1. Bayi di Tengah Jalan
Cahaya matahari senja meluncur miring di antara pepohonan hutan Lawean ketika roda kereta kuda milik Bawana berderit perlahan di jalan tanah yang lembap. Hari itu ia pulang terlalu sore, lebih lambat daripada biasanya, karena urusan dagang di pasar kota menghabiskan hampir seluruh waktunya. Ia tidak punya pilihan selain mengambil jalan pintas melewati jantung hutan yang terkenal dengan suasananya yang berubah-ubah. Kadang ceria, kadang seperti mati, dan sore itu hutan terasa seperti sedang menahan napas.
Bawana duduk tenang di dalam kereta, memandangi jalur sempit di depan yang mulai dilahap bayang-bayang panjang pepohonan melalui jendela depan kereta supaya mudah juga mengobrol dengan kusirnya. Di depan kereta, kusirnya yang sudah lama bekerja padanya, Parto, menggenggam kendali kuda dengan kedua tangan kaku. Kuda Suranggana tampak gelisah sejak tadi. Hidungnya mengembang cepat, ekornya bergetar-gergetar ringan, dan langkahnya tidak stabil seperti biasanya.
Bawana mendengus pelan sambil menepuk pahanya. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil sejak memasuki area hutan tengah. Keheningan terlalu rapat, bahkan dedaunan yang biasa berbisik pun seakan enggan bergerak. Tidak ada cicit burung, tidak ada suara serangga, tidak ada desir angin. Seolah seluruh hutan sedang menatap mereka.
"Parto, kenapa Suranggana terus terusan meringkik dan terlihat begitu tegang," tanya Bawana dengan dahi mengernyit.
"Saya tidak tahu juragan, tapi saya juga merasakan kejanggalan. Hutan ini terasa sangat sunyi dan hening. Bahkan angin pun tidak bergerak," jawab Parto sambil mengelus leher kuda yang tetap saja menunjukkan keresahan.
Bawana memperhatikan jalan beberapa tombak di depan ketika Suranggana tiba-tiba berhenti mendadak. Badannya menegang, telinganya tegak, kepalanya maju sedikit seperti menangkap sesuatu yang tidak terlihat. Parto mengusap pelan tali kekangnya.
"Suranggana, ayo lanjut," katanya.
Namun kuda itu tidak bergeming.
Bawana memiringkan badan ke depan, mencoba mengintip antara batang-batang pohon. Sinar matahari yang turun semakin redup memanjang membentuk garis-garis cahaya yang membelah kabut tipis. Setidaknya dua puluh tombak dari mereka, terlihat kabut tebal menggulung pelan di tengah jalan tanah. Kabut itu tampak muncul begitu saja, seperti tidak berasal dari udara sekitar. Aneh, karena udara hutan tidak sedang lembap ataupun dingin.
"Kabut apa itu," gumam Bawana setengah berbisik.
Parto tidak menjawab. Keringat dingin terlihat di pelipisnya.
Bawana berusaha tetap tenang meski dadanya mulai mengencang. Ia menarik napas panjang lalu mengangguk pada Parto agar kembali menggiring Suranggana maju sedikit. Parto menarik tali kekang dengan hati-hati dan kuda itu, meskipun masih gugup, mulai melangkah perlahan.
Semakin dekat mereka dengan kabut itu, semakin jelas keanehannya. Kabut itu tidak bergerak liar seperti kabut biasa. Ia berputar pelan dan konstan seperti pusaran lembut, seolah menjaga sesuatu di dalamnya.
Bawana merasakan bulu kuduknya berdiri. Namun ia tidak ingin menunjukkan ketakutan. Ia memalingkan wajah ke Parto.
"Berhenti di sini dulu."
Parto menarik tali kekang dan Suranggana berhenti.
Bawana turun dari kereta. Langkahnya pelan namun mantap. Sepasang sandal kayunya menekan tanah hutan yang lembut. Ia memicingkan mata, mencoba menembus kabut itu. Tidak ada suara selain napas kuda dan gesekan ranting kecil di bawah telapak kakinya.
Bawana mengangkat tangan, memberi isyarat agar Parto tetap di tempat.
Ia mendekat tiga langkah. Lalu empat. Lalu lima. Ketika jaraknya tinggal lima tombak dari kabut itu, ia merasakan hawa dingin menyusup ringan ke kulitnya namun tidak menusuk. Hanya sebatas sentuhan lembut seperti embun tipis. Ia berhenti dan menunggu. Tidak ada gerakan mencurigakan.
Kemudian, dari celah kabut, ia melihat sesuatu di tanah.
Sesuatu kecil.
Sesuatu yang tidak semestinya berada di tengah hutan.
Bawana merasakan dadanya melonjak.
'Apakah itu…'
Ia melangkah lagi pelan, dan kabut itu seperti menyingkir perlahan membuka jalur. Tidak ada suara. Tidak ada getaran. Hanya jalan terbuka seolah mempersilakannya masuk.
Di tengah kabut itu, tergeletak seorang bayi. Tubuh mungilnya berada di atas semacam kain putih yang bersinar samar. Anehnya, kain itu tidak menyentuh tanah. Seolah mengapung setipis bayangan.
Bawana terpaku.
'Bayi? Di tengah hutan? Pada jam seperti ini? Dari mana datangnya?'
Ia menegang beberapa detik, memastikan tidak ada siapa pun di sekitar.
"Parto," panggilnya.
"Ya, juragan."
"Ada bayi di sini."
Parto terkejut. "Bayi? Di tengah hutan begini?"
"Iya. Kau kemari."
Parto perlahan turun dari kereta dan mendekat dengan langkah waspada. Ketika ia sampai di sisi Bawana, matanya melebar. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Astaga… benar bayi," ucapnya. "Kenapa ada bayi di tempat seperti ini."
"Aku tidak tahu," jawab Bawana. "Tapi kita tidak bisa membiarkannya di sini."
Mereka berdua mendekat. Kabut itu kembali membuka jalur seolah mengizinkan mereka lewat. Bawana berlutut di samping bayi itu. Bayi tersebut sedang tidur dengan tenang. Nafasnya lembut. Wajahnya bersih, kulitnya halus, dan rambut tipisnya keemasan seperti disinari cahaya senja.
'Siapa pun yang meninggalkanmu, tidak mungkin manusia sembarangan,' pikir Bawana.
Ia memeriksa tubuh bayi itu. Tidak ada luka. Tidak ada tanda menyentuh tanah. Bahkan kainnya tidak kotor. Bawana kemudian mengulurkan kedua tangan.
"Aku akan mengangkatnya."
"Juragan yakin?" tanya Parto.
"Apa ada pilihan lain? Kita tidak bisa meninggalkannya."
Parto mengangguk.
Bawana menyentuh kain putih itu. Ketika jarinya menyentuhnya, kain itu tidak lembut seperti kapas, tetapi juga tidak kasar. Rasanya seperti menyentuh air yang padat. Kain itu tidak berat. Bahkan sangat ringan seperti uap yang bisa digenggam.
Namun ketika Bawana mengangkat bayi itu, kain tersebut perlahan memudar lalu menghilang. Tidak ada sisa serpihan. Tidak ada bekas. Bayi itu kini berada di gendongannya tanpa penyelimutan apa pun.
Parto menelan ludah.
"Juragan… kain itu… baru saja hilang."
"Aku melihatnya."
"Ini semakin aneh."
"Aneh atau tidak, bayi tetaplah bayi. Kita membawanya pulang."
Parto mengangguk sambil melirik kanan kiri, memastikan tidak ada sesuatu yang muncul dari kabut. Namun kabut itu perlahan menipis, lalu menghilang sama seperti munculnya: tiba-tiba dan tanpa suara.
Suranggana meringkik pelan, tapi bukan seperti ketakutan. Lebih seperti lega karena sesuatu sudah pergi.
Bawana memeluk bayi itu lebih erat lalu berjalan kembali menuju kereta kuda. Parto mengikuti dari belakang. Ketika mereka naik, Suranggana langsung mengangkat kepala seolah ingin memastikan mereka aman.
"Bawalah kita pulang, Parto. Perlahan saja."
"Baik, juragan."
Kereta kuda bergerak kembali. Suasana hutan masih hening, tetapi tidak menekan seperti sebelumnya. Perlahan suara serangga mulai kembali. Angin tipis bergerak menggoyangkan dedaunan.
Bawana memandang bayi itu. Anak tersebut tampak tenang. Sesekali ia menggerakkan tangan kecilnya. Saat itulah Bawana merasakan sesuatu yang lebih aneh.
Bayi itu tersenyum dalam tidurnya.
Senyum yang hangat.
Namun bukan senyum biasa. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan, seolah bayi itu mengenal dunia lebih dulu daripada manusia.
'Siapa kau, nak,' gumam Bawana dalam hati. 'Dan kenapa aku yang menemukannya.'
Kereta kuda terus melaju melewati hutan yang kembali hidup. Matahari senja semakin turun. Bayi itu tetap tertidur dengan damai, seakan tidak terusik oleh perjalanan panjang.
Bawana menyandarkan punggung, memperhatikan wajah mungil itu. Semakin ia menatapnya, semakin kuat perasaan aneh dalam dadanya. Seolah bayi itu membawa sesuatu yang besar. Sesuatu yang tidak diketahui manusia.
Ketika kereta memasuki area hutan luar, angin berembus sedikit lebih kencang.
Bayi itu membuka mata.
Mata berwarna hitam pekat, dalam, dan memantulkan cahaya senja. Tidak ada tangisan. Tidak ada ketakutan. Hanya tatapan tenang yang membuat Bawana menegang beberapa detik.
Parto menoleh. "Juragan, dia bangun?"
"Ya."
Bayi itu menatap Bawana beberapa saat, lalu mengangkat tangan kecilnya ke udara.
Dan tepat ketika ia mengangkat tangan itu, angin berhenti.
Benar-benar berhenti.
Suara serangga lenyap. Pepohonan membeku sesaat. Bahkan roda kereta yang bergerak pun terasa seperti meluncur tanpa suara.
Kemudian, perlahan, bayi itu menurunkan tangannya dan memejamkan mata kembali.
Angin kembali bergerak.
Dedaunan kembali bergemerisik.
Suara alam kembali hidup.
Suranggana mengembuskan napas panjang, seolah melepaskan ketegangan yang baru disadarinya.
Parto menelan ludah. "Juragan… tadi…"
"Tidak usah dibicarakan sekarang. Kita pulang dulu."
Parto mengangguk cepat.
Kereta kuda keluar dari hutan dengan sisa cahaya senja yang redup. Desa Lawean sudah tidak jauh lagi.
Namun Bawana tidak tahu. Tidak seorang pun tahu.
Bahwa bayi yang kini tertidur dalam gendongannya akan mengubah nasib manusia, dewa, dan makhluk-makhluk yang bahkan belum dikenali.
Kereta kuda melintasi jalan terakhir menuju desa, ketika dari balik langit senja, seberkas cahaya tipis keemasan melesat cepat lalu menghilang.
Dan bayi itu kembali tersenyum, senyum yang membuka tirai nasib, senyum yang belum disadari siapa pun, senyum yang akan menjadi awal dari segalanya.
Nama Pena : Ershita
Genre : Fantasi
Platform : Maxnovel
Editorial:
Cerita dari buku Margopati memperlihatkan sejak kalimat awal bahwa Ershita menulis dengan kepercayaan penuh pada daya tahan sunyi. Suaranya tidak berusaha memikat lewat sensasi atau ledakan peristiwa, melainkan melalui pengendalian sudut pandang yang sangat sadar.
Apa yang dibiarkan tetap samar justru menjadi pusat gravitasi narasi. Bahasa bergerak dalam register yang bersih, hampir bersahaja, tetapi terasa terukur—seolah setiap kata dipilih bukan untuk memperindah, melainkan untuk menjaga jarak emosional yang tepat antara pembaca dan sesuatu yang sedang diam-diam mengintai di balik adegan.
Ritme kalimatnya berjalan perlahan, namun tidak pernah tumpul. Ada denyut halus yang muncul dari repetisi keheningan, dari deskripsi yang berhenti satu langkah sebelum menjadi eksposisi. Atmosfer tidak dibangun dengan metafora berlebihan, melainkan melalui pengaturan napas adegan: jeda, tatapan, gerak kecil, dan perubahan suasana yang hampir tak terdengar. Di situlah ketegangan sebenarnya bekerja—bukan pada apa yang terjadi, melainkan pada sensasi bahwa ada sesuatu yang terus ditahan oleh teks, sesuatu yang sengaja tidak diberi nama.
Cerita ini terasa matang bukan skala peristiwanya, melainkan cara narasi memperlakukan ketidaktahuan sebagai ruang etik. Tidak ada dorongan untuk segera menjelaskan, tidak ada kebutuhan untuk memamerkan dunia atau aturan-aturannya. Sikap ini memberi kesan kedewasaan tematik: dunia tidak diposisikan sebagai teka-teki yang harus segera dipecahkan, melainkan sebagai realitas yang boleh tetap ambigu—dan justru karena itu, terasa lebih berbahaya, lebih hidup, dan lebih menghormati kecerdasan pembaca.
Kesan intelektual yang tertinggal bukan berasal dari kerumitan konsep, melainkan dari disiplin estetik: keberanian untuk menunda kepuasan naratif, dan kepercayaan bahwa pembaca dewasa mampu tinggal lebih lama di wilayah rasa tidak pasti. Secara emosional, kisah ini tidak menekan, tidak memohon simpati, dan tidak mengarahkan reaksi. Ia hanya membuka sebuah celah tipis—cukup untuk membuat pembaca yang jenuh pada formula cepat sadar bahwa novel ini bergerak dengan logika lain, lebih tenang, lebih sabar, dan jauh lebih berbahaya dalam cara ia mengikat perhatian.
By Nita Natalia

Ceritanya seru thor. Bawana dapat bayo sakti ya...Semangat terus buat berkarya...
BalasHapusKeren...ceritanya seru...lanjut kak
BalasHapusMenarik, jarang sekali ketemu cerita kayak gini dan pembukaan cerita yang bagus. Aku masukin dalam liat bacaan.
BalasHapusFeelnya lumayan dapat, suasananya juga berasa, dan bayinya sakti.. Keren abis. Lanjutkan thor
BalasHapus