Accidentally Married: Cinta yang Tak Sengaja - Sweet Moon

Accidentally Married: Cinta yang Tak Sengaja - Sweet Moon


0

Accidentally Married: Cinta yang Tak Sengaja

Bab 1 Setelah Dua Bulan Menikah

Dua bulan menikah Ray sebagai suami masih saja melarang Serin untuk memakai baju yang menurutnya "kurang bahan" alias mini dress.

"Aih... jangan macam-macam Ray. Gue udah dandan cantik nih," omel Serin sambil menatap pantulan wajah dingin suaminya di cermin.

Tanpa banyak bicara, dia melangkah mendekat sambil melepas kancing lengan kemeja hitamnya. 

"Siapa yang suruh lo pakai baju kurang bahan begini? Ganti!" katanya datar.

"Apaan sih? Ini udah bagus, tahu."

Serin belum sempat mundur ketika Ray menarik lengannya. Tubuhnya otomatis maju, jarak mereka hanya sejengkal. Tatapan datar tapi menusuk itu membuat jantungnya berdebar tak karuan.

"Ganti Serin," kata Ray tegas dengan jari-jemarinya sempat menyentuh pelipis Serin, merapikan helaian rambut yang jatuh.

"Lepas dulu. Sakit."

Padahal genggaman tangan Ray nggak keras-keras amat, cuma genggaman hangat yang membuat Serin mati kutu dan mau nggak mau akhirnya menuruti perkataan suaminya.

"Ganti baju. Kita cuma mau makan malam sama Papa Mama bukan mau party," kata Ray sambil melepaskan lengan Serin.

Serin cuma bisa menarik napas panjang. Dulu dia pikir setelah nikah bisa bebas pakai mini dress sesuka hati, tanpa perlu ijin dari Papi Maminya. Nyatanya, dia justru nikah sama pria model Raynan— kaku, tegas tapi entah kenapa selalu berhasil membuat Serin nurut.

Raynan masuk ke ruang ganti, melepaskan kemeja hitamnya dan mengganti dengan warna broken white. Serin menyusul dari belakang, masih ngotot membela diri.

"Tapi Ray, ini tuh masih sop—"

"Aaa... Kebiasaan banget sih lo, ganti baju asal gitu. Aish... mata gue," gerutu Serin sambil melangkah kembali ke meja rias. Serin mendengus pelan melihat suaminya yang santai membuka kancing kemejanya. Pandangannya sempat tertahan sejenak—nggak bisa bohong, kalau Ray punya tubuh yang bagus, bikin iri pria manapun diluar sana.

Ray cuma tersenyum tipis dan berjalan ke arah lemari pakaian istrinya mengambil satu dress warna broken white senada dengan kemejanya— potongan di bawah lutut dengan lengan tiga perempat.

"Nih! pakai ini," katanya, sambil menyerahkan dress itu pada istrinya.

"Baik, Tuan Raynan."

Serin sengaja mengejek sebelum masuk ke ruang ganti dan menutup pintunya rapat-rapat. Dari luar Ray yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah kekanakan istrinya itu.

Ray duduk di sofa sambil mengecek email pekerjaan. Sesekali, dia melirik pintu ruang ganti—menunggu istrinya keluar.

Setelah Serin selesai ganti baju, Ray segera mengambil kunci mobil di meja depannya. Hening sejenak, hanya langkah mereka berdua menuju pintu yang terdengar. Malam itu, perjalanan menuju rumah orang tua Ray seperti misi khusus— Serin berusaha tampak sempurna baik sebagai istri ataupun menantu.

Mobil melaju melewati jalanan ibukota yang ramai lancar. Jalanan dihiasi lampu-lampu jalan yang cantik, kendaraan lalu lalang seperti semuanya akan menikmati malam minggu hari ini dengan keluarga atau teman. Beberapa menit kemudian, mereka tiba dirumah keluarga Raynan.

***

Malam itu rumah keluarga Raynan terlihat lebih hangat dari biasanya. Lampu kristal diruang makan memancarkan cahaya lembut, memaksimalkan kemewahan yang tenang.

Begitu mereka tiba, Mama Ray— Meira, sudah siap menyambut dengan gaya khasnya. Wanita anggun yang selalu tampak muda meski usia sudah setengah baya, langsung menyapa mereka dengan omelan.

"Akhirnya kalian datang juga. Kok lama sih sayang?"

"Maaf, Ma," jawab Serin sambil tersenyum manis.

Padahal ya... karena tadi kan dia nunggu Ray pulang kerja tapi terlambat. Janji jam 6 sudah sampai apartemen ternyata baru nongol jam 7 malam.

"Hai, Papa, how are you?" sapa Serin riang, memeluk papa mertuanya sekilas.

"Good dear," jawabnya dengan senyum penuh binar.

Serin melipir ke sisi mama mertuanya untuk memeluk dan menciumi pipi beliau.

"Sebulan nggak ketemu, Mama. Kangen banget. Gimana kabarnya Ma?"

"Baik sayang. Mama juga kangen banget sama kamu. Di Swiss sepi nggak ada kamu, sayang. Kamu sendiri gimana? Ray baik kan sama kamu?" tanya Mama dengan nada khawatir.

"Baik banget, Ma," jawab Serin sambil melirik ke arah suaminya yang sudah duduk anteng sibuk ngobrol dengan Papanya.

Dimata orang tua Raynan, Serin adalah mantu idaman. Sikapnya selalu baik, sopan, ceria dan penuh semangat. Jadi, siapa yang nggak sayang sama Serin? Dia memainkan peran sebagai menantu sukses besar walau baru hitungan hari.

Raynan dan Papanya sibuk berdiskusi masalah perusahaan, sampai suara Mama Meira mengambil alih "Tolong ya, ini kita mau makan malam. Besok juga weekend. Berhenti dulu bahas kerjaannya, lanjut nanti.", peringatan dari ibunda Ratu nggak bisa disepelekan. Semua langsung diam dan nurut.

Makan malam berlangsung santai, obrolan ringan ngalir begitu saja. Masakan rumahan yang kali ini dimasak langsung oleh Mama Ray menambah kehangatan kebersamaan di malam minggu kali ini. Serin menikmati setiap momen, matanya mengedar dan sesekali menatap suaminya seolah mereka pasangan serasi meskipun timbal balik yang didapat Serin ya, muka datar Ray.

Setelah makan malam. Serin ikut mama mertua ngobrol di ruang keluarga, sedangkan Ray ikut Papanya masuk ruang kerja yang pasti keduanya melanjutkan obrolan yang tadi sempat tertunda di meja makan.

Malam semakin larut. Ray baru saja keluar dari ruang kerja papanya yang tepat diseberang ruang keluarga. Dia melihat Serin sesekali menguap saat mamanya nggak menatap ke arahnya.

"Ma... kita balik dulu," suara Ray menginterupsi cerita mamanya yang sedang asik ngobrol bareng menantu satu-satunya ini

"Ah... sudah malam ya. Nggak kerasa sudah jam sebelas ternyata. Kalian hati-hati kalau pulang. Istirahat ya sayang," jawab Mama Meira sambil merangkul Serin.

"Iya Ma. Besok-besok kita mampir lagi ya. Makasih untuk makan malamnya."

Mereka berjalan menuju pintu utama, Papa Ray juga ikut bergabung setelah Ray keluar tadi.

"Ma, Pa kami pulang dulu ya," Serin memberi pelukan perpisahan untuk keduanya, Ray ngikuti dari belakang. Tangan Serin lalu menggandeng lengan kekar suaminya menuju mobil hitam kesayangan Ray.

Bunyi klakson mobil Ray keluar dari gerbang rumahnya menandakan selesai sudah akting sebagai mantu idaman. Serin menarik napas panjang dan dalam.

Lampu komplek perumahan menyorot pada jalanan yang sepi, kendaraan mereka melaju perlahan.

Serin menatap jalanan dari jendela samping. Jalanan utama ibukota belum juga sepi ternyata apalagi malam ini malam minggu. Ray dengan kecepatan sedang mengendarai mobilnya dengan santai sambil sesekali melirik Serin yang sibuk melihat jalanan dari balik jendela mobil.

"Gue ingetin lagi. Besok hari Minggu, gue mau tidur seharian. Jangan ganggu gue," peringatan yang tidak mau ada kata bantahan. Serin menatap Raynan dengan tajam.

"Padahal gue mau ajak lo main padel besok," jawab Ray santai tanpa menoleh.

"Minggu lalu lo udah ganggu waktu gue dengan ngajak main golf sama rekan kerja lo itu ya. Dan lo udah janji minggu ini gue free Ray," sungutnya nggak terima kalau kali ini, Minggunya kembali terlewat.

"Besok—" belum juga selesai ngomong Raynya sudah Serin potong saja.

"Nggak-nggak. Gue menolak, pokoknya!" potong Serin cepat. Ray cuma angkat bahunya pura-pura cuek padahal sudut bibir ya terangkat tipis.

Mobil masuk ke basement apartemen. Hujan kini semakin deras, membentuk irama diatas jalanan.

"Ray..." panggilnya lirih.

Ray yang fokus menyetir nggak dengar panggilan Serin.

"Raynan," panggil Serin lagi.

"Hmmm," Ray hanya menjawab sekilas dan fokusnya ke arah tempat parkir mobilnya.

"Gue kangen..."

Kata itu meluncur begitu saja, nyaris tenggelam oleh suara hujan. Ray hanya menatap sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan. Tapi Serin tahu, detik itu juga—ada semburat rasa geram dan kecewa yang sekilas Ray tunjukkan.

Nama Pena: Sweet Moon

Genree: Romansa, CEO, New Adult, Rumah Tangga, 21+

Platform: Victie

Editorial:

Buku ini memperlihatkan suara penulis yang cukup percaya diri dalam membangun dinamika domestik tanpa harus meninggikan volume emosi. Ia memilih pendekatan yang tampak ringan di permukaan percakapan sehari-hari, gestur kecil, rutinitas pasangan namun di balik itu ada kendali yang terasa disengaja. 

Penulis tidak memaksa pembaca untuk langsung bersimpati, melainkan membiarkan relasi antar tokoh berbicara melalui kebiasaan dan pola interaksi yang berulang.

Ritme kalimatnya mengalir cepat, cenderung mengikuti irama dialog yang hidup. Ada keluwesan dalam perpindahan dari satu adegan ke adegan lain, tanpa terasa terpotong. 

Namun yang menarik justru bukan pada apa yang diucapkan, melainkan pada jeda-jeda kecil yang tidak diisi tatapan yang tidak dijelaskan, respons yang setengah tertahan, dan perubahan nada yang halus. 

Ketegangan di sini tidak hadir sebagai konflik besar, melainkan sebagai ketidakseimbangan yang terus dijaga tetap samar.

Tema yang diangkat bergerak di wilayah yang cukup dewasa, relasi pernikahan yang tidak sepenuhnya setara, negosiasi identitas setelah menikah, dan peran yang dimainkan di hadapan orang lain. 

Penulis tidak menghakimi atau mengarahkan pembaca untuk berpihak secara gamblang. Justru ada kesan bahwa semua berjalan “normal” di permukaan, sementara sesuatu yang lebih kompleks dibiarkan mengendap. 

Cara penyajiannya sederhana, tapi menyimpan lapisan yang tidak langsung terbaca. Secara emosional, buku ini meninggalkan kesan yang tidak berisik bukan kehangatan, juga bukan konflik terbuka, melainkan semacam jarak yang tipis namun konsisten. 

Ada perasaan bahwa hubungan ini berdiri di atas kompromi yang belum selesai dibicarakan. Secara intelektual, pembaca diajak untuk membaca ulang hal-hal kecil: pilihan kata, sikap tubuh, dan kebiasaan yang tampak sepele.

Ini bukan pembuka yang menawarkan drama besar sejak awal. Ia lebih seperti potongan kehidupan yang sengaja tidak dijelaskan sepenuhnya. 

Justru dari situ muncul daya tariknya sebuah keyakinan bahwa di balik percakapan sederhana, ada sesuatu yang sedang dibangun dengan perlahan dan tidak gegabah.

By Peniti Kecil



1 Komentar

  1. Bagian dialog di bab ini terasa sangat dalam. Ada kalimat yang sederhana, tapi maknanya berat sekali. Sampai harus berhenti sebentar untuk mencerna

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama