Pendekar Salah Zaman
Chapter 6 — Kosan Gue Sekarang Ada Pendekar
Rangga akhirnya sampai di kosannya, dengan Wira tetap mengikuti di belakang.
Dia membuka pintu, menyalakan lampu, lalu langsung menyalakan teko listrik. Setelah itu dia duduk di lantai, punggungnya bersandar ke tembok.
Di depannya, Wira ikut duduk, matanya bergerak ke sekeliling ruangan, memperhatikan setiap sudut dengan rasa asing.
“Ini kosan gue,” kata Rangga. “Sempit, kan? Cuma area ini, kamar plus ruang buat duduk. Itu kamar mandi.”
Wira menatap sekeliling, lalu berkata datar, “Rumah di dunia ini hanya sebesar kandang kambing.”
Rangga langsung melotot.
“Woi, ngomong sembarangan lu, Wir. Gue cuma mampu nyewa yang begini.”
Wira mengangguk pelan.
“Tapi cukup aman.”
Rangga menghela napas.
“Lu mau kopi lagi gak?”
Wira mengangguk.
“Kopi yang tadi.”
Rangga berdiri, mengambil dua gelas dan dua sachet, lalu menyeduh dari teko listrik. Setelah jadi, dia menaruh satu gelas di depan Wira.
“Pelan-pelan minumnya. Masih panas.”
Wira hanya menatap gelas itu, uapnya masih naik tipis.
Lalu dia mengeluarkan isi kantongnya, menaruh semuanya di depan Rangga.
“Ini hasil rampasan. Cukup untuk tinggal di kandang… maksudku, kosan ini.”
Rangga menatapnya datar.
“Lu mau ngomong kandang kambing lagi, kan?”
Wira diam, lalu mengangguk kecil.
Rangga menghela napas panjang.
“Gue gak tau lu maunya apa, tujuan lu apa.”
Dia melirik barang-barang di lantai, lalu menatap Wira lagi.
“Tapi kalau lu tinggal di sini, lu harus dengerin gue. Jangan bertingkah aneh-aneh.”
Wira mengangguk.
Rangga mengangkat satu jari.
“Pertama, kalau ada yang nanya, lu sepupu gue dari kampung.”
Wira mengernyit.
“Sepupu dari kampung?”
“Iya. Lu bilang aja gitu. Paham?”
Wira menunjuk dirinya sendiri.
“Sepupumu dari kampung.”
“Ya, itu.”
Rangga lanjut.
“Kedua, jangan berantem kecuali orang itu mukul duluan.”
“Kenapa?”
“Kalau lu mukul duluan, lu bisa ditangkep polisi. Ribet nanti. Di sini gak boleh sembarangan.”
Wira menatapnya sebentar.
“Paham.”
Rangga mengangkat jari lagi.
“Ketiga, kalau gue lagi kuliah atau kerja, lu jangan ke mana-mana dari sini. Kalau lu pergi, gue gak bakal nyari lu. Paham?”
Wira mengangguk.
“Paham.”
Rangga bersandar lagi, menghela napas.
“Gue gak tau lu siapa, dari mana. Tapi besok gue coba tanya dosen gue.”
Wira menoleh.
“Dosen itu apa?”
“Guru. Tapi buat mahasiswa.”
Rangga mengambil gelasnya, meniup sedikit, lalu minum.
Wira meniru. Dia mengangkat gelas, meniup, lalu minum sedikit dan meletakkannya kembali.
Rangga memperhatikan itu, lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya.
“Sumpah, lu kayak manusia purba lagi belajar.”
Wira hanya menatapnya.
“Gak usah nanya apa itu purba. Capek gue.”
Rangga lalu meraih buku dan bolpen, membukanya di pangkuan.
“Sekarang coba ceritain. Apa yang lu inget sebelum ketemu gue.”
Dia bersandar ke tembok, siap mencatat.
“Semua yang lu tau.”
Wira menatap ke depan sejenak, seolah mencari kata yang tepat.
“Aku pendekar dari dunia…” Dia berhenti sebentar. “…duniaku.”
Rangga langsung mengangkat satu alis. Bolpennya terangkat, menunjuk ke arah Wira.
“Pendekar itu apa?”
Wira melirik bolpen itu sebentar, lalu kembali menatap Rangga.
“Pendekar adalah orang yang belajar ilmu kanuragan.”
Rangga mengangguk pelan, lalu mencatat.
“Kanuragan… pendekar…”
Dia melirik lagi.
“Yang lu tunjukin di gunung sama di terminal itu, kan?”
Wira mengangguk.
Rangga menggerakkan bolpennya lagi.
“Lanjut.”
“Aku bertapa untuk menembus kanuraganku,” kata Wira. “Agar naik dari Dharmasraya ke tingkat yang lebih tinggi.”
Rangga langsung memotong.
“Dharmasraya itu apa?”
Wira menjawab tenang.
“Itu tingkatan tertinggi dalam kanuragan. Jika berhasil menembusnya, guruku bilang seseorang akan terlepas dari dunia ini dan tiba di kahyangan, tempat para dewa.”
Rangga menggaruk kepalanya dengan ujung bolpen, mencoba mencerna.
“Oke… tingkat tertinggi, terus kalau tembus… lalu jadi dewa.”
Wira langsung mengoreksi.
“Bukan menjadi dewa. Hanya tiba di dunia dewa.”
Rangga menatapnya lelah, lalu mencoret sedikit di bukunya.
“Bukan dewa… tapi di dunia dewa.”
Dia mengetuk bukunya pelan.
“Lanjut.”
“Setelah itu… aku tersambar petir,” kata Wira. “Dan saat aku sadar, aku sudah berada di sini. Lalu aku bertemu denganmu.”
Rangga berhenti menulis. Bolpennya diputar-putar di jari.
“Dunia lu itu kayak gimana?”
Wira menjawab tanpa ragu.
“Ada raja. Wilayahnya disebut medang.”
Rangga langsung berhenti, lalu menatap Wira.
“Medang?”
Dia menyipitkan mata.
“Medang yang di buku sejarah?”
Wira terlihat bingung.
“Buku sejarah? Maksudmu kitab asal-usul?”
Rangga menggeleng.
“Bukan. Maksud gue… medang yang ada raja, patih, mpu… gitu?”
Wira mengangguk mantap.
“Benar.”
Dia menatap Rangga lebih serius sekarang.
“Kau tahu duniaku?”
Rangga diam.
Wira lanjut, nada suaranya tetap datar tapi ada sedikit perubahan.
“Apakah ini… dunia dewa?”
Rangga hanya menggeleng.
“Bukan. Mana ada dewa tinggal di kos-kosan begini.”
Dia menunjuk sekeliling dengan bolpennya.
“Lanjut. Di sana ada apalagi?”
Wira menutup matanya sebentar, seperti mengingat.
“Kerajaan. Raja. Patih. Mpu. Seperti yang kau katakan.”
Rangga mengangguk pelan, lalu menulis lagi.
“Oke… jadi kanuragan itu ilmu atau kemampuan. Prana itu apa?”
“Prana adalah sumber energi dalam yang kami olah,” jawab Wira tenang.
Rangga mengangguk, lalu menatapnya lagi.
“Selain buat nabok orang, lari di tol, sama loncat ke pohon… ada lagi?”
Wira menjawab singkat.
“Itu hanya sedikit.”
Dia membuka telapak tangannya.
“Seperti ini.”
Tiba-tiba—
bolpen di tangan Rangga melesat.
Langsung berpindah ke telapak tangan Wira.
Rangga langsung melongo.
“Astaga… apaan tuh?”
Wira menatap bolpen itu.
“Prana. Aku mengambil benda ini dari tanganmu.”
Rangga langsung menutup bukunya.
“Anjir… Newton bakal ngamuk liat bolpen pindah sendiri gara-gara gaya prana.”
Dia mengambil gelas kopinya, menyeruput sedikit, lalu menghela napas panjang.
“Gue capek, Wir. Kepala gue penuh. Hari ini lebih bikin gue bingung daripada belajar teori Freud.”
Dia mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
“Jangan nanya. Gue mau tidur. Kepala gue pusing.”
Rangga melirik sekeliling kamarnya.
“Lu tidur… ya bebas deh di mana.”
Dia langsung rebahan di kasur, menutup wajahnya dengan lengannya.
“Sedikit lagi gue bakal gila…”
Wira menatap Rangga yang sudah rebahan. Pandangannya lalu turun ke bolpen di tangannya.
Dia memperhatikan benda itu sejenak, membolak-baliknya seperti masih mencoba memahami.
Lalu dia menaruh bolpen itu pelan di dekat bantal Rangga.
Tanpa suara, Wira berdiri dan berjalan ke arah pintu. Dia membuka sedikit, lalu berdiri di ambangnya, menatap langit malam di luar.
“Oh, Guru… ini alam apa…”
Suaranya pelan.
Dia menoleh ke dalam, melihat Rangga.
Beberapa detik.
Lalu Wira duduk bersila di depan pintu, punggung tegak, kedua tangan menyatu di depan dada. Matanya terpejam, napasnya perlahan menjadi stabil.
Di kasur, Rangga masih membuka sedikit matanya dari sela lengannya.
Dia melihat semuanya.
“Ini orang apaan sih…” gumamnya pelan. “Yang gila gue apa dia…”
Dia menghela napas panjang.
“Besok gue harus nanya ke Pak Cahyo…”
Rangga akhirnya menutup matanya, mencoba tidur.
******
Judul : Pendekar Salah Zaman
Genre : Comedy, Slife Of Life, Fantasi, Urban
Author : SleepyFace
Platform : Novea
Editorial:
Buku ini menunjukkan kendali suara penulis yang tidak tergesa untuk terlihat “besar”. Ia justru memilih nada yang lebih tenang, bahkan nyaris datar, namun di situlah letak kekuatannya.
Percakapan yang tampak sederhana antara dua tokoh menjadi medium utama, dan penulis cukup percaya diri untuk membiarkan dialog bekerja tanpa banyak penjelasan tambahan.
Hasilnya adalah suara yang terasa dewasa tidak berusaha mengesankan, tapi perlahan membangun kepercayaan pembaca.
Ritme kalimatnya terjaga konsisten, pendek-pendek, bersih, dan fungsional. Tidak ada dorongan untuk memperindah secara berlebihan. Justru dengan ritme seperti ini, suasana yang tercipta terasa jujur, canggung, sedikit absurd, tapi tetap membumi.
Ketegangan tidak hadir dalam bentuk konflik terbuka, melainkan dalam jarak yang belum terjembatani antara dua dunia yang saling bersentuhan.
Ada sesuatu yang terus ditahan bukan karena kurangnya intensitas, tetapi karena pilihan sadar untuk tidak mengumbar.
Yang menarik, kedewasaan tema tidak disampaikan melalui pernyataan besar, melainkan melalui sikap. Cara Rangga menetapkan batas, cara Wira merespons tanpa sepenuhnya memahami, menghadirkan lapisan etika dan adaptasi yang halus. Ini bukan sekadar pertemuan dua karakter, melainkan negosiasi diam-diam tentang realitas, aturan, dan identitas.
Penulis tidak menjelaskan semuanya dan justru di situlah pembaca diajak berpikir, bukan sekadar mengikuti.
Kesan intelektual yang ditinggalkan bukan berasal dari kompleksitas istilah, melainkan dari keberanian untuk menahan diri.
Buku ini terasa seperti awal dari sesuatu yang tidak akan berjalan dengan cara yang mudah ditebak, bukan karena kejutan besar, tetapi karena fondasinya dibangun dengan disiplin.
Ada kepercayaan bahwa cerita ini tahu ke mana ia akan pergi, dan bagi pembaca yang lelah dengan pendekatan yang terlalu riuh, sikap seperti ini justru menjadi alasan yang cukup untuk melanjutkan.
By Peniti Kecil
