PEREMPUAN YANG KAMU TINGGALKAN DI ALTAR
Bab 4 Jawaban yang Menyakitkan
"Maaf?" Alessa mengulang kata itu dengan nada yang nyaris tidak bisa dikenali sebagai suaranya sendiri. "Kamu bilang maaf?"
Xavier tidak bergerak dari ambang pintu. Tatapannya lurus, tidak menghindar, namun juga tidak menyimpan kehangatan apa pun.
Alessa tertawa kecil. Tawa yang salah, tawa yang lahir bukan dari sesuatu yang lucu, melainkan dari sesuatu yang terlalu menyakitkan untuk ditangisi secara wajar.
"Satu kata itu yang kamu siapkan untukku?" lanjutnya, suaranya mulai bergetar. "Setelah semua orang menunggu. Setelah keluargaku duduk di sana dan dipermalukan di depan ratusan tamu?"
"Alessa…."
"Jawab pertanyaanku, Xavier." Ia memotong, kali ini lebih keras. "Kenapa?"
Xavier menghela napas panjang. Ia mundur selangkah, membuka pintu lebih lebar, lalu menatap Alessa dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Masuklah," ucapnya sekali lagi. "Ini bukan percakapan yang bisa dilakukan di depan pintu."
Alessa menatapnya sebentar. Setiap bagian dari dirinya ingin menolak, ingin berdiri di sana dan memaksanya berbicara di tempat ini, di bawah cahaya lampu luar yang dingin. Namun kakinya melangkah masuk, hampir seolah bergerak di luar kehendaknya sendiri.
Gaun pengantinnya menyeret lantai marmer putih rumah itu. Rumah yang mewah, sunyi, dan terasa asing.
"Duduk," kata Xavier.
"Aku lebih suka berdiri."
Ruang tamu itu luas dan rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang baru saja membatalkan pernikahannya sendiri. Tidak ada tanda-tanda kekacauan, tidak ada gelas yang terjatuh, tidak ada bekas seseorang yang bergulat dengan keputusan besar. Semuanya tertata, seolah hari ini hanyalah hari biasa bagi Xavier Devano Cakrawala.
Dan justru itu yang membuat dada Alessa semakin sesak.
"Aku tidak mencintaimu."
Kalimat itu meluncur tanpa basa-basi. Tanpa pembukaan, tanpa jeda untuk mempersiapkan.
Alessa menatapnya. "Apa?"
"Aku tidak mencintaimu," ulang Xavier, dengan nada yang sama. Datar. Bersih. Tanpa getaran. "Itu alasannya. Satu-satunya alasan."
Alessa mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan sebentar, seolah mencari sesuatu untuk berpegangan. Lalu ia kembali menatap Xavier.
"Kamu pikir aku tidak tahu itu?" suaranya lebih rendah sekarang. "Kamu pikir aku menikahimu karena aku yakin kamu sudah mencintaiku?"
Xavier tidak menjawab.
"Aku tahu, Xavier." Ia melangkah satu langkah lebih dekat. "Aku tahu perasaanmu tidak sama. Tapi aku pikir kita bisa membangunnya. Aku pikir setidaknya kamu mau untuk mencoba."
"Itulah masalahnya." Xavier akhirnya bergerak, berjalan ke arah jendela, membelakanginya. "Aku tidak mau mencoba sesuatu yang aku tahu tidak akan berhasil."
Punggung Xavier yang tegak menghadap Alessa terasa seperti tembok. Tidak ada celah, tidak ada pintu.
Ia berdiri di sana, pria yang pernah membuat Alessa percaya pada kebaikan yang tulus. Pria yang berhenti di pinggir jalan hanya untuk memastikan seorang perempuan asing tidak terjebak sendirian dan kini pria yang sama berdiri di depannya seperti orang yang tidak pernah mengenalnya.
"Kenapa kamu setuju di awal?" tanya Alessa akhirnya. Suaranya lebih tenang, namun di balik ketenangan itu tersimpan sesuatu yang rapuh. "Kalau dari awal kamu tidak mau, kenapa kamu tidak menolak?"
Xavier berbalik. Ada sesuatu yang bergerak di matanya, sekilas sangat cepat sebelum kembali hilang.
"Karena aku pikir aku bisa."
"Kamu pikir kamu bisa?" Alessa mengulang kata-kata itu perlahan, seolah mencicipi setiap suku katanya. "Aku bukan proyek, Xavier. Aku bukan sesuatu yang bisa kamu coba lalu kamu kembalikan kalau tidak cocok."
"Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tapi itu yang kamu lakukan." Suaranya mulai retak lagi. "Kamu biarkan semua ini berjalan. Kamu hadir di setiap pertemuan keluarga. Kamu tanda tangani semua dokumen. Kamu biarkan aku…." ia berhenti, menelan sesuatu yang terasa berat di tenggorokannya. "Kamu biarkan aku berharap."
Xavier diam.
"Dan hari ini, di hari yang seharusnya menjadi hari terpenting dalam hidupku, kamu memilih untuk tidak datang. Bahkan tanpa pesan. Dan juga tanpa satu kata pun."
Keheningan di antara mereka terasa seperti benda padat yang memenuhi ruangan.
Xavier mengusap wajahnya dengan satu tangan, sebuah gerakan yang untuk pertama kalinya malam ini memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang berat yang ia tanggung juga. Namun beban itu tidak terlihat seperti penyesalan. Lebih terlihat seperti kelelahan.
"Ada seseorang," ucapnya akhirnya. Pelan.
Alessa membeku.
"Bukan berarti aku masih bersamanya," lanjut Xavier cepat, seolah menyadari betapa buruk kalimat itu terdengar. "Tapi ada seseorang yang pernah ada. Dan aku belum…." ia berhenti sejenak, "aku belum benar-benar bisa melupakannya."
"Kamu masih mencintai orang lain." Bukan pertanyaan, tapi pernyataan.
Xavier tidak membantah.
Alessa mengangguk pelan, sangat pelan, seperti seseorang yang baru saja menerima vonis yang sudah ia duga namun tetap tidak siap untuk didengar.
"Lalu kenapa kamu tidak bilang dari awal?" bisiknya.
"Karena aku berharap itu akan berubah."
"Tapi tidak berubah."
"Tidak."
Satu kata itu, diucapkan dengan kejujuran yang telanjang, terasa lebih kejam dari amarah mana pun yang bisa Xavier lemparkan padanya.
Alessa menarik napas dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga terasa perih. Sebuah rasa sakit kecil yang ia butuhkan agar tidak sepenuhnya tenggelam.
"Aku mohon padamu," ucapnya akhirnya. Suaranya berbeda sekarang. Lebih lembut, lebih telanjang. Terlalu telanjang. "Aku tidak memintamu untuk langsung mencintaiku. Aku hanya meminta kesempatan. Datanglah. Jalani ini bersamaku. Kita bisa…."
"Alessa." Suara Xavier memotong, bukan keras, tapi tegas. "Jangan."
"Jangan apa?" ia menatapnya dengan mata yang kini penuh. "Jangan memohon? Jangan berharap? Jangan mencintai seseorang yang tidak mau dicintai?"
Xavier menatapnya, dan untuk pertama kalinya malam ini ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti rasa sakit.
Namun itu tidak mengubah apa pun.
"Cinta tidak bisa dipaksa," ucapnya pelan. "Bukan pada kamu. Bukan pada siapa pun. Dan kamu terlalu berharga untuk mendapatkan seseorang yang tidak bisa mencintaimu."
Alessa menghela napas gemetar. "Jadi kamu menolakku demi kebaikanku?"
Xavier tidak menjawab. Tawa pahit itu muncul lagi dari bibir Alessa, kali ini lebih sunyi. Ia menatap Xavier untuk waktu yang terasa sangat lama, menatap pria yang membuat jantungnya berdegup kencang pertama kali di pinggir jalan yang panas, pria yang tangannya dengan tenang dan tanpa pamrih mengangkat ban mobil yang bocor, pria yang senyumnya singkat namun entah mengapa tertanam begitu dalam.
Ia menatap semua itu. Dan kemudian ia melepaskannya.
"Baik," ucapnya akhirnya. Satu kata. Ringan di permukaan, namun di dalamnya menyimpan kehancuran yang tidak akan selesai dalam satu malam.
"Alessa…."
"Aku sudah mendapatkan jawabanku." Ia berbalik, gaun putihnya berputar mengikuti gerakan tubuhnya. "Selamat tinggal, Xavier."
Ia melangkah keluar dari rumah itu tanpa menoleh. Pintu tertutup di belakangnya, dan pagi menyambutnya dengan udaranya yang dingin. Di luar, langit kelabu dan mendung, seolah bahkan matahari pun enggan menyaksikan hari ini.
Dan Alessandra Kayla Wiranata berdiri sendirian di bawahnya masih mengenakan gaun pengantin yang seharusnya menjadi awal dari sebuah kehidupan baru, namun kini hanya terasa seperti sisa dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
Air matanya jatuh. Kali ini tanpa suara. Tanpa harapan. Hanya luka yang pagi ini baru saja resmi menjadi miliknya.
*****
Nama pena: MomOf3Angel
Genre: Ketertarikan berlawanan, Kesempatan kedua, Perjodohan
Platform: Innovel
Editorial:
Bab ini berdiri pada kekuatan suara yang tenang namun tidak memberi ruang untuk menghindar. Penulis tidak mengejar dramatisasi berlebihan, justru memilih nada yang ditahan, sehingga setiap kalimat terasa seperti sesuatu yang sengaja tidak diucapkan sepenuhnya. Dialog menjadi alat utama, dan di tangan penulis, percakapan tidak sekadar bertukar kata, tetapi membuka jarak emosional yang semakin jelas di antara dua tokohnya. Ada kepercayaan diri dalam cara penulis membiarkan keheningan bekerja.
Ritme kalimatnya rapi dan terukur. Tidak terburu-buru, tidak pula bertele-tele. Ada jeda yang terasa hidup di antara dialog, memberi ruang bagi pembaca untuk merasakan tekanan yang tidak diucapkan. Atmosfer yang dibangun bukan ledakan emosi, melainkan tekanan halus yang terus menumpuk. Pembaca tidak didorong untuk menangis, tetapi diajak menyadari betapa dinginnya situasi ini. Dan justru dalam dingin itulah, luka terasa lebih nyata.
Ketegangan paling kuat hadir dari apa yang tidak dilakukan oleh tokoh-tokohnya. Tidak ada usaha besar untuk mempertahankan, tidak ada amarah yang meledak. Yang ada adalah penolakan yang disampaikan dengan tenang, dan penerimaan yang datang perlahan namun pasti. Tema kedewasaan muncul dari sini. Cinta tidak diposisikan sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan dengan segala cara, melainkan sesuatu yang memiliki batas, bahkan ketika itu menyakitkan. Ini memberi kesan bahwa cerita ini tidak sedang berbicara tentang romansa biasa, tetapi tentang pilihan yang tidak bisa diperbaiki hanya dengan niat baik.
Ada beberapa bagian yang masih bisa dipadatkan, terutama pada pengulangan emosi yang sudah cukup kuat tersampaikan di awal. Namun itu tidak mengganggu kesan keseluruhan. Bab ini meninggalkan rasa yang bersih namun tidak nyaman, seperti percakapan yang selesai tanpa benar-benar memberi kelegaan. Justru di situlah daya tariknya. Novel ini tidak berusaha memikat dengan kejutan, tetapi dengan kejujuran yang dingin dan sikap yang tegas terhadap realitas perasaan. Ini jenis bacaan yang tidak mengejar perhatian, tetapi perlahan menahan pembaca untuk tetap tinggal.
by Sweet Moon
