DI BAWAH LANGIT MAHAMERU - SWEET MOON

DI BAWAH LANGIT MAHAMERU - Sweet Moon


0

Ch. 4 — Pelarian Menuju Timur

​Jakarta tidak pernah peduli pada hati yang remuk. Kota ini terus menderu, memaksa setiap penghuninya untuk tetap melangkah atau tertinggal. Bagi Arina, mesin penggerak hidupnya sudah padam. Ia kembali ke ibu kota dari Padang bukan untuk melanjutkan eksistensi, melainkan untuk mengakhiri secara profesional apa yang telah ia kerjakan selama beberapa tahun terakhir.

​Langkah kakinya menggema di lorong kantor lembaga non pemerintah tempatnya mengabdi selama enam tahun. Arina tidak berhenti untuk menyapa resepsionis atau sekadar meletakkan tas di atas mejanya. Jemarinya mencengkeram erat sebuah amplop putih bersih berisi surat pengunduran diri yang ia tulis di sela isak tangis di Padang dua hari lalu.

​Arin? Kamu sudah kembali? Bagaimana Padang? Bang Nara menyambutnya dengan senyum hangat. Namun, raut wajah pria itu berubah seketika melihat wajah Arina yang murung dan sepasang mata yang tampak begitu lelah. Tanpa basa basi, Arina meletakkan amplop itu di meja kayu sang atasan. Bang, saya mengundurkan diri. Maaf ya.

​Bang Nara terperangah hingga cangkir kopinya berdenting keras saat diletakkan. Rin, kamu bercanda? Kamu baru saja menuntaskan proyek besar di Padang dengan hasil memuaskan. Kalau kamu lelah, kamu boleh istirahat dulu. Ambil cuti sebulan juga akan aku izinkan.

​Saya serius, Bang. Maaf, suara Arina datar, nyaris tanpa emosi. Ia hanya ingin semua ini lekas usai. Karier kamu sedang di puncak, Rin. Sebentar lagi ada promosi untuk kepala divisi lapangan. Ada apa sebenarnya? Bang Nara bangkit, menatapnya dengan sorot penuh kekhawatiran yang lebih dari sekadar atasan kepada bawahan.

​Saya mau pulang ke Jawa Timur, Bang. Mau menemani dan merawat ibu saja, jawab Arina dengan alasan klasik yang paling sulit dibantah. Tolong, Bang. Jangan tanya apa pun lagi. Saya hanya perlu pergi dari kota ini. Sekarang.

​Rahang Arina mengeras. Ia menatap Bang Nara dengan sorot memohon agar pria itu tidak menggali lebih dalam. Jika Bang Nara bertanya sekali lagi, pertahanan Arina akan runtuh. Ia benci menjadi tontonan drama di kantor. Baiklah. Kabari kalau nanti ingin kembali lagi, pungkas Bang Nara.

​Arina mengangguk singkat dan keluar tanpa menoleh lagi. Ia segera menuju meja kerjanya, memasukkan barang pribadi seperti buku catatan lapangan, bingkai foto keluarga, dan sebuah tanaman sukulen yang layu ke dalam kardus. Aksi mendadak ini langsung menjadi pusat perhatian. Puspa, teman dekatnya, berlari kecil dan mencekal lengan Arina dengan nada panik.

​Kamu mau ke mana, Rin? Pindah divisi? tanya Puspa. Saya mengundurkan diri, Pus. Maaf kalau ada salah selama ini. Sebentar lagi ada pesanan makanan datang untuk kalian, sudah saya pesan melalui ojek daring. Saya duluan ya. Arina memaksakan senyum getir.

​Arina mengabaikan panggilan kawan kawannya. Ia hanya menundukkan kepala sebagai balasan sapaan rekan lain yang memandangnya penuh tanya. Ia berlalu membawa potongan hidupnya di Jakarta menuju pintu keluar.

​Sesampainya di kos, Arina bergerak serupa robot. Ia melipat pakaian, memasukkan perlengkapan mendaki ke dalam tas gunung besar, dan membuang barang yang tidak perlu. Kamar kos yang menjadi saksi bisu ambisi dan cintanya kini terasa asing. Ia merasa Jakarta telah mengkhianatinya melalui tangan Gege. Kota ini sekarang hanya berisi udara sesak dan memori tajam yang menusuk kalbu.

​Tiket kereta api eksekutif sudah di tangan. Arina sengaja tidak memilih pesawat karena ia butuh waktu berjam jam untuk menatap keluar jendela, membiarkan tubuhnya dibawa menjauh secara perlahan dari pusat luka.

​Stasiun Gambir malam itu terasa dingin. Arina duduk di kursi eksekutif sendirian. Sejenak, benaknya berkhianat dengan menampilkan bayangan yang pernah mereka diskusikan dahulu; pulang ke Jawa Timur berdua untuk menemui ibunya. Bayangan tentang Gege yang membawakan tasnya dan bersandar di bahunya membuat dada Arina berdenyut sakit lagi.

​Saat kereta mulai merayap meninggalkan stasiun, Arina menempelkan kening ke kaca jendela yang dingin. Lampu Jakarta perlahan menjauh, berubah menjadi garis cahaya yang kabur sebelum digantikan kegelapan jalur rel. Ia merasa seperti pecundang yang lari dari medan perang, namun untuk apa bertahan jika setiap sudut kota hanya mengingatkannya pada pria yang membuangnya seolah ia tidak berharga.

​Kereta berguncang pelan, ritmenya seolah mencoba menidurkan duka Arina. Di tengah lamunan, ia teringat ponselnya yang sejak tadi berada dalam mode senyap di saku kemeja. Layar ponsel menyala menampilkan satu notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal.

​Jantung Arina mendadak berdegup kencang. Apakah itu Gege? Apakah pria itu akhirnya sadar dan ingin menjelaskan semuanya? Harapan yang seharusnya sudah mati itu mendadak berdenyut kecil. Dengan tangan gemetar dan napas tertahan, Arina menyentuh notifikasi tersebut.

​Pesan itu terbuka, namun apa yang ia lihat justru membuat tangannya lemas seketika. Arina menarik napas pendek, merasa oksigen di dalam gerbong itu mendadak hilang. Kereta terus melaju menembus malam, namun bagi Arina, perjalanan menuju kampung halaman baru saja berubah menjadi awal dari teka teki yang jauh lebih kelam.

*****

Nama Pena: Sweet Moon

Genre: Romance, Slice of Life, Petualangan

Platform: Victie

Editorial:

Cerita ini dibuka dengan suasana yang sangat manusiawi. Seorang wanita yang patah hati memilih untuk pergi. Arina kembali ke Jakarta bukan untuk meraih impian, melainkan untuk menutup satu babak dalam hidupnya. Penulis berhasil menggambarkan beratnya keputusan mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah dijalani enam tahun, hanya karena luka emosional yang belum sembuh. Cerita ini langsung menyentuh pembaca karena mengangkat tema yang sering kita alami, kapan harus berhenti dan kapan harus memulai kembali.

Nuansa slice of life terasa kuat dalam novel ini. Detail seperti langkah kaki di lorong kantor, percakapan singkat dengan atasan, hingga kepanikan teman dekat saat melihat Arina berkemas, membuat cerita terasa dekat dengan kehidupan nyata. Penulis tidak menggunakan kata-kata yang rumit, namun setiap adegan mampu menyampaikan perasaan Arina yang sedang lelah secara mental. Pembaca seolah ikut merasakan heningnya kamar kos yang dulu penuh harapan, kini hanya menyisakan kenangan pahit tentang Jakarta dan Gege.

Meski berlatar romansa dan kehidupan sehari-hari, elemen petualangan mulai muncul lewat perjalanan kereta api menuju Jawa Timur. Arina sengaja memilih kereta agar punya waktu merenung, namun perjalanan itu justru menjadi awal dari misteri baru. Notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal di tengah perjalanan mengubah arah cerita secara tiba-tiba. Transisi dari kisah patah hati menuju teka-teki yang lebih gelap ini membuat pembaca penasaran, menunjukkan bahwa novel ini tidak hanya tentang cinta, tapi juga tentang pencarian jati diri di tengah ketidakpastian.

Karakter Arina digambarkan dengan sangat jujur. Ia bukan tokoh yang sempurna, ia seorang wanita karier yang tangguh di tempat kerja, namun rapuh saat menghadapi kekecewaan cinta. Keputusannya untuk pergi bukan karena menyerah, melainkan bentuk perlindungan diri. Penulis berhasil membuat pembaca empati tanpa membuat Arina terlihat lemah. Setiap langkahnya, dari meletakkan surat pengunduran diri hingga duduk di kursi kereta, terasa seperti proses penyembuhan yang perlahan tapi pasti.

Gaya penulisan dalam cerita ini sangat mengalir dan mudah diikuti. Kalimat-kalimatnya pendek, padat, dan tidak berbelit-belit, sehingga cocok untuk pembaca yang menginginkan cerita ringan namun tetap bermakna. Penulis juga pandai mengatur tempo cerita, dimulai dengan ketegangan emosional di kantor, melambat saat Arina berkemas, lalu kembali tegang saat pesan misterius muncul. Kombinasi antara drama romantis, refleksi diri, dan bumbu misteri ini membuat setiap halaman terasa hidup dan tidak membosankan.

Novel Di Bawah Langit Mahameru ditulis oleh Sweet Moon, seorang penulis berbakat yang aktif di platform Victie. Melalui karya ini, Sweet Moon menunjukkan kemampuannya dalam merangkai emosi manusia menjadi cerita yang relatable dan menghibur. Dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna, novel ini sangat cocok bagi pembaca yang menyukai kisah perjalanan batin, romansa yang tidak klise, dan petualangan pencarian diri. Bagi Anda yang mencari bacaan yang menenangkan namun tetap memicu rasa penasaran, karya ini layak untuk dinikmati di Victie.

by Nada Maya




4 Komentar

Ulasan buku

  1. Menarik, seru dan bikin pengen lanjut baca, bikin penasaran nih kakk. Ceritanya dan alurnya mengalir, tidak dipaksakan. Beneran bagus kakk, semangat ya. . .

    BalasHapus
  2. Keren kak Sweet Moon...bikin penasaran baca ceritanya

    BalasHapus
  3. hellokitty hello17118 Februari 2026 pukul 15.59

    Cerita ini menghangatkan hati!🥹Pertemuan Arin dan Gege setelah lama tak bertemu terasa begitu alamiah, obrolan yang lancar, pemahaman yang mendalam tentang profesi, dan sentuhan nostalgia yang benar-benar menyentuh. Kisah tentang cinta yang mungkin tumbuh kembali dari persahabatan lama, bikin penasaran banget dengan kelanjutannya!

    BalasHapus
  4. Jadi penasaran sama kelanjutan cerita Arin dan Gege

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama