GOYAHNYA HATI SANG PEWARIS - Fanie Liem

GOYAHNYA HATI SANG PEWARIS - Fanie Liem


0

GOYAHNYA HATI SANG PEWARIS


SINOPSIS

Shan Bao Yu, cucu kandung dari keluarga Shan, merasa dikhianati saat mengetahui warisan HGC- Perusahaan raksasa keluarga justru jatuh ke tangan Chen Liwey, anak angkat yang dipeliara oleh Kakek Hong Shan.

Demi merebut kembali hak warisan, Shan Bao Yu rela menggupas rambut panjangnya yang indah, mengenakan kacamata, menempelkan tahi lalat buatan, dan menyamar sebagai seorang pria bernama Fengying

Shan Bao Yu, masuk ke Longman Dormitory Fudan dishanghai, tempat Chen tinggal.

Awalnya tujuan Shan Bao Yu masuk asrama Fudan tersebut untuk mencari tahu kelemahan Chen Namun, semakin dekat ia dengan chen, semakin sulit baginya untuk membenci karena Chen begitu tulus membuat hati Shan Bao Yu bergetar.

Disisi lain, kehadiran Fengying yang tampan membuat hati para wanita meleleh termasuk Mei Lin,  seorang gadis cantik incaran Chen.

Mampukah Shan Bao Yu tetap menjalankan semua rencananya, atau justru tenggelam dalam cintanya pada Chen Liwey yang seharusnya jadi musuh?

-Longman Dormitory - Asrama Putra-

Shan Bao Yu, kini masih menatap dirinya disebuah cermin yang menjulang hampir setinggi dirinya dan cermin ini pun peninggalan sang Ibu, dimana ada letak kenangan indah saat sang Ibu, Zhang Shan menyisiri rambut panjangnya.

"Nak, ingat rambutmu ini adalah sebuah mahkota. Pelihara rambut ini sebaik mungkin, jangan pernah memotong pendek," pesan Zhang sambil tersenyum lebar.

Pantulan bayangan sang Ibu mulai memudar dan menghilang seketika.

Tak ada lagi sang Ibu yang selalu ada untuk dirinya, bahkan Bao Yu tak bisa lagi menggenakan gaun pesta yang melambai mengikuti gerak langkah kakinya.

Bao Yu yang hidup anggun sebagai wanita, kini harus menyesuaikan dirinya sebagai seorang pria, bahkan untuk menutupi semua penyamaran dia harus mengambil banyak kain tipis untuk melilitkan kain tersebut erat pada dadanya.

Setelah melilitkan kain putih dengan sangat erat, kini Bao Yu mengambil kotak kecil dimeja rias, di dalamnya tergeletak sebuah benda mungil berbentuk kalung hati giok berwarna perak yang memantulkan sinarnya.

Kalung tersebut bukan hanya sekedar kalung biasa, melainkan sebuah alat untuk mengubah getaran suara Bao Yu yang lembut menjadi seorang pria dengan nada dan intonasi yang berat.

"Mulai sekarang, aku Fengying akan mencari tahu kelemahan apapun dalam diri Chen yang bisa membuat Kakek Hong membuang dia dari keluarga Shan," ucap Bao Yu.

Keyakinan itu ditanamkan dihati dan pikirannya Bao Yu, bahwa dia bersumpah akan merebut hak warisnya demi mendiang sang Ibu dan demi mempertahankan seluruh kenangan indah dirumah besar ini.

Bao yu pun kini bersiap diri, ia mulai  bergegas untuk keluar dari rumah besar tersebut, dibantu sang Ayah. Wei Shan yang sudah mulai memberi kode kepada sang putri untuk mengambil langkah kearah pintu belakang.

"Jaga dirimu, Nak. Daddy pasti kangen sekali,"ucap Wei Shan sambil memeluk sang putri.

"Daddy juga harus jaga diri disini, jangan biarkan Kakek Hong mengubah kamarku atau mengosongkannya karena aku tak rela semua kenangan manis bersama Mommy hilang begitu saja," lirih Bao Yu.

"Kamu tenang saja selama rencana kita berhasil, Daddy yakin kalau Kakekmu itu akan mengubah surat warisannya. Dan yang pantas untuk menerima semua warisan termasuk rumah besar ini adalah dirimu bukan anak angkat itu," ucap Wei Shan.

"Tentu, aku percaya Daddy bisa mengatasi Kakek Hong selama aku menjalankan rencana kita," ucap Bao Yu.

******

Longman Dormitory, Asrama Fudan.

Setelah perpisahan menaruh luka itu, Kini Bao Yu sudah masuk kedalam sebuah asrama yang begitu mewah dan megah dengan bagungan modern.

Fengying berjalan gontai, ketika itu juga banyak wanita melirik tanpa berkedip kearahnya. Ternyata  mereka dari asrama putri yang kebetulan hendak memasuki gedung disebelah gedung asrama putra.

"Siapa pria itu, wajahnya begitu tampan dan menawan," bisik Mey Lin.

"Sepertinya dia anak baru." Hua Lin menjawab dengan dingin.

Sementara itu dalam perjalanan kearah ruangan kepala asrama, Bao yu sudah bertemu dengan Kepala Asrama.

"Selamat datang di Fudan, murid baru diasrama putra. Kami akan jelaskan peraturan diasrama ini," ucap Kepala asrama sambil berjalan beriringan.

Peraturan pertama diasrama putra begitu membuat Fengying tercekik. Saat tahu bahwa tak boleh membawa alat komunikasi apapun selama diasrama.

"Gawat sekali, ini diluar yang aku duga. bagaimana. caraku supaya  tetap berkomunikasi dengan Daddy." batin Bao Yu.

Selain peraturan itu, Bao Yu juga sempat tercengang saat tahu peraturan baru bahwa tak boleh pacaran.

"Pak, kenapa semua aturan ini tak masuk akal? kita sudah dewasa, bukan bocah lagi." gerutu Bao Yu.

"Peraturan dibuat untuk kebaikan bersama. Jadi kamu sebagai anak baru harus menyesuaikan diri," ucap Kepala Asrama bernama Liu.

"Baik."Bao Yu terpaksa untuk mengiyakan.

Ceklik.

"Ini kamarmu." Liu membuka daun pintu dengan lembut.

"Terima kasih."

Liu pun segera memperkenalkan sosok Fengying pada Chen yang saat ini sedang membaca buku.

"Chen, perkenalan dia Fengying yang akan jadi teman sekamarmu," ucap Liu.

"Terim kasih, tapi aku tak suka teman sekamar. Kan Pak Liu tau aku ini orangnya introvert," tolak Chen.

"Jangan seperti itu, di asrama ini hanya kamar ini yang tersisa untuk kamu bisa berbagi ranjang," ucap Liu.

"Tapi aku terbiasa sendiri!"

"Kalau begitu mulai hari ini kamu harus biasakan dirimu untuk tidak sendiri." Liu mendorong Fengying masuk dalam kamar.

"Ternyata Daddy diam-diam sudah melancarkan aksiku untuk dekat dengan Chen, sehingga aku dan dia bisa satu kamar," batin Bao Yu.

Chen memperhatikan gerak tubuh Fengying dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Badanmu kecil, mirip perempuan. Apakah tubuhmu ini tak pernah berlatih fisik?"tanya Chen.

"Aku memang jarang berlatih fisik, tapi walaupun kecil aku menguasai berbagai jurus kungfu," ucap Fengying.

"Sulit dipercaya, tapi ingat ya selama kau satu ruangan denganku. Kau tak boleh menyentuh barangku, termasuk laci belajar ini," ucap Chen sambil menatap tajam.

Fengying yang penasaran akan laci yang tak boleh disentuh pun memberanikan diri saat Chen pergi kekamar madi, diam-diam Fengying membuka laci kecil tersebut dan didalamnya terdapat sebuah figura dengan gambar seorang wanita cantik berambut panjang.

"Siapa gadis difoto ini ya, Apa mungkin Chen menyukai gadis ini diam-diam? Kalau memang dia menyukai gadis ini, mungkin ini akan jadi jalanku untuk dekat dengan Chen dan mencari tahu lebih lanjut lagi tentang dirinya," batin Bao Yu.

Chen yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi pun mulai meneriaki Fengying yang sudah berani membuka laci belajarnya.

"Hei, kan sudah kuperingatkan jangan pernah sentuh apapun dari laci belajarku!" geram Chen Liewei.

"Aku penasaran saja, jadi ini wanita cantik yang kau sukai?" tanya Fengying.

"Jangan ikut campur urusanku," ucap Chen.

"Kalau memang kamu menyukai gadis ini. Aku siap membantu kamu untuk mendapatkan gadis cantik ini," ucap Fengying.

"Tak perlu! kamu ini hanya murid pindahan baru. Jadi jangan sok akrab sama aku!" ketus Chen.

"Sial, kenapa Chen sulit sekali aku dekati? Tapi aku tak boleh menyerah begitu saja. Aku akan terus mendekatinya demi mencapai tujuanku," batin Bao Yu.

Fengying mengelus dada," ya ampun, galak sekali. Aku hanya ingin membantumu."

"Urus saja urusanmu!" Chen mengambil paksa figura itu ditangan Fengying dan membanting daun pintu tersebut.

Setelah Chen pergi dari kamar tersebut, Shan Bao Yu menggigit jarinya. Namun ia terus berpikir tentang figura tersebut.

"Aku harus cari tahu siapa gadis itu, tapi bagaimana ya caranya tau siapa gadis itu sedangkan aku saja tak boleh menggunakan ponsel, tapi untung saja tadi aku masih ingat wajahnya, aku harus buat sketsa wajah gadis itu sebelum aku lupa," batin Bao Yu.

Shan Bao Yu, segera membuka tas besarnya, lalu mengambil pena dan menggoreskan pena tersebut dalam sebuah kertas putih.

(To Be Continued)

*****

Nama pena: Fanie Liem

Genre: Romance

Platform: NovelToon

Editorial:

Buku ini memiliki kesadaran yang cukup kuat terhadap suara penulisnya sendiri. Ia tidak sekadar bercerita tentang penyamaran dan perebutan warisan, tetapi juga membangun jarak emosional yang membuat konflik terasa lebih personal daripada dramatis. Pilihan untuk membuka dengan memori tentang rambut sebagai “mahkota” memberi fondasi psikologis yang tenang namun tajam. Dari situ, perubahan identitas tidak terasa sebagai gimmick, melainkan sebagai pengorbanan yang memiliki bobot batin.

Ritme kalimat berjalan cukup stabil dengan kecenderungan langsung, namun masih menyisakan ruang bagi atmosfer untuk terbentuk. Adegan-adegan kecil seperti proses melilit kain, menatap cermin, hingga interaksi canggung di ruang asrama bekerja sebagai penahan tempo. Ketegangan hadir bukan dari peristiwa besar, tetapi dari hal-hal yang hampir terjadi atau sengaja ditahan. Ada rasa tidak nyaman yang konsisten, terutama saat identitas asli terus berusaha muncul di balik peran yang dipaksakan.

Tema kedewasaan muncul dari cara cerita memperlakukan ambisi dan kedekatan emosional. Tokoh utama tidak digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya yakin dengan langkahnya sendiri. Ada celah yang terus terbuka antara tujuan dan perasaan, dan celah itu tidak ditutup dengan cepat. Relasi dengan Chen juga tidak langsung dibingkai sebagai romantika, melainkan sebagai ruang yang berpotensi merusak rencana yang sudah dibangun dengan rapi. Ini memberi kesan bahwa cerita tidak sedang mengejar sensasi, tetapi mempertahankan konflik batin sebagai pusatnya.

Beberapa bagian masih terasa terlalu menjelaskan niat tokoh secara langsung, terutama dalam monolog batin yang cenderung mengulang informasi yang sudah bisa ditangkap dari tindakan. Jika lapisan ini diringankan, ketegangan yang sudah terbentuk justru akan terasa lebih dalam. Terlepas dari itu, naskah ini menyisakan kesan yang cukup meyakinkan sebagai karya yang memahami kontrol dan arah. Ia tidak berusaha memikat dengan cara cepat, melainkan menawarkan sesuatu yang lebih bertahan lama, yaitu konsistensi dalam membangun suasana dan karakter.

by Sweet Moon



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama