangka adalah hantu yang terbakar.
Merasa sangat kesal, dia segera mengambil tindakan kasar dengan membanting tubuh mereka berdua ke jalanan hingga mereka pun terpaksa bangun dalam kondisi sangat terkejut.
"Di mana tempat Gerbang Bayangan berada?" Sekali lagi dia mengulangi pertanyaannya.
Dua saudara kembar itu saling berpelukan dengan penuh ketakutan.
"Markas utama Gerbang Bayangan adalah kota ini," jawab mereka bersamaan hingga suaranya pun gemetar.
Lelaki kembar yang bernama Rio dan Tio ini mengatakan bahwa kota Bulan adalah markas utama Gerbang Bayangan yang berarti kota ini adalah salah satu kekuasaan yang dimiliki oleh Zaltar.
"Kalau begitu di mana rumah Zaltar?"
"Rumah? Di-dia tidak pernah mengatakan di mana rumahnya. Ha-hanya saja ada satu gedung pencakar langit yang sering dikunjungi oleh bos Zaltar," ungkap Rio tergagap. Nyaris saja kandung kemihnya bocor.
"Oh, tunjukkan di mana itu."
Mereka berdua lekas menuruti permintaannya. Sampailah mereka di depan sebuah gedung Skyfall. Terdapat dua penjaga bertubuh kekar yang sempat menghalanginya, tetapi Rio dan Tio dengan sigap menahan dua penjaga itu walaupun secara susah payah.
Rio dan Tio melakukan itu bukan secara sukarela melainkan karena tidak ingin menanggung apa akibatnya bila melawan orang yang mereka takuti itu.
***
Kota Bulan, wilayah bagian utara. Di sebuah pondok kecil.
"Bagaimana mungkin kalian tidak bisa menemukan mayat orang itu?!" teriak Lawrence memprotes ketidakbecusan bawahannya. Dia menggebrak meja dengan kasar, tatapannya yang tajam membuat semua orang di dalam pondok itu tidak berani angkat bicara lagi.
"Tuan Lawrence! Ada berita dari gedung Skyfall!" Seorang pria berjas hitam datang dari luar pondok.
"Kali ini apa lagi?!" Lawrence menyahutnya kasar sambil memelototi orang itu.
"Se-seorang pria dengan luka bakar muncul dan memaksa masuk ke gedung bahkan ke dalam ruangan bos," jawabnya dengan sedikit tergagap.
Lawrence mengerutkan kening. Dia cukup terkejut karena mendapati berita buruk secara beruntun pada malam ini.
Sinopsis:
Akibat pertempuran darah yang dilakukan oleh sang Dewa Pembantaian—Altar, jiwanya dipaksa memasuki tubuh manusia fana yang sudah mati akibat termakan trik murahan dari musuhnya. Pria itu bernama Zaltar Danuarta, Dragon Head triad paling berkuasa di Negeri Karn.
Tenggelam dalam ingatan pahit serta takdir Zaltar yang berakhir konyol, Altar berpikir bahwa zaman yang buruk ini tidak pernah berubah; pengkhianatan selalu menjadi senjata terkejam. Terperangkap dalam tubuh lemah yang tanpa kekuatan kultivasi, Altar berencana untuk menguasai benua sebagai bentuk pembalasan dendam atas semua penghinaan yang ia terima. Kini, ia harus memulai penaklukkannya dari triad Gerbang Bayangan.
Author: Xavien
Genre: Perkotaan-Aksi
Tags: Dewa, Mafia, Balas Dendam
Platform: Maxnovel
Editorial:
Cerita ini memperlihatkan alur yang tegas, dingin, dan tidak berusaha memikat lewat kalimat berbunga. Pilihan diksi yang keras—pendek, langsung, dan nyaris tanpa ruang kompromi—menciptakan kesan bahwa dunia cerita memang tidak memberi tempat bagi keraguan moral atau sentimentalitas. Yang menarik, kekerasan tidak diperlakukan sebagai tontonan, melainkan sebagai bahasa sosial: cara tokoh berkomunikasi, menekan, dan menegaskan hierarki. Di situlah karakter narasi ini terasa dewasa—bukan karena brutalnya, tetapi karena kesadarannya bahwa kekuasaan selalu bekerja melalui gestur kecil yang memalukan, menakutkan, dan sering kali tidak heroik.
Ritme kalimatnya bergerak cepat, namun tidak gegabah. Transisi antaradegan terasa sengaja dipatahkan, seolah penulis ingin mempertahankan denyut tegang yang tak pernah benar-benar dilepaskan. Atmosfer emosionalnya dibangun bukan dari ledakan perasaan, melainkan dari ketimpangan posisi: siapa yang berdiri, siapa yang gemetar, siapa yang berhak bertanya, dan siapa yang hanya boleh menjawab. Ketegangan paling kuat justru hadir pada jeda—pada pertanyaan yang diulang, pada reaksi yang tertahan, pada kepanikan yang tidak dijelaskan secara panjang lebar. Pembaca dipaksa merasakan tekanan, bukan diberi penjelasan tentang tekanan itu.
Cerita ini juga memperlihatkan kedewasaan tema melalui cara memandang identitas dan kekuasaan. Tubuh, nama, dan reputasi diperlakukan sebagai alat—mudah digeser, direbut, atau dijadikan simbol ketakutan kolektif. Tidak ada glorifikasi posisi “penguasa” sebagai pencapaian moral. Yang muncul justru kesan bahwa kekuasaan adalah ruang hampa yang dipenuhi rasa curiga, paranoia, dan rutinitas kekerasan yang dingin. Secara halus, kisah ini menanamkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang berdaulat atas diri sendiri ketika sistem dan trauma masa lalu terus menentukan setiap langkah.
Secara intelektual, cerita ini meninggalkan kesan bahwa novel ini tidak sekadar bergerak di jalur aksi kriminal atau fantasi balas dendam. Ia menawarkan potret dunia yang sadar akan absurditas kekuasaan dan kehancuran martabat manusia di dalamnya, disampaikan lewat struktur adegan yang rapat dan suara narator yang terkendali. Secara emosional, pembaca tidak diajak bersimpati, melainkan diajak berdiri terlalu dekat dengan rasa takut—cukup dekat untuk menyadari bahwa yang paling mengganggu bukan teror itu sendiri, melainkan betapa normalnya teror tersebut bagi semua orang di dalam cerita. Ini adalah buku yang bekerja lewat tekanan sunyi, bukan sensasi, dan justru karena itulah ia terasa layak diperhatikan oleh pembaca dewasa yang mencari ketegangan berlapis, bukan sekadar ledakan adegan.
By Nita Natalia

Penulis sangat mahir membangun atmosfer intimidasi. Kemunculan Zaltar sebagai sosok "hantu terbakar" memberikan kesan dark fantasy yang kuat dan instan. Dinamika antara kengerian Zaltar dan kekonyolan si kembar Rio-Tio memberikan keseimbangan yang pas antara ketegangan dan dark humor.
BalasHapusIni pembukanya sangat menarik dengan konsep transmigrasi jiwa Dewa Pembantaian ke tubuh pemimpin triad yang terbunuh! Adegan awal menunjukkan ketegangan tinggi, serangan ke gedung dan kemarahan Law... membuat gua penasaran dengan latar belakang konflik serta bagaimana Altar akan merebut kekuasaan!
BalasHapusGue mau lanjut langsung ke maxnovel.
Disini cerita nya semua keren keren banget bre...
Pembukaannya aja udah sebagus ini, langsung memperlihatkan inti masalah. Cerita yang bagus untuk diikuti.
BalasHapusCerita ini dibuka dengan Apik dan langsung masuk dalam Konflik yang membuat sangat penasaran pengen tau kelanjutannya
BalasHapusMenarik, jadi tokoh utamanya adalah Zaltar yang sedang dicari sama siapapun itu, apalagi sampai mengusung konsep reinkarnasi, saya akan baca lanjutannya nanti
BalasHapusKeren, dari awal cerita udah dibikin kaget...
BalasHapusdi awal udah darderdor aja 😫
BalasHapus