Rumah Kos Eyang Putri: Pusat Semesta Para Gadis
Ch. 15 — Sebuah Pernyataan dan Permintaan
[Bab Terkunci]
"Paketnya sudah dibayar, Angel?" tanyaku saat Angel masuk sambil menggendong kotak berukuran sedang terbungkus bubble wrap hitam. Wajahnya ceria.
"Sudah. Ini aku beli tas kamera baru. Yang lama kekecilan, nggak muat kalau harus di isi tripod dan lensa tambahan," jawabnya antusias, langsung mendarat di sofa sebelahku.
Aroma tubuhnya campuran parfum citrus dan udara luar memenuhi ruang tengah.
Aku mengangguk, mataku mengikuti gerakan tangannya yang cekatan membuka bungkusan. Gerakannya selalu menarik untuk ditonton; penuh semangat layaknya anak kecil yang baru dapat hadiah mainan.
"Jun, habis ini aku mau ke tempat temanku, ya. Nggak tahu pulangnya kapan. Kalau kemalaman, mungkin aku menginep di sana," katanya tanpa menatapku, fokus pada tas kameranya yang baru.
"Oke. Hati-hati, dan kabari kalau ada apa-apa," jawabku, rasa kehangatan dari malam sebelumnya tiba-tiba terasa jauh. Rasanya aku masih ingin dia bermanja denganku hari ini.
Dia hanya melambaikan tangan sebelum berlari ke atas untuk bersiap-siap, meninggalkan sunyi yang agak mengganjal di dadaku.
"Manisa, ada tamu cewek cari kamu di depan," panggilku sambil mengetuk pintu kamarnya. Saat ini baru jam tujuh malam tapi rumah terasa sekali sepi.
Suara gaduh langsung terdengar di balik pintu. "Iya! Sebentar!" teriaknya, diikuti bunyi seperti ada barang-barang jatuh.
Aku mempersilahkan tamunya duduk di teras tadi—seorang wanita berpenampilan nyentrik dengan rambut bergelombang dan sorot mata tajam. Tatapannya mengamati sekeliling kosan dengan saksama, seperti sedang memindai. Ada aura percaya diri yang berbatasan dengan kurang ajar darinya.
Malam ini kosan terasa lengang. Adinda ada lembur, dan Cintami entah kemana, tanpa ada kabar. Hanya aku dan deru angin malam yang tersisa.
Langkah cepat terdengar dari tangga. Manisa turun dengan dress bunga pendek yang melekat dengan sempurna di lekuk tubuhnya. Cantik, selalu. Tapi terlihat sekali terburu-buru.
"Pelan-pelan, Manis!" peringatku saat dia hampir tersandung karpet.
"Iya, maaf!" ucapnya sambil tersenyum cepat sebelum menuju tamunya. Getar aneh menggelitik naluriku saat dia tersenyum.
Aku melanjutkan makan malam sendirian, mencoba menikmati setiap suap sembari merencanakan kegiatan esok hari. Namun, konsentrasiku terusik oleh bisik-bisik dari teras yang terdengar serius. Tapi aku tidak tahu apa yang sedang mereka bahas.
"Juna."
Suara Manisa menyentakku. Aku berbalik, tanganku masih basah dari bekas air cucian piring. Segera aku mengelap dengan cepat di serbet yang ada di dapur. Manisa berdiri di ambang pintu dapur, ditemani temannya itu. Tatapan tajam wanita itu langsung menancap padaku, dingin dan penuh penilaian.
"Malam ini aku mau ikut temanku ke apartemennya. Jadi, pamit pergi dulu ya."
"Oke, hati-hati," jawabku otomatis, tapi mataku tak lepas dari teman Manisa.
"Ah, iya. Kenalin ini Aura, sahabatku," ucap Manisa.
"Aura. Saya Juna," sapaku, mengulurkan tangan dengan ramah.
Dia menatap tanganku sejenak, seolah itu adalah benda asing, sebelum akhirnya menjabatnya dengan cepat dan dingin. Senyum tipisnya terkesan menyombong.
"Juna," ucapnya perlahan, memanggil namaku. "Hidupmu mulai berubah ya? Pasti senang sekali. Selamat menikmati." Matanya menyipit. "Tenang, tidak akan ada hal buruk yang terjadi padamu. Aku jamin itu."
"Ha? Apa maksud—"
"Sudah, Ra, ayo! Nanti keburu malam kita!" potong Manisa, menarik lengan Aura dengan cepat. "Dah, Jun! Bye!"
"Ah, iya. Bye"
Mereka berbalik dan pergi dengan langkah cepat. Suara pintu depan terkunci dan derum mobil yang menjauh menyatu dengan gelap malam, meninggalkanku sendirian di tengah kesunyian kosan. Aku masih berdiri kaku di dapur, tangan terangkat setengah, jantung berdegup tak karuan. Kata-kata Aura bergema di kepalaku: "Hidupmu mulai berubah... Selamat menikmati." Itu ucapan selamat atau peringatan yang dibungkus senyum manis. Aku merinding. Dan sialnya, malam ini sepertinya benar-benar akan kulewati sendirian.
Drrrt. Drrrt.
Getaran ponsel di saku celana menyentak pikiranku. Aku segera merogohnya. Nama yang muncul di layar membuat alisku terangkat.
Tiara.
Kubuka pesannya. Ada foto dirinya duduk di kap mobil di pinggir jalan yang gelap, dengan pesan singkat.
Tiara: Mogok... Juna, bisa tolong jemput aku? Maaf kalau merepotkan kamu.
Hatiku langsung berdebar campur was-was. Kenapa dia menghubungiku? Tapi wajahnya yang terlihat lesu dalam foto itu tak bisa aku abaikan. Aku segera membalas peaannya cepat.
Juna: Lokasi? Aku akan segera datang.
Ternyata dia ada di persimpangan dekat area deretan pohon yang waktu itu aku berlari kencang, tidak terlalu jauh dari sini. Hanya sepuluh menit dengan motor. Tanpa pikir panjang, kuambil jaket dan kunci motorku. Motor matic kesayangan itu akan jadi penyelamat malam ini.
Jalanan sudah sepi seperti kuburan. Hanya cahaya lampu jalan yang kuning dan suara angin malam yang menemani. Tak lama, kulihat siluet mobil yang parkir di bahu jalan dengan lampu hazard berkedip-kedip. Di belakangnya, ada mobil derek yang baru saja tiba.
"Tiara!" panggilku sambil mendekat.
Dia menoleh, wajahnya langsung cerah. "Juna! Maaf ya, mengganggu kamu malam ini," ucapnya dengan senyum lelah yang masih bisa membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Dia memakai cardigan baby pink tipis yang tidak cukup menahan dinginnya malam, dan celana jins pendek yang membuatku harus ekstra menjaga tatapan.
"Dengan Kak Tiara?" tanya supir derek sambil menunjukkan dokumen. "Mau ditarik ke bengkel yang di Jalan Merdeka?"
"Iya, Pak. Tolong antar ke sana. Orangnya sudah saya hubungi," jawab Tiara dengan cepat. Dia lalu menoleh padaku. "Ayo, Jun. Aku numpang ya."
Aku mengangguk, masih sedikit bingung. Kenapa dia tidak ikut mobil derek saja?
Tapi pertanyaan itu tenggelam saat dia langsung mendekat dan siap naik di belakangku.
"Eh, tunggu dulu—" ucapku, tapi dia sudah mendarat di jok belakang. Badannya langsung merapat, mencari kehangatan. Aku harus menguatkan pijakan agar tidak oleng.
"Mundur sedikit, Ra," bisikku.
"Oops, sorry," gumamnya, dan aku bisa merasakan senyuman kecil di pundakku.
Motor kujalankan perlahan. Jari-jarinya yang dingin mencengkeram sisi jaketku, getarannya terasa jelas melalui kain. Dia pasti kedinginan. Tanpa banyak pikir, kuambil tangannya dan lingkarkan ke pinggangku. "Genggam erat biar hangat," kataku.
Dia menurut tanpa protes, pelukannya semakin kencang. Sesekali tanganku bergerak mengusap dengkulnya, sengaja aku sesekali naik mengusap pahanya yang dingin dan aku bisa merasakan gelisahnya.
"Tadi mau ke mana, Ra?" tanyaku untuk memecah keheningan yang tiba-tiba terasa menghampiri.
"Aku baru pulang dari rumah teman di dekat glamping situ," jawabnya, dagunya menempel di bahuku agar suaranya terdengar.
"Oh, disana itu?"
"Iya."
"Ini mau langsung pulang ke apartemen?" tanyaku lagi.
"Iya, Jun. Kalau nggak merepotkan..." suaranya kecil, hampir tertiup angin.
"Sudah, jangan banyak bicara. Orang tuamu sudah tahu kalau mobil kamu mogok?"
"Mereka sudah balik ke Singapura pagi tadi."
"Oh."
Diam pun menyelimuti sisa perjalanan. Hanya ada desau angin, kehangatan tubuhnya di punggungku, dan denyut nadiku yang berdebar-debar tanpa alasan yang jelas.
Sampai di depan apartemennya, dia turun dengan sedikit gemetar. Namun, sebelum sempat kuucapkan selamat tinggal, dia sudah memegang lenganku.
"Masuk dulu, Jun. Biar kubuatkan kopi panas. Sebagai ucapan terima kasih," pintanya, matanya berbinar di bawah lampu parkiran basement.
"Jangan ditolak, ya. Aku juga nggak mau naik sendirian."
Aku tertegun sejenak, lalu mengangguk. Malam ini memang penuh kejutan. Dan entah mengapa, kata-kata Aura tadi sejenak terlupakan, digantikan oleh desiran rasa penasaran dan mungkin, sedikit hasrat yang mulai merayap dalam diam.
Nama Pena: Ruby Gaze
Genre: Perkotaan, Slice of Life, 21+, Erotika, Romansa, Pewaris
Platform: Max Novel
Editorial:
Buku ini bekerja dengan pendekatan yang deceptively sederhana, percakapan sehari-hari, ruang sempit, dan ritme yang nyaris tanpa gejolak. Namun justru di situ letak kekuatan suara penulisnya. Ia tidak berusaha memaksakan dramatisasi; alih-alih, ia menahan diri.
Dialog mengalir apa adanya, dengan jeda-jeda yang terasa hidup, seolah pembaca duduk di ruangan yang sama, mengamati dua orang yang belum sepenuhnya memahami satu sama lain.
Pilihan ini memberi kesan percaya diri bahwa ketegangan tidak perlu diumbar untuk terasa. Ritme kalimatnya cenderung pendek dan efisien, tetapi tidak kering.
Ada kesadaran ritmis dalam cara dialog dipotong, diulang, lalu dibiarkan menggantung. Pengulangan kecil, koreksi kata, hingga respon yang setengah mengerti menciptakan atmosfer yang tidak bising, namun terus bergerak.
Ini bukan ketegangan yang meledak, melainkan yang merayap pelan, rasa asing yang tidak pernah dijelaskan sepenuhnya, hanya diperlihatkan melalui gestur dan reaksi.
Yang menarik, konflik utama dalam bab ini tidak ditampilkan sebagai ancaman langsung, melainkan sebagai ketidaksinkronan cara memahami dunia. Ada jarak nilai, bahasa, dan logika yang tidak dipaksa untuk segera dijembatani.
Penulis tampak sengaja menahan eksposisi, membiarkan pembaca berada dalam posisi yang sama dengan tokohnya sedikit bingung, tapi tetap terlibat.
Di sinilah ketegangan halus itu bekerja, bukan pada apa yang terjadi, melainkan pada apa yang belum bisa dijelaskan.
Secara tematik, buku ini menunjukkan kedewasaan yang jarang terlihat dalam cerita dengan premis serupa. Alih-alih mengejar sensasi “pertemuan dua dunia” secara eksplisit, narasi memilih fokus pada respons manusia yang paling dasar: lelah, skeptis, mencoba rasional di tengah sesuatu yang jelas tidak rasional.
Kesan intelektualnya muncul dari keengganan penulis untuk menyederhanakan situasi, sementara kesan emosionalnya lahir dari keheningan yang dibiarkan bertahan lebih lama dari yang nyaman.
Hasil akhirnya bukan buku yang berteriak minta perhatian, melainkan yang diam-diam menetap. Ia memberi sinyal bahwa cerita ini tidak akan tergesa-gesa menjelaskan dirinya.
Dan bagi pembaca yang sudah lelah dengan pola yang terlalu cepat dan terlalu jelas, pendekatan seperti ini terasa seperti undangan yang tenang untuk membaca lebih jauh, bukan karena dipancing, tetapi karena diyakinkan.
By Peniti Kecil
