Bab 1
01 Januari 2050 – Istana Negara
Angin sore menyentuh kaca tebal jendela Istana Negara Garuda. Dari lantai tertinggi, Jakarta terlihat tenang. Terlalu tenang.
Lima tahun lalu, kota ini dipenuhi jeritan.
Lelaki itu berdiri dengan tangan di belakang punggung, menatap langit yang bersih tanpa noda. Sulit membayangkan bahwa dari hamparan biru tersebut, kiamat akan turun dalam bentuk hujan.
"Tuan Presiden?"
Suara berat itu memecah lamunannya.
Sang pemimpin tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya.
"Jenderal Suryo," ucapnya pelan.
Langkah sepatu militer itu berhenti dua meter di belakangnya. Tegap. Disiplin. Selalu seperti itu sejak pertama kali mereka bertemu lima tahun lalu, saat ia masih sekadar politisi dengan ambisi yang sulit ditebak.
"Anda memanggil saya, Tuan?"
Presiden akhirnya berbalik.
Wajah Jenderal Suryo keras, penuh garis pengalaman. Seorang prajurit sejati. Sosok yang percaya pada aturan, struktur, dan stabilitas.
Hari ini, sang kepala negara akan mengguncang semuanya.
"Tarik seluruh pasukan kita dari misi PBB," ucapnya datar. "Semua. Tanpa pengecualian. Pulangkan mereka secepatnya."
Untuk pertama kalinya, ekspresi Suryo retak.
"Maaf, Tuan Presiden?" Ia memastikan telinganya tidak salah dengar. "Penarikan sepihak akan melanggar beberapa perjanjian internasional. Reputasi kita bisa hancur."
"Akan hancur?" potong sang presiden.
Ruangan menjadi sunyi.
"Pak Suryo," lanjutnya lebih pelan, "Anda mengenal saya sejak lima tahun lalu. Apakah ini pertama kalinya Jenderal meragukan keputusan saya?"
Suryo terdiam.
Bukan karena takut, melainkan karena menimbang.
Prajurit itu tahu. Semua keputusan aneh Presiden selama ini, yang ditentang banyak pihak, justru membawa negara ke posisi paling stabil dalam satu dekade terakhir.
Akhirnya perwira itu mengembuskan napas panjang.
"Tidak, Tuan. Saya tidak meragukan Anda."
"Bagus."
Presiden melangkah mendekat.
"Kita tidak sedang bersiap untuk diplomasi. Kita sedang bersiap untuk sesuatu yang lebih besar dari itu."
Tatapan Suryo mencoba membaca sesuatu di matanya. Sang pemimpin tidak memberinya apa pun.
"Tarik mereka," ulangnya. "Dan siapkan Divisi Cadangan Strategis di sekitar pusat logistik nasional."
Sedetik hening.
"Panggil Kepala BIN dan Menteri Pertanian ke ruangan ini. Sekarang."
Jenderal Suryo memberi hormat dengan tegas.
"Siap, Tuan Presiden."
Lelaki berseragam itu berbalik dan melangkah keluar. Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Presiden kembali menatap jendela.
Langit masih biru. Masih polos. Masih terlihat seperti anugerah.
"Waktuku tidak banyak," gumamnya pelan.
Kurang dari tiga bulan lagi, hujan itu akan turun. Dan ketika tetesan pertama menyentuh tanah, dunia tidak akan pernah sama lagi.
Kali ini, ia harus menemukan penyebabnya dan memastikan negaranya tidak ikut mati bersama dunia.
Pintu terbuka kembali dua puluh menit kemudian.
Kali ini bukan sepatu militer yang terdengar, melainkan langkah terukur dan hati-hati.
Kepala Badan Intelijen Nasional, Agung Pranoto, hadir bersama Menteri Pertanian, Sinta Maharani.
Keduanya berhenti beberapa langkah di depan sang presiden.
"Bapak Presiden," ucap Agung lebih dulu. Suaranya tenang, namun matanya selalu waspada. Pria tersebut hidup dari membaca rahasia orang lain.
"Pak," Bu Sinta menyusul dengan nada formal. Perempuan itu terlihat bingung karena jarang dipanggil bersamaan dengan Kepala BIN.
Presiden tidak mempersilakan mereka duduk.
"Ada perubahan prioritas nasional," katanya langsung.
Keduanya saling melirik sekilas.
"Kepala BIN," lanjutnya, "mulai hari ini, saya ingin seluruh sumber daya intelijen difokuskan pada penelitian bioteknologi global."
Agung sedikit mengernyit. "Spesifiknya, Pak?"
"Virologi. Manipulasi genetik. Eksperimen atmosfer. Semua laboratorium besar di Amerika Utara, Eropa, Tiongkok, Rusia. Saya ingin laporan harian."
Ruangan menjadi lebih sunyi.
"Dengan segala hormat, Pak Presiden," Agung akhirnya berkata hati-hati, "pengawasan sebesar itu membutuhkan operasi di luar mandat normal. Risiko diplomatiknya sangat besar."
"Saya tidak menanyakan risikonya."
Kalimatnya datar tanpa emosi. Sang pemimpin menoleh pada Sinta.
"Kementerian Pertanian akan memulai program swasembada penuh. Hentikan ketergantungan impor gandum dan bahan pokok. Alihkan anggaran ke lumbung nasional dan distribusi daerah."
Sinta tampak terkejut. "Pak Presiden, kebijakan itu akan mengguncang pasar. Inflasi bisa melonjak. Mitra dagang kita tidak akan bisa membantu."
"Tidak akan bisa membantu kita," potongnya pelan.
Lelaki itu berjalan mendekati mereka.
"Mulai hari ini," ucapnya, "kita bersiap untuk skenario terburuk."
"Skenario apa, Pak?" tanya Agung.
Presiden menatapnya beberapa detik terlalu lama, hingga Agung sadar pertanyaannya tidak akan dijawab.
"Kalian tidak perlu tahu alasannya," katanya akhirnya. "Kalian hanya perlu tahu bahwa saya tidak pernah salah membaca ancaman."
Agung menegang. Sinta menelan ludah.
"Ada garis tipis antara kepemimpinan tegas dan tindakan di luar konstitusi, Pak," ujar Agung berani.
Presiden tersenyum tipis.
"Dan saya adalah konstitusi itu."
*****
Nama pena: SleepyFace
Genre: Political Thriller / Survival / Apocalypse
Platform: Fizzo
Editorial:
Menelusuri baris-baris awal karya SleepyFace di platform Fizzo ini terasa seperti menyaksikan sebuah badai yang sedang mengumpul di balik cakrawala yang tenang. Penulis tidak terburu-buru menghadirkan kehancuran fisik, melainkan membangun atmosfer melalui detail sensorik yang sunyi namun menekan. Angin sore yang menyentuh kaca tebal jendela Istana Negara dan hamparan langit biru yang polos menjadi kontras yang mencekam terhadap memori jeritan masa lalu. Keberhasilan penulis dalam menciptakan ruang yang terlalu tenang ini memberikan impresi bahwa stabilitas sebuah bangsa hanyalah lapisan tipis yang siap retak kapan saja di bawah kaki sang pemegang kekuasaan.
Ritme narasi bergerak dengan kepastian yang dingin, sejalan dengan karakter sang Presiden yang digambarkan sangat otoritatif. Dinamika hubungan antar karakter pun terbangun melalui bahasa tubuh yang sangat spesifik, mulai dari langkah sepatu militer Jenderal Suryo yang disiplin hingga cara Agung Pranoto menegang saat menyadari batas mandatnya sedang dilampaui. Ketegangan dalam naskah ini justru bernapas dalam senyap; ia hadir di antara jeda bicara dan tatapan mata yang terlalu lama, memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja dalam ruang ruang tertutup sebelum ia benar benar mengubah wajah dunia.
Dialog yang dihadirkan terasa sangat fungsional dan memiliki muatan emosional yang dewasa, terutama saat penulis mengeksplorasi garis tipis antara kepemimpinan tegas dan absolutisme. Kalimat kalimat pendek yang memotong argumen bawahannya bukan sekadar menunjukkan arogansi, melainkan sebuah urgensi dari seseorang yang merasa sedang berpacu dengan waktu. Ada kejujuran yang pahit dalam interaksi tersebut, di mana keputusan besar yang akan mengguncang pasar ekonomi dan hubungan internasional diambil bukan di atas meja perundingan, melainkan dari sebuah firasat intelektual yang dingin.
Sedikit catatan reflektif muncul pada bagian akhir, di mana pernyataan diri sebagai konstitusi terasa sangat provokatif dan mungkin sedikit terlalu tajam bagi sebuah prolog. Namun, hal ini justru memperkuat kedewasaan tema mengenai tanggung jawab dan isolasi dalam pengambilan keputusan darurat. Penulis nampak ingin menekankan bahwa dalam menghadapi skenario terburuk, moralitas sering kali menjadi barang mewah yang ditinggalkan di luar pintu ruang kerja kepresidenan. Gaya bercerita yang observasional ini sangat efektif membuat pembaca tidak hanya mengamati plot, tetapi juga ikut merasakan beban berat di pundak sang tokoh utama.
Secara keseluruhan, SleepyFace menunjukkan kematangan yang meyakinkan dalam meramu genre Political Thriller dengan bumbu survival yang subtil. Penulis memiliki kepekaan untuk menangkap sisi gelap dari sebuah visi tanpa harus menjadi bombastis. Keahliannya dalam menjaga keseimbangan antara ketegangan geopolitik dan intrik internal membuat naskah ini memiliki tekstur yang kaya dan intelektual. Sebuah pencapaian yang membuktikan bahwa kualitas fiksi di ranah apocalypse justru sering kali ditentukan oleh seberapa kuat fondasi drama manusianya diletakkan sebelum hujan yang mematikan itu benar benar turun.
By Caberawit

lanjut ke web 👍🏻
BalasHapus