0
0
Bab 1
"Bu, aku mohon, jangan paksa aku. Ibu tidak tahu bagaimana traumanya aku dulu."
Suaraku bergetar, tertahan di antara tangis yang enggan jatuh. Dadaku sesak setiap kali Ibu mengulang kalimat yang sama, bahwa aku harus memikirkan masa depan anakku. Aku memikirkannya setiap hari dan setiap malam. Justru karena itu aku takut. Aku tak ingin anakku tumbuh dalam kebohongan. Aku tak ingin dia menyaksikan luka yang sama seperti yang dulu aku lihat dan rasakan.
"Kamu jangan egois, Laila," suara Ibu meninggi. "Anak kamu butuh seorang ayah. Lihat cucu Ibu, masih sangat kecil."
Wanita itu menunjuk bayi perempuan mungil yang sedang merangkak, tertawa kecil mengejar bola kainnya. Polos dan tak tahu apa-apa. Itu putriku. Apakah benar aku akan mengorbankan putriku ini? Apakah benar aku akan mengambil langkah yang salah? Perasaanku campur aduk. Keputusan ini semakin tak mudah. Tanganku mengepal tanpa sadar.
Egois? Apakah ingin melindungi diri sendiri dari luka yang sama disebut egois? Apakah Ibu tak mengerti bahwa aku tak ingin hidup seperti dirinya dulu, bertahan dalam rumah tangga yang hanya menyisakan tangis?
"Ibu, tolong. Biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri."
Suaraku melemah. Aku mundur perlahan, pergi meninggalkan orang tuaku dalam keadaan marah. Ibu tak akan pernah memahami aku. Beliau hanya ingin aku seperti dirinya, mengorbankan diri demi anak. Tanpa ia sadari, pengorbanannya telah banyak melukai aku dan adik-adikku. Jika pembicaraan ini terus berlanjut, aku takut bukan hanya air mata yang jatuh, tetapi juga kata-kata yang tak bisa ditarik kembali.
Selama ini, aku hanya diam memendam rasa sesak. Aku tak ingin menambah rasa sakit Ibu karena aku tak mendukungnya. Aku menahannya terlalu lama. Luka ini terlalu dalam untuk kuungkap. Tanganku bergetar menahan rasa kecewa. Orang yang kuharap akan mengerti penderitaanku malah bersikap seolah aku adalah seorang ibu yang mementingkan diri sendiri.
Aku harus menjauh sebelum semuanya berubah menjadi pertengkaran yang lebih besar, sebelum aku menyakiti perasaan Ibu dengan mengatakan kekecewaanku padanya. Aku masuk ke kamar yang sudah lama tak aku singgahi. Aku duduk bersimpuh di atas kasur tipis. Alas tidur yang menjadi saksi saat aku terisak sambil menutup kedua telingaku, tak ingin mendengar cacian yang merobek perasaanku.
"Mengapa Ibu begitu padaku?"
Aku tergugu sambil meremas ujung sprei. Aku menatap nanar jendela yang terlihat berdebu. Dadaku begitu sesak dengan respons yang aku terima dari Ibu. Aku jadi berpikir, apakah aku alasan Ibu mendapatkan penderitaan yang tak pernah berujung selama ini? Dengan dalih demi anak, ia tak ingin melangkah ke tempat yang bisa membuat dirinya aman. Mengapa begitu?
Setelah lama menyendiri dalam kamar, Ibu membuka pintu perlahan sambil menggendong putriku yang terlelap di pangkuannya.
"La, Ibu masuk ya?"
Suaranya kini melembut. Gurat kelelahan di wajahnya begitu terlihat. Berpuluh tahun ia memendam segala keinginannya demi keputusan yang menurutnya benar. Aku tak menjawab. Tatapanku masih tertuju pada jendela berdebu yang sedikit terbuka. Aku masih menahan rasa kecewa yang terus mengganjal di dada.
Ibu mendekat, lalu menidurkan putriku di atas kasur tipis. Ia mengusap rambut tipis di kepala anakku yang terlelap, lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya.
"Kamu tahu, La, hidup menjadi janda itu berat. Apalagi kamu kini sudah tidak bekerja lagi," ucap Ibu sambil menepuk bahuku yang mulai bergetar.
Aku masih diam, tak memotong atau merespons ucapannya. Aku hanya meremas kuat jemariku. Aku ingin menangis sekencangnya.
"Maafkan Ibu. Jangan biarkan cucu Ibu kehilangan keluarga utuhnya."
Inikah alasannya? Apakah ibuku meragukan jika aku bisa hidup mandiri dengan anakku? Setelah mengatakan kalimat yang begitu menyakitkan itu, Ibu berlalu meninggalkanku. Apakah beliau tak tahu jika ia telah melemahkan diriku? Aku memejamkan mata, merasakan sakit yang begitu menusuk hati. Apakah kewarasanku tak penting bagi Ibu?
Matahari mulai terbenam. Cahaya jingganya mewarnai langit cerah. Aku masih termenung menatap anakku yang mulai menggeliat. Pintu kamarku diketuk perlahan, lalu terbuka begitu saja tanpa menunggu persetujuanku. Di sana, ada Hasbi, suamiku. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan kacamata berbingkai hitam bertengger di batang hidungnya yang mancung.
Ia masih memakai baju yang tadi pagi kusiapkan untuknya. Dengan wajah dingin tanpa senyum, ia masuk dan langsung menuju anakku. Kedua tangan putriku langsung terulur ingin dipangku ayahnya. Hasbi tersenyum melihat anakku.
"Duh, anak Ayah. Main sama Nenek, ya?" ucapnya sambil mencubit pelan pipi gembul anakku. "Pulang sekarang?"
Aku tak menjawab. Aku berdiri melewatinya, berniat ke kamar mandi untuk mencuci muka. Aku tak ingin pria itu melihat jejak air mata yang masih membekas di wajahku. Aku mendengar dengusan dari mulutnya. Aku tahu ia menahan amarahnya. Ia kini sedang berperan seolah sebagai suami sempurna di mata Ibu. Aku tak peduli. Aku sudah muak dengan semua ini.
Arti cinta bagiku bukanlah bertahan, bagiku cinta adalah bagaimana aku mampu mengambil keputusan tepat untuk anakku. Aku tatap nanar wajah ibuku yang berpura-pura seakan tak pernah ada apa-apa. Wajahnya tersenyum menyambut kedatangan menantunya yang sudah lama tak pernah datang.
"Nak Hasbi, kenapa jarang berkunjung ke rumah ibu sama Laila?"
Suamiku tersenyum ramah, "Iya bu. Maaf pekerjaan saya cukup padat, beberapa bulan ini saya di luar kota. Saya ingin membelikan apa pun yang Laila dan Nana inginkan, jadi saya harus bekerja keras."
Aku tersenyum getir mendengar jawaban suamiku itu. Ia kira aku hanya membutuhkan uang saja? Aku tak ingin rumah tanggaku dibangun dengan kebohongan.
*****
Nama pena: Matcha Motchi
Genre: Drama, psikologi, urban.
Platform: Novea
Editorial:
Membaca fragmen naskah karya Matcha Motchi di platform Novea ini terasa seperti memasuki sebuah ruangan yang penuh oleh kata-kata yang tidak sempat terucapkan. Penulis dengan sangat jeli menggunakan detail sensorik yang sederhana namun bermakna dalam, seperti jendela berdebu atau jemari yang meremas ujung sprei, untuk membingkai sebuah sesak yang kolektif. Suasana yang dibangun tidak mengandalkan ledakan emosi yang teatrikal, melainkan pada keheningan yang berat di antara dua perempuan yang saling menyayangi namun gagal untuk saling memahami. Ketegangan itu hadir secara organik, merayap di sela-sela rutinitas yang tampak normal.
Ritme narasinya bergerak dengan tenang, memberikan ruang bagi pembaca untuk merasakan kontras yang tajam antara dunia orang dewasa yang penuh beban dan dunia anak yang murni. Ada kecerdasan dalam cara penulis memposisikan tawa bayi di tengah perdebatan yang pahit, menciptakan sebuah ironi yang halus tentang makna perlindungan. Dialog-dialog yang dihadirkan pun terasa sangat manusiawi, tidak ada upaya untuk mendramatisasi keadaan secara berlebihan. Setiap kalimat yang keluar dari mulut tokoh Ibu bukan sekadar teks, melainkan cerminan dari pola pikir generasi terdahulu yang melihat ketahanan sebagai satu-satunya bentuk cinta.
Dinamika hubungan antara ibu dan anak dalam cerita ini digambarkan dengan sangat matang. Kita melihat bagaimana kasih sayang bisa menjadi sebuah beban ketika ia hadir dalam bentuk paksaan. Hubungan ini menjadi cermin bagi banyak keluarga urban masa kini, di mana trauma masa lalu sering kali diwariskan secara tidak sengaja melalui dalih demi kebaikan anak. Penulis berhasil menangkap getaran-getaran kecil dalam interaksi mereka, seperti tepukan di bahu yang seharusnya menenangkan namun justru terasa seperti peringatan akan ketidakmampuan seorang perempuan untuk berdiri di atas kakinya sendiri.
Kehadiran sosok suami dengan kacamata berbingkai hitam dan senyum yang hanya disiapkan untuk orang lain menambah lapisan ketegangan yang lebih personal. Penulis tidak perlu menggambarkan konflik besar untuk membuat pembaca merasa tidak nyaman. Cukup dengan gambaran sebuah dengusan atau kebohongan kecil mengenai kesibukan kerja, pembaca sudah bisa merasakan adanya retakan besar di balik topeng rumah tangga yang utuh. Fokus pada hal-hal kecil inilah yang membuat narasi ini terasa dewasa dan sangat dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari yang sering kali penuh dengan kompromi menyakitkan.
Sebagai penulis yang bergerak di genre Drama dan Psikologi, Matcha Motchi menunjukkan kemahiran dalam membedah anatomi luka batin tanpa harus menjadi eksploitatif. Ada keanggunan dalam caranya menyusun kalimat yang mencerminkan kedewasaan berpikir. Melalui perspektif yang jernih, ia berhasil mengubah sebuah keresahan domestik menjadi sebuah renungan tentang harga diri dan integritas emosional. Ini adalah sebuah upaya literasi yang patut diapresiasi, sebuah tulisan yang tidak hanya ingin bercerita, tetapi juga ingin mengajak pembacanya untuk berani jujur pada diri sendiri.
By Caberawit

Aku suka bagaimana karakter di cerita ini berkembang pelan tapi terasa nyata. Dialognya juga enak dibaca, terasa natural seperti percakapan sehari-hari
BalasHapus