THE ART OF LUST - Dwinda

THE ART OF LUST - Dwinda


0

DUNIA BERAKHIR BUKAN DENGAN DENTUMAN, TAPI DENGAN DESAHAN

Jendra “Je” Mahesa mengira mencuri artefak Loro Blonyo dari Keraton akan menyelesaikan masalah hutangnya. Ia salah besar. Saat virus Cordyceps-Erotica meledak dan mengubah penduduk Yogyakarta menjadi monster haus daging yang terangsang, Je terjebak di titik nol kiamat.

Namun, darahnya yang menyentuh artefak kuno itu mengaktifkan Curator System. Kini, Je bukan sekadar penyintas. Ia adalah "Sang Kurator" yang mampu menjinakkan para monster _yang disebut Ratusan melalui koneksi psikis-erotis di alam mimpi._ Bersama seorang mantan driver ojol yang skeptis dan arkeolog gothic yang terobsesi pada kematian, Je harus menembus hutan spora menuju Borobudur. 

Disana, rahasia mengerikan menanti: Manusia hanyalah baterai biologis, dan libido mereka adalah bahan bakar yang sedang dipanen oleh entitas luar angkasa. Di dunia yang gila ini, hanya ada satu aturan: Puaskan mereka, atau kau akan menjadi santapan mereka.

***

BAB 1: Mahakarya di Ambang Maut

Uap jamur berwarna neon memenuhi lorong sempit bunker Keraton Yogyakarta itu. Warnanya indah 'ungu elektrik dan hijau pudar' tapi baunya seperti melati yang membusuk di dalam liang lahat. Je terengah-engah, punggungnya menempel pada dinding batu yang lembab. Di depannya, sesuatu yang dulunya adalah alasan ia ingin pensiun dari dunia pencurian seni, kini sedang merayap mendekat.

"Sekar... Berhenti! Anjir, ini aku, Je!" teriak Je. Suaranya pecah, tercekat oleh spora yang mulai menusuk paru-parunya.

Sekar, tunangannya, tidak lagi memakai kebaya beludru yang disiapkan untuk pernikahan mereka. Tubuhnya telah mekar. Jamur-jamur kancing tumbuh dari pori-pori kulitnya yang pucat, dan di bagian dadanya, sebuah kelopak bunga raksasa berdenyut seperti jantung yang terekspos.

"Je... manis... lapar..." desis Sekar. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan suara gesekan membran basah yang bergetar.

"Lapar? Kau baru saja makan dua penjaga di depan, Sekar! Sialan, jangan mendekat!" Je mencoba mengangkat tangannya, tapi Sekar sudah menerjang.

BRUGH!

Tubuh ramping yang kini terasa berat dan berlendir itu menindih Je ke lantai bunker yang dingin. Tangan Sekar yang sekarang memiliki kuku-kuku panjang berwarna hitam mencengkeram leher Je. Bukan untuk mencekik, tapi untuk menarik wajah Je mendekat ke dadanya yang berdenyut.

"Wangi... Je... ayo menyatu..."

"Menyatu gundulmu! Kau mau makan jantungku, hah?!" Je meronta, tapi kekuatan Sekar sangat tidak masuk akal. 

Tiba-tiba, spora neon yang keluar dari tubuh Sekar menyembur tepat ke wajah Je. Je tersedak, matanya melotot. Rasa panas yang aneh menjalar dari saraf hidungnya menuju pangkal pahanya. Ini gila. Di ambang maut, diserang oleh monster yang mencabik bajunya, Je justru merasakan rangsangan saraf yang sangat liar.

"Anjir... apa ini? Spora afrodisiak?!" umpat Je, wajahnya memerah, "Sekar, kalau kau mau membunuhku, bunuh saja! Jangan buat aku tegang disaat seperti ini!"

"Nikmati... Je... ini seni... kematian..." Sekar menjilat leher Je. Lidahnya kasar seperti amplas, meninggalkan jejak lendir bercahaya.

Tangan Je meraba-raba ke samping, mencari apa saja yang bisa digunakan untuk bertahan. Jarinya menyentuh sebuah kotak kayu jati yang ia curi dari ruang rahasia Sultan pagi tadi. Kotak itu berisi artefak yang dikabarkan menjadi penyebab kegilaan di Yogyakarta: Loro Blonyo Purba.

"Seni, katamu? Baiklah, mari kita buat mahakarya terakhir," geram Je. Dengan sisa tenaganya, ia menghantamkan kotak itu ke lantai hingga hancur.

Di dalamnya, sepasang patung kayu kuno berbentuk pengantin Jawa tampak bersinar redup. Tanpa pikir panjang, Je mencengkeram patung itu. Sudut patung yang tajam menyayat telapak tangannya. Darah segar mengalir, membasahi kayu purba tersebut.

"Ambil ini, kau jamur sialan!" Je menempelkan patung itu ke dada Sekar yang terbuka.

TING!

Sebuah suara mekanis yang dingin tiba-tiba bergema di dalam kepala Je, meredam suara geraman Sekar.

[Analisis Kanvas Terdeteksi...]

[Subjek: Je (Manusia - Seniman Gagal/Pencuri Seni)]

[Kondisi: Ambang Maut & Rangsangan Hormonal 85%]

[Artefak 'Loro Blonyo Purba' Diaktifkan melalui Pengorbanan Darah dan Air Mata.]

"Hah? Suara apa itu?!" Je melotot.

[Selamat Datang, Inang Pertama.]

[Curator System Sedang Melakukan Sinkronisasi...]

"System? Kau bercanda? Di tengah bunker yang bau busuk ini?!" Je berteriak.

Sekar berhenti sejenak. Kepalanya miring ke kiri dengan sudut yang mustahil. Matanya yang putih tanpa pupil menatap patung di tangan Je, "Itu... milik kami... kembalikan!"

"Enak saja! Ini milikku sekarang!" Je mencoba menendang Sekar, tapi monster itu justru mencakar dada Je, merobek kemejanya hingga habis. Sekar menunduk, menggigit bahu Je.

"AAARGH! Sialan! Sakit, anjir!"

[Peringatan: Integritas Tubuh Inang Menurun!]

[Saran System: Gunakan 'Lust Aura' untuk Menenangkan Subjek Rusak!]

"Gunakan apa?! Aku tidak tahu caranya!" Je berteriak frustasi.

[Mengambil Alih Kendali Saraf... Mengonversi Rasa Sakit Menjadi Kenikmatan Visual.]

Seketika, rasa perih di bahu Je berubah menjadi sensasi dingin yang menggelitik. Penglihatan Je berubah. Dia tidak lagi melihat Sekar sebagai monster, melainkan sebagai sebuah lukisan abstrak yang hidup. Garis-garis energi berwarna ungu mengalir di tubuh Sekar, dan Je merasa bisa memanipulasi garis-garis itu.

"Sekar... tenanglah," bisik Je. Suaranya tiba-tiba terdengar sangat berat dan penuh otoritas.

Je menarik kepala Sekar, bukan untuk mendorongnya menjauh, tapi untuk mencium keningnya. Saat bibirnya bersentuhan dengan kulit dingin yang berjamur itu, sebuah gelombang kejut berwarna merah jambu terpancar dari tubuh Je.

WUUUSSSHHH!

Sekar memekik. Dia terlempar mundur, tubuhnya gemetar hebat. Spora yang tadinya liar di udara mulai mengendap, membentuk pola-pola bunga di lantai bunker.

"Apa yang terjadi?" Je bangkit berdiri dengan susah payah. Dia melihat tangannya sendiri. Ada tato bercahaya yang merayap dari pergelangan tangannya menuju jantungnya—sebuah motif batik yang rumit dan berpendar.

"Je... kau... apa yang kau lakukan padaku?" Sekar merintih. Dia meringkuk di sudut lorong, menutupi tubuhnya. Jamur di kulitnya tampak mengerut, seolah-olah ketakutan.

"Aku tidak tahu, Sekar. Sepertinya aku baru saja menginstal aplikasi ilegal di otakku," sahut Je sambil terengah-engah.

[Sinkronisasi Cairan 1%...]

[Status: Inang belum stabil. Energi seksual diperlukan untuk memperkuat ikatan artefak.]

[Peringatan: 'The Conductor' terdeteksi di radius 500 meter. Seluruh zombie di Keraton sedang menuju lokasimu!]

"Anjir! 500 meter? Itu kan cuma sepelemparan batu!" Je menoleh ke arah lorong luar yang mulai ricuh dengan suara seretan kaki dan geraman ribuan zombie.

"Lari... Je... lari..." Sekar mencoba berdiri, tapi dia kembali jatuh. Matanya mulai berubah menjadi putih kembali, "Aku... tidak bisa menahannya lagi..."

"Aku tidak akan meninggalkanmu disini, meskipun kau sudah jadi tanaman hias!" Je mencoba mendekat, tapi kepalanya tiba-tiba terasa seperti dipukul palu godam.

[Energi Habis.]

[Memasuki Mode Dreamwalk untuk Bertahan Hidup.]

[Waspada: Di dalam mimpi, Sekar tidak akan menjadi tunanganmu yang manis. Dia adalah Ego Jamur yang Haus.]

"Apa maksudmu?! Tunggu! Aku belum siap—"

Pandangan Je kabur. Bunker Keraton yang gelap tiba-tiba mencair. Dinding batunya berubah menjadi kanvas raksasa yang terus berputar. Je merasa tubuh fisiknya lumpuh, tapi jiwanya ditarik masuk ke dalam lubang hitam yang dipenuhi aroma melati dan keringat.

"Selamat datang di galeri pribadimu, Inang," bisik suara System itu lagi, kali ini dengan nada yang hampir terdengar... menggoda.

[Notifikasi System: Sinkronisasi Cairan 1%... Masuki Mode Dreamwalk untuk Bertahan Hidup.]

Dunia menjadi gelap. Je hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang, dan suara tawa Sekar yang bergema dari segala arah, seolah-olah sedang menunggunya di dalam labirin syahwat yang tak berujung.

"Sialan," gumam Je sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, "Kenapa kiamat ini harus terasa senikmat ini?"

Author: Dwinda

Genre: System, Action, Sci-Fi, Dark Comedy, Erotica 21+++

Tag: Post-Apocalyptic, Urban Fantasy, Cosmic Horror, Explicit Content

Platform: MegaNovel

Editorial:

Cerita ini,terasa menonjol bukanlah ledakan peristiwa, melainkan keyakinan suara penulisnya. Kalimat-kalimat dibangun dengan kesadaran penuh akan jarak emosional: dekat dengan tokoh, tetapi tidak pernah larut dalam sentimentalitas. Narasi memilih bergerak pelan di awal—seolah menahan napas—dan justru dari penahanan itulah wibawa penceritaan terbentuk. Ada disiplin bahasa yang jarang ditemui pada fiksi fantasi populer: setiap detail hadir bukan untuk memamerkan dunia, melainkan untuk mengunci perasaan aman yang rapuh, sebelum ia perlahan digeser.

Ritme bab ini bekerja seperti denyut yang tertata. Kalimat pendek disisipkan di antara deskripsi yang lembut, menciptakan jeda-jeda kecil yang menyiapkan pembaca menghadapi perubahan suasana tanpa perlu penanda dramatik berlebihan. Atmosfer emosionalnya dibangun lewat hal-hal yang tampak sepele,gerak tangan, cahaya, suara latar—yang dibiarkan berulang secara nyaris banal. Justru dari pengulangan tenang itulah muncul ketegangan halus: pembaca merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh struktur narasi, bukan oleh plot, melainkan oleh cara bahasa menunda kepastian.

Yang menarik, cerita ini tidak menggantungkan daya tariknya pada kekerasan atau ancaman yang ditampilkan terang-terangan. Ketegangan terletak pada apa yang ditahan: pada relasi personal yang digambar sederhana, pada pilihan kata yang tidak pernah membesar-besarkan trauma, dan pada keberanian penulis membiarkan beberapa momen tetap sunyi. Kesunyian itu terasa disengaja—sebuah ruang tempat pembaca dipaksa mengisi sendiri celah emosi yang tidak diucapkan. Pendekatan ini memberi kesan kedewasaan tematik: kehilangan, rasa bersalah, dan identitas tidak diolah sebagai bahan melodrama, melainkan sebagai beban batin yang perlahan mengendap.

Secara intelektual, bab ini meninggalkan kesan bahwa novel ini tidak tertarik menjadi sekadar kisah pelarian. Ia lebih dekat pada eksplorasi bagaimana kekerasan mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri, bahkan sebelum ia memahami dunia di sekitarnya. Secara emosional, yang tertinggal bukan kejutan, melainkan tekanan halus di dada—sebuah ketidaknyamanan yang tenang. Dan justru karena ketenangan itulah, pembaca dewasa yang lelah pada pola fantasi klise akan menemukan alasan untuk melanjutkan: bukan demi mengetahui apa yang akan terjadi, melainkan untuk melihat seberapa jauh bahasa dan perspektifnya berani menjaga keseriusan nada yang sudah ditanamkan sejak halaman pertama.

by Nita Natalia



3 Komentar

  1. Bagus banget nih cerita, baru tahu ada cerita zombie kayak gini. . . Lanjut thor

    BalasHapus
  2. Keren banget cerita bertahan hidup ditengan post apocalypt tapi berlatar di Indonesia... semangat Thor 🤘

    BalasHapus
  3. Bagus dan unik, apalagi zombienya.

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama