Dibalik Naskah Hitam: Bunga Mantra dari Hutan Larangan
Bab 1: Aroma Tebu dan Rantai Emas
“Kau tidak perlu berpura-pura baik-baik saja, Maya. Ritual Dholo adalah rantai. Itu bukan sumpah pernikahan biasa.”
Suara Aryan Kusuma Wijaya memecah keheningan fajar di Puri Kusuma, terdengar dingin, tajam, dan sama sekali tidak mencerminkan suara pengantin pria. Seharusnya ini adalah pagi setelah malam pertama yang mesra, namun realitanya terasa seperti kuburan yang berlumuran lilin basah.
Maya membuka mata. Ia tidak melihat sutra atau kelopak mawar. Ia melihat dinding kamar ‘penjaga’—kamar yang disiapkan, bukan untuk pengantin, tetapi untuk sandera yang dihargai. Kamar ini besar, terlalu mewah, tetapi aura metaliknya menyakitkan indra shaman-nya.
Dia menyentuh bahunya. Kulitnya terasa panas, bekas air siraman ritual yang dilakukan di Air Terjun Dholo delapan jam lalu, sebuah ritual yang mengikat dua jiwa secara tidak sengaja—atau setidaknya, itulah yang dikatakan Tetua Kusuma Wijaya.
“Aku tahu, Tuan Aryan,” jawab Maya tenang, duduk tegak di tempat tidur. Ia mengenakan kimono satin hitam yang disiapkan pelayan, berlawanan dengan suasana pagi yang cerah. Ketenangan Maya tidak datang dari kepasrahan, tetapi dari disiplin. Setelah lari bertahun-tahun dari ancaman spiritual masa lalunya, ia terlatih menyembunyikan badai di bawah permukaan yang hening.
Aryan berdiri di ambang pintu, bersetelan bisnis sempurna—abu-abu gelap, tanpa noda, seolah-olah dia tidak baru saja menjalani upacara pernikahan paksa. Rambutnya hitam legam, matanya tajam dan penuh kelelahan korporat yang menolak mengakui keberadaan dunia spiritual.
“Bagus. Kalau kau tahu, mari kita hilangkan basa-basi. Ini Puri Kusuma, bukan kuil pinggiran Kediri. Kita adalah pengusaha tebu. Aku telah memenuhi mandat Tetua. Aku butuh stabilitas, bukan istri,” tukas Aryan, suaranya mengandung perintah yang terbiasa dipatuhi. “Kita menikah di atas kertas. Dan ritual itu… itu hanyalah penguat tradisi, jangan dilebih-lebihkan.”
Tradisi, katamu? batin Maya, menahan geli. Bekas air Dholo di kulitnya terasa seperti dibakar arang yang tidak pernah padam. Energi Sumpah Dholo yang mengikat mereka semalam adalah sihir garis keturunan yang paling kuat—sihir kuno Kediri yang meminta tumbal atau pengorbanan setimpal. Sumpah itu terasa berat, menekan tulang belakangnya.
“Sumpah Dholo, Tuan Aryan, bukanlah penguat. Itu adalah rantai emas,” koreksi Maya lembut. Ia tidak menyangkal kata-kata Aryan, melainkan menegaskan konsekuensinya. “Rantai ini tidak bisa dihiasi bunga atau dibuang. Rantai ini harus dipelihara.”
Aryan memicingkan mata, aura dinginnya menyelimuti kamar itu, melawan hawa tropis Kediri. “Pemeliharaan rantai ada dalam kontrak. Tugasmu mudah: hadir, diam, dan menstabilkan energi Puri.”
“Dan bagaimana aku akan menstabilkan sesuatu yang sejak awal tidak stabil?” Maya bangkit dari tempat tidur. Gerakannya anggun, meskipun setiap sentimeter kulitnya menjerit karena ikatan energi itu. “Puri ini… bau kelaparan, Tuan Aryan.”
Kalimat itu sukses membuat ekspresi Aryan goyah sesaat. Bau tebu manis bercampur asam dan kekuasaan yang dingin memang selalu menyelubungi Puri ini. Namun, hanya orang dengan kepekaan spiritual ekstrem yang akan menyebutnya 'bau kelaparan'.
“Kita bahas nanti. Sekarang, bersiaplah. Sarapan sudah menunggu. Jangan membuat Dinasti Kusuma Wijaya menunggu, itu akan lebih merugikan stabilitasmu,” perintah Aryan, dan dia menghilang sebelum Maya bisa menjawab.
Puri Kusuma Wijaya adalah perpaduan ironis antara arsitektur kolonial yang mewah dan ukiran kayu jati yang pekat khas Jawa Timur. Di siang hari, tempat ini terasa megah. Di pagi hari ini, Puri itu terasa seperti lemari es berharga mahal. Lantai marmer dingin menyerap semua kehangatan. Di setiap sudut, ada ukiran Naga Kediri, lambang dinasti—tanda kekuasaan dan tuntutan spiritual yang harus dibayar mahal.
Maya mengikuti pelayan, langkahnya tanpa suara, berusaha menganalisis medan perang pertamanya: meja sarapan.
Ketenangan. Anggap ini negosiasi bisnis terpenting yang pernah kau hadiri. Maya mengingatkan dirinya. Dia tahu betul bahwa pernikahan ini hanya tentang transfer kekuatan spiritual dari klannya (yang diyakini Aryan adalah penyimpan energi kesuburan alam) ke Dinasti Kusuma Wijaya (yang percaya kesuburan adalah tebu, dan tebu adalah kekuasaan).
Aroma tebu dari pabrik di belakang puri menguap, terasa pekat di udara, bercampur dengan wewangian kayu gaharu dan kemenyan—bukti bahwa modernitas bisnis dan takhayul kuno berkoeksistensi secara aneh di Puri ini.
Ruang makan dipenuhi Dinasti Kusuma Wijaya yang dingin dan formal. Tetua Pria—Bapak Wibowo, kepala keluarga yang sangat tua, berwajah tegas—duduk di ujung meja, dikelilingi oleh istri, anak-anak, dan para paman-bibi (yang semuanya juga memiliki posisi strategis di korporasi tebu).
Sambutan itu, sesuai prediksi, adalah sambutan es. Semua mata tertuju padanya. Mata yang menilai, mata yang curiga, mata yang menuntut. Tak satu pun mengandung kehangatan selamat datang.
“Selamat datang, Maya,” sapa Bapak Wibowo dengan suara yang tebal dan kering. “Kami lega kau kini menjadi bagian dari keluarga. Seharusnya ritual itu menjamin Rezeki yang lancar untuk musim tanam ini.”
Maya tersenyum sopan. Senyum yang mencapai matanya, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kelemahannya. “Terima kasih atas penerimaannya, Bapak. Saya akan berusaha memastikan energi yang saya bawa sesuai dengan harapan Dinasti.”
Seorang Tetua Perempuan, yang tampak sinis, menyela dengan suara bernada merendahkan. “Energi saja tidak cukup. Dinasti ini membutuhkan Darah yang Murni. Kami harap latar belakangmu—sebagai orang luar dari Dholo—tidak merusak citra bisnis kami.”
Aryan, yang duduk di sebelah Maya, tidak menunjukkan reaksi. Dia sibuk memotong omeletnya, menciptakan jarak yang tak terlihat dari konflik.
Maya menoleh, sorot matanya yang cokelat pekat sedikit bergetar, menangkap Tetua Perempuan itu secara mental.
“Latar belakang saya adalah penjaga keseimbangan alam, Nyai. Selama bisnis ini sejalan dengan Dharma, maka ia akan murni. Jika tidak…” Maya membiarkan kalimat itu menggantung, menenggak sedikit air, lalu menambahkan, “maka energi yang manapun tidak akan mampu menyelamatkan citra bisnis, atau Rezeki.”
Wajah Tetua Perempuan itu menegang. Keberanian Maya yang tanpa ketakutan membungkamnya sejenak.
Saat itu, pandangan Maya bertemu dengan Bapak Wibowo, dan lapisan kepalsuan spiritual Puri runtuh. Dalam aura Bapak Wibowo, Maya melihat kegelapan yang mengerikan. Ini bukan hanya tentang ambisi korporasi.
Kelaparan. Kelaparan yang nyata, Tuan Aryan, pikir Maya, menegaskan monolog internalnya pagi tadi. Itu adalah energi yang menyedot kesejahteraan—kelaparan yang tidak akan pernah bisa dipuaskan oleh uang, hanya oleh energi alam dan, secara kebetulan, tumbal spiritual.
Tatapan Aryan menemuinya sekilas, seolah merasakan fluktuasi emosional di ruangan itu, meski dia tidak melihat aura yang dilihat Maya. Ada kilasan kelelahan dan rasa jijik yang sangat mendalam di mata Aryan—bukan jijik padanya, tetapi pada keluarganya.
“Tebumu sedang menderita, bukan begitu, Tuan Aryan?” tanya Maya, mengubah topik secara dramatis, mengalihkan fokus dari spiritualitas pribadi ke masalah bisnis yang relevan.
Aryan meletakkan garpu peraknya dengan bunyi klik tajam yang mematikan suasana. “Ada sedikit masalah logistik dengan izin lahan. Masalah biasa,” katanya, mencoba meremehkan. Namun, dia terlalu cepat merespons.
“Bukan logistik,” sahut Bapak Wibowo berat. “Itu Bala. Sejak tahun lalu. Laba bersih terus turun. Kau harus menyelesaikan masalah ini, Aryan. Atau kami akan bertanya-tanya, apakah istrimu ini sudah bekerja efektif,” ancam Bapak Wibowo, mengarahkannya ke Maya.
Bersambung...
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Nama Pena : Dwinda
Genre : Romansa, Urban, 18+
Platform : Fizzo
Editorial:
Buku ini menunjukkan suara penulis yang terkontrol dan sadar posisi. Ia tidak berusaha memikat lewat ledakan emosi, melainkan melalui ketenangan yang terasa terukur.
Ada kepercayaan diri dalam cara informasi disajikan tidak tergesa menjelaskan dunia, tetapi juga tidak menyembunyikannya secara berlebihan.
Hasilnya adalah suara yang terasa stabil, dengan nada dingin yang konsisten, seolah penulis memahami bahwa ancaman yang paling kuat justru lahir dari hal-hal yang disampaikan tanpa tekanan.
Ritme kalimatnya cenderung rapi dan disiplin, dengan dialog yang berfungsi sebagai medan tarik-menarik, bukan sekadar pertukaran kata. Tidak ada percakapan yang benar-benar netral, setiap respons membawa beban posisi, kuasa, dan kepentingan.
Ketegangan muncul bukan dari konflik terbuka, melainkan dari perbedaan cara pandang yang dibiarkan berdiri berdampingan tanpa diselesaikan. Ada ruang sunyi di antara kalimat-kalimat itu dan di situlah atmosfernya bekerja.
Yang menonjol adalah kedewasaan tema yang diangkat. Relasi yang dibangun tidak berpusat pada emosi personal semata, melainkan pada negosiasi kekuasaan, tradisi, dan kepentingan yang saling bertubrukan.
Penulis tidak menyederhanakan konflik menjadi hitam-putih; ia membiarkan unsur spiritual, ekonomi, dan keluarga saling mengunci dalam satu struktur yang terasa kaku sekaligus rapuh.
Cara penyajiannya tidak dramatis berlebihan, justru cenderung administratif dan justru di situlah terasa dinginnya.
Secara intelektual, buku ini memberi kesan bahwa cerita ini bergerak dengan fondasi yang jelas, ada sistem, ada aturan, dan ada konsekuensi yang tidak bisa dinegosiasikan secara emosional saja.
Secara emosional, yang tertinggal bukan simpati instan, melainkan rasa tidak nyaman yang halus sejenis kesadaran bahwa setiap karakter sedang berjalan di atas sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Ini bukan pembuka yang mencari perhatian dengan cara cepat. Ia lebih seperti perjanjian yang dibacakan perlahan, dengan implikasi yang baru terasa setelah selesai.
Bagi pembaca yang mencari kedalaman alih-alih kejutan instan, pendekatan seperti ini memberi alasan untuk melanjutkan, bukan karena ingin tahu apa yang terjadi, tetapi karena percaya bahwa setiap langkahnya akan diperhitungkan.
By Peniti Kecil

Wah ini bisa menarik dari bab pertama baca, apalagi setingnya di KEdiri kebetulan lumayan dekat. Memang di Jawa timur banyak sekali ladang tebu selain padi dan ini relate sekali .... ada nilai culture yang sangat kuat, tapi belum bisa meraba konflik yang diungkap author. Semangat.
BalasHapus