Sebelum Aku Menjadi Takdir Burukmu - Fironika Nursanty

Sebelum Aku Menjadi Takdir Burukmu - Fironika Nursanty


0

BAB 1 Sisi Gelap yang Makin Mengunci

Di apartemen tinggi milik Dinara, hanya ada satu lampu meja yang menyala redup. Udara terasa berat. Diam. Sesak. Aroma kopi hitam yang sudah dingin menguap perlahan, bercampur dengan hawa gelisah yang tidak terlihat namun terasa menusuk. 

Dinara duduk di tepi ranjang dengan tubuh kaku. Ponselnya tergeletak di samping, layar mati yang baginya terasa seperti pengkhianatan kecil. Biasanya notifikasi dari Samudra memenuhi malamnya. Kata-kata manis. Laporan keberadaan. Tanda bahwa ia masih memiliki kendali. Tapi malam ini, hening menggigitnya dari segala arah.

Hati Dinara mulai diliputi perasaan gusar dan gelisah.Baginya ponsel tanpa adanya notifikasi dari Samudra adalah suatu kesalahan besar.Laporan atas semua kegiatan Samudra sampai hal sekecil apapun,adalah sesuatu yang wajib dia tahu. Karena dengan begitu dia mempunyai kendali atas jiwa dan raga Samudra. Ya..yang dia butuhkan adalah kendali dan penguasaan penuh terhadap diri Samudra. 

Berulang kali dia menekan tombol nomor Samudra di ponselnya. Namun tak satupun pesan di balas, dan telphon pun tidak diangkat. 

Sebenarnya dari kemarin Samudra sudah memberitahu Dinara, jika dalam 4-5 hari ke depan dia bakalan sibuk, dengan project pekerjaan dia dan tugas dari kampus. Dinara seharusnya tahu itu. tetapi egonya yang terlalu tinggi, dan menganggap dirinya adalah hal terpenting bagi kehidupan Samudra, sehingga Dinara seakan-akan murka akan keadaan itu. " Awas kau, Samudra", bathinnya gusar.

Jemarinya mengetuk lutut, berulang-ulang, tanpa ia sadari. Di dada, ada tekanan aneh, campuran rindu, curiga, amarah, dan kebutuhan untuk menguasai sesuatu yang tidak bisa ia capai.

Di kepalanya, bisikan kecil muncul lagi. Bisikan yang selalu hadir ketika ia sendirian.

"Dia mulai jauh."

"Dia mulai berubah."

"Dia mungkin bosan."

"Atau mungkin dia menemukan seseorang yang lebih mudah diatur."

Dinara menggigit bibirnya sampai perih. Ia membenci jeda. Membenci ketidakpastian. Yang paling ia benci adalah kemungkinan bahwa ia tidak sedang dikagumi. Tidak sedang diprioritaskan. Tidak sedang dipilih.

Dia pernah berjanji: cinta harus dipegang erat, begitu erat sampai tidak ada celah untuk pergi. Tapi malam ini genggaman itu mulai longgar.

Di sebuah kafe di Tebet, Samudra mengetik revisi terakhir di laptopnya. Matanya berat, wajahnya letih. Tapi bukan karena pekerjaan. Bukan karena proyek. Bukan karena begadang. Lelah itu berasal dari LED kecil yang terus berkedip di ponselnya, menampilkan pesan-pesan dari Dinara—pesan yang membuat dadanya sesak seperti ada tali yang makin lama makin kencang membelit leher.

Pesan panjang. Pesan pendek. Pesan dingin. Pesan meletup. Semuanya bercampur.

Ia membaca beberapa pesan terakhir:

— Kamu bilang rapat, tapi kenapa aku ngerasa kamu bohong?

— Kamu tau aku paling benci nunggu.

— Kalo kamu udah nggak sayang, bilang.

— Tega banget kamu, Sam.

Samudra memejamkan mata sejenak, menahan tekanan yang menusuk di belakang kepalanya. Dulu Dinara manis. Hangat. Ambisius dengan cara yang menghanyutkan. Tapi seiring waktu, perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang menguras. Dinara kini seperti jurang yang harus diisi terus-menerus, tidak pernah penuh, tidak pernah puas.

Ia mengetik pesan: “Din, aku masih kerja. Revisi hampir selesai.”

Tapi sebelum terkirim, ponsel bergetar. Panggilan masuk.

Nama itu memenuhi layar. Dinara Wiratama.

Samudra menarik napas dan mengangkat telepon.

“Samudra, kamu di mana?” suaranya tajam, tanpa salam.

“Di kafe, Din. Serius, aku lagi kerja.”

“Kafe? Sama siapa? Kok harus di kafe? Kamu bisa kerja di rumah.”

“Din, aku cuma kerja. Tim butuh file revisi—”

“Tim? Atau cewek? Kamu pikir aku bodoh? Aku tau, Sam. Sikap kamu beda.”

Samudra menatap meja kafe lama sekali, membiarkan detik berlalu karena ia tidak punya energi menjawab kemarahan yang sama untuk keseratus kali. Suaranya keluar lirih, “Dinara… aku lelah dituduh terus.”

Hening. Lalu suara pecah di seberang.

“Lelah? Kamu mikir aku nggak lelah? Aku mati-matian buat kamu! Tapi kamu malah ninggalin aku sendirian malam-malam kayak gini!”

Sebelum Samudra sempat menjelaskan, telepon itu ditutup.

Begitu saja. Tanpa ruang untuk bernapas.

Hari-hari setelah itu berjalan seperti berada di bawah awan yang selalu siap pecah menjadi badai. Setiap percakapan berubah jadi perang kecil. Setiap kesalahan kecil menjadi pelanggaran besar. Dinara bersikap manis di pagi hari, marah di siang hari, menangis di malam hari, dan menghilang esoknya. Siklus yang berulang tanpa henti.

Dan Samudra belajar satu hal penting: Ketenangan Dinara adalah kesunyian sebelum gempa.

Senyumnya adalah permintaan maaf atas ledakan berikutnya.

Tangisnya adalah jerat yang membuatnya tak bisa pergi.

Suatu sore, mereka bertemu di taman dekat kampus. Langit kelabu. Angin dingin. Aroma tanah basah membuat sore terasa berat, seperti ada sesuatu yang akan runtuh.

Dinara berdiri sementara Samudra duduk, terlihat seperti orang yang sudah lama memikul beban yang tidak kelihatan.

“Aku cuma pengin kamu jujur,” kata Dinara, suaranya pelan tapi dingin. “Kamu masih sayang atau enggak?”

“Din… aku selalu sayang. Tapi kamu terlalu sering curiga. Aku nggak tau cara bikin kamu percaya lagi.”

Dinara tersenyum tipis, senyum sedih yang selalu muncul ketika ia ingin menyalahkan dunia.

“Berarti salahnya di aku lagi?” suaranya bergetar. “Aku lagi yang kurang? Aku lagi yang rusak?”

“Bukan itu maksudku…”

“Tapi itu yang kamu buat aku rasain!”

Samudra diam. Ia tau apa pun yang ia ucapkan akan dipelintir menjadi senjata. Dinara selalu memegang kendali dalam setiap konflik. Ia akan menyakiti, lalu menangis, lalu memaksa dirinya menjadi korban.

Sore itu, Samudra melihat sisi Dinara yang selama ini ia tutupi dalam pikirannya bukan sekadar kekasih yang takut ditinggalkan, tapi seseorang yang takut kehilangan kekuasaan.

Malam berikutnya, Dinara duduk di depan cermin kamar. Lampu redup membuat wajahnya tampak seperti bayangan retak. Matanya sembab, tapi tatapannya penuh marah yang ditekan. Ia menatap dirinya sendiri lama sekali.

Di balik pantulan, ia melihat gadis kecil yang dulu selalu berusaha sempurna agar mendapat cinta. Gadis kecil yang hidup di rumah penuh aturan. Gadis kecil yang selalu diminta tampil tanpa cacat.

“Kalau kamu nggak bisa mengendalikan sesuatu,” ayahnya dulu berkata, “kamu gagal.”

Itu tertanam dalam dirinya seperti guratan yang tak bisa dihapus.

Ia menatap pantulan matanya yang kini terlihat seperti dua jurang gelap.

“Aku nggak boleh gagal,” bisiknya. “Aku nggak boleh kalah.”

Ia tidak menangis karena rindu. Bukan karena sayang. Air mata itu hadir karena ia merasa kehilangan kontrol.

Baginya, kehilangan Samudra bukan kehilangan cinta.Tapi kehilangan dominasi.

Kehilangan seseorang yang bisa ia bentuk. Kehilangan seseorang yang selalu kembali ketika ia memanggil.

“Kenapa kamu bikin aku begini, Sam…” bisiknya, tapi itu bukan keluhan. Itu ancaman samar pada dirinya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, Samudra datang ke apartemen Dinara. Bukan untuk bertengkar. Bukan untuk menenangkan. Tapi untuk memberi ruang pada dirinya sendiri agar tidak tenggelam lebih jauh.

Mereka duduk di balkon. Angin malam Jakarta menyapu lembut seolah ingin memberi jeda dari semua kekacauan.

“Aku tau kamu lagi berjuang,” kata Samudra pelan.

Dinara menoleh, ekspresinya datar namun matanya penuh badai kecil.

“Berjuang?”

“Hm,” sahut Samudra. “Berjuang ngelawan dirimu sendiri.”

Dinara terdiam, bukan karena mengerti, tapi karena merasa kalimat itu menyerang egonya. Ia benci dikatakan bermasalah. Ia benci dianggap penyebab kerusakan. Baginya, dunia selalu harus tunduk padanya.

“Sam,” ucap Dinara, suaranya pelan, rapuh buatan, “aku begini karena aku takut kehilangan kamu. Kamu tau itu, kan?”

Samudra tahu itu manipulasi. Kalimat yang selalu digunakan Dinara untuk memutar keadaan, membuatnya tampak seperti korban yang paling menderita.

Tapi Samudra juga tahu ia sudah tidak sanggup lagi.

“Din, aku sayang sama kamu…” Katanya. “Tapi aku tersiksa.”

Dinara menoleh cepat, seperti seseorang yang baru ditampar. Matanya menajam. Bibirnya tegang.

“Jadi sekarang semua salahku?” “Aku nggak bilang begitu..”

“Kamu bilang aku bikin kamu tersiksa! Kamu bilang aku rusak! Kamu bilang aku nggak layak dicintai!”

“Aku nggak pernah bilang itu.”

“Tapi kamu bikin aku ngerasa begitu!”

Dinara menangis keras, sekeras mungkin, seolah dunia harus mendengar betapa menderitanya ia. Samudra hanya diam, membiarkan air mata itu mengalir tanpa mencoba menyentuhnya. Bukan karena ia tidak peduli. Tapi karena ia tahu semua itu bukan tentang luka. Itu tentang kontrol.

Saat tangis Dinara mereda, Samudra menatap lampu-lampu kota yang berpendar di kejauhan.

“Cinta kamu terlalu penuh, Din…” katanya lirih. “Tapi penuh yang menghancurk

Dinara memandangnya lama, dalam diam yang penuh kemarahan tertahan.

Dan di balik tatapan itu, Samudra melihat sesuatu yang menakutkan: Dinara tidak sedang berusaha berubah. Ia hanya sedang menunggu celah untuk kembali mengendalikan semuanya.

Malam itu bukan awal penyembuhan. Bukan awal perbaikan. Bukan awal perubahan. Itu adalah awal retakan besar yang akhirnya akan memisahkan mereka.

Di atas mereka, langit tetap gelap. Dan tidak ada bintang yang muncul malam itu.

Karena kadang, cinta bukan tentang menyinari. Kadang cinta adalah gelap yang makin lama makin menelan.

Nama pena: Fironika Nursanty

Genre: Romance

Platform: Dreame Innovel

Editorial:

Cerita ini, menampilkan suara penulis yang tidak tergesa-gesa membuktikan apa pun, seolah percaya bahwa pembaca dewasa mampu menangkap lapisan makna dari detail yang dibiarkan bekerja sendiri. kalimatnya cenderung bersih, lurus, dan tidak sibuk mengejar keindahan metafora, tetapi justru membangun wibawa lewat pilihan sudut pandang yang dingin dan terkontrol. Yang menonjol bukan ledakan emosi, melainkan cara emosi itu ditata—rapat, sempit, dan perlahan menekan ruang batin tokoh. Di sini, kekuatan naratif lahir dari kesadaran psikologis, bukan dari dramatika permukaan.

Ritme bab bergerak dengan denyut yang stabil, hampir monoton secara sengaja—sebuah strategi yang efektif untuk menanamkan atmosfer tercekik. Percakapan, jeda, dan deskripsi tidak berfungsi sebagai hiasan, melainkan sebagai mekanisme tekanan. Setiap kalimat pendek, setiap pengulangan situasi, terasa seperti lapisan baru yang mengunci pembaca di dalam dinamika relasi yang sama: tidak meledak, tidak juga reda. Ketegangan justru tumbuh dari apa yang tidak diucapkan secara langsung—dari cara tokoh menahan, memutar, dan menekan realitas emosionalnya sendiri.

Kedewasaan tema tampak dari keberanian Fironika Nursanty menempatkan cinta bukan sebagai wilayah romantik, melainkan sebagai ruang kekuasaan. Cerita ini tidak menawarkan simpati instan, juga tidak tergoda untuk mengemas luka dengan bahasa yang memelas. Yang disajikan adalah potret relasi yang bekerja melalui logika psikologis: bagaimana rasa takut, harga diri, dan kebutuhan akan kontrol dapat menyaru sebagai perhatian dan pengorbanan. Penulis tidak menggurui, tidak menempelkan label moral secara eksplisit—ia membiarkan pembaca mengamati, lalu menyimpulkan sendiri dari pola-pola yang berulang.

Kesan intelektual kisah ini muncul dari ketelitian mengolah dinamika batin, sementara kesan emosionalnya hadir sebagai kelelahan sunyi—perasaan terjebak dalam sesuatu yang tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak pernah sehat. Novel ini tampaknya tidak menawarkan pelarian, melainkan pengalaman membaca yang menuntut kepekaan dan kesabaran. Bagi pembaca yang sudah jenuh dengan relasi fiktif yang disederhanakan menjadi hitam-putih, bab pembuka ini terasa seperti undangan halus menuju kisah yang lebih berani memeriksa sisi gelap manusia—tanpa perlu membesarkannya menjadi sensasi.

By Nita Natalia



3 Komentar

  1. Wah menarik ini, biar tau gmn cara ngadepin pasangan posesif

    BalasHapus
  2. Menceritakan tentang wanita yang mempunyai trauma masa kecil dan akhirnya mengalami masalahi Psycologi yaitu Narcistik personality dissorder

    BalasHapus
  3. Cerita ini sangat mendalam dan menyayat hati! Penggambaran hubungan yang penuh kontrol melalui konflik Dinara dan Samudra terasa sangat nyata. Pesan akhir tentang cinta yang bisa jadi menghancurkan bukan menyinari membuat pembaca terpikir panjang. Sangat kuat dan penuh makna!

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama