Bab 5 Pertarungan Antara Es Jeruk, Es Teh, dan Kopi Lemon
Kampus UMJ selalu riuh di pagi hari. Dari halte sampai tangga gedung fakultas, lautan mahasiswa dengan wajah penuh kantuk bercampur semangat memenuhi jalanan. Abimanyu melangkah pelan dengan jaket hitam yang sedikit terbuka. Tangan kirinya menggenggam erat segelas kopi lemon hangat dari kafe langganannya.
"Kak Abim!"
Suara melengking penuh energi itu menembus keramaian. Shiva, gadis dengan rambut kuncir dua, melambaikan tangan seolah sedang menyambut idola di sebuah konser. Beberapa mahasiswa menoleh penasaran. Abimanyu menghentikan langkah, menghela napas panjang sebelum menoleh.
"Shiva," sapanya datar.
Tanpa basa-basi, Shiva merapat ke samping Abimanyu dengan wajah berseri. "Kak, gue sudah bilang kan, kalau Kak Abi jalan sendirian itu tidak keren. Harus ada gue biar lebih estetik!"
Abimanyu tetap menatap lurus ke depan. "Estetik apanya? Kita mau masuk kelas, bukan pemotretan."
Shiva hanya nyengir sambil berjalan melompat-lompat kecil. Namun, keceriaan itu terhenti saat suara lain menyusul dari depan tangga gedung. Tenang, lembut, namun penuh tekanan.
"Shiva?"
Nayla berdiri di sana. Sahabat masa kecil Abimanyu itu menatap Shiva dengan ekspresi yang sanggup menurunkan suhu ruangan.
"Eh, Kak Nayla!" Shiva melambai kaku.
"Tumben ramai sekali pagi-pagi. Mengganggu Abimanyu lagi?" Nayla menyipitkan mata.
Shiva gelagapan. "Bukan mengganggu, Kak! Gue cuma menemani Kak Abi agar semangat kuliah."
Abimanyu memilih diam sambil menyesap kopi lemonnya. Ia bertanya-tanya dalam hati, mengapa setiap pagi dramanya selalu sama.
Kantin UMJ siang itu sesak. Aroma soto ayam mengepul di antara dentingan sendok. Baru saja Abimanyu duduk dengan nampan nasi gorengnya, kursi di depannya diseret kasar.
"Kak!" seru Shiva nyaring. Rambut kuncir duanya bergoyang. "Gue tadi sudah antre es teh manis spesial buat Kak Abi, tapi ternyata Kakak malah beli sendiri."
Abimanyu meletakkan sendoknya. "Shiv, gue sudah bilang jangan merepotkan diri sendiri."
Wajah Shiva seketika mengerucut. "Gue kan cuma mau perhatian. Masa salah?"
Sebelum Abimanyu merespons, Nayla muncul membawa dua gelas es jeruk. Ia meletakkan salah satunya di depan Abimanyu dengan senyum hangat. "Biar seimbang, Bim. Lemon, kopi, jeruk. Tubuhmu butuh vitamin juga."
"Terima kasih, Nay," sahut Abimanyu lembut.
Shiva menatap Nayla tak terima. "Kak, gue juga bisa membelikan minuman. Kenapa harus selalu Kak Nayla yang dapat ucapan terima kasih spesial?"
Nayla menghela napas sabar. "Shiva, dari dulu gue dan Abimanyu sudah biasa saling jaga. Jangan ribut soal hal kecil."
"Hal kecil?" Shiva mengetuk meja dengan jarinya. "Buat gue, Kak Abim itu hal besar!"
"Shiva." Suara Abimanyu meninggi, memberi peringatan.
Shiva mengerjap, suaranya melembut namun tetap teguh. "Iya, aku mengerti. Tapi jangan salahkan aku kalau aku tidak gampang menyerah."
Nayla hanya tersenyum tipis. "Tidak ada yang menyuruhmu menyerah, Shiv. Cuma, ada caranya masing-masing."
Ketegangan itu teralihkan saat Keira, barista kafe langganan Abimanyu, masuk ke kantin. Keira berjalan tenang dengan rambut tergerai, tidak memedulikan lirikan mahasiswa pria di sekitarnya.
"Kak! Itu kan Mbak Barista! Kok bisa di sini?" bisik Shiva heboh.
"Dia juga mahasiswa di sini, semester tua yang jarang muncul karena sibuk kerja," jelas Nayla.
Saat tatapan mereka bertemu, Keira menatap Abimanyu lurus. Dingin, namun sudut bibirnya terangkat tipis sebelum ia memalingkan wajah. Jantung Abimanyu berdegup lebih kencang.
"Eh, Kak! Aku lihat itu. Mbak itu senyum ke Kakak, kan?" seru Shiva hampir berteriak.
Nayla mendesah. "Shiva, jangan berlebihan. Senyum saja belum tentu bermakna apa-apa."
"Tapi jelas ada getarannya! Gue perempuan, gue tahu, Kak."
Abimanyu menunduk, menghabiskan es jeruknya dalam sekali teguk. "Makan dulu. Gue lapar," potongnya ingin menghindar. Namun, hatinya berkecamuk. Nayla dengan perhatiannya, Shiva yang posesif, dan kini Keira yang misterius.
Shiva masih memelototi Keira yang duduk tenang di pojok kantin sambil memasang earphone. "Lihat kan? Dia sok keren sekali, padahal jelas tadi menggoda Kak Abi."
"Shiva, jangan buat drama. Orang seperti Keira jelas berbeda kelas. Dia tidak akan tertarik pada Abim," ujar Nayla tenang namun tajam.
"Oh, jadi maksudnya Kak Abim levelnya cuma sama Kakak? Percaya diri sekali, Kak?" tantang Shiva.
"Shiva. Sudah," tegur Abimanyu dingin.
"Tidak, Kak! Gue tidak mau diam saja kalau ada yang mencoba mengambil Kak Abim!"
Suasana meja mendadak senyap. Mahasiswa sekitar mulai memasang telinga. Nayla tersenyum kaku. "Shiva, Abim itu manusia, bukan barang rebutan. Dia memilih berdasarkan hati, bukan siapa yang paling berisik."
Bibir Shiva bergetar, matanya berkaca-kaca. "Gue tidak peduli! Gue akan tetap dekat dengan Kak Abim!"
Shiva berdiri hingga kursinya tergeser keras. "Kak! Gue serius dengan perasaan gue!"
Nayla ikut bangkit. "Kalau serius, buktikan dengan cara dewasa. Bukan berteriak di depan umum."
Abimanyu spontan berdiri dan menahan tangan Shiva. "Cukup. Jangan membuat keributan di sini."
Shiva menatap Abimanyu dengan mata basah. "Kak, kenapa sih tidak pernah melihat gue?" Suaranya melambat, penuh luka.
Tepat saat itu, Keira berdiri dan berjalan melewati mereka. Tanpa berhenti, ia bergumam lirih namun tajam. "Ribut karena cinta ujungnya cuma menyakiti diri sendiri."
Kalimat dingin itu membuat ketiganya membeku. Keira melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Keheningan yang menyiksa menyelimuti meja tersebut. Shiva tiba-tiba menarik tangannya dari genggaman Abimanyu dan berlari keluar sambil menangis.
"Shiva!" panggil Abimanyu panik.
Nayla menahan bahu Abimanyu. "Biar gue yang mengejarnya. Lo hanya akan membuatnya lebih sakit kalau ikut sekarang. Percayalah pada gue."
Nayla segera menyusul, meninggalkan Abimanyu yang terpaku sendirian. Di tengah kemelut itu, sebuah suara berwibawa memecah udara.
"Kalau kamu tidak bisa mengendalikan mereka, cepat atau lambat kamu yang akan hancur duluan."
Dr. Nadiffa berdiri di pintu kantin dengan tatapan tajam. Atmosfer sekitar mendadak berubah berat. Ia melangkah perlahan menuju Abimanyu. "Ingat, Abimanyu. Hati perempuan itu rapuh, tapi juga berbahaya. Jangan main-main."
Tatapan mereka terkunci. Abimanyu sadar, benang yang menjeratnya semakin kencang. Shiva yang terluka, Nayla yang penuh harap, Keira yang membekas, dan kini kehadiran Nadiffa. Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.
*****
Nama pena: Shohib Abdillah
Genre: Romansa, Teenlit, Harem, 16+
Platform: Fizzo
Editorial:
Membaca novel ini seperti sedang menyesap secangkir kopi lemon, ada pahit yang menetap, namun ada asam yang memicu kesadaran. Shohib Abdillah tidak sedang menawarkan drama remaja yang meledak-ledak tanpa isi. Sebaliknya, penulis menggunakan metafora minuman es jeruk, es teh, dan kopi lemon, bukan sekadar sebagai properti meja kantin, melainkan sebagai simbol karakterisasi yang tajam. Di sini, cinta tidak dipandang sebagai pelangi yang indah, melainkan sebuah kompetisi teritorial yang sunyi sekaligus menyesakkan.
Kekuatan utama dalam fragmen ini terletak pada ritme kalimatnya yang terjaga. Penulis mampu mengelola transisi antara keriuhan eksternal kampus dengan kesunyian internal seorang Abimanyu. Ada semacam gravitasi emosional yang diletakkan pada gestur-gestur kecil, cara sebuah kursi diseret, tatapan mata yang dingin dari kejauhan, hingga suhu minuman yang berbeda-beda.
Ketegangan yang dibangun bukan berasal dari teriakan, melainkan dari apa yang sengaja ditahan di balik katup bibir para tokohnya.
Novel ini menyentuh ranah kedewasaan melalui cara penyajian konflik yang tidak hitam-putih. Shohib Abdillah menunjukkan bahwa dalam hubungan antarmanusia, ada batasan tipis antara perhatian dan obsesi, serta antara melindungi dan mengendalikan. Karakter Nayla dan Shiva mewakili dua spektrum emosi yang berbeda, namun keduanya sama-sama terjebak dalam delusi kepemilikan.
Penulis dengan cerdas membiarkan pembaca merasakan sesak yang dialami Abimanyu tanpa perlu mengeksploitasi kata-kata sedih secara berlebihan.
Salah satu daya tarik yang cukup intelek adalah kehadiran tokoh Keira dan Dr. Nadiffa. Mereka tidak datang sebagai pelengkap, melainkan sebagai penyeimbang yang membawa perspektif lebih dingin dan realistis. Keira, dengan dialognya yang singkat namun tajam, seolah-olah menjadi suara logika yang membedah kebodohan drama cinta di depannya. Ini memberikan kesan bahwa buku ini bukan sekadar tentang siapa mendapatkan siapa, melainkan tentang bagaimana manusia kehilangan dirinya sendiri dalam proses mengejar orang lain.
Secara teknis, terdapat beberapa letupan narasi yang mungkin terasa sedikit terburu-buru dalam mendefinisikan emosi tokoh, namun hal itu justru memberikan kesan "mentah" yang jujur. Keunggulan narasi ini adalah kemampuannya mempertahankan atmosfer yang tetap elegan meski sedang berada di lingkungan kampus yang bising. Penulis tidak memanjakan pembaca dengan penyelesaian yang mudah, melainkan meninggalkan tanda tanya tentang harga yang harus dibayar demi sebuah perasaan.
Eksplorasi tema "harem" di sini disajikan dengan pendekatan yang lebih berkelas dan penuh perhitungan. Alih-alih menampilkan pahlawan pria yang menikmati perhatian banyak wanita, kita justru melihat seorang pria yang perlahan-lahan tercekik oleh ekspektasi dan benang-benang tak kasat mata di sekelilingnya. Shohib Abdillah berhasil membuat pembaca tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga ikut merenung tentang kerapuhan hati dan bahaya yang mengintai di balik senyuman yang tampak tulus.
Buku ini adalah undangan bagi mereka yang mencari narasi romansa dengan kedalaman psikologis yang tenang namun menghunjam. Tanpa perlu mengumbar sensualitas yang dangkal, penulis mampu menciptakan tarikan magnetis melalui intrik karakter dan dialog yang sarat akan tekanan mental. Sebuah karya yang menuntut pembaca untuk tetap waspada, karena di balik setiap tegukan minuman manis, selalu ada sisa rasa pahit yang tertinggal di kerongkongan.
Shohib Abdillah adalah seorang narator yang piawai dalam membedah kompleksitas hubungan manusia melalui tulisan yang subtil namun bertenaga. Melalui karyanya "KOPI LEMON CINTA ABIMANYU" di platform Fizzo, ia membuktikan diri sebagai penulis yang mampu mengangkat genre romansa remaja menjadi sebuah studi karakter yang lebih dewasa, intelektual, dan penuh dengan kejutan emosional yang tak terduga.
by Nada Maya

Wihhh ulasannya keren kak Maya.. Aku ga ngira lho komentatornya lihai banget.. Makasih kakk..
BalasHapus