DI BAWAH LANGIT MAHAMERU - SWEET MOON

DI BAWAH LANGIT MAHAMERU - Sweet Moon


0

Ch. 1 — Lobi Manggala Wanabakti

Kawasan Senayan sore hari selalu terasa lebih gerah ditambah hiruk pikuk orang balik kerja. Arina Kusumaning, Arin sedang melangkah keluar dari ruang rapat di lantai atas Gedung Kementerian Kehutanan. Di pundaknya melingkar tas kargo berisi laptop dan tumpukan berkas kerja sama hutan adat yang sedang dia urus dengan pemerintah.

​Penampilannya sangat kontras dengan wanita-wanita yang lalu-lalang di gedung ini. Arin mengenakan kemeja safari warna khaki dengan logo NGO tempatnya bekerja di dada kiri, celana kargo hitam, dan sepatu gunung yang sedikit berdebu. Rambutnya diikat kuda, simple dan sederhana. Di usia 30 tahun, Arin sudah kenyang dengan urusan lapangan. Dia tidak punya waktu untuk memulas riasan, merawat tubuhnya agar mulus jika ujung-ujungnya harus berkeringat di bawah kanopi hutan.

​"Arin! Tunggu!"

​Arin menoleh. Bang Nara, seniornya di NGO, menyusul dengan langkah lebar. "Laporan untuk besok jangan lupa disatukan sama data dari tim pemetaan, ya. Gue tunggu di meja besok jam sepuluh pagi."

​"Beres, Bang. Malam ini juga bisa gue kirim lewat email. Nggak perlu nunggu besok," jawab Arin singkat. Dia ingin segera pulang ke kosnya, mandi, dan meluruskan punggung.

​Saat mereka sampai di lobi luas gedung Manggala Wanabakti, langkah Arin mendadak melambat. Di dekat pintu keluar yang berupa kaca besar, seorang pria berdiri memunggungi mereka. Pria itu mengenakan seragam cokelat ASN yang disetrika rapi, tampak sangat pas di tubuhnya yang tegap.

​Pria itu berbalik. Pandangan mereka langsung bertemu.

​"Gege?" gumam Arin pelan.

​Pria itu terpaku sejenak, lalu senyumnya mengembang ramah. "Arina? Arina Kusumaning?"

​Bang Nara melirik Arin, lalu melirik pria itu. "Kenal, Rin?"

​"Kawan lama, Bang. Satu angkatan di Kampus Bogor dulu," jawab Arin, matanya masih menatap sosok di depannya.

​Ganendra Pratama, atau yang akrab dipanggil Gege, melangkah mendekat. Penampilannya jauh berbeda dengan Gege yang dulu sering memakai kaos oblong lusuh di lapisi kemeja flanel saat praktikum di hutan kampus. Gege yang sekarang terlihat sangat "mapan" dan tertata rapi.

​"Sudah berapa tahun, ya? Enam? Tujuh?" Gege menjabat tangan Arin erat. "Lo nggak berubah, Rin. Masih tetap dengan gaya petualang ala Arina."

​Arin terkekeh pelan, rasa lelahnya mendadak menguap. "Lo yang berubah banyak, Ge. Jadi abdi negara sekarang. Penempatan di sini?"

​"Iya, di bagian sumberdaya. Baru setahun pindah ke Jakarta. Sebelumnya gue di balai daerah Lampung sana," jelas Gege. "Mau pulang? Atau ada rapat lagi?"

​"Mau pulang. Capek, butuh rebahan ini punggung."

​"Naik apa?"

​"Ojek online, seperti biasa."

​Gege melihat jam tangannya. "Ini jam pulang kantor, ojek bakal susah, Rin. Mau gue antar? Kebetulan gue bawa kendaraan. Sekalian kita mengobrol nostalgia masa kuliah."

​Arin melirik Bang Nara yang hanya mengangguk sambil memberi kode 'silakan'. Arin sempat ragu, tapi keramahan Gege yang masih sama seperti dulu membuatnya mengiyakan ajakan itu.

​Di dalam mobil Gege yang bersih dan wangi maskulin, obrolan mengalir deras tanpa ada rasa canggung. Kembali bertemu kawan lama di usia matang dengan karier masing-masing jelas banyak yang bisa di obrolkan. Tidak ada lagi basa-basi remaja yang memuakkan.

​"Lo masih sendiri, Rin?" Tanya Gege langsung sambil memutar kemudi membelah kemacetan Gatot Subroto sore ini.

​Arin tidak kaget dengan pertanyaan itu. Di usia 30, itu adalah pertanyaan standar. "Masih. Terlalu sibuk masuk-keluar hutan. Lo sendiri? Istri nggak marah kalau antar perempuan lain?"

Gege tertawa, suara basnya memenuhi kabin mobil. "Belum ada istri, Rin. Putus dua tahun lalu karena dia nggak tahan gue tinggal dinas luar kota terus. Ternyata cari pasangan yang paham profesi kita itu susah, ya?"

​Arin mengangguk setuju. "Pekerjaan kita bukan buat semua orang. Harus siap ditinggal ke tempat yang nggak ada sinyal berhari-hari."

​"Makanya, gue senang ketemu lo lagi hari ini. Kayak dapat kawan yang sefrekuensi lagi kan," ucap Gege, suaranya sedikit merendah namun terdengar senang dengan pertemuan ini.

​Perjalanan yang seharusnya hanya memakan tiga puluh menit menjadi satu jam karena macet, tapi Arin tidak merasa bosan. Mereka bernostalgia tentang dosen-dosen galak di kampus dulu, teman-teman yang sudah menikah, hingga visi mereka tentang pelestarian ekosistem yang ternyata masih sejalan.

​Sesampainya di depan gerbang kos Arin, Gege tidak langsung pergi. Dia mengeluarkan ponselnya. "Minta nomor WhatsApp-lo, Rin. Siapa tahu kita bisa nongkrong di luar urusan pekerjaan. Atau mungkin... nostalgia ke Bogor naik KRL akhir pekan nanti?"

​Arin memberikan nomornya tanpa pikir panjang. Gege adalah kawan lama, orang yang dia tahu rekam jejaknya. Tidak ada alasan untuk menolak.

​"Terima kasih tumpangannya, Ge," ucap Arin sambil turun dari mobil.

​"Sama-sama. Sampai ketemu lagi, Ai."

​Arin terpaku sejenak di depan pagar. Ai. Itu panggilan khusus yang hanya digunakan teman-teman dekatnya dulu di kampus, dan Gege baru saja menghidupkannya kembali.

​Malam itu, di kamar kosnya, Arin tidak langsung mengerjakan laporan. Dia menatap layar ponselnya. Sebuah pesan masuk tiba-tiba.

​Gege: Sudah istirahat, Ai? Senang bisa ketemu lo lagi hari ini. Lo masih seseru dulu. Tidur yang nyenyak, ya.

Arin: Ini mau tidur, Ge. Iya, terima kasih ya. Lo juga.

​Arin tersenyum kecil. Ada rasa hangat yang aneh menyelinap di hatinya. Setelah sekian lama menutup pintu hati karena lelah dengan janji-janji lelaki yang tidak sanggup berkomitmen, kehadiran Gege terasa seperti angin segar. Berharap boleh saja kan?

Malam itu, Arin tidur dengan perasaan tenang. Dia merasa, mungkin kali ini semesta sedang berbaik hati padanya. Hari Senin yang banyak dibenci orang, tapi buatnya kini seperti semangat baru.

Nama Pena: Sweet Moon

Genre: Romance, Slice of Life, Petualangan

Platform: Victie

Editorial:

DI BAWAH LANGIT MAHAMERU - SWEET MOON

Bab pembuka ini menunjukkan suara penulis yang tenang dan sadar diri, terutama dalam cara ia memperlakukan dunia kerja sebagai fondasi karakter, bukan sekadar latar dekoratif. 

Arin tidak diperkenalkan melalui konflik dramatis, melainkan melalui detail kesehariannya.

seperti kelelahan fisik, disiplin profesional, dan pilihan hidup yang tidak selalu selaras dengan ekspektasi sosial. 

Pendekatan ini memberi kesan bahwa penulis, Sweet Moon memahami kehidupan orang dewasa bukan sebagai rangkaian peristiwa besar, tetapi sebagai akumulasi keputusan kecil yang membentuk arah batin seseorang.

Ritme kalimatnya stabil, dengan tempo yang sengaja dijaga agar tidak tergesa-gesa. 

Percakapan terasa natural, tidak dibebani upaya untuk terdengar puitis atau terlalu cerdas.

 Justru dalam kesederhanaan itu, atmosfer emosional terbentuk secara perlahan.

Ada jeda-jeda yang dibiarkan kosong, ruang-ruang sunyi di antara dialog yang memberi pembaca kesempatan untuk merasakan apa yang tidak diucapkan. 

Penulis tampaknya percaya bahwa kedekatan emosional tidak perlu diumumkan secara eksplisit,

cukup ditunjukkan melalui perubahan kecil dalam perhatian dan cara tokoh merespons kehadiran satu sama lain.

Yang paling menarik adalah ketegangan halus yang hadir tanpa konflik terbuka. 

Bukan ketegangan yang bersifat eksternal, melainkan ketegangan eksistensial. 

Yaitu bagaimana seseorang yang telah lama hidup mandiri, terbiasa dengan kesendirian, mulai merasakan gangguan kecil pada stabilitas emosionalnya. 

Penulis tidak memaksa pembaca untuk menganggap pertemuan ini sebagai sesuatu yang monumental. 

Sebaliknya, ia memperlakukannya sebagai sesuatu yang mungkin biasa, tetapi justru karena itu terasa jujur. 

Ada kesadaran implisit bahwa dalam kehidupan dewasa, perubahan terbesar sering datang tanpa pemberitahuan.

Secara intelektual dan emosional, buku ini meninggalkan kesan kedewasaan yang terkendali. Tidak ada romantisasi berlebihan tentang cinta atau pertemuan kembali. Yang ada adalah pengakuan diam-diam tentang kelelahan, tentang kebutuhan akan seseorang yang memahami ritme hidup yang tidak mudah dijalani bersama orang lain. 

Penulis menunjukkan kepercayaan diri dengan tidak memaksakan emosi, melainkan membiarkannya muncul secara Alami. 

Hasilnya adalah sebuah pembukaan yang terasa stabil dan meyakinkan.

Seolah cerita ini tidak sedang berusaha memikat dengan sensasi, tetapi dengan konsistensi dan kejujuran emosional yang akan bertahan dalam jangka panjang.

By Peniti Kecil



4 Komentar

  1. Menarik, seru dan bikin pengen lanjut baca, bikin penasaran nih kakk. Ceritanya dan alurnya mengalir, tidak dipaksakan. Beneran bagus kakk, semangat ya. . .

    BalasHapus
  2. Keren kak Sweet Moon...bikin penasaran baca ceritanya

    BalasHapus
  3. hellokitty hello17118 Februari 2026 pukul 15.59

    Cerita ini menghangatkan hati!🥹Pertemuan Arin dan Gege setelah lama tak bertemu terasa begitu alamiah, obrolan yang lancar, pemahaman yang mendalam tentang profesi, dan sentuhan nostalgia yang benar-benar menyentuh. Kisah tentang cinta yang mungkin tumbuh kembali dari persahabatan lama, bikin penasaran banget dengan kelanjutannya!

    BalasHapus
  4. Jadi penasaran sama kelanjutan cerita Arin dan Gege

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama