Shadow Heart, Jejak Sang Intelijen - Nada Maya

Shadow Heart, Jejak Sang Intelijen


0

Ch. 2

Kegelapan di ruang otopsi RS Polri itu terasa pekat dan menyesakkan. Bau formalin dan besi dari darah yang mengering seolah menjadi lebih tajam saat indra penglihatan mereka lumpuh. Di tengah keheningan, suara langkah kaki di lorong luar terdengar kian jelas—ritme yang tenang, teratur, dan penuh percaya diri.

"Siska, jangan bergerak," bisik Wira. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman, namun memberikan rasa aman yang instan.

Wira tidak membuang waktu. Dalam gelap, insting tempurnya bekerja secara otomatis. Ia menarik lengan Siska, menarik tubuh dokter itu ke balik lemari pendingin jenazah yang terbuat dari baja tebal. Siska terkesiap, tubuhnya membentur dada bidang Wira. Untuk pertama kalinya, dokter yang dikenal sedingin es itu merasakan detak jantung seseorang yang begitu kuat dan stabil di tengah situasi hidup dan mati.

"Wira, apa yang—"

"Sshh," Wira menempelkan jari telunjuknya di bibir Siska. Di tengah kegelapan, mata Wira yang tajam berkilauan seperti predator yang sedang mengintai balik.

KLIK.

Suara kokang senjata terdengar dari arah pintu. Risa, yang berada di sisi lain ruangan, sudah merunduk di balik meja kerja, senjatanya terarah ke pintu. Namun, si penyusup tidak masuk dengan tembakan. Sebuah tabung gas kecil dilemparkan ke dalam ruangan, mendesiskan asap putih yang berbau manis nan mematikan.

"Tahan napasmu, Siska!" Wira merobek ujung kemeja mahalnya, membasahinya dengan alkohol dari botol di dekatnya, lalu menempelkannya ke hidung dan mulut Siska.

Tanpa peringatan, sosok bayangan muncul dari balik asap. Wira bergerak seperti bayangan yang lebih gelap. Ia tidak menggunakan senjata api agar tidak memicu ledakan jika ada gas yang mudah terbakar di lab. Dengan gerakan CQC (Close Quarters Combat) yang sangat efisien, Wira menerjang.

Bugh! Plak!

Suara benturan fisik bergema. Wira melakukan serangan siku yang telak ke rahang lawan, disusul dengan tendangan berputar yang menghempaskan sosok itu ke pintu baja. Siska menonton dengan mata terbelalak dari balik perlindungan. Wira tidak hanya tampan; ia adalah mesin tempur yang estetis. Setiap gerakannya mematikan namun terlihat anggun.

Si penyusup, yang menyadari bahwa ia bukan tandingan Wira dalam duel fisik, melemparkan bom asap kedua dan menghilang ke dalam lorong sebelum Risa sempat melepaskan tembakan.

Beberapa menit kemudian, lampu darurat menyala dengan redup. Ruangan masih berantakan. Risa mengejar ke arah koridor, sementara Wira kembali ke sisi Siska.

Siska masih terduduk di lantai, napasnya tersengal. Kacamata dokternya sedikit miring. Wira berlutut di depannya, tangannya yang hangat memegang bahu Siska untuk memastikan ia baik-baik saja.

"Kau terluka?" tanya Wira lembut. Dinginnya yang tadi ia tunjukkan pada Tuan Tanubrata kini berganti dengan perhatian yang intens.

Siska menatap mata Wira. Untuk pertama kalinya, benteng pertahanan mental yang ia bangun bertahun-tahun retak. Ia terbiasa menghadapi mayat yang diam, bukan pria yang penuh hidup dan daya pikat berbahaya seperti Wira. "Aku... aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing karena gas itu."

Wira merapikan kacamata Siska, jemarinya sempat bersentuhan dengan kulit pipi Siska yang halus. "Gas itu mengandung konsentrasi neurotoksin yang sama dengan yang kau temukan pada korban. Dia tidak ingin membunuhmu sekarang. Dia ingin melumpuhkanmu untuk 'pameran' selanjutnya."

Siska menelan ludah.

"Kenapa aku? Aku hanya seorang dokter."

"Karena kau yang paling cerdas di sini, Siska. Dan bagi psikopat seperti dia, kecerdasanmu adalah tantangan," Wira berdiri dan mengulurkan tangannya.

Siska menyambut tangan itu. Saat ditarik berdiri, tubuh Siska kembali goyah. Tanpa ragu, Wira melingkarkan lengannya di pinggang Siska untuk menyangganya. Siska bisa merasakan panas tubuh Wira merambat melalui jas labnya. Aroma maskulin yang bercampur sedikit bau bubuk mesiu dari Wira justru terasa sangat menenangkan.

"Mulai malam ini, kau tidak boleh sendirian," ujar Wira tegas. "Kau akan ikut denganku ke safe house."

"Tapi pekerjaanku—"

"Pekerjaanmu tidak ada gunanya jika kau menjadi mayat di atas meja otopsimu sendiri," potong Wira sambil menatap Siska lurus-lurus.

Siska, yang biasanya selalu punya argumen untuk membalas, kali ini terdiam. Ia melihat kekhawatiran yang tulus di balik mata dingin Wira Atmaja. Kharisma pria itu bukan sekadar wajah tampan; itu adalah kekuatan karakter yang menuntut penyerahan diri.

"Baiklah," bisik Siska pelan, nyaris tak terdengar.

Di sudut ruangan, Risa kembali dengan wajah frustrasi. "Dia hilang di parkiran. Tapi Wira, kau harus lihat ini."

Risa menunjuk ke meja otopsi tempat mayat sosialita tadi terbaring. Di atas kain putih yang menutupi dada jenazah, kini tergeletak sebuah mawar hitam baru yang masih segar. Dan di bawah kelopaknya, ada secarik kertas kecil tertulis:

"Satu untuk sang Dokter. Sampai jumpa di mimpimu, Wira."

Wira meremas kertas itu hingga hancur. Ia menarik Siska lebih dekat ke sisinya, seolah menyatakan perang pada siapa pun yang berani menyentuh miliknya.

"Risa, siapkan mobil," perintah Wira sambil menatap pintu keluar.

"Permainan ini baru saja menjadi sangat pribadi."

Siska bersandar pada lengan Wira saat mereka berjalan menuju parkiran. Ia tahu hidupnya yang tenang telah berakhir, digantikan oleh badai bernama Wira Atmaja. Dan anehnya, di dalam badai itu, Siska merasa paling aman.

Nama pena: Nada Maya

Genre: Aksi, Perkotaan

Platform: Max Novel

Editorial:

Dalam Cerita Shadow Heart, Jejak Sang Intelijen, karya Nada Maya ini menunjukkan suara penulis yang sudah matang, bukan suara yang sibuk memamerkan konflik, melainkan suara yang tahu kapan harus menahan diri.

 Diksi yang dipilih tidak berlebihan, tetapi terukur dan berfungsi sebagai pengatur napas pembaca. Kalimatnya bergerak seperti denyut: pendek saat tekanan meningkat, sedikit melambat ketika emosi mulai merembes.

 Ada kendali ritme yang terasa sadar, seolah memahami bahwa ketegangan yang efektif justru lahir dari pengelolaan jeda, bukan dari rentetan kejutan.

Atmosfer emosional dibangun bukan melalui ledakan dramatik, melainkan lewat detail sensorik yang dingin, bersih, dan nyaris klinis.

Pilihan sudut pandang menjaga jarak psikologis yang tipis, cukup dekat untuk membuat pembaca ikut menahan napas, tetapi tidak larut dalam sentimentalitas. Di sinilah, kekuatan prosa buku dari Nada Maya terasa. 

Ia membiarkan ruang kosong bekerja. Yang tidak diucapkan, ketakutan yang hanya lewat di mata, keraguan yang berhenti di tenggorokan, justru menjadi lapisan ketegangan paling kuat dalam cerita ini.

Buku ini juga menampilkan kedewasaan tema melalui relasi kuasa, kontrol, dan rasa aman yang tidak digambarkan secara romantik, melainkan problematis dan ambigu. Kedekatan antar tokoh tidak hadir sebagai pelarian emosional, tetapi sebagai konsekuensi situasional yang sarat risiko. Cara penyajiannya terasa sadar akan kompleksitas, tidak ada glorifikasi berlebihan, tidak pula lewat penjelasan moral yang menggurui. Pembaca dewasa akan menangkap bahwa relasi dan keputusan dalam dunia cerita ini selalu berada di bawah bayang-bayang tekanan profesional, etika, dan trauma.

Kesan yang tertinggal bukan sekadar ketegangan fisik, melainkan ketegangan batin yang lebih sunyi, tentang batas antara perlindungan dan kepemilikan, antara kewaspadaan dan ketergantungan. Cerita ini menawarkan pengalaman membaca yang tenang namun menggigit, mengundang pembaca yang sudah capek pada pola thriller romantik klise untuk mempercayai satu hal, dan buku ini bergerak dengan kecerdasan naratif, dan memilih kedalaman psikologis sebagai daya tarik utamanya.

By Nita Natalia




3 Komentar

  1. Meranik sekali, cerita dengan latar perkotaan dengan nuansa moderen dan penuh teka teki

    BalasHapus
  2. Kepiawaian Wira membuat penasaran dengan aksi-aksinya. Langsung baca ya thor... sukses untuk karyanya

    BalasHapus
  3. Keren, penuh teka-teki dan buat penasaran

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama