Accidentally Married: Cinta yang Tak Sengaja - Sweet Moon

Accidentally Married: Cinta yang Tak Sengaja - Sweet Moon


0

Chapter 11 Antara Rasa dan Rissa

​Serin melangkah keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi yang membungkus tubuhnya. Kamar itu sunyi, suaminya entah sedang berada di mana. Dengan langkah santai, ia melenggang menuju walking closet, lalu mulai memilah pakaian milik suaminya secara acak untuk ia kenakan. Hatinya masih dongkol; nama Rissa terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

​"Kan, jadi kepikiran lagi," batinnya gusar.

​Saat menuruni tangga, keheningan kembali menyambutnya. Serin mulai berburuk sangka, mengira dirinya ditinggal pergi begitu saja. Ia terus berjalan menyusuri rumah, mencari sosok ibu mertua untuk memulai misinya mencari informasi.

​"Mama pasti jawab kalau aku yang tanya," senandungnya pelan sembari melangkah menuju taman belakang.

​Sosok yang dicari ada di sana, sedang duduk tenang menikmati secangkir teh.

​"Ma..." panggil Serin lembut sembari menggeser pintu kaca.

​"Hai, Sayang. Sini duduk," ajak beliau hangat.

​Serin duduk di sampingnya, memasang wajah manja. "Mama, Serin mau tanya-tanya dong. Kan Mama sebentar lagi mau ke Amerika."

​"Mau tanya soal Raynan, ya?" tebak sang Mama mertua, sukses membuat Serin terperanjat.

​"Kok Mama tahu?"

​"Kamu pikir Mama tidak bisa membaca situasi kalian? Sabar ya, Sayang. Maaf kalau anak Mama masih kaku mengungkapkan rasa sayangnya. Tapi Mama yakin, dia sangat serius saat memilihmu menjadi istrinya. Jangan sungkan cerita apa pun pada Mama."

​Genggaman tangan Mama mertuanya terasa begitu tulus hingga mata Serin mulai berkaca-kaca. Ia sadar dirinya jauh dari kriteria istri sempurna; ia hanyalah anak manja yang hobi belanja. Namun, mertuanya tidak pernah menuntut apa pun.

​"Ma, maaf kalau Serin belum bisa jadi istri yang baik buat Ray, atau menantu idaman Mama," lirihnya sembari menghambur ke dalam pelukan hangat sang Mama. Isakan kecil mulai terdengar.

​"Kamu yang terbaik, Serina. Sudah, jangan menangis lagi. Jadi, apa yang ingin kamu ketahui?"

​"Aku mau dengar cerita tentang Ray, Ma. Boleh?"

​Mama pun mulai bercerita dengan detail, mulai dari masa kehamilan hingga Ray tumbuh dewasa. Serin menyimak dengan antusias, sesekali tertawa mendengar kenakalan masa kecil suaminya yang tak disangka-sangka.

​"Ma, boleh tanya satu hal lagi?" Mama mengangguk sembari menyesap teh melatinya. "Rissa itu siapa, Ma?"

​Raut wajah Mama berubah sedikit terkejut. "Kamu benar-benar tidak tahu? Ray tidak pernah cerita?"

​Serin menggeleng lemah dengan bibir cemberut.

​"Kebangetan anak itu. Rissa adalah sahabat baik Ray sejak SMA, dan sekarang dia bekerja sebagai sekretarisnya di kantor."

​"Ooohhh..." Serin menyahut pelan. Di dalam otaknya, ia mulai menarik benang merah mengapa suaminya tampak begitu nyaman berbincang lama dengan wanita itu semalam.

​"Jangan khawatir, Sayang. Ray sudah menganggap Rissa seperti saudaranya sendiri."

​"Iya, Ma," jawab Serin sembari tersenyum manis, meski batinnya masih berperang. Mana ada laki-laki dan perempuan murni bersahabat? Pasti ada rasa yang terselip, pikirnya getir.

​"Sekarang Ray ke mana, Ma?"

​"Sedang bersama Papa di ruang kerja."

​Serin merasa sedikit lega. Ia mencoba menyandarkan tubuhnya, mencari posisi nyaman di dekapan mertuanya. Angin semilir taman belakang perlahan membuat matanya sayu hingga ia terlelap dalam waktu singkat.

​"Ssst! Jangan diganggu, Pa. Ray."

​Mama memberi isyarat agar kedua lelaki yang baru keluar dari ruang kerja itu tidak berisik. Ray dan Papanya tertegun melihat Serin yang tampak kecil meringkuk di pelukan Mama.

​"Ma, biar aku bawa ke kamar," bisik Ray.

​Ia mengangkat tubuh istrinya dengan gaya bridal style. Tidur Serin begitu nyenyak hingga tak terusik sedikit pun. Sepanjang menaiki tangga, Ray tak tahan untuk tidak menciumi pipi gembul istrinya yang menggemaskan.

​"Ah... ish..." igau Serin dalam tidurnya karena merasa geli.

​Ray merebahkan Serin perlahan di atas kasur, lalu kembali menjahili pipi merah itu layaknya anak kecil yang mengganggu adiknya.

​"Sayang," bisik Ray tepat di telinga Serin.

​Kesadaran Serin mulai kembali. Ia merasakan embusan napas dan suara berat yang memanggilnya mesra. Matanya mendadak terbuka lebar, dan tepat di depan wajahnya, ada wajah Ray dengan senyum yang sangat manis.

​Plakkk!

​Refleks, tangan Serin mendarat di pipi Ray. Suaminya tersentak mundur sembari memegang pipinya yang panas.

​"Ray, maaf!" Serin langsung terduduk dengan wajah pucat pasi.

​Ray menatapnya dengan ekspresi antara terkejut dan tidak percaya. "Serin..."

​"Refleks! Aku benar-benar refleks, sumpah!" Serin menutup mulutnya dengan panik.

​Ray menghela napas panjang, menatap istrinya dalam-dalam. Bukannya marah, ia justru merasa tingkah panik istrinya sangat lucu. "Refleks, ya?"

​"Iya! Habisnya aku kaget, kamu tiba-tiba ada di depan mukaku, terus cium-cium gitu. Ish!" rengek Serin sebal.

​Ray menaikkan sebelah alisnya. "Tiba-tiba? Padahal aku yang menggendongmu dari taman sampai ke atas sini."

​"Oke, oke! Jangan dilanjutkan!" potong Serin dengan wajah yang kini memerah hingga ke telinga.

​Ray akhirnya tak kuat menahan tawa. "Kamu lucu sekali."

​"Apanya yang lucu? Aku baru saja menampar suamiku sendiri!"

​"Nah, itu dia letak lucunya." Ray mendekat, menyentuh pipi Serin dengan lembut. "Tangan kecilmu ini ternyata cukup membuat pipiku panas," bisiknya menggoda.

​Debaran jantung Serin kian tak keruan. "Kan sudah minta maaf..."

​Ray menatapnya dengan tatapan yang mulai sayu dan dalam. Ia mencondongkan tubuhnya, mengunci pergerakan Serin hingga wanita itu terdesak ke kepala ranjang.

​"Kalau sudah minta maaf, biasanya ada hukuman manisnya, Sayang," goda Ray kian berani.

​"Ray! Jangan aneh-aneh!" protes Serin sembari menahan dada Ray.

​"Cuma peluk," dalih Ray pura-pura polos.

​"Peluk-peluk! Ujung-ujungnya pasti lanjut. Aku tidak sebodoh itu ya!"

​"Ya, kalau aku menginginkanmu sekarang bagaimana?" Ray menimpali cepat dengan suara yang kian serak.

​Manik mata Ray mengunci pandangan Serin, seolah tak memberinya celah untuk lari. Serin hanya bisa menelan ludah dengan susah payah saat jarak di antara mereka kian terkikis.

*****

Nama Pena: Sweet Moon

Genree: Romansa, CEO, New Adult, Rumah Tangga

Platform: Victie

Editorial:

Novel ini menampilkan dinamika rumah tangga yang segar dan menghibur, jauh dari kesan kaku yang sering melekat pada cerita bertema CEO. Penulis berhasil menggambarkan wanita bernama Serin bukan sebagai istri yang sempurna atau takut pada suaminya, melainkan sebagai wanita biasa dengan rasa cemburu dan kepolosan yang wajar. Adegan Serin yang secara tidak sengaja memakai pakaian suaminya karena masih dongkol menunjukkan sisi "manja" yang justru membuat karakternya terasa hidup dan relatable bagi pembaca, terutama mereka yang menyukai kisah romansa ringan namun tetap punya konflik emosional.

Interaksi antara Serin dan ibu mertuanya menjadi titik penting dalam cerita ini. Alih-alih menghadapi mertua yang galak atau menuntut, klise yang sering muncul di novel sejenis. Serin justru menemukan sosok pendukung yang hangat dan bijaksana. Dialog antara keduanya terasa tulus, memberikan ruang bagi Serin untuk merasa aman dan diterima apa adanya. Hal ini menambah kedalaman cerita, menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang hubungan suami-istri, tetapi juga bagaimana seorang individu diterima dalam lingkaran keluarga baru.

Konflik utama cerita ini, yaitu kehadiran Rissa, disisipkan dengan halus namun efektif memicu kecemasan Serin. Penjelasan sang ibu mertua bahwa Rissa adalah sahabat lama dan dianggap seperti saudara memang mencoba menenangkan, namun keraguan Serin ("Mana ada laki-laki dan perempuan murni bersahabat?") sangat manusiawi. Penulis pintar dalam membangun ketegangan psikologis ini tanpa perlu adegan pertengkaran besar-besaran, membiarkan pembaca merasakan gelisah yang sama dengan tokoh utamanya.

Bagian paling menarik dan menggemaskan terjadi ketika Ray membawa Serin yang tertidur ke kamar. Aksi Ray yang menciumi pipi istrinya sambil tersenyum menunjukkan sisi lembut sang CEO yang jarang terlihat di luar. Kontras antara figur publik yang mungkin tegas dengan sikap mesra di rumah menciptakan daya tarik kuat bagi genre romance. Momen ini juga menjadi jembatan transisi yang mulus dari suasana melankolis menuju interaksi yang lebih intim dan penuh canda antara pasangan tersebut.

Reaksi refleks Serin yang menampar Ray saat bangun tidur menjadi puncak komedi dalam cerita ini. Situasi yang awalnya bisa berujung marah justru diubah menjadi momen bercanda yang manis berkat respons Ray yang sabar dan humoris. Dialog-dialog mereka, seperti alasan Ray tentang "hukuman manis" dan protes polos Serin, ditulis dengan ritme cepat dan natural. Ini menunjukkan chemistry yang kuat antara kedua tokoh, membuat pembaca ikut terbawa dalam kegembiraan dan rasa malu-malu yang dialami Serin.

Secara keseluruhan, novel ini menawarkan bacaan yang ringan, menghangatkan hati, dan mudah dicerna. Sweet Moon, penulis di platform Victie ini terbukti mahir dalam meracik elemen romansa, komedi, dan drama rumah tangga menjadi satu kesatuan yang enak dinikmati. Gaya bahasanya sederhana namun ekspresif, cocok bagi pembaca yang mencari hiburan berkualitas tanpa terlalu banyak beban pikiran. Bagi penggemar novel romansa dengan tokoh CEO yang ternyata "bucin" pada istrinya, karya ini layak untuk diikuti perkembangannya di Victie.

by Nada Maya



1 Komentar

Ulasan buku

  1. Bagian dialog di bab ini terasa sangat dalam. Ada kalimat yang sederhana, tapi maknanya berat sekali. Sampai harus berhenti sebentar untuk mencerna

    BalasHapus
Lebih baru Lebih lama